5. K.H. HASYIM ASY'ARI: PENDIRI NAHDLATUL ULAM
5. K.H. HASYIM ASY'ARI: PENDIRI NAHDLATUL ULAMA
Oleh Ahmad M. Sewang
A. Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan
K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari adalah seorang ulama besar, pendidik, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, serta tokoh utama di balik berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Beliau lahir pada 14 Februari 1871 di Gedang, Jombang, Jawa Timur, dan wafat pada 25 Juli 1947. Di kalangan umat Islam, beliau dikenal dengan gelar Hadratussyaikh, yang secara umum dipahami sebagai penghormatan kepada seorang ulama besar dan guru para ulama.
Hasyim Asy'ari tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren. Sejak muda, beliau menekuni ilmu-ilmu keislaman, seperti Al-Qur'an, hadis, fikih, tauhid, dan tasawuf. Untuk memperdalam pengetahuannya, beliau belajar kepada sejumlah ulama di berbagai pesantren di Jawa, kemudian melanjutkan perjalanan keilmuan ke Makkah.
Pengalaman belajar di Tanah Suci mempertemukannya dengan tradisi keilmuan Islam yang lebih luas. Pengalaman tersebut turut membentuk pandangan keagamaannya, terutama dalam memahami pentingnya sanad keilmuan, penghormatan terhadap ulama, dan kesinambungan tradisi keilmuan Islam.
B. Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng
Pada 1899, K.H. Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Pesantren ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Nusantara.
Melalui pesantren, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter santri agar memiliki kedalaman ilmu, akhlak yang baik, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Pesantren Tebuireng menjadi tempat lahirnya banyak ulama dan tokoh masyarakat. Dengan demikian, kiprah Hasyim Asy'ari dalam dunia pendidikan tidak berhenti pada pengajaran di ruang belajar, melainkan turut membangun jaringan keilmuan yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Indonesia.
Beliau menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan yang mempertahankan tradisi keilmuan Islam sekaligus berperan aktif dalam menjawab persoalan masyarakat dan bangsa.
C. Mendirikan Nahdlatul Ulama
Pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya dengan melibatkan sejumlah ulama pesantren. K.H. Hasyim Asy'ari merupakan tokoh sentral dalam pendirian organisasi tersebut dan kemudian menjadi Rais Akbar, yakni pemimpin tertinggi NU pada masa awal.
Pendirian NU berkaitan dengan kebutuhan untuk memperkuat hubungan antar ulama, menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren, serta mengorganisasi kehidupan keagamaan umat Islam. Pada masa itu, dunia Islam juga sedang menghadapi berbagai perubahan pemikiran, sosial, dan politik.
NU mengembangkan corak keberagamaan yang berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah. Dalam tradisi NU, prinsip tersebut berkaitan dengan penghormatan terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, pengembangan fikih melalui mazhab-mazhab yang diakui, serta pemeliharaan tradisi keilmuan yang memiliki landasan dalam ajaran Islam.
Perlu dipahami bahwa pendirian NU bukanlah hasil perjuangan seorang tokoh saja. Sejumlah ulama memiliki peran penting dalam proses tersebut, termasuk K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan tokoh-tokoh pesantren lainnya. Keistimewaan peran Hasyim Asy'ari terletak pada kedudukan keilmuan dan kewibawaannya yang membantu memberikan landasan keagamaan bagi organisasi tersebut.
D. Pemikiran Keagamaan dan Karya Intelektual
K.H. Hasyim Asy'ari tidak hanya dikenal sebagai pengasuh pesantren dan pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai ulama yang menghasilkan karya-karya keislaman.
Salah satu karyanya yang terkenal ialah Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, yang membahas etika guru dan murid dalam proses pendidikan. Karya ini menekankan pentingnya keikhlasan dalam menuntut ilmu, penghormatan kepada guru, kesungguhan belajar, serta tanggung jawab moral orang yang memiliki pengetahuan.
Beliau juga menulis Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, yang membicarakan persoalan keagamaan dan kedudukan tradisi keilmuan Islam dalam menghadapi perubahan pada zamannya.
Dari karya-karya tersebut, terlihat bahwa bagi Hasyim Asy'ari, ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari akhlak. Penguasaan ilmu harus disertai tanggung jawab, sementara perbedaan pandangan keagamaan perlu dihadapi dengan pengetahuan dan adab.
Pemikiran tersebut tetap relevan dalam kehidupan umat Islam dewasa ini. Perbedaan mazhab dan organisasi tidak semestinya menghilangkan penghormatan terhadap sesama Muslim, apalagi menjadi alasan untuk memutus persaudaraan.
E. Resolusi Jihad dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Salah satu bagian penting dalam perjalanan Hasyim Asy'ari ialah keterlibatannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Dalam situasi tersebut, para ulama dan tokoh masyarakat turut menggerakkan umat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Pada 22 Oktober 1945, kalangan ulama NU mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan ini menjadi salah satu faktor penting yang membangkitkan semangat umat Islam, khususnya di Jawa Timur, dalam menghadapi ancaman militer Belanda dan Sekutu.
K.H. Hasyim Asy'ari memiliki kedudukan penting dalam lingkungan ulama NU pada masa itu. Wibawa keilmuan dan kepemimpinannya turut memperkuat semangat perjuangan umat.
Resolusi Jihad juga menjadi bagian dari konteks sejarah menjelang pertempuran besar di Surabaya pada November 1945. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sebagian ulama dan santri memandang perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai tanggung jawab keagamaan sekaligus kebangsaan.
