Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

29 Januari 2020

KEHIDUPAN SEMAKIN KONTRADIKTIF

by  Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA.

Bagian Pertama
Ketika masih di MUI, BPJS hukumnya haram, setelah ditahta kekuasaan hukumnya halal.

Inggris, negara sekuler, berusaha memasukkan kurikulum agama ke sekolah-sekolah. Sementara di Indonesia negara Pancasilais yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa berusaha mengeluarkan agama dari kurikulum Sekolah.

Kandidat presiden bagi-bagi uang saat kampanye. Kandidat lawannya menerima sumbangan uang saat kampanye

UIN, tempat bongkar pasang hadis Nabi. Satu di antaranya berbunyi, "Bayarlah upah sebelum kering keringatnya." Tetapi, dalam kenyataan sampai setelah keringat kering, honor belum dibayar. 

Wassalam,
Makassar, 29 Januari 2020


Bagian Kedua
Kementerian agama dibentuk untuk memelihara moral dan integritas bangsa. Sekarang kementerian agama mempertontonkan krisis integritas dengan meperjualbelikan jabatan.

Ada pimpinan partai berkoar-koar Pancasilais dan NKRI harga mati,  tetapi kenapa terperangkap OTT ditengarai jual beli jabatan di Kemenag?

Menteri agama, menteri yang mengurusi masalah kualitas moral umat, kenapa melakukan korupsi dana haji?

Rocky dan Natalius Pigai non-muslim, namun gigih mengadvokasi umat Islam dan dapat applause dari umat. Keduanya bak oase di tengah munculnya tokoh Islam, justru sering memojokkan muslim sendiri. 

Wassalam,
Makassar, 30 Januari 2020


Bagian Ketiga
Persyaratan CPNS dosen harus master, sedangkan CAPRES boleh lulusan SMA, bahkan MENTERI boleh lulusan SMP. 

CPNS harus menyertakan SKCK, sedangkan CALEG boleh mantan narapidana. 

Dahulu, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diajarkan dan diamalkan. Sekarang, ilmu diunduh dan dikoleksi, lalu diperdebatkan.
 
Dahulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Sekarang, mudah mencari ilmu lewat Prof. Google, tapi belum tentu diamalkan, malah diperdebatkan.

Umat Islam dapat wahyu membaca lewat Nabi saw. Tetapi, kenapa minat baca di kalangan umat rendah? Kenapa pula umat non-muslim yang tidak memperoleh wahyu memiliki minat baca lebih tinggi? 

Nabi memberi teladan, jika salat sendiri, bacaannya panjang-panjang, tetapi jika jadi imam berjamaah, salatnya dipersingkat dengan mempertimbangkan jamaah langsia. Sekarang, jika salat sendiri bacaannya sesingkat mungkin, tetapi jika berjamaah bacaannya merdu dan dipanjang panjangkan.

Salat Nabi di bulan puasa semakin akhir Ramadan semakin ramai jamaah untuk mengejar pahala. Sekarang, di awal Ramadan masjid penuh membeludak, tetapi semakin akhir Ramadan jamaah semakin berkurang, sampai jamaah bisa dihitung jari. Mungkin mereka berjamaah di mall-mall.

Dahulu kita diminta menghormati orang  sedang menjalankan ibadah puasa, sekarang justru sebaliknya, atas nama negara diminta agar menghormati orang yang tidak puasa, demi toleransi.

Wassalam,
Makassar, Akhir Januari 2020

Keempat
Dahulu para pemimpin agama menjunjung tinggi kitab suci al-Quran dan menempatkannya di tempat terhormat. Sekarang ada pemimpin justru menjadikan al-Quran seperti barang komoditititas yang bisa dikorupsi.

Travel haji dan umroh seharusnya membantu jamaah memudahkan menunaikan ibadah. Tetapi sekarang banyak travel justru memanipulasi jemaah. 

