Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

SETAN DAN GERAKAN PENYESATAN ATAS MANUSIA

Ahmad Mujahid

Seperti telah diketahui secara pasti bahwa setan sangat memusuhi manusia. Setan bertekad menjatuhkan manusia dalam kesesatan yang nyata sebagaimana dirinya telah tersesat. Besar kebencian dan kuatnya tekad setan menggerakkan gerakan penyesatan kepada manusia, tergambar dari permohonan setan kepada Allah, yakni agar ia diberi penangguhan waktu kehidupan. Tujuannya adalah iblis ingin menegakkan gerakan penyesatan atas manusia. Permohonan iblis atau setan dikabulkan oleh Allah. Dengan perkataan Allah menyetujui dan mengizinkan pilihan iblis tersebut. 

Namun patut ditegaskan bahwa izin dan persetujuan Allah tersebut, sama sekali tidak berarti bahwa Allah meridhai pilihan setan, menegakkan gerakan penyesatan terhadap manusia. Dikatakan demikian, karena setan.telah menggunakan hak pilihanya pada pilihan kemurkaan Allah dan bukan pada pilihan keridhaan-Nya. Dengan kata lain, iblis gagal fokus dalam menggunakan takdir tasyriy yang ditetapkan oleh Allah atasnya sebagai bangsa jin, yakni takdir berupa hak memilih jalan keridhaan dan atau jalan kemurkaan.

 iblis dan setan sesungguhnya sangat paham dan mengetahui bahwa hak pilih yang menjadi takdir tasyriinya, telah ia gunakan dalam pilihan yang salah. Oleh karena itu, ia menyesal dengan penyesalan yang sangat dalam, ketika ia memilih menolak sujud kepada Adam as. padahal Allah yang memerintahkannya. Bukti kuat dari penyesalan tersebut, adalah konong iblis mendatangi beberapa nabi dan rasul Allah seperti Nabi Musa as., Nabi Nuh as. termasuk Nabi Muhammad Saw. agar dimohonkan kepada Allah pengampunan. Para nabi dan rasul Allah tersebut, konon memohonkan pengampunan kepada Allah untuk iblis. 

Allah menjawab doa para nabi dan rasul tersebut secara positif, dengan kata lain, pengampunan bagi iblis terbuka lebar atas doa nabi dan rasul Allah, namun dengan syarat, iblis mesti sujud di kuburan Adam as. Namun iblis menolak persyaratan tersebut. Iblis masih saja enggan sujud kepada Adam as.  Iblis pun berkata kepada para nabi dan rasul yang telah mendiakannya, yakni; kalau di waktu Adam saja hidup saya menolak dan enggang sujud kepadanya, lalu bagaimana saya mau sujud kepada Adam di kuburannya, setelah ia mati? Artinya iblis tetap menolak patuh atas perintah Allah. Dia tetap enggang sujud kepada Adam. Sekali lagi iblis gagal fokus dalam menggunakan takdir tasyriinya. 

Iblis tetap kokoh berpegang pada bangunan paradigmanya terkait dengan Adam as. Meskipun iblis telah menyesal, namun belum mampu bergeser dan tidak berubah, tetap konsisten pada paradigma kemuliaan unsur materi penciptaannya dan menganggap rendah dan hina unsur materi penciptaan Adam. Dengan kata lain iblis lebih fokus kepada materi penciptaan dan tidak fokus kepada Allah yang memerintahkannya sujud. Sekiranya titik fokus iblis adalah siapa yang memerintahkannya, yakni Allah, maka pandangan dan pengakuan bahwa diri lebih baik dari Adam tidak akan hadir dalam dirinya. Dengan begitu dia akan taat perintah. 
Pada dasarnya Allah mengisyaratkan kepada iblis, agar  ia lebih fokus kepada siapa yang memerintahkannya bukan kepada obyek yang diperintahkan dan unsur materi penciptaan dirinya dan Adam. Isyarat yang dmaksud, dipahami dari klausa "iz amartuka..." dalam ayat 12 surah al-A'raf.

Kita kembali tentang adanya izin Allah kepada iblis untuk melakukan gerakan penyesatan terhadap manusia. Meskipun Allah mengizinkannya, namun Allah tetap menetapkan batasan-batasan terkait gerakan sosial kejahatan iblis tersebut. Di antara batasan yang dimaksud adalah:

Pertama. Penegasan Allah kepada iblis atau setan, bahwa dirinya sama sekali tidak punya kekuasaan terhadap manusia untuk ia sesatkan, kecuali manusia yang mau ikut dalam kesesatan, seperti dipahami dalam QS. Al-Hijr/ 15: 42. 
Kedua. QS. An-Nahl/ 16: 99 lebih khusus menegaskan bahwa iblis sama sekali tidak punya kekuasaan dan kekuatan untuk dapat menyesatkan orang-orang beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya dan orang-orang beriman yang bertawakkal kepada Allah. 
Ketiga, keterbatasan iblis dan setan dalam meneggakkan gerakan sosial kejahatan penyesatan atas manusia, diakui sendiri oleh iblis. Seperti dipahami dari QS. Al-Hijr/ 15: 40. Dalam ayat ini, iblis menegaskan bahwa dirinya benar-benar akan menyesatkan seluruh manusia. Namun kata iblis, kecuali hamba yang tergolong kelompok orang-orang mukhlisin. 
Keempat, keterbatasan kemampuan dan kekuasaan iblis dalam menjalankan gerakan penyesatannya atas manusia, juga tergambar dari segi keterbatasan arah dan ruang yang dapat digunakan iblis dalam menyesatkan manusia. Yakni iblis hanya mampu menegakkan gerakan penyesatannya dari empat arah, yakni dari arah depan.dan.arah belakang, sisi kanan dan sisi kiri. Iblis tidak mampu menyesatkan manusia dari arah atas dan dari arah bawah. Seperti ditegaskan dalam QS. Al-A'raf/ 7: 17.

