Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

PEREMPUAN: RIDHA TAKDIR TAKWINI MEMILIH TAKDIR KESELAMATAN TASYRII

Ahmad Mujahid

Takdir adalah ketetapan Allah. Ada dua jenis ketetapan Allah terhadap manusia. Pertama, ketetapan atau takdir Allah yang bersifat takwini. Kedua, takdir ketetapan Allah yang bersifat tasyriy. Terkait dengan takdir ketetapan Allah yang pertama, manusia sama sekali tidak punya andil atau pilihan terhadapnya. Contohnya ditakdirkan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Tidak ada manusia.yang diberi kesempatan untuk memilih menjadi laki-laki atau perempuan. Itu hak progratif Allah. Berbeda dengan takdir ketetapan Allah yang kedua, manusia ditakdirkan Allah untuk berhak memilih. Apakah ingin taat dan patuh ataukah memilih ingkar dan durhaka terhadap takdir tasyriyi. Setiap pilihan memiliki konsekwensi dan dipertanggung jawabkan. 

Kedua jenis takdir di atas, satu sama.lain memiliki relasi yang kuat dan tidak berdiri sendiri. Misalnya ketika seseorang dari sudut takwini ditakdirkan menjadi seorang perempuan, maka dari sudut tasyriy, seorang perempuan berhak memilih dan menggunakan keperempuanannya dalam ketaatan dan kepatuhan kepada syariat Allah ataukah memilih pengingkaran dan kedurhakan kepada Allah. Pilihan apa pun yang dipilih seorang yang ditakdir secara takwini sebagai perempuan akan dipertanggung jawabkan di hadapan dan memiliki konsekwensi atau akibat yang pasti di sisi Allah di hari Perhitungan amal.

Terkait dengan takdir takwini, sikap yang paling rasional adalah menerimanya bukan menolaknya apalagi berusaha merubahnya. Karena sesuatu yang ditakdirkan secara takwini oleh Allah, maka tidak akan ada yang dapat merubahnya. Dengan perkataan lain, kata kunci yang benar adalah ridha dan menjadikan takdir takwini sebagai jalan keselamatan dan kebahagian abadi.

Jadi kalau seseorang ditakdir sebagai perempuan, maka terima dan ridhalah menjadi perempuan, pasti selamat dan bahagia. Jangan pernah ingin menjadi laki-laki, maka pasti sensara. Demikian pula jika ditakdirkan sebagai laki-laki. Jangan pernah menolaknya kemudian ingin menjadi salah satu dari bagian LGBT yakni Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender atau transseksual. Apabila hal yang kedua yang terjadi, maka pasti mengantarkan kepada kesensaraan abadi. Intinya ridha dan gunakanlah takdir takwinimu dalam merespon takdir tasyriy secara positif, dengan begitu, engkau berada di atas jalan keselamatan dan kebahagiaan abadi.

Kita kembali ke tema tulisan di atas. Pesan utama tema tersebut adalah bagaimana perempuan menjadikan takdir dirinya sebagai perempuan menjadi jalan keselamatan dan kebahagian. Dengan perkataan lain, bagaimana perempuan selamat dan menyelamatkan atau bahagia dan membahagiakan dengan takdir takwininya sebagai perempuan. Jawaban pertanyaan tersebut, dapat ditinjau dari berbagai sudut perspektif sebagai perempuan, sebagai berikut.

Dari sudut perspektif kebahasaan misalnya. Istilah perempuan dalam al-Quran, paling tidak ditemukan tiga istilah, yaitu; al-untsa, al-mar'ah, an-nisa. Ketiga istilah ini memiliki konotasi.makna.yang berbeda-beda. Dari ketiganya dapat dipahami siapa dan bagaimana itu manusia perempuan. 

Kata untsa, merupakan kata yang menunjuk jenis kelamin perempuan. Adapun kata yang menunjuk jenis kelamin laki-laki adalah kata zakar. Dengan kata lain, kata untsa lawan dari kata zakar. Makna kata utsa adalah halus, lemah dan lembut. Ketiga makna dapat ditemukan pada perempuan. Kulit perempuan halus,.mulus dan lembut. Fisikal materialnya lemah. Lisan serta perangainya lembut. Keutamaan dan keistimewaan, daya tarik dan kekuatan perempuan pada kehalusan dan kelemah- lembutannya. 