Pembimbing  haji seharusnya menuntun jamaah dalam menjalankan ibadah dengan mengetahui rukun dan syarat haji. Sekarang sebagian pembimbing justru membiarkan jamaah menjalankan tradisi mappatoppo  yang tidak ada hubungannya rukun dan syarat haji. Diduga sengaja dibiarkan karena di belakangnya terdapat keuntungan  materi.

Pendidikan seharusnya bisa membawa anak didik ke arah yang lebih tercerahkan dan berintegritas, apa lagi memasuki era revolusi mental. Tetapi, semakin terdidik sebagian orang nampaknya semakin pintar memanipulasi, buktinya tidak ada koruptor yang tidak terdidik. Hal ini membenarkan sinyalemen seorang tokoh, "Semakin tinggi pendidikannya semakin lihai memanipulasi." Semoga saja sinyalemen itu, tidak benar.

Mungkin karena penyakit politik Machiavelli yang menghalalkan semua cara, mulai merasuki pikiran para politisi, seperti setiap saat dipertontonkan di layar kaca, seakan membenarkan pernyataan mantan presiden dan politisi Prancis, "Saya heran, jika orang percaya apa yang saya katakan, sebab saya sendiri ragu terhadap apa yang saya nyatakan."

Wassalam,
Makassar, Awal  Februari 2020

Kelima
Busana setengah telanjang banyak yang diam. Giliran ada yang memakai hijab karena mau menyempurnakan syariat agamanya, di anggap tidak Pancasilais.

Poligami dinyinyiri. Tapi kumpul kebo dan kawin sejenis diminta dimaklumi. Karena dianggap hak asasi manusia. 

"Janganlah karena kebencian pada seseorang membuat kalian tidak berbuat adil. Berbuat adillah sebab itulah yang membuat kalian lebih dekat pada takwa." Itulah sepenggal peringatan Allah swt. untuk umat orang yang beriman. 
Sekalipun berbeda agama dan suku, seseorang tidak boleh mengatakan pada saudara sebangsanya, "Kamu monyet." Sebaliknya ketika Novel Baswedan diserang air keras, dilakukan penyedikan pihak kepolisian dan pengobatan sampai di negeri Singa. Walau peristiwa penyiraman benar,  tidak boleh seenaknya mengeluarkan pernyataan, seperti Dewi Tanjung, seorang politisi bahkan melaporkan ke kepolisian bahwa penyiraman itu adalah rekayasa Novel Baswedan sendiri tanpa lebih dahulu melakukan konfirmasi terhadap jejak rekan medisnya dari dokter yang menanganinya atau mengecek lebih dahulu hasil pemeriksaan kepolisian.

Menyeleksi penerimaan pegawai atau pejabat dalam negara yang bersifat kleptokrasi, yang akan terseleksi adalah yang bisa kongkalikong dan pintar main curang, sedang orang jujur sengaja disingkirkan agar persekongkolan bisa berjalan mulus.

Penguasa yang mementingkan kelompok tidak akan bisa menerima orang pintar dan jujur jika ia di luar kelompoknya.

Wassalam,
Makassar,  2 Februari  2020

 Bagian Keenam
Seorang anak kampung dari desa Langga, Kabupaten Pinrang, bernama Chaerul. Pekerjaannya montir di benkel, tidak tamat SD, dengan sisa barang bekas, ia bisa membuat kapal terbang sederhana. Kreativitasnya patut diajungkan jempol jauh lebih bermakna darpada pergi sekolah jauh-jauh buang-buang umur dan biaya, untuk meraih sarjana, tapi tak bisa berbuat apa-apa. 

Banyak orang alergi bicara syariat Islam, sebab dianggap bertentangan dengan Pancasila, sementara syariat Islam sudah berlangsung lama di masyarakat, seperti uu haji, zakat, perkawinan, bank syariah,  dan seterusnya. Jangan sampai sudah terserang penyakit sindroma.

Banyak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) meninggalkan jauh tanah air jadi budak di negeri orang untuk mencari sesuap nasi, sebaliknya membiarkan TKA (Tenaga Kerja Asing)  datang di Indonesia menggali kekayaan di negeri yang "Gemah Ripah Loh Jinawi'.

Alasan Jokowi memindahkan Ibu kota ke Panajang dan Kutai, Kalimantan Timur, antara lain karena Jakarta sering banjir, tetapi bagaiman jika sebelum pindah ke ibu kota baru sudah dikepung banjir?, seperti sekarang.

Jika koroptor, seperti Nasaruddin, bisa ditangkap walau lari sampai ke luar negeri, Colombia, negara yang tidak memuliki parjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Kenapa koruptor, seperti Harum Masiku yang bersembunyi dalam negeri sendiri, begitu sulit ditemukan? Pertanyaan ini seperti bunyi pepatah setire Melayu, " Kura-kura di atas perahu, pura-pura tidak tahu."

Indonesia dikenal julukan negara, subur dan makmur. Tetapi, Indonesia juga digolongkan negeri pripurna, pripurna utang dan  banyak pula korupsinya. Dana pensiun PNS dan ABRI pun dikorup, seperti Jiwasraya dan PT ASABRI.

Perlu berhati-hati terhadap penawaran investasi syariah, sebab walaupun melibatkan tokoh agama, tetapi sebagian ditengarai investisi bodong. Semakin menjanjikan keuntungan tinggi yang tidak masuk akal semakin harus diwaspadai.

Wassalam,
Makassar,  3 Februari  2020

Bagian Ketujuh
Hampir semua orang sependapat bahwa semua agama menagajarkan damai, tetapi kenapa banyak orang membenci atas nama agama? bahkan saling bunuh dan berperang atas nama agama? Mari melihat hasil riset Juergensmeyer di bawah ini:

1. Nasrani Amerika, mendukung pemboman klinik aborsi dan aksi militant pemboman gedung federal Oklahoma City;

2. Kaum Katolik dan Protestan  mendukung aksi terorisme di Irlandia Utara:

3. Kaum Muslimin dihubungkan dengan tragedi 11September 2001, pemboman World Trade Center, New York;

4. Kaum Yahudi fanatik mendukung pembunuhan Perdana Menteri Yitzhak Rabin dan serangan atas Kuburan Wali di Hebron;

5. Kaum Sikh terlibat dalam pembunuhan Perdana Menteri India, Indira Gandhi, dan Menteri Utama Punjab Beant Singh;

6. Kaum Buddhis Jepang yang tergabung dalam sebuah kelompok, dituduh melakukan serangan gas syaraf di kereta bawah tanah Tokyo...

Fenomena apa yang sedang terjadi? inilah tantangan pada setiap tokoh agama agar menemukan solusinya. Mereka perlu mempertemukan antara dan sollen dengan dan sein. Jarak antara yang seharusnya dengan kenyataan semakin menganga. Sekali lagi inilah tantangan paling mendesak setiap agama yang segera perlu ditemukan penyelesaiannya. Sayang, saya bukan ahli agama-agama. Karena itu, mohon para netizen bisa membantu menemukan solusinya.

Sebagai muslim sepanjang yang saya pahami, salah satu jalan keluarnya ialah dengan mendekatan keimanan dan amal salih. Dalam kitab suci hampir semua ayat yang bicara masalah iman selalu diikuti amal salih (perilaku baik). Artinya, tidak cukup hanya dengan beriman saja tanpa diikuti amal salih. Iman harus dibuktikan melalui amal baik yang tercermin pada perilaku keseharian.

