Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

31 Agustus 2020

NILAI-NILAI AGAMA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

by Ahmad M. Sewang

Bagian Pertama 
Pada 14 Agustus 2020 dilakukan 
Webinar oleh WA Dosen Progresif UIN Alauddin. Agar lebih terasa manfaatnya, maka sengaja makalahnya diviralkan dalam bentuk seri, 
"NILAI-NILAI AGAMA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA"
Judul di atas terasa luas, maka perlu dibatasi pada lima sub masalah yang sebagian ditinjau pada persektif sejarah, dimaksudkan agar tidak terlalu jauh keluar dari bidang spesialisasi yang saya tekuni selama ini.
Pembatasan dilakukan agar juga bisa lebih leluasa memilih sub masalah tentang nilai agama bisa diparalelkan dengan nilai kebangsaan sehingga jadi sebuah kesatuan terintegrasi tanpa ada perasaan untuk mempertentangkan keduanya.  Sang Guru Bangsa almarhum Prof. Dr.  Nurkholish Madjid menulis sebuah buku berjudul, Keislaman dan Keindonesiaan. Buku ini bertujuan agar seorang muslim tidak memisahkan antara agamanya dan bangsanya. Jadi nilai-nalai yang saya kemukakan ini diharapkan berlaku umum bagi semua WNI, antara lain nilai:
1. Ketuhanan,
2. Etos kerja,
3. Musyawarah, dan
4  Keadilan.
Nilai-nilai itu, tentu masih banyak, tetapi keterbatasan ruang sehingga, terasa sudah dinggap cukup.

1. Nilai ketuhanan sangat utama dalam pembangunan bangsa sesuai yang tercantum dalam dasar negara kita. Di banyak negara barat nilai ini telah terkikis, seperti yang saya saksikan di negeri Kincir Angin. Mereka berprinsip agnotisisme, yaitu beragama atau tidak beragama, sama saja. Ketika saya di Henry Krimer, pusat pengkaderan missionaris muda di Leiden, saya dapat data bahwa di negwri itu tinggal 12,5 % yang rutin ke gereja setiap minggu, sisanya menjadi agnostik. Jangan kaget jika banyak gereja kosong yang sebagian dijadikan rommelmark, tempat menjual barang second hand atau pameran. Selama setahun di sana, saya rutin salat luhur dan Jumat di geraja yang sudah ditransformasi jadi masjid dekat kampus. Muncul pertanyaan, "Bagaimana nasib Indonesia?" menurut saya, Indonesia akan sulit bernasib sama dengan negara Barat. Alasannya,  Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedang dunia Barat berdasarkan negara sekuler. Jika kurang yakin, bisa bereksperimen dengan menjual satu rumah Ibadah dan diubah menjadi rumah ibadah agama lain. Pasti akan ribut tidak keruan, sebab  sudah jauh menyimpan dari akar tradisi budaya bangsa. Tinggal bagaimana memberdayakan nilai agama tersebut sebagai motivasi untuk membangun bangsa. Nilai agama dalam pembangunan ekonomi misalnya, merupakan kisah yang menarik perhatian banyak ilmuwan. Max Weber sosiolog dan ekonom ternama Jerman dalam bukunya yang masyhur. The Protestant ethic and the Sprit of capitalism (1974) menyimpulkan agama merupakan faktor penyebab kemunculan kapitalisme di Eropa dan Amerika Serikat. Weber mengungkapkan kemajuan ekonomi beberapa negara di Eropa dan Amerika di bawah kapitalisme disebabkan terutama oleh etika protestan yang di kembangkan Calvin.

Calvinisme mengajarkan seseorang sudah ditakdirkan nasibnya di akhirat, apa ia masuk surga atau neraka. Tetapi yang bersangkutan tidak mengetahui takdir mana yang akan menimpanya. Satu cara mengetahuinya adalah melalui kerja di dunia. Kalau seseorang berhasil dalam kerja di dunia, akan berpeluang besar masuk surga. Sebaliknya kegagalan di dunia, besar kemungkinan mengantarkannya ke neraka. Kepercayaan ini mendorong penganut kapitalisme bekerja keras mereka bekerja giat meraih kesuksesan bukan demi kekayaan materi semata melainkan lebih untuk menghalau kecemasannya tentang neraka. Jadi etika Protestan berpandangan, kesuksesan di di dunia adalah indikasi juga dapat surga di akhirat. Sebaliknya, sengsara di dunia sebagai indikasi dapat neraka di akhirat. Inilah yang memotivasi seorang protestan bekerja keras di dunia.

Robert N Bellah juga terpukau dengan kemajuan ekonomi Jepang, melakukan kajian mengenai penganut agama Tokugawa terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di negeri matahari terbit ini. Senada dengan Weber, dalam bukunya, Tokugawa Religion: The Values of Pre Industrial Jepang (1985). Bellah menyatakan nilai kerja keras meraih kesuksesan di dunia juga terdapat dalam agama Tokugawa. Menurut Bella nilai tersebutlah yang menjadi pondasi bangunan kapitalisme Jepang dengan perkembangan ekonominya yang menakjubkan. Lebih jauh Bellah juga menganggap kewirausahaan Cina, yang kini masih kita rasakan pengaruhnya di seluruh dunia, tumbuh dan berkembang dalam pelukan Comfusianisme.
 Menurut kedua ilmuwan di atas, Weber dan Bellah, bahwa Tuhan atau nila agama memiliki pengaruh kuat dalam pembangunan.
Bahkan peninggalan warisan sejarah masa lalu yang menjadi keajaiban dunia dan jadi destinasi wisata, kebanyakan terinspirasi dari agama, seperti piramida Mesir, Taj Mahal d India  Candi Brobudur di Magelang Indonesia  dan Christ the Redeemer  di Rio de Janeiro, Brasil.

