Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

AKU HERAN (Sebuah Catatan Akhir Tahun, Menyambut Tahun Baru)

Ahmad Mujahid

Fenomena yang mentradisi di kalangan umat Islam adalah merespon kedatangan tahun baru dan pelepasan tahun lama dengan kegembiraan. Saya tidak tahu sejak kapan umat Islam mentradisikan kegembiraan yang demikian. Sebagian umat Islam dan mungkin termasuk saya, berkumpul untuk merayakan kedatangan tahun baru Masehi.dengan berbagai acara. Antara lain bakar-bakar ikan, makan-makan dan minum-minum, sambil sekali-kali meniup torompet dan membakar berbagai jenis petasan, baik yang memekikkan telinga ataupun tidak. Cahaya petasan menerangi langit dunia. Pastinya umat Islam bergembira ria menyambut kedatangan tahun baru melepas tahun lama. 

Suatu saat dalam renungan filosofi-spiritualku, aku mulai merasa heran dan heran, kemudian bertanya; mengapa saya dan sebagai saudaraku muslim lainnya mesti bergembira menyambut kedatangan tahun baru dan melepas tahun lama? Apa alasan filosofis yang melandasi kegembiraan kami? Demikian beberapa pertayaan yang hadir dalam diriku. 

AKU HERAN.... Mengapa aku mesti bergembira menyambut kedatangan tahun baru, padahal kedatang tahun baru Masehi dan berlalunya tahun lama, pada hakekatnya mengisyaratkan makna bahwa waktu kehidupanku telah berkurang dan terus berkurang pada setiap tahun baru. Itu petanda, batas waktu kehidupanku semakin dekat kepada kesempurnaan. Dengan perkataan lain, setiap datang tahun baru, hari kewafatanku semakin dekat. Aku mendekati batas ajal kehidupanku.

AKU HERAN....waktu kewafatanku semakin dekat tetapi AKU MASIH TETAP BERGEMBIRA, padahal dosa-dosaku semakin bertambah dan terus bertambah. Kelalaian-kelalaianku terus mempertebal noktah hitam menggelapkan hatiku. Aku masih tetap setia menenggelamkan diri dalam karakter burung BEBEK dan GAGAK. Burung BEBEK simbol kerakusan sebagai sifat tercela. Burung GAGAK simbol kecintaan tanpa batas kepada dunia. Jika aku masih menjadi Manusia BEBEK dan manusia GAGAK dalam menjalani waktu kehidupanku, bagaimana aku bisa bergembira.

AKU HERAN.... Mengapa aku masih bergembira di akhir tahun 2021 M. menyambut tahun baru 2022 M? Padahal aku masih menjadi manusia MERAK dan Manusia AYAM. Burung MERAK merupakan simbol sifat KESOMBONGAN dan KEPONGAHAN. Sementar AYAM disimbolkan sebagai HAWA NAFSU penikmat kenikmatan sensual. Jika karakter MERAK dan AYAM masih bersemayang menghiasi kalbuku hingga kotor dan membusuk, lalu bagaimana aku bergembira. 

Aku sungguh belum mencincang keempat burung tersebut yang disimbolkan oleh RUMI sebagai etika religius spiritual negatif. Berbeda dengan Ibrahim as. (QS. Al-Baqarah/ 2: 260). Ia sungguh telah mencincang keempat burung tersebut, karena itu, kalbunya telah menjadi tenang, damai dalam cahaya keimanan ilahi. Kalbu Ibrahim telah terbebas dari kotoran busuk etika religius dhulmani. Ibrahim as. telah terbebas dari menjadi manusia AYAM-MERAK dan menjadi manusia BEBEK-GAGAK. Karena itu, Ibrahim tidak khawatir dan takut dibakar oleh Namrud. 

AKU HERAN.... Bayang-bayang kematian telah di pelupuk mata, namun aku masih saja bergembira menyambut tahun baru 2022 M. dan melepas tahun lama 2021 M. Padahal sebelumnya aku telah ditinggalkan oleh orang-orang yang kucintai. Kedua orang tuaku, telah wafat duluan. Sanak keluargaku, sahabat dan handai tolang serta teman sejawat dan tetangguku pun demikian. Di tahun 2020-2021 Masehi, yang merupakan tahun Pandemi Covid 19, juta manusia telah sempurna menjalani waktu kehidupan mereka. Mereka wafat sebagai pasien Covid 19. Namun mengapa kewafatan mereka semua tidak kujadikan sebagai peringatan untuk mempersiapkan kewafatanku. 

Padahal Rasulullah Saw. telah meninggalkan dua penasehat utama dalam kehidupan, yakni al-Quran sebagai penasehat yang berbicara dan kematian sebagai penasehat yang bisu. Sejatinya kewafatan mereka menjadi nasehat bagiku dan mereka yang masih punya sedikit sisa waktu kehidupan untuk dijalani.

