02 Agustus 2008

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN

Oleh : Badruzzaman

Masyarakat Sulawesi Selatan agak ketat memegang adat yang berlaku, utamanya dalam hal perlapisan sosial. Pelapisan sosial masyarakat yang tajam merupakan suatu ciri khas bagi masyarakat Sulawesi Selatan (Mattuada, 1997). Sejak masa pra Islam masyarakat Sulawesi Selatan mudah mengenal stratifikasi sosial. Di saat terbentuknya kerajaan dan pada saat yang sama tumbuh dan berkembang secara tajam stratifikasi sosial dalam masyarkat Sulawesi Selatan. Startifikasi sosial ini mengakibatkan munculnya jarak sosial antara golongan atas dengan golongan bawah.
Secara umum masyarakat Sulawesi Selatan mengenal tiga tingkatan sosial (kelas sosial). Dari kempat suku besar yang memukimi Sulawesi Selatan, ada tiga suku yang menganut tiga tingkatan. Ketiga suku tersebut adalah Suku Bugis, Makassar dan Mandar.
Suku Bugis menganut tiga tingkatan sosial. Ketiga tingkatan sosial itu adalah : Ana’ Arung, To Maradeka dan Ata. Ketiga tingkatan sosial yang dianut oleh suku yang terbesar di Sulawesi Selatan ini masing-masing memiliki bahagian-bahagian.
Lapisan teratas adalah Ana’ Arung. Suku Bugis mengenal Ana’ Arung atas dua tingkatan sosial, yaitu Ana’ Jemma dan Ana’ Mattola. Tingkatan yang disebut pertama adalah anak bangsawan yang lahir pada saat ayahnya memerintah/menjadi raja. Anak ini menjadi pewaris dari kerajaan. Sedangkan tingkatan yang disebut berikutnya adalah anak bangsawan dari raja yang lahir sebelum atau sesudah ayahnya memerintah.
Ana’ Mattola terdiri dari tiga tingkatan sosial, yaitu Ana’ Mattola Matase, Ana’ Mattola Malolo dan Ana’ Cera’. Ana’ Mattola Matase adalah anak yang lahir dari hasil perkawinan ayah dan ibu dari tingkatan sosial yang sama. Ana’ Mattola Malolo adalah anak yang lahir dari perkawinan ayah yang lebih tinggi darah kebangsawanannya dari pada ibunya. Sedangkan Ana’ Cera’ adalah anak yang lahir dari perkawinan antara seorang bangsawan dengan orang biasa.
Lapisan kedua, To Maradeka adalah orang yang tidak diperbudak oleh orang lain. Lapisan ini terdiri atas dua lapisan, yaitu To Baji (orang baik) dan To Samara (orang biasa). Sedangkan lapisan ketiga, Ata, terbagi kepada dua lapisan, yaitu. Ata Mana’ dan Ata Taimanu. Lapisan pertama adalah budak turun temurun sejak nenek moyangnya, jika mereka mempunyai keturunan maka keturunan tersebut menjadi budak lagi dari orang yang memperbudaknya. Lapisan kedua adalah golongan budak yang paling rendah dan dianggap paling hina, karena yang memperbudaknya adalah To Maradeka.
Suku Makassar pun memiliki tiga lapisan sosial. Ketiga lapisan tersebut adalah Ana’ Karaeng, To Maradeka dan Ata. Lapisan pertama adalah anak raja yang bobot kebangsawanannya masih murni dan dapat mewarisi kerajaannya. Lapisan pertama dapat dibagi atas :
1. Ana’ Ti’no, terbagi :
a. Ana’ Pattola, Ana’ Pattola berhak mengganti raja.
b. Ana’ Manrapi, ia dapat menggati raja jika Ana’ Pattola tidak ada atau dianggap kurang mampu untuk menduduki tahta.
2. Ana’ Sipuwe, dapat dibagi:
a. Ana’ Sipuwe Manrapi, yaitu anak yang lahir dari ayah To’no (Pattola/Manrapi) dan ibu dari golongan yang tingkatnya di bawah Ana’ Ti’no, Ana’ Sipuwe Manrapi dapat diangkat menjadi raja (Somba ri Gowa).
b. Ana’ Sipuwe, yaitu anak yang lahir dari Ana’ Pattola atau Ana’ Manrapi dengan ibu dari To Maradeka (bukan hamba) atau orang baik.
3. Ana’ Cera’, yaitu anak yang lahir dari Ana’ Pattola atau Manrapi dengan ibu dari kalangan budak.
4. Ana’ Karaeng Sala, yaitu anak yang lahir dari Ana’ Sipuwe atau Ana’ Cera dengan ibu dari ibu orang merdeka.
