Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

27 Desember 2021

KHAZANAH SEJARAH: MEMBUNUH KEBENARAN, WALAU TETAP DALAM BAYANGAN AIB DAN DOSA

by Ahmad M. Sewang 

Seorang tokoh militer Indonesia mendeskripsikan fenomena masyarakat masa kini. Beliau adalah Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnarki. Kisah ini sudah,  dua kali saya introdusi, karena begitu menarik dan relevan. Dimuat ulang lagi dengan narasi berbeda, sehubungan dengan pelakasanaan diskusi virtual DPP IMMIM pada 21 Agustus 2021 dengan menampilkan dua pembicara, 1. Prof. Dr. H.M Quraish Shihab, M.A. dan 2. Prof. Dr. Thahir Kasnawi,  M.Si.

Tentara musuh memasuki sebuah desa, Letjen Kiki memulai kisahnya. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita di desa itu, kecuali seorang wanita yang selamat dari penodaan. Dia melawan, membunuh, dan kemudian memenggal kepala tentara yang akan menodainya.
Ketika seluruh tentara sudah pergi meninggalkan desa itu, para wanita malang semuanya keluar dari tempat persembunyiannya dengan busana compang-camping, menangis dan meratap, kecuali seorang wanita tadi. Dia keluar dari rumahnya dengan tegar, busana rapat, dan bersimbah darah sambil menenteng kepala tentara itu dengan tangan kirinya. Para wanita bertanya: “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu dan selamat dari bencana ini?”

Ia menjawab: “Bagiku hanya ada satu jalan keluar. Berjuang membela diri atau mati dalam menjaga kehormatan.”
Para wanita itu dengan penuh hormat mengaguminya, namun dalam waktu beberapa detik rasa kagum itu menjadi rasa was-was yang merambat dalam benak mereka. Bagaimana nanti jika para suami menyalahkan mereka gara-gara tahu ada contoh wanita pemberani ini?
Mereka kawatir sang suami akan bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati terhormat dari pada hidup ternoda?”

Kekaguman pun segera berubah menjadi ketakutan yang memuncak. Bawah sadar ketakutan para wanita itu seperti mendapat komando. Mereka sponton beramai-ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya. Ya, membunuh kebenaran agar mereka dapat bertahan hidup dengan meyembunyikan aib dan fenomena kelemahan bersama.

Beginilah kondisi sosial kita saat ini, orang-orang yang terlanjur rusak, kata sang Letjen dalam kisahnya. Para wanita itu mencela, mengucilkan, menyerang dan bahkan membunuh eksistensi orang-orang yang masih konsisten menegakan kebenaran, agar kehidupan mereka tetap terlihat berjalan baik.

Walau sesungguhnya penuh aib, dosa, kepalsuan, pengkhianatan, ketidakberdayaan, dan menuju pada kehancuran nyata.
Sebelum terlambat, pastikan berani berpihak kepada kebenaran.

Demikian Letjen Kiki Syahnarki, mengekspresikan kondisi masyarakat kini dalam bentuk sebuah kisah imajiner pendek.

Wassalam,
Makassar, 12 Agustus 2021

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...