H.O.S. TJOKROAMINOTO: GURU BANGSA DAN PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA

 Naskah Sejarah Cendekiawan Muslim Dunia dan Indonesia setelah melakukan perjalanan akademik ke Polmas dan Majene. Untuk kuliah umum di STAIN dan UNSULBAR dan diskusi di Tinambung. Membuat saya sadar jika saya memiliki keterbatasan, biasanya saya bisa tetap menulis. Tetapi ternyata saya perlu istirahat dan kemarin saya baru tiba di Makassar dan langsung menghadapi kenyataan bahwa saudara Ipar saya wafat yang membuat aktivitas saya menulis terhenti.


 H.O.S. TJOKROAMINOTO: GURU BANGSA DAN PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA

Oleh Ahmad M. Sewang

Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto adalah salah seorang tokoh penting pergerakan nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai pemimpin Sarekat Islam, pemikir pergerakan, dan guru bagi sejumlah tokoh yang kemudian memainkan peranan penting dalam sejarah bangsa Indonesia. 

Melalui perjuangannya, ia berusaha membangkitkan kesadaran rakyat untuk memperjuangkan martabat, keadilan, dan kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda.

Profil Singkat

Nama lengkap: Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Tempat dan tanggal lahir: Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1882.

Wafat: Yogyakarta, 17 Desember 1934.

Dikenal sebagai: Pemimpin Sarekat Islam, Guru Bangsa, dan tokoh pergerakan nasional.

Organisasi utama: Sarekat Islam (SI), yang kemudian berkembang menjadi Partai Sarekat Islam.

1. Pemimpin Sarekat Islam dan Kebangkitan Kesadaran Rakyat

Perjalanan perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto semakin menonjol ketika ia terlibat dalam Sarekat Dagang Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi. Pada 1912, ia mengusulkan perluasan cakupan organisasi dengan mengubah nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Perubahan ini mencerminkan perluasan perjuangan, dari kepentingan perdagangan menuju gerakan sosial, ekonomi, dan politik umat Islam.

Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sarekat Islam berkembang menjadi salah satu organisasi massa terbesar pada masa pergerakan nasional. Organisasi ini menjadi tempat rakyat menyampaikan aspirasi, memperjuangkan kepentingan ekonomi, menentang diskriminasi kolonial, dan membangun kesadaran bersama sebagai suatu bangsa.

Tjokroaminoto tidak hanya menggerakkan rakyat melalui organisasi, tetapi juga melalui tulisan, pidato, dan pendidikan politik. Ia meyakini bahwa kemerdekaan tidak cukup diperjuangkan dengan keberanian fisik. Rakyat juga membutuhkan ilmu pengetahuan, kesadaran politik, persatuan, dan kemampuan mengatur kehidupan sendiri.

2. Memperjuangkan Hak Politik dan Menentang Feodalisme

Salah satu gagasan penting Tjokroaminoto adalah perlunya rakyat Indonesia memperoleh hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam Kongres Nasional Sarekat Islam pada 1916, ia menyuarakan cita-cita pemerintahan sendiri bagi bangsa Indonesia. Gagasan tersebut menunjukkan keberanian politik pada masa ketika kekuasaan kolonial Belanda masih mendominasi kehidupan masyarakat.

Tjokroaminoto juga menaruh perhatian terhadap ketidakadilan sosial dan sistem feodalisme yang menempatkan rakyat dalam kedudukan rendah. Baginya, kemajuan masyarakat harus dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia, bukan semata-mata berdasarkan keturunan, gelar kebangsawanan, atau kedekatan dengan penguasa.

Ia pernah terlibat dalam Volksraad atau Dewan Rakyat pada masa pemerintahan kolonial. Namun, keterlibatannya dalam lembaga tersebut tidak berarti ia menerima begitu saja sistem kolonial. Ia tetap memperjuangkan agar suara rakyat memperoleh tempat yang lebih berarti dalam kehidupan politik.

3. Trilogi Pemikiran: Ilmu, Tauhid, dan Siasat

H.O.S. Tjokroaminoto dikenal melalui trilogi pemikiran yang sering dikutip:

“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

Ungkapan tersebut mencerminkan tiga landasan penting dalam perjuangan.

Pertama, setinggi-tinggi ilmu, yang menegaskan pentingnya pendidikan dan penguasaan pengetahuan sebagai bekal membangun masyarakat.

Kedua, semurni-murni tauhid, yang menempatkan keyakinan kepada Allah swt. sebagai landasan moral dan spiritual dalam menjalani kehidupan.

Ketiga, sepintar-pintar siasat, yang mengajarkan pentingnya kecerdasan, strategi, dan kebijaksanaan dalam menghadapi persoalan sosial maupun politik.

Ketiga prinsip tersebut saling melengkapi. Ilmu tanpa moral dapat kehilangan arah; keyakinan tanpa pengetahuan dapat membatasi pemahaman; sedangkan semangat perjuangan tanpa strategi dapat mengurangi efektivitas tindakan.

