Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

18 Februari 2021

KHAZANAH SEJARAH: KEHILANGAN NILAI KEJUJURAN, BERARTI KEHILANGAN SEGALANYA (1)

by Ahmad M. Sewang
 

Pertama

Bangsa kita sepertinya sedang mengidap penyakit mental yang akut, seperti saling curiga antara satu kelompok dengan kelompok lain. Rasa curiga bisa terjadi jika pemerintahan yang dibangun atas dasar kepentingan oligarki. Pemerintahan oligarki  yang didominasi pemilik modal biasanya tidak peduli pada kesejahteraan rakyat. Hal ini bertentangan dengan tujuan negara didirikan, seperti terukir dalam UUD 45 pasal 34 (1),  melainkan untuk kepentingan oligarki sendiri. UU Omnibus Law yang telah disetujui DPR RI 2 Oktober 2020 yang banyak mendapat kritik karena dianggap hanya melindungi kepentingan oligarki, tidak ingin tahu kesulitan yang didihadapi rakyat kecil. Bayangkan di tengah kesulitan pandemi, iuran BPJS kesehatan kelas III dinaikan. Hal ini bertentangan dengan  UUD 45 di atas dan pelanggaran hukum seperti itu tidak lagi menjadi prioritas utama, sebagai contoh tentang masalah koruptor tak kunjung usai. Jika bisa KPK diperlemah demi kepentingan pemodal tadi. Bansos yang seharusnya untuk membantu masyarakat miskin, akibat covid-19, juga turut dikporupsi oleh menterinya sendiri atas kerjasama penguasa dan pengusaha (pemodal). Sogok menyogok sudah dianggap biasa. Boronan kakap, Joko Chandra, memanfaatkan kekayaanya menyogok pejabat di Kejaksaan Agung, Punaki Sirna Mayasari, sejumlah 7.2 muliar rupiah dan juga melibatkan dua oknum Jenderal polisi. Pada awal tahun 2020 terjadi skandal korupsi yang melanda negeri ini juga melibatkan petinggi KPU dan calon anggota DPR, Harum Masiku, yang sampai sekarang tidak diketahui ke mana rimbanya. Sama dengan narkoba tak pernah benar-benar bisa teratasi, bahkan pengedarnya semakin menggila dengan menjadikan penjara sebagai pusat transaksi barang haram itu. Banyak orang mulai mempertanyakan, ada apa di balik semua ini? Kenapa pengelolaan negara tercinta ini begitu sumpek dan sengkarut? Ada yang mencoba menjawabnya. Kemungkinan karena ada sesuatu yang hilang di tengah masyarakat, yaitu kejujuran dalam menjalankan UUD 45 secara murni. Kejujuran bagai barang berharga sudah mulai menghilang di pasaran. Inilah faktor penyebab hilangnya kepercayaan satu sama lain.

Sebagai contoh kecil tentang banyaknya kasus tenaga medis yang terinfeksi covid-19, salah satu faktornya karena ketidakjujuran pasien dalam menginformasikan penyakit yang dideritanya. Saat ditanya perihal penyakitnya pada pemeriksaan awal, si pasien sudah tidak transparan. Di sinilah awal mula malapetaka, baik pasien atau pun petugas medis. Dokter sudah pasti akan salah memberikan resep karena salah informasi dari awal. Informasi salah menjadi malapetaka bagi tenaga medis, karena mereka dengan mudah bisa tertular virus corona, akibat salah informasi membuat tidak hati-hati dalam  menyentuh dan merawat pasien. Padahal kejujuran pasien menjadi kunci utama kesembuhannya dan sekaligus bisa memutus mata rantai penularan wabah pandemi corona. (bersambung)