Berdasarkan keempat poin di atas, penulis dapat pahami bahwa kekuatan yang dapat digunakan manusia untuk melawan gerakan penyesatan iblis, antara lain: Pertama, dengan memiliki, menghidupkan dan menggunakan kekuataan iman dengan sebenar-benarnya iman. Kedua, dengan kekuatan ikhlas. Ketiga adalah dengan kekuatan kekuatan doa dan ibadah, khususnya ibadah salat. 

Bentuk kekuatan ketiga ini dipahami dari ketidak mampuan iblis menggunakan arah atas dan arah bawah. Arah atas, penulis pahami dengan makna senantiasa berpegang teguh pada fitrah ketergantungan kepada Allah. Di antara bentuk ketegantungan tersebut adalah dengan senantiasa berdoa memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan dari Allah. Sedangkan arah bawah, penulis maknai dengan senantiasa membangun relasi kedekatan kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.  Bentuk kedekatan yang paling dekat, disimbolkan dengan bentuk sujud yang ditemukan dalam gerakan salat. 

Dalam konteks kekuatan doa dan relasi kedekatan dengan Allah, sebagai prisai dan benteng kekuatan menghadapi gerakan kejahatan penyesatan iblis dan setan, imam Ali berkata: "Perbanyaklah doa, niscaya engkau akan selamat dari kekuatan atau kekuasaan setan." "aktsiri al-dua taslim min saurati asy-syaithan." 

Adapun dalam konteks makna membangun relasi kedekatan dengan Allah, sebagai bentuk kekuatan melawan iblis dan setan sebagai musuh besar bagi manusia, di mana iblis dan setan menegakkan gerakan penyesatan atas manusia, cucu keturunan Rasulullah Saw., yakni Imam Muhammad Baqir berkata: " taharraru min iblis bi al-khauf ash-shadiq." Artinya; jagalah dirimu dari iblis dengan ketakutan yang benar kepada Allah. 

Kekuatan yang lebih umum untuk melawan dan menggagalkan gerakan kejahatan penyesatan iblis dan setan adalah dengan senantiasa berzikir kepada Allah dan atau berpegang teguh kepada al-Quran. Seperti dipahami dari QS. Ali Imran/ 3: 155. Kandungan ayat 155 surah ketiga misalnya menegaskan bahwa siapa pun yang berpaling dari zikr ar-Rahman yakni al-Quran, Kami adakan baginya setan yang menyesatkan, maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

sebagai closing statemant tulisan ini, penulis akan kemukakan pengakuan iblis dan setan terkait dengan rahasia kelemahan gerakan kejahatan penyesatannya, sebagai bentuk keterbatasan bagi iblis, seperti dipahami dari riwayat Ja'far ash-Shadiq. Dalam riwayat tersebut, iblis berkata: Lima perkara yang aku tidak memiliki kemampuan tipu daya atas orang yang memilkinya. Sementara orang yang tidak memiliki, maka ia berada dalam kekuasaan genggamanku. 
Pertama, siapa.saja yang berlindung kepada Allah dengan niat yang tulus dan bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan. Kedua, siapa saja yang banyak bertasbih di waktu malam dan siang. Ketiga, barang siapa yang merasa senang dengan saudaranya yang mukmin, seperti ia merasa senang untuk dirinya sendiri. Keempat, barangsiapa yang bersabar atas musibah yang menimpahnya. Kelima, barangsiapa yang rela atau ridha atas reski Allah yang ditetapkan dan dibagikan untuknya serta tidak merasa cemas dengan reskinya. 

Dalam riwayat lain, iblis memberitahukan kepada nabi Musa as. tentang dosa yang apabila anak Adam melakukannya, maka ia berada dalam genggaman kekuasaan setan. Dosa yang dimaksud adalah ketika anak Adam telah membanggakan dirinya, menganggap banyak amalnya dan dosanya dianggap kecil atau ringan di matanya. 

Keterangan lain yang tak kalah pentingnya dikemukakan agar terbebas dari jebakan gerakan penyesatan setan adalah membebaskan diri dari kuasa hawa nafsu dan menjauh dari manusia yang menjadi hawa nafsunya sebagai penguasa dirinya. Juga menjauhkan diri dari amarah dan wanita. Seperti dipahami dari perkataan imam Ali Kw. yaitu: "duduk-duduk bersama orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya akan melupakan iman dan tempat duduk mereka merupakan tempat kehadiran setan." Sementara Imam Ja'far ash-Shadiq berkata: " iblis tidak memiliki bala tentara yang lebih kuat dari pada wanita dan kemarahan." Wa Allah A'lam.

Makassar, 16 Januari 2022.

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...