Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

MANUSIA: MALAIKAT JALANAN DAN SETAN MASJID

Ahmad Mujahid

Istilah malaikat jalanan jarang didengar. Demikian pula istilah setan masjid ganjil terdengar. Istilah yang biasa terdengar, adalah setan jalanan. Sedang istilah yang relevan dengan masjid, adalah istilah malaikat masjid. Istilah setan jalanan dapat dibaca dalam sebuah komik dan juga dalam lirik lagu. Isi novel grafis ini bercerita tentang Kelana, sosok pengendara motor yang berada antara terang dan gelap. Kelana adalah seorang pemuda dalam waktu-waktu tertentu akan berubah menjadi Setan Jalanan. Dinamakan demikian, karena ia bisa menghalalkan segala cara untuk dapat mewujudkan keinginannya yang baik, seperti menegakkan keadilan. Oleh karena itu, Kelanan sebagai setan jalanan tetap dianggap sebagai perusuh. Kelana sebagai setan jalanan adalah pencari segala kebenaran di antara gelap dan terangnya peradaban. Demikian kira-kira gambaran singkat isi novel tersebut.

Terlepas dari isi komik di atas, penggunaan istilah setan jalanan dalam tulisan ini, cenderung dimaknai dengan  makna negatif. Hal ini disebabkan karena kata setan merupakan simbol kejahatan yang banyak berkeliaran di jalanan. Dengan kata lain, di jalanan banyak ditemukan setan-setan yang melakukan kerusahan dan kejahatan, seperti banyak terjadi di tengah kota metropolitan. Misalnya perampokan, begal, pengedaran narkoba dan lain-lain. 
Berbeda dengan istilah malaikat masjid. Istilah kedua ini, cenderung dimaknai secara positif dan jauh dari makna negatif. Pemaknaan positif yang demikian, tergambar dengan jelas dari kata malaikat dan masjid. Kedua kata ini berkonotasi makna sangat baik dan positif. 

Sampai di sini, penulis ingin mengajukan pertanyaan yang direnungkan oleh penulis sendiri, yaitu; apakah di jalanan tidak ada malaikat? yang disebut malaikat jalanan. Atau apakah di masjid sama sekali tidak ada setan? yang disebut setan masjid. Pertanyaan renungan penulis ini, hadir setelah kenyataan menunjukkan betapa banyak kebajikan-kebajikan yang tulus terjadi di jalanan. Pelakunya adalah malaikat-malaikat jalanan. 
Sebaliknya betapa banyak kejahatan-kejahatan terjadi di masjid, namun tidak tampak alias tersembunyi karena terbungkus oleh kesalehan lahir dan palsu. Pelakunya adalah setan-setan masjid. Contohnya, pembunuhan Imam Ali Kw. menantu Rasulullah Saw., khalifah keempat, amirul mukminin, dilakukan di masjid pada.waktu salat subuh pada bulan ramadhan oleh Abdur Rahman ibnu.Muljam, seorang penghafal al-Quran. Ia pernah menjadi utusan khalifah Umar bin Khattab menjadi duta al-Quran ke Mesir untuk mengajarkan al-Quran.

Bertolak dari uraian di atas, penulis ingin katakan bahwa malaikat kebajikan bersifat trans geografis, dapat ditemukan di waktu, tempat dan ruang mana pun, baik di jalanan, bahkan di tempat kemaksiatan sekali pun. Malaikat kebajikan tidak terbatas hanya di masjid. Demikian pula dengan setan kejahatan, ternyata tidak hanya di temukan di jalanan dan di tempat degum, tetapi juga di masjid-masjid. Dengan begitu, Setan kejahatan juga bersifat trans geografis, trans tempat, ruang dan waktu.

Dengan perkataan lain, kebajikan-kebajikan manusia malaikat, trans waktu dan trans geografis. Manusia malaikat menemukan dan melakukan kebajikan-kebajikan di jalanan, di tempat degum dan tempat lainnya, apalagi di masjid. Manusia malaikat akan tetap dalam identitas kebajikannya meskipun ia di luar.masjid. 
Tidak berbeda jauh dengan manusia setan jalanan. Dia tetap saja menjadi manusia setan, tenggelam dalam kejahatan meskipun ia di masjid. Apalagi kalau ia berada di tempat kemaksiatan dan di jalanan. Masjid tidak menjadi penghalang dan pengendali hawa nafsu kejahatannya. Seperti sosok Abdur Rahman Ibnu Muljam, sebagai pembunuh Ali Kw.

Berbeda dengan Imam Ali Kw. meskipun ia telah di parangi oleh ibnu Muljam, ia tetap terbebas dari hawa nafsu dan kejahatan setan jalanan . Ia tetap dalam identitas kemalaikatan dan kebajikannya. Buktinya, tergambar dalam pesan Ali Kw. menjelang kewafatannya, baik kepada keluarga besarnya dan terkhusus kepada anak imam Hasan. 