Wassalam,
Makassar,  4 Februari  2020

Bagian Kedelapan
Sekali lagi hati-hati investasi bodong yang jumlahnya, semakin banyak, yaitu 444 buah,  tak satu pun mengantongi izin resmi, namun sudah berani menjanjikan bonus tinggi. Bonusnya berasal dari investasi anggota baru yang datang di belakang dengan modus oprandi multi level marketing. Setiap anggota baru, mencari sepuluh anggota untuk mendapatkan bonus. Kenapa banyak yang percaya? Masyarakat kita banyak yang belum mengerti investasi, apalagi jika ada tokoh agama dan artis yang dilibatkan sebagai umpan iklan. Caranya, bagai mana mengetahui investasi bodong?
Pertama, periksa lebih dahulu izinnya,
Kedua, pelajari dulu, jika berani menjanjikan keuntungan di atas dari lembaga resmi, seperti Bank atau bursa efek, maka yakinlah bahwa itu pertanda sebuah penipuan.

Di antara tugas pemerintahan yang baik menciptakan kesejateraan dan suasana ketenangan dalam masyarakat untuk menumbuhkan saling percaya satu sama lain. Tetapi, kenapa justru yang muncul adalah saling curiga dan saling melaporkan ke penegak hukum? Kenapa pula saling ingin menjatuhkan, seperti Gubernur DKI dilaporkan karena dianggap lalai dalam penanganan banjir bahkan Presiden sendiri ingin diinpechmant? Sebuah indikasi jelas bahwa masyarakat kita sedang mengidap penyakit parah, stadium IV.

Seperti diketahui, sejumlah kerajaan baru bermunculan di Tanah Air, dalam beberapa hari terakhir. Kerajaan dengan raja-raja barunya pada bermunculan bagai cendawan di musin hujan. Sebut saja yang menamakan diri sebagai Keraton Djipang di Blora, Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Sunda Empire di Jawa Barat hingga munculnya Negara Rakyat Nusantara, terakhir yang menyebut diri King of the king atau Raja di raja dengan membawa harapan baru. Uang mereka tak terhitung jumlah tersimpan di Bank Swiss, menurut pengakuannya. Kata rajanya, berapa pun utang pemerintah, merekalah yang bertanggung jawab akan melunasi. Ini semua indikas jelas bahwa masyarakat kita sedang hidup dalam mimpi-mimpi kosong, kemungkinan karena mereka sedang dihimpit kesulitan hidup, diringi semua kebutuhan pokok berlomba pada naik. Membuat mereka buntu dalam berpikir. Satu-satunya yang tersisa adalah harapan yang melambung tinggi. Harapan bagi mereka adalah satu-satunya yang free tak perlu dibeli.

Fenomen global seperti Presiden Donald Trump dengan congkak mengumumkan prakarsa perdamaian di Timur tengah antara Israel dan Palestina dengan menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel, tanpa melibatkan pihak yang paling berkepentingan, yaitu Palestina.Tidak heran, jika Presiden Palestina, Mahmud Abbas mengatakan، "Rencana damai Trump adalah sebuah konspirasi," sedang pemimpin Hamas berkata, "Perdamaian prakasa Tramp tidak masuk akal." keduanya berpandangan bahwa bagaimana Dolald Tramp ingin jadi perantara, nyata-nyata dia berpihak pada Israel. Prakasa Tramp membuat semakin jauh dari komitmen Amerika Serikat sejak awal, "Two State Solution."

Tidak ada teman dan lawan abadi dalam dunia politik. Jika dahulu negara-negara muslim menjadikan Israil sebagai musuh bersama dan biang keladi kekacauan di Timur Tengah, sekarang Arab Saudi di bawah kepemimpinan Pangeran Muhammad bin Salman  membentuk koalisi damai dengan Israil, sementara negara-negara muslim dan Palestina sendiri ditinggalkan. Sepertinya, kiamat akan semakin dekat.

Antara Presiden US, Donald Trump dan Pangeran Arab Saudi, Muhammad bin Salman, bak dua pribadi saling bersinergi, ketika wartawan Washington Post, Khashoggi, dibunuh di konsulat Saudi di Turki, 
Hasil investigasi Turki menunjukkan keterlibatan Pangeran Muhammad bin Salman, tetapi pembela satu-satnya adalah Donald Tramp. Sebaliknya, ketika Donald Trump menawarkan proposal perdamaian antara Israel dan Palestina, walau proposal itu memihak Israel, justru pendukung utamanya Muhammad bin Salman.

Uraian terakhir di atas membenarkan pendapat  Dr AGH Sanusi Baco, Lc. Bahwa permusuhan antara Iran dan Saudi Arabiya tidak ada hubungannya dengan agama, melainkan permusuhan itu semata-mata  untuk memenuhi hegemoni nafsu politik. 

Wassalam,
Makassar,  5 Februari  2020

Bagian Kesembilan
Sebagai akhir, saya ingin mengemukakan bahwa seri tulisan ini berusaha memaknai sebuah teks tidak sebatas  makna tekstual tetapi sekaligus menemukan substansi dari teks itu. Saya berusaha memaknai bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah jika banyak ditemukan kehidupan yang semakin kontradiktif dalam masyarakat. Tanda kiamat yang selama ini memiliki arti tunggal, yaitu hancurnya alam semesta dan terjadinya migrasi besar-besaran ke alam akhirat, tetapi juga bisa diartikan  kehancuran sebuah masyarakat atau sebuah rezim penguasa.

Ketika masih di kampung Pambusuang, saya mengikuti halakah hadis pada seorang ulama, almarhum, Annaguru H. Abdullah Said, sekitar tahun 1966. Sebagai buku pegangan adalah kitab Arbain an-Nawawi yang diambil dari hadis ke-2 riwayat Muslim. Saya terjemahkan  secara bebas, sebagai berikut,
Dari Umar r.a.berkata: "Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah saw. tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan pakian serba putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara sahabat mengenalnya. Hingga kemudian ia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut  Rasulullah saw. seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?”, maka Rasullah saw. menjawabnya ... Kemudian ia melanjutkan pertanyaannya, Beritahukan aku tentang Iman “.  Rasulullah pun menjawabnya...  Dia pun bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Rasulullah juga menjawabnya... Nampaknya ia tetap bertanya setelah semua pertanyaan dijawab tuntas Nab, ia meneruskan pertanyaannya, beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Nabi menjawab: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata lagi:  “kalau begitu, beritahukan aku  tanda-tandanya “, Nabi menjawab:  “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin papa dan hanya dikenal sebelumnya seorang penggembala domba, kemudian berlomba-lomba membuat bangunan tinggi“, kemudian orang itu berlalu dan Umar pun berdiam sebentar. Kemudian Rasulullah bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang datang tadi?”. Umar berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia itu adalah Malaikat Jibril yang datang mengajarkan agama kalian “.

Hadis yang  dikutip secara panjang lebar di atas melukiskan bahwa tanda-tanda kiamat atau sebuah kehancuran jika sudah banyak peristiwa kontradiktif di tengah masyarakat, yaitu jika seorang yang mulanya miskin papa, miskin harta atau  miskin pengetahuan, tiba-tiba berubah jadi OKB dan penguasa baru. Dia pun berlomba mengumpulkan kekayaan dengan mendirikan bangunan menakjubkan, dan kekayaan yang diperolehnya dengan cara Machiavelli, itulah pristiwa kontradiktif sebagai indikasi kiamat atau kehancuran semakin dekat.

Wassalam,
Makassar, 6 Februari 2020

Bagian Kesepuluh
Madura terkenal sebagai julukan bukan hanya Pulau Garam, tetapi kampung santri, sekarang jadi sarang narkoba. Sebaliknya, Kalijogo, Jakarta Utara, terkenal sebagai tempat pelcuran terbesar, sekarang di sana ditemukan bangunan masjid dan majlis taklim yang anggotanya khusus para pelacur dan mucikari.
                                         
