Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

16 April 2020

RENUNGAN MENJELANG RAMADAN

by Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA

Sementara ini, saya sedang mempelajari pemikiran ulama besar, Syekh Yusuf al-Qardawi. Setelah menelah, satu di antara pemikiran dan sikap beliau yang saya pandang sangat excellent adalah kerendahan hati. Sekalipun sudah sekitar 125 buku yang ditulis dan beliau pun dipercaya sebagai Presiden Persatuan Ulama se Dunia berkedudukan di Dubai, beliau tetap memiliki kerendahan hati dan tidak malu bertanya kepada yang dianggapnya ahli. Menurut Syekh Nasaruddin Albani, "Ketika saya ketemu beliau, dia mohon dengan hormat agar saya bisa mengoreksi bukunya, terutama tingkat kesahihan hadis yang digunakan." Buku itu berjudul,  
الحلال والحرام فى الاسلام

Prof. Dr. Yusuf al-Qardawi adalah contoh ulama teladan yang rendah hati tidak malu-malu jika bukunya dikoreksi. Sikap rendah hati inilah yang saya catat sebagai bagian dari etika intelektual yang wajib dimiliki seorang ilmuan. Jangan baru saja tahu agama, atau baru saja menulis satu buku, ia sudah bertepuk dada seperti lebih ulama darpada ulama benaran. Bahkan Fatwa Majlis Ulama tidak dihiraukan karena ia tidak setuju tentang larangan berkumpul dan perlu menjaga jarak, termasuk berjamaah di Masjid untuk sementara, demi menghindari penularan covid-19. Ia beranggapan fatwa itu salah dengan dalih, "Penyakit corona tidak akan tertulari jika Tuhan tidak menghendaki, apalagi di masjid sebagai benteng pertahanan terbaik melawan musuh Allah, termasuk corona." Orang yang berpandangan demikian, ia nampaknya tuna sejarah tak mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw. sendiri memakai baju besi saat berperang, beliau pun berhijrah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari siksaan kafir Quraisy, beliau juga minta kepada para sahabat untuk menjauhi wabah penyakit, dan ikhtiar lainnya, di samping mohon doa dan pertolongan Allah swt.

Wassalam

16 April 2020

RENUNGAN MENJELANG RAMADAN
by Ahmad M. Sewang

Beberapa pertanyaan masuk ke smartphone saya, untuk itu saya akan mencoba menjawabnya secara umum. Dalam ilmu sejarah yang saya pelajari bahwa hampir semua pendapat para tokoh atau ulama tidaklah keluar dari ruang kosong, melainkan sebagai respon dari problema yang sedang di hadapi di masanya. Ayat-ayat sucial-Quran dan hadis Nabi saw. pun sebagiannya turun memiliki asbab al-nuzul dan asbab al-wurud. Walau dengan catatan bahwa asbab al-nuzul dan asbab al-wurud, tidak satu satunya menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan hukum oleh karena bisa banyak riwayat. Artinya tidak qatiy fi al-warud. Dalam hubungan ini para sejarawan berpendapat, tidak mudah menilai sebuah pendapat atau pernyataan tanpa lebih dahulu mempelajari kondisi sosial yang mengitarinya saat pernyataan itu disampaikan.