Amirul Mukminiin Ali Kw. Khalifah keempat, pernah merasa HERAN, beliau mengungkapkan keheranannya, dengan berkata; "Aku tidak.pernah melihat keimanan yang diikuti dengan keyakinan, namun hampir sama.dengan keraguan dari pada kematian yang menimpa setiap manusia. Setiap hari manusia mendatangi kuburan dan melepas saudaranya ke alam kubur, namun dia selalu.kembali kepada kesenangan dunia dan tidak menjauhkan dirinya dari keinginan hawa nafsu, syahwat dan dosa. Andaikan manusia tidak ada padanya tanggungan dosa, perhitungan amal dan pertanggungan jawab, kecuali kematian yang akan menghancurkan kekuatannya, memisahkan dirinya dari keluarganya serta menyatimkan anak-anaknya, maka sudah selayaknya baginya, untuk berhati-hati dan waspada sekuat tenaga." 

Demikian keHERANan Imam Ali Kw. Sekiranya beliau melihat kegembiraan manusia, termasuk umat Islam ketika menyambut tahun baru dan melepas tahun lama, maka ia pasti lebih HERAN lagi. Ali Kw. pasti HERAN, HERAN dan terus HERAN.

AKU HERAN.... Manusia, termasuk umat Islam dan aku, telah mengetahui dengan penuh keyakinan, bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara, fana, tidak menjadi tujuan. Bahkan kematian terus menerus mengejarnya dan tidak mungkin terbebas darinya, namun ternyata aku masih saja menjadi manusia pemburu dollar, menumpuk-numpuknya, masih mengira dan menyakini bahwa harta kekayaan, wanita dan jabatan akan mengekalkannya (QS. Al-Humazah dan QS. Takatsur). Bukankah sikap yang demikian, merupakan keHERANan yang dahsyat dan tidak salah jika dikatakan sebagai kebodohan. Dalam.keadaan demikian, sungguh musibah besar telah menimpaku. Kata imam Ali Kw. "a'dham al-mashaib al-jahl." yang berarti musibah terbesar adalah kebodohan."

Puncak keherananku adalah ketika waktu kehidupanku telah kujalani lebih dari 40-50 tahunan. AKU HERAN, mengapa di waktu ashar tersebut, hatiku masih saja terhijab dan terbelenggu, akalku kalah, hawa nafsuku menang dan merajai akalku. Akibatnya ketaatanku sedikit, maksiatku banyak. Lisan dan panca indraku kokoh dalam dosa. 
AKU HERAN.... Mengapa di waktu tubuh kasarku kembali melemah setelah ia kuat, jiwa dan rohaniku juga menjadi lemah. Semua itu karena racun dosa, maksiat dan kelalaian. Akibatnya kelemahan jasadku sangat terasa dan menjadi keluhan dalam kehidupanku. Rohaniku yang kotor dan teracuni, tak mampu mengatasi kelemahan tubuh kasarku. Padahal semestinya, semakin tua waktu kehidupan kejalani, sejatinya rohaniku semakin suci dan bercahaya terang. Bukan semakin kotor dan dalam kegelapan. Seperti sabda Rasulullah Saw. berikut ini.

Rasulullah Saw. berkata;... Hamba yang muslim, apabila ia telah mencapai 40 tahun, maka Allah akan meringankan perhitungan amalnya. Apabila telah 60 tahun, Allah mereskikan kepadanya al-inabah ila Allah (kesadaran senantiasa kembali kepada Allah). Jika telah 70 tahun, dia dicintai oleh penduduk langit. Ketika 80 tahun, kebajikannya telah kokoh dan keburukannya telah terhapus. Dan apabila telah menjalani waktu kehidupan 90 tahun, hamba muslim telah terbebas dari dosa masa lalu dan masa akan datang. Allah menganugrahi ia kemampuan memberi syafaat kepada keluarganya. Bahkan ia menjadi tawanan Allah di bumi. 

Dari sabda Rasulullah tersebut, dapat dipahami bahwa seorang muslim, semakin lama ia hidup di dunia, maka sejatinya semakin suci rohaninya. Bukan sebaliknya, semakin kotor dan berkarat kalbunya. Demikianlah berbagai keHERANan yang sekaligus mengkhawatirkan dan menakutkan dalam kehidupanku. 
"Ya Allah, kuadukan berbagai KEHERANANku kepadaMu. Keluarkan aku dari KEHERANANku. Ampunilah segala kesalahan, kelalaian dan dosa maksiatku. Jangan jadikan waktu kehidupanku menjadi USIA, waktu kehidupan sia-sia. Jagalah dan peliharalah sisi waktu kehidupanku sehingga menjadi UMUR, waktu kehidupan yang makmur. Kokohkan aku dalam ketaatan kepadaMu. Jadikan agamaku tegak dalam hidupku sebelum matiku. Bebaskan aku dari musibah kematian agamaku. Amin ya Rabbal alamin. 
Sebagai closing statemen, renungkan kandungan firman Allah dalam QS. AR-RUUM ayat 43. Semoga manfaat dan mencerahkan. 

Makassar, 25 Desember 2021.

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...