Dengan demikian, kiprah Hasyim Asy'ari memperlihatkan bahwa pesantren dan ulama tidak hanya berperan dalam kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga memberikan sumbangan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
F. Hasyim Asy'ari dan Persatuan Umat
Salah satu pelajaran penting dari kehidupan Hasyim Asy'ari ialah hubungan antara ilmu, tradisi, organisasi, dan tanggung jawab sosial.
Beliau membangun pendidikan melalui pesantren, memperkuat hubungan antarulama melalui organisasi, dan mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ketiga bidang tersebut menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan tidak terpisah dari kehidupan masyarakat dan bangsa.
Dalam konteks persatuan umat Islam, keberadaan NU memperlihatkan pentingnya organisasi sebagai sarana untuk mengembangkan pendidikan, pelayanan sosial, dan kehidupan keagamaan. Meskipun umat Islam memiliki perbedaan pandangan, mereka tetap dapat bekerja sama dalam menghadapi persoalan bersama.
Namun, persatuan tidak berarti menghapus seluruh perbedaan pemikiran. Persatuan justru membutuhkan kesediaan untuk memahami perbedaan, menghormati dasar pemikiran orang lain, dan menghindari sikap yang menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.
Pemikiran Hasyim Asy'ari tentang adab menuntut ilmu juga memberikan landasan moral bagi usaha tersebut. Ilmu seharusnya membimbing seseorang untuk bersikap lebih bijaksana, bukan menjadi alat untuk merendahkan orang yang berbeda pendapat.
G. Relevansi Pemikirannya bagi Indonesia Masa Kini
Indonesia merupakan masyarakat yang beragam, baik dari segi suku, bahasa, budaya, maupun corak pemikiran keagamaan.
Dalam masyarakat seperti ini, kehidupan umat Islam memerlukan keseimbangan antara keteguhan memegang keyakinan dan kemampuan membangun hubungan yang baik dengan sesama warga bangsa.
Warisan Hasyim Asy'ari dapat dibaca melalui tiga pelajaran utama.
Pertama, pentingnya pendidikan dan tradisi keilmuan. Pesantren menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan penguasaan ilmu perlu berjalan bersama.
Kedua, pentingnya organisasi dalam membangun kemaslahatan bersama. Pendirian NU memperlihatkan bagaimana para ulama mengembangkan wadah untuk mengoordinasikan kegiatan keagamaan dan sosial.
Ketiga, pentingnya tanggung jawab kebangsaan. Peran kalangan ulama dalam perjuangan kemerdekaan memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan nyata demi keselamatan masyarakat dan bangsa.
Ketiga pelajaran tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi umat Islam Indonesia dalam menghadapi tantangan masa kini, terutama ketika perbedaan pandangan mudah berkembang menjadi pertentangan yang merusak persaudaraan
H. Penutup
K.H. Hasyim Asy'ari merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam Indonesia. Melalui Pondok Pesantren Tebuireng, beliau mengembangkan pendidikan Islam. Melalui Nahdlatul Ulama, beliau turut memperkuat kehidupan keagamaan yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah. Sementara itu, keterlibatan kalangan ulama NU dalam Resolusi Jihad memperlihatkan hubungan erat antara tanggung jawab keagamaan dan perjuangan kebangsaan.
Warisan beliau tidak hanya terletak pada lembaga yang didirikannya, tetapi juga pada pentingnya ilmu, akhlak, dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Bagi penulisan sejarah cendekiawan Muslim, Hasyim Asy'ari memberikan pelajaran bahwa seorang ulama dapat berperan sekaligus sebagai pendidik, pemikir, pemimpin masyarakat, dan tokoh bangsa. Peran-peran tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi.
Dalam upaya membangun persatuan umat, pemikiran dan perjuangan beliau mengingatkan kita bahwa perbedaan pandangan tidak semestinya menghalangi kerja sama untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Umat Islam dapat mempertahankan keyakinan dan tradisinya masing-masing sambil tetap menghormati sesama dan berkontribusi bagi persatuan bangsa.
Dengan demikian, K.H. Hasyim Asy'ari layak dikenang bukan hanya sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, melainkan juga sebagai ulama pendidik dan pejuang yang warisannya tetap penting bagi perkembangan Islam dan kehidupan kebangsaan Indonesia.
CATATAN AKHIR
Akhirnya, tulisan ini bertujuan untuk jadi sebuah buku yang saya beri judul, "SEJARAH CENDEKIAWAN MUSLIM DUNIA DAN INDONESIA: MENGHINDARI KOMPLIK SEKTARIAN MENUJU PERSATUAN UMAT."
Sejumlah 30 cendekiawan dunia dan Indonesia menghasilkan buku ini. Saya tulis apa adanya dengan maksud agar pembaca memakai pendekatan akademik, yaitu memahami dulu argumen yang dibaca baru memutuskan setuju atau tidak setuju. Bukan bermaksud menghakimi mereka. Bukan pula pendekatan apriori belum mengetahui argumennya langsung ditolak karena beda mazhab. Maka tulisan ini ditulis apa adanya, sekalipun berbeda-beda mazhab, sekte, dan organisasi. Ada cendekiawan Muslim dari ikhwanul Muslimin, Wahhabi, Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah. Saya pun minta para pembaca untuk tidak apriori membacanya, melainkan dengan hati ikhlas dan terbuka. Inilah ikhtiar kecil seorang hamba dalam menjawab persoalan umat sepanjang sejarah. Dengan penuh harap dan doa tujuan murni penulisan buku ini walau akan memakan waktu lama.
Wassalam,
Kompleks GFM, 12 Oktober 2026
Komentar