Sabda Rasulullah Saw. pun menegaskan demikian. Beliau menjadikan kelemah-lembutan, yakni layyinun wa hayyinun sebagai karakteristik wanita unggul, mulia dan istimewa. Dengan demikian, perempuan yang hebat adalah perempuan yang menjadikan kehalusan, kelemah-lembutannya sebagai modal kekuatan dirinya baik sebagai individu, sebagai istri dan ibu serta dalam kehidupan sosial masyarakat. 

Kata an-nisa adalah kata yang digunakan dalam menunjuk kepada perempuan yang dewasa. Perempuan yang sudah siap menjadi seorang istri maupun seorang ibu dari anak-anaknya. Al-Ashfahani menjadikan kata an-nisa berakar pada kata "nasiya." makna pokok akar kata "nasiya" adalah lupa. Meninggalkan apa yang tersimpan dalam memori atau ingatan baik karena lemah akal, karena kelalaian dan karena sengaja menghilangkan ingatan dari akalnya. 

Terdapat pandangan yang menjadikan makna asal dari kata an-nisa' tersebut sebagai titik lemah perempuan. Yakni Pandangan menyatakan bahwa perempuan dinamai an-nisa, karena ia suka lupa atas kebajikan suaminya yang banyak dengan kesalahan suami yang sedikit. Menurut penulis, pandangan ini mendiskredikan perempuan. Menurut penulis, perempuan dinamai an-nisa' karena ia paling muda melupakan kebajikan-kebajikannya terkhusus kepada anak-anaknya. Buktinya tidak ada seorang ibu yang meminta balas jasa atas kebajikannya kepada anak-anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati. 

Sebaliknya perempuan juga  paling kuat mengingat-ingat kebajikan suaminya. Buktinya, perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, tidak muda untuk menikah lagi meskipun ada lelaki yang melamarnya, karena kuatnya ingatan perempuan kepada kenangan kebajikan suaminya. Kalau ia menikah lagi, sangat sulit bagi perempuan untuk melupakan hubungan baiknya dengan suami sebelumnya meskipun suami yang baru juga baik dan bahkan lebih baik. Kesetiaan perempuan menjadi salah satu faktor mengapa kebanyakan perempuan lebih suka menjadi janda seumur hidupnya setelah ditinggal mati oleh suaminya dan demi mengurus anak-anak yatim yang tinggalkan suaminya, dari pada menikah lagi.

Berbeda dengan laki-laki. Kata orang, belum kering mayat istrinya di liang kuburnya, ia telah melirik perempuan pengganti. Bahkan ketika istrinya masih hidup sekalipun, terkadang suami sudah main mata dengan perempuan lain. Kebajikan istrinya yang banyak selama ini, tidak mampu menjadi tali pengendali atau menjadi hijab melirik perempuan lain. Suami yang type demikian, sangat muda melupakan kebajikan-kebajikan istrinya. 

Adapun kata al-mar'ah yang juga digunakan menunjuk makna kesempunaan berakar pada kata "maraa." Kata ini menunjuk makna kesempurnaan seseorang atau al-muruwah. Dari makna ini, dapat dipahami bahwa perempuan adalah manusia sempurna sebagaimana laki-laki sempurna, maka laki-laki disebut al-rujuuliyah. Konotasi makna kesempurnaan ini sangat tampak pada diri perempuan. Kesenangannya berlama berdiri di hadapan cermin (al-mir'aat) membuktikan bahwa perempuan sangat sempurna dan teliti dalam menghias dirinya. Tidak ada perempuan yang tidak ingin cantik sempurna, kapan dan di manapun, khususnya di hadapan dan di sisi suaminya.