Dalam konteks perjuangan bangsa, pemikiran ini mengingatkan bahwa kemerdekaan dan kemajuan memerlukan perpaduan antara kecerdasan intelektual, kekuatan spiritual, dan kecakapan bertindak.

4. Rumah Tjokroaminoto: Tempat Persemaian Para Tokoh Bangsa

Salah satu warisan sejarah Tjokroaminoto yang sangat menarik adalah rumahnya di Surabaya, yang menjadi tempat tinggal sekaligus ruang belajar dan diskusi bagi para pemuda pergerakan.

Di rumah tersebut pernah tinggal atau belajar sejumlah tokoh yang kelak menempuh jalan perjuangan dan ideologi berbeda, antara lain Soekarno, Semaun, Musso, Alimin, dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Soekarno kemudian dikenal sebagai tokoh nasionalis dan Proklamator 

 Semaun, Musso, dan Alimin berkiprah dalam gerakan komunis, sedangkan Kartosuwiryo kelak memimpin gerakan yang memperjuangkan Negara Islam Indonesia.

Perbedaan jalan politik mereka memperlihatkan betapa beragamnya pemikiran yang tumbuh dalam lingkungan pergerakan nasional. Rumah Tjokroaminoto bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang perjumpaan gagasan yang ikut membentuk perjalanan intelektual dan politik generasi muda.

Kemerdekaan Indonesia. Rumah itu jadi tempat wisata sejarah di jalan Fanele Surabaya. Artinya, jika ke Surabaya tidak cukup tanpa berkunjung ke jalan Fanele.

Tjokroaminoto dikenal sebagai guru yang memberi ruang bagi para pemuda untuk belajar dan mengembangkan pemikirannya. Meskipun tidak semua muridnya kemudian mengikuti pandangan politik yang sama, pengaruh pendidikan dan lingkungan intelektual yang mereka alami menjadi bagian penting dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Pengalaman ini mengandung pelajaran bahwa pendidikan dapat mempertemukan orang-orang dengan latar belakang dan pandangan yang berbeda. Namun, perbedaan pemikiran juga dapat berkembang menjadi pertentangan apabila tidak disertai dialog, penghormatan, dan kebijaksanaan.

5. Warisan Pemikiran bagi Persatuan Umat dan Bangsa

H.O.S. Tjokroaminoto wafat pada 17 Desember 1934, ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Ia tidak sempat menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Akan tetapi, perjuangan dan pemikirannya telah menjadi bagian dari proses panjang yang membangun kesadaran kebangsaan.

Sumbangan Tjokroaminoto tidak hanya terletak pada kepemimpinannya dalam Sarekat Islam, tetapi juga pada kemampuannya menghubungkan pendidikan, agama, persoalan sosial, dan perjuangan politik. Ia menunjukkan bahwa umat Islam dapat berperan aktif dalam membangun kehidupan bangsa tanpa melepaskan landasan moral dan spiritualnya.

Bagi penulisan Sejarah Cendekiawan Muslim Dunia dan Indonesia: Menghindari Konflik Sektarian Menuju Persatuan Umat, pengalaman Tjokroaminoto memberikan bahan renungan yang penting. Dari lingkungan pendidikan dan pergerakan yang sama, dapat lahir tokoh-tokoh dengan pandangan yang berlainan. Kenyataan tersebut mengajarkan perlunya memahami sejarah secara jernih, tidak menyederhanakan tokoh berdasarkan label ideologis, serta menilai pemikiran dengan mempertimbangkan konteks dan sumbangannya.

Menghargai jasa seorang tokoh tidak berarti kita harus menyetujui seluruh pandangannya. Sebaliknya, perbedaan pandangan tidak seharusnya membuat kita meniadakan jasa dan sumbangan sejarahnya. Sikap kritis yang disertai penghormatan merupakan bagian penting dari tradisi keilmuan.

Penutup

H.O.S. Tjokroaminoto merupakan salah seorang perintis kebangkitan nasional yang meninggalkan warisan penting dalam bidang organisasi, pendidikan politik, dan pembentukan generasi pemimpin. Melalui Sarekat Islam, ia membantu membangkitkan kesadaran rakyat akan martabat, hak, dan cita-cita kemerdekaan.

Trilogi pemikirannya—ilmu, tauhid, dan siasat—tetap relevan sebagai bahan refleksi bagi generasi sekarang. Bangsa yang ingin maju membutuhkan ilmu yang luas, landasan moral yang kuat, dan kecakapan menghadapi perubahan zaman.

Dalam kehidupan umat Islam, keteladanan sejarah hendaknya mendorong kita memperluas pengetahuan, menghormati perbedaan, dan mengutamakan kemaslahatan bersama. Sebab, mempelajari sejarah bukan hanya mengenang masa lalu, melainkan juga mengambil pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih adil, berilmu, dan bersatu.


Wasalam,

Kompleks GFM, 9 Oktober 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM KEKERABATAN ORANG BUGIS, MAKASSAR, MANDAR DAN TORAJA

SEKILAS SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI ALOR

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN