Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

18 Februari 2021

HIKMAH DI BALIK PERISTIWA

by Ahmad M. Sewang 

Di dalam menjalani hidup di dunia, banyak peristiwa datang silih berganti, boleh jadi peristiwa suka yang membuat hati berbunga-bunga atau peristiwa sedih yang menghadang di depan. Kedua peristiwa itu, seharusnya disikapi dengan bijaksana tanpa berlebihan. Andai peristiwa itu menggembirakan karena bisnis mencapai sukses, atau promosi karier yang menanjak naik, sikapilah dengan bersyukur pada Allah swt. atas karunia nikmat yang dianugerahkan-Nya, sambil menghindari sikap berlebihan, apalagi sampai bersikap arogansi. Sebab mungkin sukses yang diperoleh boleh jadi adalah ujian dari-Nya. Lihatlah khabar yang pernah saya sharing bahwa ada seorang calon  kepala daerah yang sukses meraih suara terbanyak dalam pilkada di Lampung, namun belum cukup sebulan setelah dilantik sebagai pemimpin tertinggi di satu daerah. Dia tertangkap basah KPK dan menghabiskan umurnya dalam bui.

Sebaliknya, jika yang menghadang adalah kegagalan, bisnis bangkruk dan tak bisa lagi recovery atau kegagalan dalam pilkada sementara sudah menghabiskan banyak biaya pengeluaran. Hadapilah itu juga dengan biasa-biasa, tak perlu memperturutkan kesedihan secara berlebihan. Sebagai umat yang beragama harus percaya bahwa sepahit apapun peristiwa yang menimpa yakinlah di balik itu ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Kita banyak mendengar ada orang diliputi kesedihan mendalam karena ketinggalan pesawat di air port Sutta. Padahal dia harus berangkat karena sudah memiliki komitmen penandatanganan kontrak penting segera setelah pesawat lending di tempat tujuan. Namun di tengah duka yang melanda dia melihat breaking news di layar kaca pengumuman  bahwa pesawat yang baru saja take of, setengah jam lalu, mengalami kecelakaan jatuh ke dasar samudra dan semua penumpangnya meninggal dunia. Kesedihahan mendalam karena ketinggalan pesawat mendadak berubah jadi kesyukuran pada Sang Pencipta, karena Yang Maha Kuasa masih memberikan kesempatan untuk beramal salih. Kita juga mendapatkan sebuah peristiwa bahwa ada seseorang yang bersedih karena tidak terpilih dalam pilkada. Di kemudian hari, baru diketahui bahwa ia beruntung tidak terpilih karena rivalnya yang baru sebulan dilantik itu justru terlibat dalam lingkaran korupsi, seperti telah diurai pada alinea pertama di atas.

Dalam ajaran Islam terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Huraerah. Nabi saw. mengingatkan bahwa cinta dan benci hendaknya dilakukan tidak secara berlebihan,
وأَحبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا
"Cintailah orang yang engkau cintai dengan seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci dengan tidak berlebihan, karena bisa jadi suatu hari justru dia akan menjadi orang yang engkau cintai."
Artinya, peristiwa apapun menghadang, suka atau pun duka, cinta atau pun benci, perlu disikapi dengan lebih wise dan tak perlu disikapi berlebihan. Dunia ini penuh misteri, tak seorang pun yang tahu di balik semua kejadian. Pengetahuan manusia sangatlah terbatas, 
وما اوتيتم من العلم الا قليلا
Dunia yang dihuni ini tidak pernah berhenti berputar satu kali 24 jam, terkadang kita di atas dan terkadang harus di bawah, bak orang yang berjalan antara kaki kanan dan kiri saling bergantian. Bukankah, di balik semua peristiwa, tersimpan sebuah hikmah? Justru segera setelah kesuksesan yang diraih atau kegagalan yang menghadang, bisa jadi momentum terbaik untuk merenung dan menilai orang sekitar, mana sebenarnya sahabat sejati atau mana teman semu kamuflase? "Lebih baik memilih sahabat tulus yang kritis daripada memilih sahabat yang sesungguhnya meracuni pujian imitasi." Sayang sekali orang lebih suka diracuni pujian artifisial daripada kritikan membangun.

Wassalam
Makassar, 8 Februari 2021

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...