Beliau berkata kepada keluarganya, yaitu: “Wahai keluargaku…Jangan kalian mengucurkan darah kaum Muslim dengan dalih kematianku. Jangan sesekali ada darah seseorang mukmin pun mengalir kecuali pembunuhku.”
Secara khusus imam Ali berpesan Sayyidina al-Hasan, yakni: “Jangan kamu sekali-kali mencincang si pembunuh. Rasulullah Saw, kakekmu pernah bersabda, Hati-hati, jangan mencincang, walau anda membunuh anjing gila. 

Ali Kw. sebagai manusia malaikat bahkan melebihi malaikat, yang kebajikannya bersifat trans geografis dan trans waktu, mampu membaca dan menemukan hikmah kebajikan meskipun dari kejahatan setan dan manusia setan. Seperti dapat dipahami dari perkataan beliau yakni: "Maka ambillah pelajaran dari apa yang dilakukan Allah terhadap iblis. Bagaimana Allah telah menghapus pahala amalnya yang panjang dan usahanya yang sangat keras! Iblis telah menyembah Allah selama enam ribu tahun -tidak diketahui apakah itu tahun-tahun duniawi ataukah tahun-tahun di akhirat- namun semua pahala amalnya itu dihapus hanya lantaran kesombongannya yang sesaat." 

Dari perkataan Imam Ali Kw. tersebut, penulis pahami bahwa kejahatan kesombongan merupakan kejahatan yang paling membahayakan dari iblis dan manusia setan. Kejahatan kesombongan ini tidak terjadi hanya di jalanan yang dilakukan oleh setan jalanan. Akan tetapi kejahatan kesombongan juga dapat terjadi dan ditemukan di dalam masjid sebagai tempat sujud. Buktinya, tidak sedikit ahli sujud yang menganggap besar dan agung ketaatannya. Ahli sujud seperti terjebak dalam kejahatan kesombongan, maka ia pun menjadi setan masjid dan berhenti menjadi malaikat masjid. Selanjutnya ia menjadi setan jalanan. Di masjid saja ia menjadi setan, lalu bagaimana di jalanan tanpa masjid. Bukan iblis pun demikian, ia dari ahli sujud kemudian terkena virus kesombongan maka bekasan sujudnya terhapus. Tinggallah kejahatan kesombongannya yang tebarkan dan bisikkan kepada manusia, baik yang berada di masjid maupun di jalanan.

Bahaya menyombongkan amal ibadah, juga dijelaskan dalam sabda Rasulullah Saw. Yaitu, ketika Nabi Musa as. sedang duduk, tiba-tiba iblis mendatanginya. Musa as. lalu berkata kepada iblis: beritahu aku, tentang dosa yang apabila anak Adam melakukannya niscaya engkau akan dapat menguasainya. Iblis menjawab, yaitu jika ia telah membanggakan dirinya, menganggap banyak amal dan dosanya itu terlihat kecil atau ringan di matanya.

Selanjutnya Imam Ali mengemukan jenis tipuan setan, yakni ada tiga: Pertama, kecintaan kepada wanita dan ini adalah pedang setan. Kedua, meminum khamar dan ini adalah perangkat setan. Ketiga, mencintai dinar dan dirham (uang) dan ini adalah anak panah setan. 
Pada kesempatan lain, imam Ali juga mengingatkan bahwa: " setan itu membuat manusia memandang baik kemaksiatan, agar ia mengerjakannya. Setan juga membangkitkan angan-angan kosong kepada manusia, akibatnya manusia menunda-nunda taubat." 

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw dan perkataan Imam Ali Kw. maka sangat wajar dan logis, apabila cucu keduanya yakni imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad memohon kepada Allah perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan dari sifat dan perbuatan membanggakan ketaatan dan menganggap remeh, ringan dosa kemaksiatan. Beliau juga berlindung dari kesombongan dan segala sifat, sikap perbuatan kejahatan setan dan keburukannya. Seperti dapat dibaca dalam munajat perlindungannya dari hal-hal dibenci dan keburukan akhlak. 

Demikian sedikit uraian tentang manusia yang menjadi setan jalanan dan sekaligus setan masjid. Kejahatan dan keburukannya trans geografis dan trans waktu. Demikian pula type manusia yang menjadi malaikat masjid dan malaikat jalanan. Kebajikannya trans geografis, ruang tempat dan waktu. Menjadi type dan model.manusia mana kita? 

Wa Allah A'lam. Semoga manfaat dan mencerahkan.
Makassar, 15 Januari 2022

Tidak ada komentar:

KHAZANAH SEJARAH:MATAHARI ISLAM AKAN TERBIT DI DUNIA BARAT

by Ahmad M. Sewang  Bagian Pertama   Judul di atas, sebuah prediksi, berdasarkan beberapa argumentasi, yaitu: 1. Sejak setelah Perang Dunia ...