Kata al-mir'at yang juga berarti cermin seakar kata dengan kata al-mar'ah yang berarti perempuan. Dari sini, penulis dapat tegaskan adanya relasi yang kuat antara cermin dengan perempuan. Buktinya  salah satu barang yang tidak pernah lepas dari seorang perempuan adalah cermin. Makna ini juga dapat menjadi bukti kesempurnaan perempuan. Kata al-mar'ah juga digunakan menunjuk kepada perempuan dewasa, baik sebagai istri dan ibu. Semua makna ini membuktikan kesempu

Bertolak uraian kebahasaan di atas, dapat dipahami bahwa semua an-nisa' dan al-mar'ah adalah al-untsa. Akan tetapi tidak semua al-untsa adalah an-nisa dan atau al-ma'ah. Dikatakan demikian, karena al-untsa yang menunjuk makna kehalusan, kelemah lembutan mencakup perempuan dewasa maupun anak-anak. Sedang kata an-nisa dan al-mar'ah hanya menunjuk perempuan dewasa. Dari sini, maka penulis ingin tegaskan bahwa kehalusan, kelemah lembutan perempuan sebagai modal kekuatannya dirinya, seyogyanya selalu hadir pada setiap fase.kehidupan perempuan, yakni mulai dari fase balita, anak-anak, remaja, dewasa, tau hingga ia sempurna usia kehidupannya ia jalani alias wafat. 

Keterangan lain yang tak kalah pentingnya dikemukakan terkait dengan takdir takwini seorang perempuan adalah ditetapkan di dalam tubuhnya wadah peranakan yang disebut dengan kandungan atau rahim. Nama rahim seakar dengan kata rahmat dan seakar dengan nama Allah yakni Ar-Rahim yang berkonotasi.makna Maha pengasih. Dari sini dapat dipahami diamanahkan peranakan atau rahim kepada perempuan, mengisyaratkan makna bahwa perempuan adalah pemilik kebajikan dan kasih sayang yang paling banyak dari kalangan manusia, baik ia sebagai istri apalagi sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Maka tidak salah, apabila dalam sebuah riwayat yang masyhur, Allah menjadikan perempuan sebagai perempuaan dalam menggambarkan luas dan besarnya kasing sayang Allah kepada hamba-Nya, melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. 

Al-Quran telah mengemukakan perempuan-perempuan yang ridha atas takdir keperempuanannya dan menggunakan takdir tersebut untuk memilih keselamatan dalam.takdir tasyriy. Dalam sejarah Islam pun ditemukan perempuan-perempuan yang demikian, baik sebagai anak perempuan, sebagai istri dan bahkan sebagai pemegang kekuasaan sosial politik. Mereka adalah Asyiah istri Fir'aun dan Maryam. Sedang dalam Islam yang menyejarah, ditemukan seorang Khadijah al-Kubra sebagai ibu dan istri, Adapun sebagai anak perempuan diwakili oleh Fatimah az-Zahrah, putri Rasuliah Saw dan sebagai istri dan istri Ali Bin Abi Thalib. 

Aisyah sebagai perempuan hebat yang memiliki power full terlihat dengan jelas atas kesabarannya menjadi seorang istri dari Fir'aun yang dhalim. Puncak kesabarannya tergambar dalam doanya dalam QS. Tahrim ayat 11. Demikian pula Maryam adalah perempuan yang berperan sebagai seorang ibu yang hebat. Beliau dijadikan sebagai ibu yang melahitkan anak bayi yang langsung diangkat menjadi seorang nabi Allah, yakni Isa as. Maryam kecil sendiri tumbuh berkembang dalam pengasuhan seorang nabi dan rasul Allah. Ibu Maryam sejak dalam.kandungan telah menazarkan anak yang ada dalam kadungannya agar ia senantiasa berada di jalan Allah dan terlindungi dari setan yang terkutuk. Demikian doa ibu Maryam. Terkait dengan Maryam, dapat dibaca dalam al-Quran, di antaranya pada ayat 12 surah at-Tahrim dan tentunya dalam surah Maryam sendiri yakni surah ke 19.

Adapun tentang Khadijah Al-Kubra, sebagai istri Rasulullah Saw. Beliau juga adalah perempuan hebat secara power full. Buktinya beliau adalah perempuan pertama yang memeluk Islam. Pengorbanan beliau untuk pembumiaan risalah Islam yang menjadi tugas Rasulullah Saw. tidak ada yang bisa menandinginya oleh siapa pun dari kalangan sahabat. Dikatakan demikian, karena beliau adalah pemilik 2/3 dari kekayaan daerah Makkah diawal menjadi Istri Rasullah Saw. namun di akhir hayat beliau, Khadijah tinggal memiliki satu baju yang tambalannya tidak kurang dari 80-90 tambalan. Semua harta kekayaannya telah dikorbankan untuk pembumiaan risalah Islam.yang diperjuangkan Rasulullah Saw. 

