Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

14 Juli 2021

KHAZANAH SEJARAH:ISLAM DAN PENGHARGAAN PADA HAK ASASI MANUSIA (1)

by Ahmad M. Sewang 

Sesuatu yang diperbolehkan jika dilakukan secara berlebihan berubah menjadi larangan, misalnya ekspresi kecintaan pada agama, etnis, dan bangsa yang dilakukan secara berlebihan menjadi negatif sebab bisa jadi penyebab munculnya semangat rasialisme, etnosentrisme bahkan chauvinisme, sedang  chauvinisme jadi faktor penyebab Holocaust, yaitu  pembunuhan secara besar- besaran kepada etnis Yahudi yang dianggap inferiority oleh
etnis Ariyah Jerman yang
menganggap diri mereka speriority.

Perlu disadari bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam perbedaan. Antara manusia saja sudah ditemukan  perbedaan, mulai dari performance, wajah, suara, dan sidik jarinya, sekali pun mereka kembar. Demikian juga cara berpikir setiap manusia tidak sama sebagai perbedaan pengalaman setiap orang. Nuansa perbedaan itu disebut kepribadian. Disebut demikian karena hanya menjadi milik pribadi yang bersangkutan. 

Asal kejadian bagi setiap orang penting sebagai penanda sebuah identitas. Perbedaan identitas yang digunakan untuk berfastabiqul khaerat dan mencintai asal kejadian adalah sebuah sifat naluri manusia yang disebut primordial. Tetapi jika diekspresikan secara berlebihan bisa berubah negatif yang bisa membawa kepada tragedi kemanusiaan, seperti telah terjadi dalam sejarah di dunia. Sebenarnya, apa pun yang dilakukan secara berlebihan selalu berujung negatif sampai pada keberagamaan sekalipun, makanya dilarang yang disebut الغلو فى الدين sebab bisa melanggar hak dasar orang lain.

Di bawah ini akan dikemukakan kosep yang ditawarkan Nabi sebagai penghargaan pada hak asasi manusia yang merujuk pada khotbah Nabi di Arafah  pada 9 Zul Hijjah 10 H. Banyak sejarawan  berpandangan khotbah Wada' adalah the first in the world of Declaration of Human's Rights. Hal ini penting dikemukakakan saat dunia masa kini semakin memperlihatkan di depan mata seperti kejadian di Palestina yang tanahnya direnggut atas keserakahan negara rasis Israel. Aneksasi dilakukan tiap tahun dengan berbagai alasan. Pembenaran demi pembenaran mereka kenukan yang ditopang kekuatan militer. Kita juga tidak boleh lupa dengan apa yang terjadi pada India. Agama minoritas dianggap agama pengungsi dari luar dan bukan agama asli. Harus juga kita ingat etnis Rohingya, mereka melarikan diri dengan perahu. Mereka tersebar di lautan luas untuk meminta suaka politik. Banyak korban kelaparan, dan mati dalam perjalanan karena perahunya terbalik. Mereka terpinggirkan dan tak tahu di mana mengadukan diri. Etnis Uyghur, terkurung dalam kam-kam militer. Mereka dihilangkan hak dasarnya sebagai manusia merdeka. Beragam kejadian miris yang kita temui dalam dunia kini, tidak heran jika semakin nyaring suara terdengar permintaan kesetaraan, anti rasialisme, dan penegakan keadilan untuk menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat yang aman dan beradab. 

Berhubung karena uraian ini terlalu panjang dimuat di medsos, maka seri ini sengaja dibagi dua. Seri kedua khusus memuat intisari Khotbah Wada' yang berhubungan dengan penghargaan pada hak asasi manusia. Redaksi khotbah wadah termuat dalam beberapa kitab hadis yang susunan redaksinya nuansa bereda-beda yang perlu di aransemen ulang, seperti ditemukan di beberapa hadis, Sirah Nabawi Ibn Hisyam, dan Hayatu Muhammad oleh Taha Husain. Buku-buku inilah yang banyak digunakan dalam menyusun tulisan ini. 

Wassalam,
Makassar, 15 Juli 2021

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...