Wassalam,
Makassar,  Akhir Agustus 2020

Bagian Kedua 
Suatu ketika di tahun 1994, kami dari peneliti Universitas Leiden, diundang untuk melakukan seminar di kota Paris. Kesempatan itu, saya gunakan berkunjung Masjid Raya, Grande Mosquee, di tengah kota itu. Kebetulan jumpa dengan masyarakat Maroko. Mereka bertanya tentang Presiden RI, Soekarno. Kelihatannya, mereka sangat terkesan presiden pertama itu, sebab beliaulah pertama kali memperkenalkan nilai kerja keras bangsa Indonesia di Sidang Umum PBB dengan mengutip ayat QS al-Raad: 11,
 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. 
Ayat ini, begitu terkesan, sampai mereka menyebutnya ayat itu sebagai "ayat Soekarno". Ayat ini digunakan oleh Muktazilah sebagai justifikasi atas penghargaan Tuhan atas kasab manusia. Menurut saya, semua aliran mazhab baik teologi atau fikih dalam Islam, sepanjang menjadikan Alquran dan hadis sebagai premis mayor, maka mereka tetap bagian dari Islam. Terlepas apa kita sependapat atau tidak. Di sinilah pentingnya untuk dibangun agar saling menghargai perbedaan antara sesama muslim. Memang ada yang sangat mengherankan umat, kenapa kita leluasa mengutip pendapat ilmuwan Barat ketika belajar di universitas? Sementara enggan mengutip pendapat sesama muslim sendiri, hanya karena beda mazhab? Diakui, masih ada sebagian ulama memandang Muktazilah di luar Islam dan semua bukunya harus dibreidel, alias tidak bisa disentuh, tetapi setelah studi lanjutan di PPs, ternyata banyak sekali ajarannya yang dipraktikan sehari-hari. Jadi terjadi semacam split personality pada diri seorang mahasiswa. Di satu sisi mempratikkan ajaran Muktazilah, di sisi lain dilarang untuk mempercayainya. Menurut saya, Muktazilah sama dengan mazhab lain dalam Islam, tidak semua ajarannya harus diterima dan juga tidak semuanya harus ditolak mentah-mentah. Sangat tergantung pada relevansi objek bahasan. Dalam hal etos kerja, ajaran teologi Muktazilah lebih rekevan untuk pembangunan yang lebih mengedepankan anthropocentric. Demikian juga ketika di Melbeurne, Australia. Sengaja kami berkunjung di sebuah komunitas muslim Indonesia di daerah pinggiran kota Melbeurne bersama Dr. Zamahsari Dhafir. Di sana ada pengajian rutin dengan buku pegangan Tafsir Misbah karangan Prof. Quraish Shihab. Sang pengajar berkomentar setelah kami tanya tentang kelebihan Tafsir Misbah yang dijadikan pegangan. Menurutnya buku tafsir tersebut lebih moderat dan lebih sesuai masyarakat muslim Indonesia di Australia, hanya Prof. Quraish banyak mengutip Tafsir al-Tabatabai dari Mazhab Syiah. Tetapi, ketika saya tanya kenapa jika mengutip Plato, Max Weber, atau Agustinus tidak dipersoalkan? Beliau diam. Inilah masalah bagi sebagian umat Islam sendiri yang sulit move on dari rasa curiga warisan masa lalu, lebih curiga pada sesama muslim daripada non-muslim hanya karena beda mazhab. Menurut Prof. Salim Said yang dikutip dari almarhum K.H. Jusuf Hasyim bahwa para orang tua santri lambat sekali move on. Terbukti setelah proklamasi kemerdekaan RI, tidak segera move on untuk mengisi portofolio pemerintah, khusus TNI, karena dianggapnya pemerintahan masih berbau kolonial. Kesadaran itu, baru muncul, setelah awal tahun 60-an. Bahasan berikutnya akan berbicara nilai etos kerja Islam dalam pembangunan bangsa.

Wassalam,
Makassar,  Awal September 2020

Bagian Keempat 
Di bawah ini dikemukakan ajaran Islam yang dapat memotivasi pemberdayaan etos kerja dalam pembangunan bangsa, antara lain:
a. Sikap positif Islam terhadap kehidupan dunia. Untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat, Alquran mengajarkan untuk tidak melupakan karunia Tuhan di dunia. Dalam QS al-Qasas (28): 77, disebutkan,
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ(77)

b. Setelah selesai salat (Jumat), maka Islam mengajarkan agar segera bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia (rezki) Allah. Dalam QS al-Jumu‘ah (62): 10,
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(10)
c. Islam tidak menghendaki sengsara di dunia walau bahagia di akhirat, seperti pandangan kelompok asketis, apalagi sengsara pada keduanya. Tetapi Islam menghendaki kehidupan yang seimbang antara kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. seperti dalam QS al-Baqarah (2): 201,
 رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(201)
d.. Dalam beberapa doa Nabi, beliau memohon agar dijauhkan dari kemiskinan, 
اللهم انى اسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى    
Di tempat lain Nabi berdoa agar terhindar dari kefakiran,
اللهم انى اعوذبك من العجز والكسل والجبن' واعوذ بك من الفقر والكفر والفسوق' ...
e. Ismail Raji al-Faruqi memberi komentar bahwa Islam sangat menghargai orang produktif dengan mengutip hadis Nabi,
  يد العلى خير من يد السفلى 
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.
Agar umat Islam bisa memberi, maka ia seharusnya produktif. Agaknya, itulah yang mendorong Muhammad Iqbal menyatakan, “Alquran adalah kitab suci yang menekankan perlunya manusia beramal atau bekerja.”

Wassalam,
Makassar, 3 September 2020

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...