Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

27 Desember 2021

KHAZANAH SEJARAH:AMBIVALENSI DUNIA

by Ahmad M. Sewang 

Di dunia manusia dilahirkan dan di dunia pula manusia menjadi tempat bertolak menuju kampung akhirat. Di dunia manusia menentukan nasib, apakah mereka beruntung atau buntung sangat tergantung pada amal dan ikhtiar. Terkadang manusia telah beramal dan berikhtiar maksimal dengan sungguh-sungguh tetapi hidupnya biasa-biasa saja. Di sini juga manusia harus percaya pada yang gaib penuh misteri.

Di dunia manusia juga menentukan nasibnya di akhirat. Apakah mereka akan menjadi penghuni surga? Kehidupan akhirat hanya tempat menerima pembalasan atas amal perbuatan selama di dunia. Ingin hidup penuh kesenangan dalam surga, maka beramal baiklah selama di dunia. Neraka pun demikian, jika ingin hidup sengsara dalam neraka, naru jahannam kualifikasi fiha, beramal buruklah selama di dunia. Jadi terserah pada manusia tentang hunian apa yang akan mereka inginkan di akhirat. Di dunia kinilah, tempat memastikan.

Ada yang mendeskripsikan bak dua anak manusia bersepakat meninggalkan kampung halaman kelahirannya menuju sebuah tempat kerja yang jauh dari kampung halamannya. Keduanya mendapatkan penghasilan lumayan. Walau kedua perantau itu memiliki tipe yang beda. Yang satu penghasilannya ditabung bahkan sebagian dikirim ke kampung untuk membangun rumah hunian lumayan sebelum kontrak kerjanya berakhir. Berbeda dengan temannya, ia hidup berpoya-poya sehingga seluruh penghasilannya ludes tak tersisah. Pada waktu kontrak berakhir, ia kembali ke kampung, hidupnya hampa, sama saja sebelum pergi kerja dan setelah pulang kembali ke kampung setelah kontraknya berakhir, sehingga ia tidak bisa menikmati hasil amalnya seperti temannya tadi. Justru ia menanggung derita selamanya. Itulah ibarat yang diberikan ulama bijak untuk dijadikan pelajaran. Bukankah salah satu manfaat sejarah menurut Alquran surat Hud ayat 120 adalah untuk pelajaran bagi orang yang ingin belajar? Bukankah guna edukatif ini jauh lebih bermanfaat daripada hoby memproduksi terus kegaduhan yang a historis?

Wasalam,
Makassar, 28 Oktober 2021

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...