Khadijah menjelan kewafatannya menyuruh Fatimah anaknya, agar memintakan surban Rasulullah Saw. untuk dijadikan kain kapannya. Khadijah tidak meminta langsung kepada Rasulullah Saw. yang menjadi suaminya sendiri, karena beliau malu kepada Rasulullah Swa. Pada akhirnya, malaikat Jibril turun menemui Rasulullah membawa 5 kain kapan dari surga. Satu untuk Khadijah; satu untuk Rasulullah Saw. Satu lagi untuk Ali Kw; satu untuk Fatimah dan satu lagi untuk Hasan. Rasulullah Saw. kemudian bertanya, mana kain kapan untuk Husain? Jibril menjawab, Husain tidak perlu kain kapan, karena ia akan mati syahid di Karbala. Seorang syahid tidak membutuhkan kain kapan di kewafatannya.  Betapa mulia dan istimewanya Khadijah sebagai perempuan. Kain kapannya saja langsung dari surga Allah.

Fatimah pun adalah perempuan hebat secara power full, sama dengan ibunya. Fatimah merupakan pemimpin perempuan di surga. Beliau adalah sayyidatun nisa' filjannah. Beliau adalah ibu yang melahirkan anak-anak yang menjadi pemimpin anak-anak muda di surga yakni Hasan Husain. Suami beliau adalah suami pilihan Allah, yakni Ali bin AbI Thalib. Rasulullah Saw. sendiri yang mempersiapkan Ali sebagai suami anaknya dan mempersiapkan anaknya, Fatimah az-Zahrah sebagai istri Ali Kw. 

Itulah sebabnya ketika Fatimah dilamar oleh seorang sahabat yakni Usmant bin Affan, Rasulullah Saw. menolaknya secara halus. Namun ketika Ali bin Abi Thalib melamar Fatimah, langsung diterima oleh Rasulullah Saw. Hasan dan Husain yang merupakan anak Fatimah dan Ali Kw. dinisbahkan sebagai anak keturunan Rasulullah Saw. Kepada Hasan-Husain garis keturunan disandarkan. 
Patut juga penulis, kemukakan bahwa keistimewaan Fatimah lainnya adalah beliau tidak pernah mengalami haid, itulah sebabnya beliau digelari az-Zahrah, demikian keterangan yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili dalam karya Tafsirnya, yakni Tafsir al-Munir.
Sebagai closing statement, penulis akan mengemukakan sabda Rasulullah Saw. terkait perempuan-perempuan hebat secara power full. Beliau berkata: " Haththa Rasulullah Saw. fi al-ardh arba'ata huthuuth, qaala: atadruuna ma haaza? Qaaluu: Allah wa Rasuluhu a'lam. Fa qaala Rasulullah Saw: "afdhalu nisaai ahli al-jannah, Khadijah binti Khulaid, wa Fatimah binti Muhammad wa Maryam ibnatu Imran wa Asiyah binti Muzaahim imraatu Fir'aun radhiyah Allah anhunna ajmain. 
Artinya: Rasulullah Saw. membuat empat garis di tanah. Beliau lalu berkata:" Tahukah kalian, apa maksudnya ini? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: Perempuan penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khulaid, Fatimah binti Muhammad Saw., Maryam binti Imran dan Asiah binti Muzahim, istri Fir'aun. (Hadis Riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Abbas). 
Demikianlah gambaran keempat perempuan hebat secara power Full. Wa Allah A'lam. Semoga manfaat dan mencerahkan. 
Makassar, 12 Januari 2022.

1 komentar:

saadyanadel mengatakan...

Slots.lv Casino Adds New Games For The Planet - KC
The Slots.lv Casino is now 강원도 출장안마 launching 원주 출장마사지 on The 김제 출장샵 Slots.lv Casino's 안동 출장안마 newest addition, the Slots.lv Casino's new games features over 충청남도 출장마사지 1,600

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...