PROF. DR. ABDUS SALAM: ILMUWAN MUSLIM PAKISTAN PERAIH NOBEL FISIKA
Oleh Ahmad M. Sewang
Pada tahun 1964, ia turut mendirikan International Centre for Theoretical Physics (ICTP) di Trieste, Italia. Lembaga ini didirikan dengan tujuan membantu para ilmuwan, terutama dari negara-negara berkembang, Agar dapat mengembangkan kemampuan penelitian dan tetap terhubung dengan perkembangan ilmu pengetahuan internasional.
Dengan demikian, Abdus Salam tidak hanya dikenal sebagai ilmuwan yang menghasilkan pemikiran penting dalam fisika teoretis, tetapi juga sebagai tokoh yang berusaha membuka kesempatan yang lebih luas bagi para ilmuwan dari negara-negara berkembang.
Abdus Salam dan Perbedaan dalam Kehidupan Umat Islam
Dalam pembahasan mengenai Abdus Salam, terdapat pula aspek kehidupan keagamaannya yang tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarahnya. Abdus Salam merupakan seorang penganut Ahmadiyah. Hal ini merupakan bagian dari biografinya yang perlu disebutkan secara apa adanya, tanpa harus mengurangi penghargaan terhadap kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagi saya, hal ini sekaligus menjadi pelajaran penting dalam membaca sejarah para cendekiawan Muslim. Seseorang dapat memiliki latar belakang pemikiran atau kelompok keagamaan yang berbeda dengan kita, tetapi karya dan sumbangannya dalam bidang tertentu tetap dapat dipelajari secara kritis dan objektif.
Dalam buku ini, saya menggunakan pengertian umat Islam dalam batas yang saya rumuskan sendiri: seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tulus dan berusaha mengamalkan rukun Islam dan rukun iman sesuai dengan kemampuan serta pemahamannya.
Dengan pengertian tersebut, tidak mudah lagi mengafirkan sesama Muslim, sekalipun berbeda mazhab. Mereka harus dipandang sebagai saudara yang perlu saling menghormati sekalipun dalam perjalanan sejarah terdapat perbedaan pemikiran, mazhab, dan kelompok.
Al-Qur'an menggambarkan hubungan sesama orang beriman sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Dalam hadis Nabi Muhammad saw. juga terdapat perumpamaan bahwa hubungan sesama orang beriman bagaikan satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh mengalami sakit, anggota tubuh yang lain turut merasakannya.
Sejarah umat Islam menunjukkan bahwa perbedaan telah muncul sejak masa awal setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. dan kemudian berkembang dalam berbagai bentuk persoalan politik, teologi, fikih, dan pemikiran.
Karena itu, perbedaan merupakan bagian dari perjalanan sejarah umat yang perlu dipelajari dengan kepala dingin, bukan semata-mata dijadikan alasan untuk saling meniadakan.
Atas dasar itulah, dalam buku Sejarah Cendekiawan Muslim Dunia dan Indonesia, saya berusaha menampilkan para tokoh sebagaimana adanya. Saya tidak bermaksud mengajak pembaca menerima seluruh pandangan seorang tokoh, tetapi mengajak pembaca mengenal pemikiran dan kontribusinya, kemudian menilainya dengan pikiran yang terbuka dan kritis.
Perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Justru dengan membaca pemikiran yang berbeda, kita dapat memperluas wawasan dan memahami bahwa perjalanan intelektual umat Islam sangat beragam.
Semoga tulisan-tulisan dalam buku ini dapat menjadi sarana untuk membiasakan diri membaca berbagai pandangan dengan hati dan pikiran yang terbuka. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap dapat saling menghormati sebagai sesama manusia dan, dalam batas pengertian yang saya gunakan, sebagai sesama Muslim. Abdul Salam seorang penganut sekte Ahmadiyah, tetapi apa salahnya kita menghormati temuannya bahwa seorang orang Muslim pertama dari Pakistan yang meraih Nobel. Hal ini hanya bisa jika kita memiliki kerendahan hati. Dengan demikian kita akan lebih muda mencapai persatuan umat yang sepanjang sejarah jadi masalah utama umat, yaitu; tentang komik umat yang terjadi setelah Nabi wafat sampai kini.
Wallahu a'lam bissawab.
Wassalam,
Kompleks GFM, 28 September 2026
Komentar