Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

RUNTUHNYA EGOISME INTELEKTUAL

Ahmad Mujahid

Persoalan terbesar bagi seorang intelektual adalah ego intelektualnya atau keakuan dirinya sebagai seorang intelektual (egoisme intelektual). Di antara konotasi makna dari egoisme intelektual adalah ke-Akuan akan kebenaran intelektual hanyalah milik dirinya sendiri. Dengan begitu, pemilik dan pemelihara egoisme intelektual, sangat sulit menemukan apalagi menerima kebenaran intelektual di luar diirinya. Pemilik egoisme intelektual merasa diri paling pintar dan paling benar. Bahaya yang lebih besar adalah apabila pemilik egoisme intelektual, telah menggunakan kemampuan dan kebenaran intelektual yang diyakininya sebagai kendaraan di dalam memenuhi kepuasan dirinya sendiri atau hawa nafsunya. 

Keakuan intelektual atau egoisme intelektual yang demikian, senantiasa menyertai diri seorang intelektual. Oleh karena itu, perjuangan mengendalikan dan atau meruntuhkan egoisme intelektual bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, seorang intelektual mesti memulai berjuang dan berjuang secara terus menerus untuk melakukan transformasi egoisme intelektualnya dan atau mengalahkannya. Hanya dengan cara seperti itu, seorang intelektual mampu meraih derajat intelektual sejati dan terbebas dari status intelek gadungan. Dengan perkataan lain, memelihara egoisme intelektual dan atau mengalah dalam kuasa dan kendali egoisme intelektual merupakan hijab terbesar dan paling tebal untuk dapat sampai pada puncak tertinggi dari kemuliaan intelektual. 

Kisah pertemuan Nabi Musa as dengan Nabi Khaidir dalam Al-Quran, menggambarkan dengan sangat indah tentang perjuangan meruntuhkan egoisme intelektual. Dalam riwayat asbab al-nuzul ayat dari Ibnu Abbas ra. dari Ubay bin Ka'ab. Ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: 
''Sesungguhnya, pada suatu hari, Nabi Musa berdiri di tengah-tengah Bani Israil. Beliau kemudian ditanya, ''Siapakah orang yang paling berilmu?'' Nabi Musa, menjawab ''Aku.'' Lalu Nabi Musa as. ditanya kembali: '' Masih adakah orang yang lebih berilmu dari Anda?'' Beliau menjawab, ''Tidak ada.'' Allah pun menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, ''Sesungguhnya, di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.'

Menurut penulis, kandungan riwayat asbab nuzul di atas, menggambarkan egoisme intelektual nabi Musa as. Beliau mengaku paling berilmu dari kalangan Bani Israil. Allah kemudian menegurnya. Dari teguran Allah tersebut, dapat dipahami bahwa mengaku paling berilmu atau memiliki dan memelihara egoisme intelektual tidak dibenarkan dan tidak disukai Allah. 

Selanjutnya Allah mengabarkan kepada Nabi Musa, bahwa ada hamba-Nya yang lain yang melebihi kemampuan intelektualnya. Musa as. pun diperintahkan agar menemui hamba tersebut. Musa pun mencari hamba yang dimaksudkan. Singkat cerita, Nabi Musa as. akhirnya bertemu dan belajar kepada Nabi Khaidir. 

Menurut penulis, perintah Allah kepada Nabi Musa as. tersebut mengisyaratkan makna bahwa keinginan mengakui kekurangan intelektual diri sendiri dan pada saat bersamaan mengakui kelebihan intelektual orang lain, dan bahkan bersedia belajar dengannya adalah cara utama meruntuhkan egoisme intelektual. Seperti nabi Musa as mencontohkannya. Menurut penulis, apa yang dilakukan Allah terhadap nabi Musa as. merupakan upaya Allah mencegah nabi-Nya agar tidak terjatuh dalam egoisme intelektual. 

Kisah interaksi intelektual antara Nabi Musa as. sebagai murid dengan NabI Khaidir sebagai guru, seperti dikemukakan dalam surah al-Kahfi, tergambar dengan jelas, posisi murid yang berada pada level lahir atau masih di permukaan air lautan keilmuan. Sedang sang guru berada pada level batin atau posisi kedalaman air lautan keilmuan. 

Murid yang berada pada level lahir keilmuan atau masih di permukaan kedangkalan air keilmuan seringkali terjebak dalam egoisme intelektual. Yakni terjebak dalam makna tekstual tanpa mampu membaca makna dibalik teks. Akibatnya ia mudah menyalahkan. Semua ini terlihat dari respons Nabi Musa as. terhadap apa yang dilakukan oleh Nabi Khaidir, ketika Nabi Musa mengikutinya untuk berguru kepada Nabi Khaidir. 

Ketika Nabi Khaidir melubangi perahu yang ditumpanginya bersama Musa as., Nabi Musa as. bertanya kepada Nabi Khaidir dengan nada protes dan menyalahkan. Yakni mengapa engkau melubangi perahu ini? Apakah untuk menenggelamkan perahunya? Selanjutnya Musa berkata kepada Nabi Khaidir; sungguh engkau telah berbuat kesalahan yang besar (QS. Al-Kahfi/18: 71). 

Respons negatif yang kedua dari sang murid karena kedangkalan ilmunya kepada gurunya yang berada pada kedalaman ilmu, terjadi ketika sang guru membunuh seorang anak muda. Melihat perbuatan gurunya, Musa berkata: "Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena ia membunuh orang lain? Musa as. tidak hanya bertanya dengan nada protes, ia bahkan menganggap gurunya telah melakukan kemungkaran. (QS. Al-Kahfi/18: 74. 

Peristiwa ketiga yang terjadi ketika Musa as. mengikuti Nabi Khaidir untuk berguru adalah di saat keduanya dalam keadaan sangat lapar. Keduanya meminta jamuan dari penduduk negeri yang dimasukinya, namun tidak ada penduduk yang memberinya makanan. Dalam kondisi demikian lapar, Nabi Khaidir dan Musa as. menemukan rumah yang hampir rubuh. Guru dan murid pun memperbaiki rumah tersebut. Setelah selesai, sang murid pun berkata gurunya, sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan. 

Di peristiwa ketiga ini, menurut penulis, juga tampak jelas salah satu sikap dan sifat orang yang berilmu dangkal dan berada di level lahiriah ilmu dan belum sampai di kedalaman batiniah ilmu, yakni mengharapkan balasan jasa yang bersifat material. Sifat dan sikap seperti ini sungguh telah terjebak dalam egoisme intelektual. Berbeda dengan orang yang telah menenggelamkan diri dalam kedalaman batin ilmu dan telah terbebas dari egoisme intelektual, yakni tidak lagi berada pada keinginan-keinginan lahiriah, seperti balasan yang bersifat material-dunawiah.

Adapun di kedua peristiwa sebelumnya, seperti dikemukakan di atas, juga tampak jelas bahwa ahli ilmu yang masih terjebak dalam egoisme intelektual dengan kedangkalan keilmuaannya, seringkali terjebak pada kebiasaan bertanya dengan nada protes dan menyalahkan. Dia terjebak dalam prasangka bahwa telah mengetahui banyak ilmu padahal masih berada pada kedangkalan permukaan ilmu. Dia belum pernah menyelam ke lautan ilmu yang luas dan dalam. Berbeda dengan sang guru yang telah menyelam ke dalam lautan batin ilmu, telah meraih rahasia mutiara ilmu. Sikap dan sifatnya bijaksana. Dengan kedalaman ilmunya, ia dapat memahami keadaan dan level kedangkalan ilmu muridnya. 

Nabi Khaidir dapat memahami batasan keilmuan nabi Musa as. Oleh karena itu, sejak awal beliau telah menegaskan kepada Nabi Musa as. yang sangat ingin belajar ilmu hikmah kepadanya, bahwa dirinya tidak akan mampu bersabar dalam mengilmui ilmu hikmah yang Allah titipkan kepadanya. Namun karena nabi Musa as. bersikeras untuk mengikuti Nabi Khaidir, maka Nabi Khaidir pun memberi izin kepadanya dengan satu syarat, yakni selama berlangsung interaksi intelektual, nabi Musa dilarang banyak bertanya. 

Namun pada kenyataannya Nabi Musa as. terbukti tidak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. Bahkan pertanyaan nabi Musa as. bernada protes dan menyalahkan gurunya, seperti telah dijelaskan di muka. Dari sini penulis juga memahami bahwa salah satu karakteristik orang yang terjebak dalam egoisme intelektual adalah tidak memiliki sifat sabar sebagai salah satu kekuatan spiritual ilahiah dalam interaksi intelektual. Berbeda dengan sang guru yang telah terbebas dari egoisme intelektual, mampu bersabar dalam membimbing murid-muridnya menyelami kedalaman lautan ilmu ilahiah. 

Sebagai closing statemant tulisan ini, penulis akan bertanya; apa yang mesti dilakukan untuk dapat bertransformasi, berubah dan mengalahkan egoisme intelektual? Menurut penulis, jawabannya adalah teruslah belajar dan belajar hingga menguasai sisi lahir dari permukaan air lautan ilmu ilahi, kemudian berpindah dan menyelam sedalam-dalamnya di dasar lautan batin rahasia ilmu ilahi. Seperti nabi Musa as. setelah menguasai ilmu dhahir dan tidak ada yang menandinginya, selanjutnya beliau pun belajar ilmu hikmah ilahi yang dititip Allah kepada nabi Khaidir. Wa Allah A'lam. 

Makassar 21 Januari 2022

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...