Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

KHAZANAH SEJARAH: PERUBAHAN SOSIAL BERLANGSUNG CEPAT BAK AIR BAH TAK TERBENDUNG


by Ahmad M. Sewang

Bagian Pertama
Ketika Nabi hijrah ke Madinah, di antara program beliau adalah mengunjungi masyarakat petani kurma. Dalam hadis disebutkan, bahwa pra petani waktu itu sedang mengawinkan serbu kurma. Nabi menyapa mereka,  "Kalian sedang kerja apa?  Mereka berkata, "Kami biasa melakukannya." Nabi berkata, 
لو لم تفعلوا كان خيرا، قال: فتركوه فنفضت، أو قال فنقصت، 
"Mungkin jika Anda tidak melakukannya, itu akan lebih baik."  (Para petani itu menganggapnya sebagai wahyu), sehingga mereka meninggalkannya dan ternyata gagal panen. Nabi bersabda: Saya juga manusia biasa, jika saya memerintahkan pada kalian masalah "din", maka peganglah itu, tetapi jika saya memerintahkan dari pendapat saya sendiri, (ketahuilah) saya juga adalah manusia biasa.
وإذا أمرتكم بشئ من دينكم فخذوا به، وإذا أمرتكم بشئ من رأيي فإنما أنا بشر
Diriwayatkan Muslim dan an-Nasa'i.
Di tempat lain Nabi bersabda, أنتم أعلم بأمر دنياكم, lengkapnya hadis itu berbunyi,
عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون النخل، فقال: (لو لم تفعلوا لصلح، قال: فخرج شيصًا) - تمرًا رديئًا - فمر بهم، فقال: (ما لنخلكم؟)، قالوا: قلت كذا وكذا.. قال: ( أنتم أعلم بأمر دنياكم)

Islam adalah agama fitrah yang selalu menjaga keseimbangan dari dua kutub yang saling berhadapan antara din dan dunia. Apa itu din? Kita akan memasuki aneka pendapat. Satu di antara definisi dikemukakan oleh Syekh Yusuf al-Qaradawi, yaitu din berhubungan dengan masalah الثبوت dalam Islam, sesuatu yang tetap dan tidak bisa berubah, seperti Akidah dan Ibadah Mahdah. Kapan berubah, itulah yang dinamakan bid'ah yang dilarang. Dalam salah satu hadis sangat tegas berkata:

 ‏"‏ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Barangsiapa yangmendapakan petunjuk dari Allah tidak akan sesat dan siapa yang disesatkan, maka tidak akan mendapat petunjuk baginya. Sesungguhnya perkataan paling benar adalah kitab Allah, urusan paling buruk adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka.

Sebaliknya ada yang disebut dunyah. Dalam hadis disebut, "Kalianlah yang lebih tahu tentang duniamu." Masalah dunia menurut al-Qaradawi, berhubungan dengan muamalah kebudayaan dan masalah tersebut bersifat tatawwur. Tatawwur adalah antonim dari subut, yaitu terus-menerus berkembang dan berubah semakin ke masa kini semakin cepat perubahan itu berlangsung. Ajaran Islam yang bersifat subut dan tatawwur adalah pelajaran dasar bagi setiap muslim. Tanpa memahaminya, berarti akan terjadi semacam gagal paham dan itulah yang melanda sebagian komunitas muslim.

Ajaran tatawwur terus-menurus berkembang tanpa pernah berhenti yang setiap hari makin cepat. Menurut hasil penelitian Peter Russell bahwa perubahan ditinjau dari segi hasil kelipatan perkembangan iptek, baru terjadi dua kali lipat dalam jarak waktu 50.000 tahun pada masa pra sejarah. Semakin ke sini perubahan itu berlangsung semakin cepat sampai tahun 1973 perubahan terjadi dua kali lipat hanya memerlukan jarak waktu lima tahun. Sekarang perubahan itu, seakan terjadi setiap saat. Jadi andai kata ada orang tidak mengikuti trend perubahan itu diibaratkan orang berdiri di tengah jalan Sultan Alauddin yang sedang sibuk lalu lintas padat, dan yang akan terjadi pasti ia akan tergilas kendaraan yang lalu lalang.

Saya pernah menulis, tepatnya di bulan November 2020, betapa di dunia ini telah terjadi perubahan ke perubahan yang tidak bisa ditebak. Sampai ahli sosial budaya berpandangan tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri. Dalam QS al-Rahman: 26-27 disebutkan,
QS Ar-Rahman, 26-27,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa (berubah)
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
Itulah hukum perubahan pada ilmu budaya. Binatang, misalnya, tidak berubah sejak jaman Nabi Adam tetap telanjang bulat sampai masa kini. Karena itu ia disebut tak berbudaya.

Ketika kuliah di Jakarta 1986 pertumbuhan Warung Telekomunikasi (Wartek) bagai cendawan di musim hujan. Di mana dengan mudah metemukan Wartek. Tetapi mamasuki era HP, Wartek satu persatu berguguran, sampai pada akhirnya Wartek menyerah kalah tak berkutik. Akhirnya, era Wartek betul-betul tamat dan digantikan model lain dalam berkomunikasi, yaitu lewat HP.

Perubahan begitu cepat berlangsung, terkadang di luar perkiraan manusia sendiri. Baru saja kita dikagetkan pengusaha taksi yang menguasai dunia transfortasi. Sekarang satu per satu gulung tikar digantikan oleh alat transfortasi digital, seperti Grab atau Gojek. Sebagian taksi yang ingin bertahan harus tunduk mengikuti sistem digital, sebab jika tidak, mereka akan sekarat. Grab sudah memasuki bandara yang dijadikan benteng pertahanan terakhir taksi. Grab dengan sistem digital begitu meninabobokan penumpang. Setiap pesan via telepon segera direspon dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tak perlu tawar menawar. Driver datang dengan harga pasti. Ditambah lagi pelayanan prima. Driver tidak mungkin mempermainkan penumpangnya. Jika driver mencoba mempermainkannya akan rugi sendiri lagi pula segera terdeteksi di pusat data dan akan dapat sanksi dari perusahaan, sebab mereka di kontrol sebuah sistem on line. Grab selalu memanjakan konsumennya dengan fasilitas dan inovasi baru. Misalnya program Ovo lewat pembayaran otomatis. Baik penumpang atau pun driver saling diuntungkan karena tidak lagi menunggu pengembalian uang kecil. Pesan makanan bisa lewat Grab Food, pelanggan tinggal menunggu di rumah dengan santai. Perubahan ini akan terus-menerus berlangsung.

Demikian halnya dalam dunia bisnis sedang berkembang transformasi ke sistem e-commercial yang bisa mempengaruhi bisnis konversional. lihatlah peristiwa gerai atau toko ritel lokal maupun asing tumbang satu per satu. Beberapa perusahaan pun di ambang kebangkrutan. Mulai dari 7-Eleven, Matahari Department Store, Nyonya Meneer, sampai yang terbaru raksasa ritel mainan global Toys "R"  yang terlilit tumpukan utang. Artinya, semua segmen kehidupan sedang terjadi transformasi. Jadi jika ingin survival dalam dunia bisnis, harus bisa mempelajari trend perubahan konsumen yang sedang mulai bergerak ke trend baru. Sudah banyak konsumen beralih berbelanja lewat sistem online. Trend ini, semakin hari semakin ramai digemari dan susah dibendung, seperti dengan cara demonstrasi para sopir penumpang konvensional terhadap sopir Grab. Memang, berhenti sementara, sesudah itu jalan lagi, bahkan lebih ramai dan legal. Pemerintah pun terpaksa melegalkan, sebab itulah trend zaman yang tak terbendung. Jika tidak, pemerintah akan hanyut terbawa arus yang semakin deras.

Seri berikutnya, perlu melihat pengaruh trend transformasi perubahan terhadap masalah keagamaan. Perubahan itu memberi dampak positif dan negatif pada pengembangan agama sendiri.  Jangan sampai jika tidak ikut dalam trend perubahan. Akan tertinggal atau ditinggalkan oleh umat.

Natijah,
1. Islam agama fitrah yang menjaga keseimbangan antara yang subut dan yang tatawwur.
2. Inovasi artinya bid'ah, dalam muamalah dan kebudayaan wajib ada bid'ah tanpa ada bid'ah akan ketinggalan atau ditinggakan. Dalam aqidah dan ibadah mahdah tidak boleh ada inovasi atau bid'ah, kapan ada bid'ah, maka itu adalah kesesatan dan kesesatan tempatnya dalam neraka.
3. Ini pelajaran dasar yang wajib dikuasai agar tidak gagal paham. Kekisruhan terjadi di sebagian komunitas muslim, karena tidak bisa membedakan ajaran subut dan tatawwur bahkan terkadang dipertukarkan.

Wasalam,
Makassar, 13 Januari 2022


Bagian Kedua
Dalam sebuah pertemuan dengan almarhum Ust. Ir. Nur Abdurrahman, seorang kolumnis harian Fajar. Pertemuan itu berlangsung di Aula DPP IMMIM sebelum beliau dipanggil Allah swt. Almarhum menjelaskan makna sebuah hadis yang berbunyi, أنتم أعلم بأمر دنياكم . Beliau berkata, sekalipun masalah dunia tidak bebas begitu saja mengamalkannya, tetapi haruslah tetap dibingkai oleh nilai, agar berada dalam aturan Ilahi, sambil memberi contoh, "Berbisnis itu masalah dunia, namun tetap harus dalam bingkai nilai, agar tidak menipu atau berbohong." Itulah yang dipesankan beliau. Sebagai telah dijelaskan bahwa masalah duniya yang dimaksud berhubungan masalah sosial kebudayaan yang mengalami perubahan terus-menerus. Dalam ilmu budaya dikatakan, "Semua berubah kecuali perubahan itu sendiri". Dalam QS al-Rahman, 26-27 disebutkan,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa (berubah). Dan yang tetap kekal adalah Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Perubahan tersebut termasuk mempelajari ilmu agama.

Seperti yang pernah dikemukakan bahwa perubahan dalam masalah sosial budaya terkadang berpengaruh pada sebuah fatwa. Imam Syafii berfatwa bahwa dalam satu transaksi haruslah berlangsung dalam sebuah ruangan dan saling bertemu secara fisik. Sekarang fatwa ini, sudah sulit diterapkan di banyak tempat, karena transaksi cukup lewat ATM atau HP. Andai Sang Imam hidup sekarang, fatwanya tersebut akan diubah, sebagaimana saat beliau mengubah fatwanya karena perubahan kondisi sosial ketika ia pindah dari Bagdad ke Mesir.

Sekali pun sedang terjadi revolusi iptek yang begitu cepat di awal abad ke-21 dibanding abad-abad sebelumnya. Satu di antaranya sebagai perbandingan adalah peristiwa sejarah yang dialami Imam Bukhari. Beliau berhari-hari menempuh perjalanan jauh ribuan kilo meter sekedar menemukan sebuah hadis. Saya teringat ketika studi hadis di PPs Jakarta 1987 yang di bimbing Prof. Quraish Shihab. Begitu banyak waktu terbuang di perpustakaan membuka lembaran demi lembaran kitab Tahzib al-Tahzib untuk melakukan takhrij satu hadis. Sekarang saya menemukan sebuah software yang dengan mudah menemukan satu hadis dalam tempo sesingkat-singkatnya. Hadis yang dicari akan muncul, lengkap dengan hasilnya seperti sanad, perawi, dan matan serta tingkat kualitas hadis itu. Software tersebut saya tanyakkan akurasinya kepada ahli hadis. Jawabannya bahwa takhrij hadis lewat software bisa dipercaya sama akurasinya dengan yang ada dalam kitab Tahzib al-Tahzib, karena sumbernya berasal dari buku-buku hadis juga. Bedanya software tersebut sudah diprogramkan untuk memudahkan dan mempercepat pentakhrijan sebuah hadis. Jadi, meneliti satu hadis tidak perlu lagi memakan waktu berhari-hari dalam perpustakaan atau melakukan perjalanan beribu kilo meter dalam menemukan sebuah hadis. Sama dengan menemukan asbab wurud ayat Alquran dengan bantuan software para penuntut ilmu akan lebih mudah menemukannya.

 NATIJAH: 
1. Ilmuwan yang hidup di masa kini seharusnya bisa berbuat lebih banyak dari ilmuwan pendahulunya, karena bisa melakukan akselerasi dan efisiensi waktu belajar. Dalam kenyataan tidak demikian, sehingga saya pernah tanyakkan masalah ini kepada Prof. Quraish Shihab. Sebagai contoh Imam al-Gazali (w. 1111 M.) Beliau dalam umur 52 tahun, sudah mampu meninggalkan tulisan 70 buah buku, menurut Ali al-Jambuti. Buku-buku karangan beliau telah menghiasi perpustakaan dunia dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pertanyaannya, kenapa dalam kemajuan iptek sekarang rata-rata ilmuwan kurang produktif, tidak seproduktif Imam al-Gazali? Sekarang mari bertanya pada diri sendiri, sudah berapa banyak buku yang bisa dikontribusikan ke dunia ilmu pengetahuan?
2. Para ilmuwan diharapkan bisa belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terus-menerus. Satu-satunya halte, tempat pemberhentian adalah ketika Malaikat Israel datang memanggil, jika umat ingin menjadi khaerah ummat yang memenangkan persaingan di dunia atau menjadi umat yang يعلو ولا يعلى عليه  .

Wasalam,
Makassar, 17 Januari 2022

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...