Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

KHAZANAH SEJARAH:MENYAKSIKAN PARODI YANG SERBA BID'AH

by Ahmad M. Sewang 

Beberapa waktu lewat, saya menyaksikan sebuah parodi tentang bid'ah di youtube yang dimuat secara berulang di WA. Kelihatannya tempat shotingnya di daerah Arab Saudi, karena pelakunya memakai surban dan dilakonkan dalam bahasa Arab. Kisahnya melukiskan antara seorang penumpang yang gagal paham bersama dengan seorang driver yang juga gagal memberi pengertian.

Terakhir youtube serba bid'ah tersebut masuk di facebook saya, postingan seorang teman dari Unhas, Supa Atha'na. Setelah mempelajari jalan ceritanya, kelihatannya baik si penumpang atau pun driver, keduanya termasuk golongan manusia gagal. Si penumpang gagal paham, sedang sang driver juga gagal memberi pemahaman. Keduanya saya bisa memakluminya karena mereka sepertinya orang awam, bukan manusia terpelajar. Karena itu yang menonjol dari mereka adalah sikap emosi dan fanatisme.

Youtube memulai ceritanya dari sang sopir yang menghidupkan AC mobil. Si penumpang pun langsung menegur sopir, "Calaka kamu! tidak pernah ada AC di masa al-salifus Salih. Artinya, itu terkutuk." Kemudian sopir tambah berulah dengan membunyikan radio. Penumpang pun menegur dengan mengatakan, "Celaka kamu! tidak ada radio di masa al-salifus salih. Radio itu buatan orang kafir, karena itu, radio lagi-lagi bid'ah yang terkutuk." Bulum selesai perbincangan, tiba-tiba sopir menerima panggilan telepon. Si penumpang langsung bekila, "Jangan sama sekali terima panggilan itu. Itu buatan orang kafir yang mal'un."

Akhirnya, sopir mulai bosan mendengar  ocehan si penumpang serba bid'ah yang haram. Sang sopir balik bertanya, "Bolehkah saya bertanya satu masalah?" "Tafaddal ya sopir!" kata si penumpang. "Apakah ada mobil di masa al-salifus salih?" Setelah dijawab, "Kallaa" yang artinya, tidak ada, maka sopir mengambil tindakan tegas dengan menghentikan mobilnya sambil berteriak-teriak, "Turun! turun!" Sang penumpang pun terpaksa turun. Ia hanya sempat menggerutu, "Sampai hatimu mengusir saya," katanya. Kemudian, sebelum berpisah, ia masih sempat berujar pada sopir, "Tidak ada mobil di zaman al-salifus salih." Mungkin kisah ini dianggap berlebihan, tetapi cukup sebagai pelajaran. 

Dari banyak postingan sebelumnya bahwa sepanjang bacaan saya, bid'ah pada hadis Nabi saw. terbatas pada masalah akidah dan ibadah mahdah yang sudah dibakukan, tidak boleh ada inovasi yang dalam bahasa agama, memang disebut bid'ah, tidak boleh ada perubahan, kapan ada perubahan hukumnya haram. Berbedah dengan masalah sosial kebudayaan, justru jika ingin maju, maka diperlukan inovasi atau bid'ah, kapan tidak ada bid'ah akan ketinggalan atau ditinggalkan. 

Saya berpandangan, kemampuan membedakan antara bid'ah yang dilarang dan inovasi yang dibolehkan adalah pelajaran dasar bagi setiap muslim untuk menghindari gagal paham, seperti yang dialami si penumpang tersebut di atas.

Wasalam,
Makassar, 20 Januari 2022

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...