Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

15 Oktober 2020

TENTANG BUNG KARNO


PESAN BUNG KARNO: "PERJUANGAN LEBIH BERAT ADALAH MELAWAN BANGSA SENDIRI." 
By. Ahmad Sewang

"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah  (sebagai musuh yang jelas), namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri ," (yang sulit dibedakan kawan dan lawan), pesan Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Memang, jasa monomental Ir. Soekarno adalah kemampuannya mempersatukan seluruh rakyat Indonesia yang ber-Bineka Tunggal Ika, yang pusparagam dilihat dari segi etnis, suku, dan agama dengan menciptakan common enemy dalam mengusir penjajah dari Ibu Pertiwi tercinta. Sementara kolonial selalu berusaha sebaliknya, menggunakan  politik devide et impere demi melestarikan imperialisme mereka.

Mungkin dahulu tidak pernah terbayangkan kebenaran  perkataan Soekarno tersebut. Sebab mana mungkin ada yang lebih sulit dari melawan penjajah yang diperlengkapi senjata paling canggih saat itu? Namun, kenyataan sosial setelah 75 tahun merdeka dan kolonial sudah angkat kaki di tanah tumpah darah tercinta, pesan Bung Soekarno itu terbukti. Dalam realitas sosial masyarakat kita sangat sulit bersepakat dalam hal pundamental sekali pun. Bahkan mereka saling menyalahkan satu sama lain. Jika yang satu berkata A yang lain akan berkata B. Jika yang satu melaporkan, maka yang dilaporkan juga melaporkan balik. Bahkan seakan mereka masing-masing saling sandra satu sama lain, "Jika engkau melaporkan saya, saya pun akan melaporkan kamu," kata mereka.

Perjuangan lebih sulit, karena tidak diketahui siapa lawan sesungguhnya dan siapa kawan seiring yang masih memiliki semangat patriotisme. Paling menyedihkan jika ada pengkhianatan dari dalam. Bagaimana bisa terjadi, seorang oknum aparatur yang ditugaskan memelihara keamanan negara, tetapi ikut serta ber-kongkalikon dengan boronan kawakan. Mereka melakukan penghapusan red notice seorang boronan kakap. Bagaimana mungkin seorang oknum kejaksaan sebagai tumpuan harapan tegaknya keadilan bisa disogok sampai 7,2 miliyard agar sang boronan kakap itu bebas keluar masuk Indonesia? Bagaiman bisa pemasyarakatan sebagai tempat penyadaran penjahat, tetapi dijadikan tempat transaksi narkoba? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa diperpanjang. Namun, saya pikir sudah cukup sebagai bahan renungan dalam menghindari perbuatan tercela, sehingga tidak lagi terjadi pelanggaran atas legacy nenek moyang bahwa bahaya paling besar, jika kelak di kemudian hari terjadi, "Pagar makan tanaman." Itulah yang terjadi di beberapa tempat. Prilaku semacam ini dianggap sebuah pengkhianatan kepada bangsa dan negara terakbar. Itulah di antara lain dimaksudkan Ir. Soekarno musuh lebih sulit ketika manghadapi bangsa sendiri.

Wassalam,
Makassar, 28 September 2020

PESAN NABI JAUH SEBELUM SOEKARNO
by Ahmad M. Sewang 

Menyambung pesan Soekarno pada seri lalu, sesungguhnya jauh sebelumnya telah diperingatkan oleh Nabi saw. Bahkan pesan Nabi jauh lebih menukik ke dalam diri setiap manusia, "Musuh paling utama bukan orang lain, tetapi adalah dirimu sendiri," kata Nabi, yaitu hawa nafsu yang bercokol dalam diri setiap manusia.

Sebagai telah masyhur kita ketahui bahwa segera setelah Nabi kembali dari Perang Badar. Nabi mengingatkan pada para sahabatnya, "Kita baru saja kembali dari perang kecil dan akan menghadapi perang yang lebih dahsyat." Mendengar itu, para sahabat kaget, sebab mereka berpendapat perang terdahsat yang banyak memakan korban yang pernah mereka alami adalah Perang Badar. Itulah yang mendorong mereka bertanya pada Nabi, "Perang apa yang paling dahsyat itu, ya Rasulullah?" Rasul pun menjawab, "Perang melawan hawa nafsu."

Dampak hawa nafsu yang tak terkendali bukan hanya berbahaya pada diri sendiri, juga merambah pada banyak orang. Perang Dunia I dan II yang telah menelang korban jutaan manusia tak bersalah serta membumihanguskan peradaban umat manusia tak lepas dari ketidakmampuan manusia mengendalikan hawa nafsu yang bercokol dalam dirinya sendiri. Bahkan kejatuhan Soekarno sendiri adalah akibat nafsu kuasa yang menetapkan dirinya sebagai presiden seumur hidup. Beliau tidak lagi ingin mendengar nasihat dari mana pun  Bung Hatta sendiri menasihati melalui tulisannya "DEMOKRASI KITA" yang dipengatari oleh Buya Hamka dan dimuat di majalah Panji Masyarakat tahun 1960. Akibat pengaruh Komunis yang sedang bermesraan dengan rezim Orde Lama menyebabkan Soekarno tersinggung. Akhirnya majalah Panji Masyarakat yang memuat nasehat Bung Hatta itu dibreidel dan dilarang terbit. Buya Hamka dan banyak ulama lainnya di pusat dan di daerah  yang tidak sepaham politik Nasakom (Nasional, Agama, Komunis) di bawah bendera Demokrasi Terpimpin Soekarno dimasukkan dalam penjara. Masalah pesan Bung Hatta pada Bung Karno akan dimuat pada seri kedua berikutnya.

Wassalam,
Makassar, 1 Oktober 2020

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...