Urgensi melihat kondisi sosial setiap pernyataan, dapat dilihat pada pribadi Imam Syafii yang mazhabnya banyak dianut di Nusantara, beliau mengubah pendapatnya sendiri hanya karena perubahan sosial yang ia saksikan ketika di Bagdad, berbeda dengan yang ia lihat ketika pindah ke Mesir. Sehingga beliau dikenal meniliki dua pendapat dalam masalah yang sana, yaitu pendapat lama atau qaul qadim ketika di Bagdad dan pendapatnya baru atau qaul al-jadid saat berada di Mesir. Beliau berpegang pada kaidah fikih,
تغير الاحكام بتغيير الزمان والمكان
Perubahan hukum disebabkan karena perubahan zaman dan tempat.
Karena itu, menurut saya, semua paham teologi yang pernah muncul dalam sejarah tidak terlepas dari kondisi zamannya dan tidak mudah pula menyalahkan apalagi mengakafirkan paham itu. Kita bisa tidak sependapat satu aliran teologi, tetapi, tidaklah bijaksana jika langsung mengafirkan. Karena paham teologi yang kemudian membentuk sebuah aliran atau mazhab adalah upaya mereka merespon peroblema zamannya dan menurut yang saya pelajari, tak satu pun aliran  teologi tersebut tidak mendasarkan pemikirannya pada al-Quran dan hadis Nabi sebagai premis utama dalam mengambil kesimpulan. Jadi yang bisa kita lakukan adalah menilai paham teologis tersebut, mana yang lebih relevan dengan perkembangan kita sekarang, berhubung perubahan sosial sudah jauh berkembang dibanding pada saat paham itu muncul lebih sepuluh abad silam. Jadi dalam hal ini, bukan lagi pada tataran penilaian sesat atau kafir, melainkan relevan tidaknya aliran itu dengan perkembangan masa kini. Mohon maaf, jika harus berkata demikian. Mengingat hal ini, karena sebagian uma sangat mudah mencap sesamanya sesat atau kafir hanya karena beda pendapat apalagi dalam masalah furu'. Pandangan terakhir ini telah ikut memberi andil memperparah semakin terpecahbelahnya umat ini. Pada hal, sementara yang sangat mendasak saat ini adalah menyatukan umat dalam satu saf  untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan-persoalan Yang lebih besar mendesak, seperti ketertinggalan atau hal-hal yang lebih strategis lainnya demi izzul Islam wal muslimin  liilai kalimatillah.

Wassalam,
Makassar, 17 April 2020
RENUNGAN MENJELANG RAMADAN
by Ahmad M. Sewang

Saya mengutip jawaban Penasehat DPP IMMIM, Drs. AGH. Muhammad Ahmad, atas pertanyaan seorang netizen. Beliau menjawab singkat, sebagai berikut: "Jika Anda tidak tahu, maka bertanyalah pada ahlu zikri," seperti firman Allah:
 فسالوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون
Maka tanyakanlah pada ahlu al-zikri bila kalian tidak tahu.

Benar, begitu banyak peristiwa yang terjadi sekarang ini belum pernah ditemukan di masa Nabi saw. Di sini digunakan metode ijtihad sebagai salah satu instrumen dalam menjawab masalah-masalah baru itu. Metode ijtihad tetap mendasrkan pada al-Quran dan hadis sebagai premis utama. Bak kata orang Minang, "Duduk tegak di atas tikar sehelai." Para ulama baik yang ahli tentang masalah virus corona lebih baik diserahkan pada mereka ahli di bidang ayat qauliah untuk fatwanya atau pun ahli pada bidang ayat kauniah untuk cara pencegahannya.
 
Secara bahasa, makna ayat Qauliah dan Kauniah sebagai berikut: Qauliah berasal dari kata Qaala yang maknanya adalah perkataan atau ucapan, yakni ayat Allah berupa ucapan yang tersurat dalam al-Quran. Sedang orang yang menekuni ayat-ayat qauliah akan ahli di bidang hukum Allah. Sedang ayat kauniyah berasal dari kata kaana yang maknanya adalah bukti yang banyak tersirat dalam al-Quran dan diperintahkan untuk mempelajarinya di semesta alam. Menekuni ayat kauniah akan menghasilkan saintis. Baik ayat qauliah atau pun ayat kauniah, keduanya juga disebut ayat Quraniah karena keduanya diperintahkan Allah dalam al-Quran untuk mempelajarinya. Karena itu kata "ayat" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sering dimaknai signs of God, tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Seorang mukmin yang baik tak hanya sekedar mencari kebesaran Allah melalui ayat-ayat Qauliah melainkan juga mencarinya melalui alam semesta pada ayat kauniah. Ayat Qauliah dan Kauniah ini tidak bertentangan satu sama lain bahkan malah saling melengkapi. Ayat kauniah lebih ditujukan pada penguasaan hukum alam. Hukum alam diselidiki dan dirumuskan oleh sains. Perantaraan sains dan teknik manusia menguasai alam. Ketertinggalan sebagian umat dalam penguasaan hukum alam dan sosial karena hanya fokus pada ayat qauliah. Untuk itulah, UIN didirikan untuk memelihara keseimbangan itu, antara ayat qauliah dan kauniah dan itulah yang disebut integrasi keilmuan.