Wassalam,
Makassar, 16 Februari 2020

Bagian Kesebelas
Beberapa youtube milik Ade Armando yang mengkritisi cara beragama kaum muslimin, dianggapnya ketinggalan, kasar, dan bodoh. Sayangnya Armando sebagai orang yang mengaku muslim tanpa memberi jalan keluar dengan menampilkan rasa empati sesama muslim sehingga banyak yang meragukannya. Sebaliknya, mantan anggota Komnas HAM, Natalius Pigai, jelas seorang penganut Kristen taat, selalu melakukan adpokasi terhadap muslim. Demikian halnya Rocky Gerung yang diketahui jelas bukan seorang muslim, tetapi ia diundang ke banyak lembaga muslim, di antaranya Pesantren Nguruki yang dianggap sarang teroris, untuk berceramah di depan para kiyai dan santri karena Rocky menampakkan diri rasa empatinya.

Wassalam,
Makassar, 18 Februari 2020

Bagian Keduabelas
Dalam penelitian di Leiden, Belanda, selama setahun, kami (peserta INIS) dikunjungi seorang misiologi, Prof. Karel Steembrink yang berkantor di bekas rumah Christian Snock Hurgronje, datang ke apartemen kami dan menunjukkan rasa empati, memperlihatkan tempat salat yang bersih dan arah kiblat yang benar, di samping dia mengundang ke rumahnya, serta mengantar kami mengikuti upacara tarekat Naqsabandiah di Reiderk Kerk, dekat Den Haag. Selama berinteraksi, saya hanya mampu menilainya dari luar, adapun yang tersembunyi atau yang saya tidak tahu, saya serahkan pada Yang Maha Tahu والله يتولى مافي قلوبهم (Allahlah Yang Maha Mengetahui di hatinya). Steembrink pun menyatakan gembira menerima al Quran terjemahan Indonesia yang dikirim oleh anak bimbingannya, Husni Rahim, dari Jakarta. Sambil menyampaikan terima kasih juga mengatakan, "al-Quran ini sangat bermanfaat karena saya mengajar tafsir di McGill University Canada". ini juga sebuah kehidupan yang kontradiktif. Steembrink yang misiologi, justru mengajarkan tafsir al-Quran, saya pribadi sejak kecil belajar al-Quran, tetapi tidak pernah mengajarkan tafsir. Di sana pula saya mendapat pengetahuan baru bahwa di dunia intelektual Barat non-muslim, mempelajari al-Quran untuk kepentingan pada pengembangan ilmu pengetahuan, sedang di kalangan kaum muslim belajar al-Quran demi memperteguh keyakinan di samping pengetahuan. Menurut pandangan luar saya, Steembrink sepanjang interaksi kami dari IAIN, beliau semata-mata bertujuan pengembangan ilmu pengetahuan tidak ada niatatannya untuk mengubah kayakinan kami bahkan beliau banyak memberikan kontribusi tentang pengetahuan perkembangan sejarah Islam Indonesia, terutama sejarah kolonial. Steembrink juga telah menulis sebuah buku yang bagus dijadikan pegangan sejarah Indonesia berjudul, Dutch Colonialism and Indonesian Islam (Contacts and Conflicts 1586-1950). Timbul tanya dalam hati, "Bagaimana saya tidak menaruh hormat pada orang baik, seperti ini?" Walau saya sadar beda agama, tetapi, tetap saja muncul tanya, bukankah interaksi kami dengan beliau lebih mencerminkan QS Muntahina: 8-9?

Sebaliknya, bagaimana saya menaruh empati pada orang yang hidupnya hanya untuk menyesatkan sesama 1muslim, mengaku dialah yang paling Islam, dan paling benar. Mereka pun tak tahu menghargai orang lain di luar dirinya. Bukankah ini tidak bertentangan dengan bunyi ayat QS an-Najm: 32? Adakah orang berkarakter demikian? Menurut Prof. Dr. Syekh Yusuf al-Qardawi, karakter itu disebut الطيبعة الانسانية. Semoga Allah swt. menjauhkan kita dari karakter mazmumah yang demikian.

Wassalam,
Makassar, 19 Februari 2020



Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...