Wassalam,
Makassar,  4 Januari 2021

by Ahmad M. Sewang

Kedua

Sekitar tahun '60-an, para orang tua di Pambusuang, sebuah kampung sederhana dan bersahaya memberi pelajaran pertama yang ditanamkan ke generasi mudanya adalah kejujuran dan keuntangan yang akan diperoleh jika bersikap jujur. Sebaliknya, akibat panjang yang akan diderita bagi orang yang culas. Saya masih ingat waktu itu. Walau sama sekali belum ada alat komunikasi secanggih seperti sekarang. Jangankan handphone, televisi pun belum ada. Radio masih menjadi barang langka dan jarang orang memilikinya. Jika ada yang mampu membeli, mereka harus menyiapkan bambu setinggi mungkin, tempat memasang antena untuk bisa menangkap siaran. Satu-satunya komunikasi dalam mewariskan nilai-nilai budaya adalah penuturan dari mulut ke mulut, baik penuturan kisah atau pengajian Alquran. Beruntung, saya memiliki hobi suka mendengarkan kisah dari orang-orang tua yang terkadang menjadi kisah pengantar tidur. Kisah itu, selalu dimulai dengan sebuah pepatah, "Sekali lancung ke ujian seumur hidup tak dipercaya."

Ketidakpercayaan pada seseorang tentang apa pun yang diucapkan disebabkan karena ia pernah berbohong alias tidak jujur walau hanya sekali. Sementara kejujuran di masa kini ibarat barang langka sudah langka yang mulai menghilang di pasaran. 
Kisah paling berkesan dan sulit terlupakan sepanjang nyawa masih dikandung badan adalah kisah pengembala kambing yang mengelabui penduduk sekitar, yaitu dengan sengaja berteriak minta tolong, karena ternaknya disergap serigala. Semua penduduk sekitar turun tangan menuju suara itu, lengkap dengan peralatan untuk membantu, tetapi apa lacur, teriakan itu hanya sekedar untuk mengelabui penduduk. Kali kedua, teriakan itu lebih nyaring lagi, sebab memang sungguh-sungguh terjadi bahwa ternaknya benar-benar dimakan serigala ganas, namun tidak ada satu pun penduduk yang ingin turun tangan membantunya, karena teriakan itu dianggapnya omong kosong belaka. Barulah si pengembala kena batunya sendiri. Benarlah pembuka kisah orang tua di atas, "Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya." Kisah ini mungkin hanyakah qisatun khayaliyah atau kisah imajiner, tetapi sangat terkesan di hati sampai kini. Inilah yang dikatakan seorang sosiolog, anomali sosial, "Dahulu tidak ada alat komunikasi secanggih sekarang yang membuat serba sulit, tetapi orang umumnya jujur dan bisa dipercaya. Sebaliknya, komunikasi di era kini semakin canggih dan semakin memudahkan, tetapi justru umumnya orang semakin banyak yang culas dan sulit dipercaya." 

Setelah menginjak sekolah menengah, mulailah membaca buku-buku berkualitas karangan Buya Hamka almarhum. Di antaranya, "Lembaga Hikmah." Buya mengingatkan, terutama pada pemegang amanah. Jangan sama sekali pernah berbohong, sekali berbohong hanya bisa ditutupi dengan kebohongan lain. Jika bertemu orang lain atau orang yang sama untuk menutupi kebohongan awal adalah dengan kebohongan lagi. Demikian seterusnya, maka terjadilah kebohongan murakkab (bersusun). Ada ahli yang berpandangan bahwa yang terbiasa berbohong itu para politisi, walau tidak bisa digeralisasi. Sayang citra ini terlanjur dipercayai oleh sebagian masyarakat dalam tradisi Bugis. Mereka menyebutnya politisi itu disebut paballe-balle, artinya pembohong. Kenapa ada citra negatif politisi demikian? Di antara penyebabnya, karena seorang politisi akan sulit berkata benar jika berbeda dengan garis kebijakan partainya. Sampai ada yang berusaha menjustifikasi pendapat di atas dengan mengutip pendapat seorang politisi Prancis yang juga dikenal presiden pertamanya, bernama Charles de Gaulle. Beliau menyatakan, “Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila ada rakyat mempercayai ucapan mereka.”

Akhirnya, saya mengutip makna substantif sepotong hadis Nabi untuk memperkuat judul tulisan ini. Hadis Nabi itu   berbunyi, "Hendaknyalah bersikap jujur karena kejujuran adalah kunci seluruh kebaikan dan hindarilah keculasan, karena keculasan adalah sumber semua malapetaka."

Wassalam,
Makassar,  5 Januari 2021

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...