Lapisan kedua Suku Makassar disebut dengan To Maradeka. Lapisan ini juga dapat dibagi atas dua bagian yaitu Tobaji dan Tosamara (sama pada pelapisan Suku Bugis). Sedangkan lapisan ketiga adalah Ata. Bagi Suku Makassar, Ata dibagi kepada tiga lapisan. Ketiga lapisan tersebut adalah Ata Sossorang, Ata Ribuang dan Ata Tai Jangang. Yang tergolong lapisan pertama adalah budak turun-temurun dan biasanya dipebudak oleh satu keluarga. Yang termasuk lapisan kedua adalah budak karena hukuman, budak yang karena berbuat kesalahan sehingga ia dijatuhi hukuman atau dia kalah dalam peperangan. Lapisan ketiga yaitu orang yang diperbudak oleh orang yang pernah jadi budak (To Samara).
Stratifikasi sosial yang dianut oleh masyarakat Suku Mandar juga terdiri atas tiga. Ketiga strata tersebut adalah Puang, To Maradeka dan Batua. Lapisan Puang dapat dibagi atas dua, yaitu Puang Ressu dan Puang. Yang tergolong Puang Ressu adalah orang yang darah kebangsawanannya masih murni, artinya ia lahir dari seorang ayah dan ibu berstrata Puang, dan ia pun berhak untuk mewarisi kerajaan. Dan yang tergolong lapisan Puang adalah anak bangsawan yang bobot kebangsawanannya lebih rendah dari Puang Ressu. Sedangkan strata kedua ada kesamaan dengan strata kedua yang dianut oleh Suku Bugis dan Makassar.
Strara ketiga pada masyarakat Suku Mandar terbagi kepada tiga lapisan, ketiga lapisan tersebut adalah Batua Balliang, Batua Masossorang dan Batua Tai Manu’. Batua Balliang adalah budak yang berasal dari orang merdeka, kemudian dijual karena kalah, baik dalam perjudian maupun dalam peperangan. Batua Masossorang adalah budak neneknya sampai ke anak cucunya dan diperbudak oleh Puang atau To Pae. Sedangkan yang terakhir adalah budak yang paling rendah tingkatannya, golongan dimana mengerjakan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh tuannya dan mereka diperbudak oleh To Maradeka.
Berbeda dengan ketiga suku sebelumnya, Suku Toraja menganut empat tingkatan sosial. Keempat tingkatan sosial tersebut adalah Tana’ Batua, Tana’ Bessi, Tana Karurung dan Tana’ Kua-Kua. Yang tergolong pada lapisan pertama adalah para penguasa yang membuat peraturan-peraturan dalam masyarakat atau golongan pemangku adat Tana Toraja pada masing-masing daerah adat. Karena itu golongan ini merupakan tingkatan emas. Pada tingkat Kabupaten pemangku digelar “Puang To Manurung” sedang pada tingkat daerah adat disebut ‘Ambo’ atau “Sokkong Bayu”.
Tingkatan kedua, Tana’ Bessi, diartikan tingkatan besi. Mereka yang tergolong dalam lapisan ini adalah masyarakat yang melaksanakan pemeritahan sehari-hari sebagai pembantu dari ketua-ketua adat. Tana’ Karurung adalah tingkatan orang biasa yang tidak mempunyai kekuasaan, hanya dipakai sebagai pengabdi-pengabdi pada upacara keagamaan. Sedangkan Tana’ Kua-Kua adalah tingkatan paling bawah, golongan ini biasanya mengabdi pada Tana’ Bulaan dan Tana’ Bessi.
Semuan pelapisan tersebut di atas berlaku secara ketat. Masyarakat Sulawesi Selatan memberlakukan stratifikasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari terutama pada upacara-upacara adat seperti perkawinan. Demikian halnya dalam hal penempatan raja dan pembantu-pembantu. Setiap pengangkatan selalu menelusuri kejelasan asal-asul, karena hal itu dianggap mempengaruhi kewibawaannya sebagai pemimpin masyarakat dan petugas kerajaan.
DAFTAR PUSTAKA
Abd. Kadir Ahmad, 2004, Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Makassar, Balai Litbang Agama Makassar.
Mattuladda, 1974. Bugis Makassar, Manusia dan Kebudayaan. Makassar. Berita Antropologi No. 16 Fakultas Sastra UNHAS.
------------, 1975. Latoa, Suatu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis., Makassar: Disertasi.

