BAGAIMANA CARA AL GAZALI MENULIS BANYAK BUKU DI ABAD KE 12?


Oleh Ahmad M. Sewang

Imam Al-Ghazali menulis 47 buku dalam usia relatif singkat, yaitu 54 tahun. Berkat kecerdasan luar biasa, daya ingat kuat, serta penguasaan ilmu. Ditunjang oleh kemajuan zaman itu, tempat kertas dan pusat ilmu sudah berkembang pesat. 

Pada hal di abad ke-12 bisa dibayangkan begitu susahnya literatur untuk membaca. Dapat dipahami jika belum ada footnote masa itu.

Beda dengan sekarang kepustakaan dapat dikata, sudah ada dalam satu genggaman berupa Hendpone.

Faktor Utama Produktivitas Al-Ghazali Kejeniusan dan daya Ingat ingat yang kuat. Al-Ghazali memiliki daya hafal dan ketajaman berpikir tinggi sejak muda sehingga mampu merangkum berbagai disiplin ilmu dengan cepat. Fase Uzlah (Pengasingan Diri): Selama bertahun-tahun dalam pengembaraan dan perenungan spiritual, ia menggunakan waktu sunyi tersebut untuk merenung dan menuangkan gagasan murninya ke atas tulisan.

Dukungan Tradisi Ilmiah: Pada abad ke-12 M, dunia Islam (terutama Persia dan Baghdad) telah mengenal industri kertas secara massal dan memiliki lembaga pendidikan besar seperti Madrasah Nizamiyyah. Madrasah artinya tempat belajar. Pengertian madrasah berbeda dengan sekarang. Saat ini dibatasi sekolah dasar. Tetapi dahulu madrasa termasuk Perguruan Tinggi. Hal ini membuat akses literatur dan pencatatan jauh lebih maju dari dugaan umum.

Pengulangan dan Penyederhanaan Materi: Banyak karyanya merupakan ringkasan atau bentuk populer dari kitab induknya sendiri, seperti Kimiya-yi Sa'adat yang merupakan versi ringkas berbahasa Persia dari Ihya 'Ulumuddin. Klarifikasi Jumlah Kitab. Sebagian besar sejarawan mencatat karya otentik beliau berkisar antara 70 hingga 100 judul. Angka ratusan yang sering disebutkan kadang kala dihitung dari judul duplikat atau naskah risalah kecil.

Tetapi sejarawan lain menyebutkan Al Gazali mewariskan 47 buku.

Sebagai disebutkan bahwa Al Gazali bisa menulis buku tebal, seperti Ihya Ulumuddin yang merupakan master piese beliau. Dan dibanding masa kini. Kepustakaan sudah ada dalam genggaman, tetapi kita tidak bisa menulis buku. 

Sudah berapa buku kita wariskan? Pada hal buku itu penting seperti Imam al Gazali, sampai sekarang bukunya, Ihya Ulumuddin masih dipelajari. Seakan beliau berpesan, "Jika engkau ingin dikenang sepanjang masa, maka tinggalkanla warisan tertulis, berupa buku." 

Begitu banyak ulama yang lahir sesudah beliau, lalu dilupakan bersamaan kepergian tubuh kasarnya, karena tidak ada media mengingatkannya.


Wasalam,

Kompleks GFM, 8 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM KEKERABATAN ORANG BUGIS, MAKASSAR, MANDAR DAN TORAJA

SEKILAS SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI ALOR

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN