Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

27 Desember 2021

KHAZANAH SEJARAH: PERSATUAN UMAT DAN SALING MEMAHAMI PERBEDAAN (2)

by Ahmad M. Sewang

Pada seri pertama tulisan ini telah saya kemukakan dua langkah awal. Seri kedua ini saya lanjutkan sebagai berikut, 
3. Saya pun telah mencoba menawarkan beberapa waktu lewat orang-orang yang bersyarat ditunjuk sebagai pemimpin yang diperkirakan bisa diterima semua kelompok, sekaligus diharapkan bisa menutupi celah pertanyaan dari umat sendiri, seperti kenapa pemimpinn yang diambil dari NU atau Muhammadiyah, Syarikat Islam atau Perti dan seterusnya? Demikian halnya pemimpin yang terpilih dan mendapat amanah tidak bisa lagi merasa sebagai pemimpin kelompok atau pun organisasi, melainkan pemimpin umat bahkan bangsa secara keseluruhan.

4. Beberapa waktu terakhir ini,  baik di tingkat internasional atau pun tingkat nasional sedang digalakan upaya persatuan umat. Pada tingkat Internasinal sudah beberapa kali dilakukan konprensi. Satu di antaranya menghasilkan risalah Aman. Demikian halnya setiap tahun pada tingkat internasonal dilaksanakan التقريب بين المذاهب 
(Pendekatan antara mazhab).
Menyangkut kegiatan terakhir ini sedikit banyak saya mengetahui karena selalu ada undangan. Seminggu lalu dapat lagi undangan, saya mohon maaf karena tidak bisa memenuhi undangan panitia tersebut sebab saya dalam proses pemulihan kesehatan. Pada tingkat Nasional secara periodik pula dilakukan pertemuan antara ormas dan mazhab yang berbeda. Pertemuan itu sebagai upaya mencari titik temu antara perbedaan. Saya berpendapat jika titik temu yang akan dicari, insya Allah saya optimis akan keremu; tetapi jika titik beda yang dicari pasti sampai kiamat pun tidak akan jumpa, sebab satu organisasi saja sudah ditemukan banyak perbedaan.  Terakhir kegiatan ini juga sedang digalakan. Memang di dalam Islam masih ada kelompok yang berpikir eksklusif tertutup yang merasa hanya dia saja yang benar sedang orang lain yang berbeda dengannya adalah salah. Menghadapi orang semacam ini diperlukan kesabaran dan selalu saya katakan, "walau pun beda dengab saya, namun dia adalah saudara saya," karena perbedaan itu sunatullah dan tidak menghalangi menjalin persaudaraan.

5. Kenapa perlu persatuan umat? Saya berpandangan jika umat Islam bersatu adalah keuntungan dan kebaikan bersama seluruh bangsa, sebab umat Islam di Indonesia mayoritas dan akan bisa menjadi rahmat dan mengayomi seluruh bangsa yang berbenika tunggal ika. Sekarang yang diperlukan adalah upaya menuju pada persatuan umat dan bersamaan dengan itu secara simultan perlu diiringi pembangunan sumber daya umat untuk mempersiapkan umat yang inklusif. Hal ini bagi umat Islam tidaklah sulit sebab sudah punya pengalaman historis, seperti dalam pembentukan masyarakat Madinah yang berpenduduk plural. Di situ berbagai kelompok, etnis, dan agama. Ternyata semua penduduk yang plural merasa aman dan damai, serta tidak ada agama yang tereliminasi dan Islam jadi rahmat untuk semua. Tidak heran jika bapak bangsa, almarhum Prof. Nurcholis Majid berpandangan bahwa masyarakat Madinah lahir mendahului zamannya. Saya optimis kita pun bisa membentuk masyarakat Madinah jilid II yang seluruh warga saling menghargai dan saling hormat satu sama lain. 

Jika di kalangan umat masih ada yang merasa terganjal untuk bersaatu karena perbedaan masalah ushul, menurut Prof. H.M. Quraish Shihab, turunkanlah sementara masalah usul itu menjadi masalah furu' sehinggab lebih  mudah  dibicarakan, jika tjuan utamanya meinginkan persatuan. 

Akhirnya, ide ini diakui memang masih sederhana dan sangat tidak sempuna. Saya sama sekali jauh diri klaim paling benar, melainkan membuka diri dengan penuh kerendahan hati menerima masukan. Saya sungguh bergembira jika ada di antara nerizen/para pakar yang terhormat bisa melengkapinya. Untuk itu saya menungguh masukan itu dengan penuh harap.

Wasalam,
Makassar,  27 Agustus 2021

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...