3 komentar:

subchan mengatakan...

saya rajab dari salah satu pts yang ada di tangerang..saya mendapatkan tugas mencari sratifikasi masyarakat yang ada di Indonesia. Saya mau bertanya
1. Apakah sratifikasi masyarakat di kota makassar masih berlaku?
2. Dari ke empat suku yang ada, suku manakah yang paling mempunyai kedudukan yang paling tinggi?
3. Pengelompokkan beberapa golongan sratifikasi berdasarkan apa? (budaya,politik atau apa?)
4. Jika ada seseorang yang bukan dari golongan bangsawan kemudian menikah dengan seseorang yang berasal dari golongan bangsawan bisa atau tidak?

terima kasih sebelumnya..

Pencari Uang mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Pencari Uang mengatakan...

Saya masih kurang sependapat dengan stratifikasi mengenai "ATA"

salah satu kasus yang pernah saya temui dalam penelitian mengenai stratifikasi di masyarakat Bugis-makassar adalah

Ketika seorang anak bertemu langsung dengan ayahnya dimana ayah seorang Arung dan si anak tidak .....
Ketika si anak datang bersetra cucu si ayah...
si anak di depan ayahnya untuk mempertemukan si cucu dan si kakek yang seorang arung.

Si anak berkata kepada ayahnya begini :

Tapparajanga dampeng engak ata'ta maelo sita '

artinya

Mohon maaf ayah ada (sanak-bawahan) kita ingin bertemu...


Timbul satu pertanyaan mengapa si anak mengatakan anaknya ( cucu ayahnya ) sebagai 'ata' dalam kalimat tersebut ......

kalau pun mau diubah seharusnya si anak berkata lkepada ayahnya

Tapparajangnga dampeng engka eppota maelo sita'

artinya

maafkan ada cucu kita yang ingin bertemu..


Penggunaan kata ata' bukanlah dimaksudkan sebagai bawahan atau budak dan semcamnya tetapi penghormatan si anak kepada ayahnya dalam bentuk perkataan..

ata' dimaksudkan adalah sebagai pemaknaan keluarga yg bertemu yang bukan berarti bawah at; yg bertemu bulanlah budak.....

disnilah pemaknaan dalam bahas bUgis sering di salah artikan ..termasuk seperti dalam wacana diats

Ata bukanlah budak disni ada pergeseran ketika terjadinya perdagangan budak di kerajaan-2 sul-sel ketika masa kolonial ...sekitaran abad 16 hingga awal abad 19 masehi

sehingga pergeseran makna ata' yang dahulunya simbol pemaknaan sebuah kalimat penghormatan dijadikan simbol perbudakan....

Sangat riskan bila wacana seperti di blog ini belum di konformasi langsung ke lapangan dengan adanya penelitian hanya berdasarkan referensi ........

sangat lucu dan ironis wacana diats tanpa ..adanya penelitian .......


jadi sebaiknya penulis wacana diatas lebih bijaksana dalam menulis dan melakukan penelitian terlebih dahulu sebelum mebuat wacana yang akhirnya SEJARAH BUKANNYA MAKIN BAIK MALAH MENGABURKAN SEJARAH APALGI BISA BERAKIBAT PEMBOHONGAN SEJARAH ..... KASIAN SEJARAH BILA DI TULIS SEperti ini