Dalam menjawab tantangan masa depan, umat Islam harus bisa memelihara keseimbangan antara rasa, siar, dan akal sehat berdasarkan pengetahuan syariah. Sebagian kaum muslim lebih mengutamakan rasa dan siar dalam beragama, sehingga sangat berat rasanya jika meninggalkan salat Jumat dan tarawih di Masjid, walau ada mudarat. Tetapi, beragama tidak cukup dengan itu, juga perlu pengetahuan syariat dan akal sehat. Pengetahuan syariat itulah mengingatkan bahwa salah satu yang wajib dipelihara pada diri manusia adalah hifz al-nafs atau jiwa (nyawa). Jika nyawa terancam akibat tidak memelihara jarak yang bisa terjadi penularan corona, maka agama tidak membenarkannya. Dari mana diketahui bahwa jika tidak menjaga jarak atau social distinsing, bisa menjadi penyebab penularan covid-19? Tanya pada ahl al- zikri tadi.

Wassalam,
Makassar, 20 April 2020

RENUNGAN MENJELANG RAMADAN
by Ahmad M. Sewang

Secara pribadi, saya terpengaruh tausiah seorang hukama, menurutnya, "Peristiwa apa pun yang datang meninmpa, selalu saja ada hikmah yang tersembunyi di baliknya." Taruhlah misalnya, wabah corona yang memaksa kita tinggal di rumah. Tinggal di rumah bisa saja membosankan yang menyiksa. Cobalah temukan hikmah itu, jangan dianggap sebagai siksaan, tetapi berusahalah mengubah siksaan itu menjadi sebuah kesenangan dan kenikmatan, misalnya dengan memanfaatkan waktu sepi untuk membuka jendela dunia dengan banyak membaca buku. Membaca buku bermanfaat mungkin akan lebih merasakan kehadiran kemahabesaran Allah swt., seperti kata Imam Syafii, "Tambah banyak membaca, tambah banyak saya tahu, bertambah banyak saya tahu, justru bertambah banyak pula saya tidak ketahui." Menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah swt. yang juga bisa memberi kesadaran baru bahwa alangkah kecilnya kita sebagai makhluk Tuhan bahwa ilmu seseorang belum seberapa, barulah bagai setitik air dari samudera lautan ilmu Allah swt. Yang Maha luas.

Sepanjang pademi civid-19, hendaknya dimanfaatkan dengan banyak membaca. Menelaah pemikiran ulama besar, misalnyanya Syekh Muhammad al-Gazali akan membuka wawasan bahwa beliau adalah tokoh Islam moderat abad ke 20 dari Mesir. Beliau ulama penulis, telah menulis 94 buku. Orang tuanya sengaja memberi nama tersebut di atas agar bisa mengikuti jejak Hujjatul Islam, Imam al-Gazali (1158-1111), ternyata di kemudian hari memang jadi ulama masyhur. Pada umur masih anak-anak 10 tahun sudah hapal al-Quran. Setelah membaca biograpi beliau membuat hati saya tersentuh, sepertinya diri saya, belum punya arti apa-apa dibanding beliau. Betapa tidak, beliau memiliki kerendahan hati luar biasa. Tanpaknya, semakin tinggi ilmu seorang ulama berbanding lurus dengan ketawadhuannya. Dalam sebuah kesempatan, beliau ditanya pendapatnya tentang Syekh Yusuf al-Qardawi, beliau menjawab sepontan, "Syekh Yusuf al-Qardawi salah seorang imam kaum muslimin zaman kini yang mampu menggabungkan fikih antara akal dan atsar. Dahulu memang murid saya, tetapi sekarang sudah menjadi guru saya," katanya. Ketawadhuan Syekh Muhammad al-Gazali saya garisbawahi di sini dan kucatat baik-baik sebagai tambahan satu lagi etika intelektual yang wajib diteladani oleh para ilmuwan atau yang menyebut diri sebagai mubalig.

Wassalam,
Makassar, 21 April 2020


MARHABAN YA RAMADAN
SELAMAT MEMASUKI BULAN SUCI RAMADA.
by Ahmad M. Sewang

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...