PROF. DR. ALI SYARI’ATI: SOSIOLOG DAN CENDEKIAWAN DARI IRAN

 Oleh Ahmad M. Sewang

Ali Syari’ati adalah seorang sosiolog, cendekiawan, dan pemikir Muslim asal Iran yang dikenal luas melalui gagasannya tentang sosiologi agama, pembaruan pemikiran Islam, keadilan sosial, dan pembebasan manusia. Pemikirannya banyak membahas hubungan antara Islam, masyarakat, sejarah, dan tanggung jawab manusia dalam mewujudkan kehidupan yang lebih adil.


Biografi Singkat

Lahir: 23 November 1933, di Mazinan, sebuah desa dekat Sabzevar, Provinsi Khorasan, Iran.

Wafat: 18 Juni 1977, di Southampton, Inggris.

Ayah: Muhammad Taqi Syari’ati, seorang ulama dan cendekiawan Muslim yang dikenal memiliki perhatian terhadap pembaruan pemikiran Islam.

Ali Syari’ati tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan intelektual. Pendidikan awalnya ditempuh di Iran. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi dan pada tahun 1960 berangkat ke Prancis untuk melanjutkan studi. Di Universitas Sorbonne, Paris, ia memperoleh gelar doktor pada tahun 1964.


Selama berada di Prancis, pemikiran Syari’ati berkembang melalui perjumpaannya dengan berbagai pemikiran modern, termasuk sosiologi, filsafat, pemikiran antikolonial, dan berbagai gagasan sosial-politik pada zamannya. Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara ia membaca persoalan masyarakat Muslim.

Setelah kembali ke Iran, Syari’ati mengajar dan aktif menyampaikan gagasan-gagasannya melalui kuliah, ceramah, dan tulisan. Pemikirannya mendapat perhatian luas, terutama di kalangan kaum muda dan mahasiswa Iran.


Karena aktivitas intelektual dan politiknya yang kritis terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, ia beberapa kali mengalami penahanan.

Pokok-Pokok Pemikirannya

1. Sosiologi Islam

Salah satu perhatian utama Ali Syari’ati adalah mempertemukan kajian masyarakat dengan nilai-nilai Islam. Ia berusaha membaca persoalan sosial umat Islam dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial modern, tetapi tetap berangkat dari prinsip-prinsip keislaman.

Baginya, Islam tidak hanya berkaitan dengan kehidupan ritual individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang mendorong manusia untuk memperjuangkan keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan.

2. Islam dan Pembebasan

Syari’ati banyak berbicara tentang pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan keterkungkungan. Dalam pemikirannya, tauhid bukan hanya pengakuan terhadap keesaan Allah, tetapi juga memiliki konsekuensi sosial berupa penolakan terhadap ketidakadilan dan diskriminasi. Kajian akademik tentang pemikirannya menunjukkan kuatnya hubungan antara tauhid, pembebasan, dan kritik sosial dalam gagasan Syari’ati.

3. Kritik terhadap Ketidakadilan Sosial

Syari’ati memberikan kritik terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang menurutnya bersifat menindas. Ia juga mengkritik bentuk keberagamaan yang menurut pandangannya terlalu pasif dan tidak cukup memberikan perhatian kepada persoalan sosial masyarakat.

Karena itu, ia berusaha menghadirkan pemahaman Islam yang aktif dalam kehidupan sosial, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai urusan pribadi, tetapi juga sebagai sumber kesadaran untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

4. Empat Penjara Manusia

Salah satu gagasan Ali Syari’ati yang terkenal adalah tentang empat penjara manusia, yaitu:

Alam, yaitu keterbatasan manusia sebagai makhluk yang hidup dalam hukum-hukum alam.

Sejarah, yaitu pengaruh masa lalu dan proses sejarah terhadap kehidupan manusia.

Masyarakat, yaitu berbagai struktur dan kondisi sosial yang dapat membatasi kebebasan manusia.

Diri atau ego, yaitu keterkungkungan manusia oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi, dan kelemahan dirinya sendiri.

Menurut Syari’ati, manusia perlu berusaha membebaskan dirinya dari berbagai keterkungkungan tersebut. Ia memandang ilmu pengetahuan dan kesadaran manusia sebagai bagian penting dalam proses pembebasan, sementara pembebasan dari penjara diri merupakan persoalan yang sangat mendalam karena berhubungan dengan batin manusia.

Pengaruh Pemikirannya

Ali Syari’ati wafat pada tahun 1977, dua tahun sebelum Revolusi Iran 1979. Karena itu, ia tidak mengalami langsung Revolusi Iran. Namun, berbagai penelitian menempatkan pemikirannya sebagai salah satu sumber intelektual yang berpengaruh terhadap kesadaran politik dan keagamaan kaum muda Iran sebelum revolusi.

Gagasan-gagasannya juga dikenal di berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia.

Pemikiran Syari’ati dibaca oleh sebagian mahasiswa dan aktivis intelektual Muslim, terutama dalam diskusi mengenai Islam, perubahan sosial, keadilan, dan pembebasan.

Dengan demikian, pengaruh seorang cendekiawan tidak selalu harus dilihat dari jabatan politik yang pernah didudukinya, tetapi juga dari kemampuan gagasan-gagasannya membangkitkan kesadaran intelektual dan sosial masyarakat.

Penutup

Ali Syari’ati merupakan salah seorang cendekiawan Muslim Iran yang berusaha membaca persoalan masyarakat melalui perpaduan antara Islam dan ilmu sosial. Pemikirannya memperlihatkan bahwa agama dapat menjadi sumber kesadaran moral untuk menghadapi persoalan ketidakadilan, keterbelakangan, dan berbagai bentuk keterkungkungan manusia.

Namun, sebagaimana tokoh-tokoh lain yang dibahas dalam buku ini, pemikiran Ali Syari’ati perlu dibaca secara terbuka dan kritis. Membaca seorang tokoh tidak berarti menerima seluruh pemikirannya tanpa pertimbangan. Setiap pemikiran lahir dalam konteks waktu, tempat, dan persoalan tertentu. Karena itu, pembaca perlu mengambil pelajaran yang relevan dan menempatkannya secara bijaksana sesuai dengan keadaan masyarakat pada zamannya sendiri.

Catatan tentang Tokoh-Tokoh cendekiawan

Jika membaca buku ini lebih jauh, terdapat beberapa persyaratan yang menjadi dasar pemilihan tokoh-tokoh yang dimuat, yaitu:

Tokoh tersebut berasal dari kalangan ulama atau cendekiawan.

Tokoh tersebut memiliki kontribusi terhadap pengembangan pemikiran dan kehidupan umat Islam.

Pemikiran dan perjalanan hidup mereka disajikan secara deskriptif dan apa adanya, tanpa bermaksud menghakimi. Para pembaca dipersilakan menelaahnya secara terbuka, dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih.

Tokoh-tokoh yang dibahas dalam buku ini telah wafat. Salah satu alasannya adalah bahwa pemikiran mereka telah menjadi bagian dari sejarah, sehingga pembaca dapat melihatnya secara lebih utuh sebagai warisan intelektual.

Dengan cara demikian, diharapkan kita dapat menghindari sikap apriori, tetap menghormati jasa dan pemikiran para tokoh, sekalipun terdapat perbedaan pandangan di antara kita. Tujuan utama buku ini untuk membangun persatuan umat sekalipun berbeda mazhab atau sekte.


Wasalam,

Kompleks GFM, 29 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM KEKERABATAN ORANG BUGIS, MAKASSAR, MANDAR DAN TORAJA

SEKILAS SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI ALOR

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN