Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

13 April 2020

INTERMESO SEJENAK

PROF. DR. H. M. AHMAD SEWANG, MAM

INTERMESO SEJENAK
Intermeso sekedar menghibur diri dari kesunyian tinggal di rumah:
Virus covid-19 telah menjungkirbalikan pemahaman baku selama ini yang diabadikan dalam pepatah Melayu. Menurut pemahaman baku, "Bersatu kita kuat dan bercerai-berai kita runtuh". Sedang covid-19 membalikan, "Bersatu kita rontok, bercerai-berai kita perkasa."

27 Maret 2020

INTERMESO SEJENAK
Sudah menjadi acara rutin saya setiap sore petang Jumat mengikuti khotbah di Timur Tengah melalui prabola. Saya mengikuti secara berpindah-pindah channel, mulai dari Abu Dabi, Kuwait, Masjid Haramain Mekah Madinah, Sudan, dan Libya. Tetapi tidak ada negara yang melaksanakan salat Jumat kecuali hanya Sudan satu-satunya, itu pun tidak banyak Jamaah seperti biasanya, itu pun jamaah tidak ada pengaturan jarak atau social distancing antara satu sama yang lain. Kenapa hanya Sudan yang melaksanakan salat Jumat? Kenapa mereka tidak mengikuti fatwa Grand al-Azhar Mesir atau kebijakan negara-negara lain, seperti Arab Saudi yang meniadakan Jumatnya sementara? Saya tidak ingin memberi pendapat atau opini. Saya sungguh gembira jika ada netizen bisa menganalisanya, terutama dari alumni Sudan, sehingga memberi wawasan baru untuk semua. Semoga bermanfaat!

Wassalam,
27 Maret 2020

INTERMESO SEJENAK
Sekali lagil, saya mengajak teman-teman, kerabat, dan handai tolan untuk menghibur diri dari kesepian tinggal di rumah bahwa betapa corona datang sebagai musuh bersama telah menjungkirbalikan pemahaman baku selama ini. 

Doeloe di zaman revolusi mempertahankan kemerdekaan. "Jika ingin diakui sebagai pahlawan sejati, keluarlah dari rumah ramai-ramai memanggul senjata melawan kolonial yang datang kembali ingin menjajah tanah air tercinta walau dengan sebatang bambu runcing. Sekarang di zaman now, jika ingin MENANG melawan corona dan dinobatkan sebagai pahlawan kemanusiaan, maka tinggallah di dalam rumah dan hindari ramai-ramai."
Wassalam,
29 Maret 2020

INTERMESO SEJENAK
Sekedar menghibur diri bagi yang tetap setia di rumah menunggu kebebasan dari rasa takut virus corana. Hampir semua aktivitas sekarang hanya di rumah. Mengajar dan memenuhi kebutuhan semua lewat on line,
semata menghindari virus corona yang menakutkan itu. Semoga saja bagi yang memilih tinggal di rumah menjadi bahagian dari ketaatan pada ulil amri dan mengikuti fatwa MUI demi untuk kemaslahatan bersama.

Sakarang, tinggal bagaimana mengusir rasa bosan dan mengubahnya dengan rasa senang dengan menghibur diri. Baru saja saya manfaatkan waktu untuk menonton Liga Inggris via tv channel
, yaitu menyaksikan pertandingan  antara Liverpool vs Newscastel United. Di sana saya dapat pelajaran berharga dari para pemainnya yang akan saya bagaikan pada teman-teman senasib tinggal di rumah. Saya perhatikan betul para pemainnya. Diantara mereka ada yang berguling-guling meringis kesakitan akibat disleding dengan keras, tetapi satu dua menit berlari lagi dan memasukan bola di gawan lawanya. Mungkin ada yang berpura-pura sakit tetapi saya yakin ada pula yang sakit benaran, yang jelas begitu cepat sembuh dari rasa sakit. Saya tidak tidak tahu urusan sembuh-menyembuhkan, namun saya mulai berpikir, andai bisa berandai-andai,  "Sebaiknya belajar resep dari pemain sepak bola tentang percepatan sembuh dari sakit, sehingga rasa sakit bisa satu dua menit sudah pulih dan segar kembali seperti sediakala".

Wassalam,
8 April 2020

INTERMESO SEJENAK
Kesungguhan mahasiswa di luar kebiasaan. Karena semua tinggal di rumah serba on line. Mengajar pun di rumah on line. Seorang mahasiswa tinggal di kampung yang sinyal internetnya timbul-tenggelam, saking inginnya mengikuti kuliah, ia memperoleh akal mencari tempat tinggi dengan memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal. Untuk meyakinkan dosennya, dia minta pada temannya di kampung untuk di photo, sementara ikut kuliah di atas pohon menenteng HP. Melihat perilaku mahasiswa itu di luar kebiasaan, bukannya melarang, malah dosen ikut memberi semangat من جد وجد. Sayangnya photonya tidak bisa dikirim.

Wassalam,
10 April 2020

INTERMESO SEJENAK
Benar, kata hukama, seberat apa pun musibah yang menimpa selalu saja ada hikmah di baliknya. Tarulah virus corona yang sedang mewabah di seantero jagat raya, begitu merajalela dan serba lintas, tak peduli strata sosialnya, pangeran atau rakyat gembel, orang tua atau anak muda, bahkan lintas agama, beragama atau atheis, orang jujur atau penjambret tulen semua di sapu rata. Itulah hukum alam atau sunatulah yang saya pernah pelajari. 

Apa hikmah virus corona? Lihat pertempuran sedang berkecamuk antara Arab Saudi dan Yaman. Tak peduli banyak korban jiwa dan bangunan megah yang hancur. Sudah banyak pimpinan negara menawarkan jasa sebagai penengah, namun tak ada yang didengar. Ternyata, setelah covid-19 menyerang dan Raja Salman pun sudah diungsikan di sebuah pulau di Laut Merah serta banyak keluarga kerajaan positif corona. Pangeran Muhammad bin Salaman barulah sadar dan meminta pada pasukan Houthi, seterunya, genjatan senjata. Akhirnya ke dua pasukan bersepakat. Ternyata, corona jauh lebih ditaati dibanding juru damai siapa pun. Kita berharap, semoga mylai dari genjatan senjata ini akan membawa pada perdamaian abadi di negeri mulia.

Wassalam,
11 April 2020

INTERMESO SEJENAK
Saya dapat postingan dari seorang netizen memberi khabar gembira yang melegakan hati. Ternyata dua negara yang jadi musuh bebuyutan sepanjang abad berubah drastis jadi kawan seiring. Dua negara itu:  Israil dan Palestina dalam menghadapi musuh bersama tak kasat mata, pandemi virus corona, mereka bekerja sama dengan melupakan permusuhan yang sudah saling menghancurkan satu sama lain. Kedua negara baru sadar bahwa musuh paling utama umat manusia adalah pembunuh berdarah dingin yang tak kasat mata, yaitu pandemi corona. Itulah musuh nomor wahid. Bukan di antara kita yang asal-usul kita serumpun, berasal dari nenek moyang yang sama, Nabi Ibrahim a.s.

Tidak heran seorang wartwan CNN berkomentar, "inilah momen langka yang hanya datang sekali seumur manusia, itu pun jika beruntung." Corona memang menjurkilbalikan akal sehat, musuh turun-temurun bisa berubah drastis jadi kawan seiring. Wujud kerjasama kedua negara mulai terlihat sejak Otoritas Palestina di Ramallah berkongsi dengan pejabat kesehatan Israel. Mereka berkolaborasi mengatur pergerakan warga dan menerapkan menagemen bersama menghadapi musuh nomor paling wahid kemanusiaan. Mungkin itu yang dimaksud Hukama, "Musuh bebuyutan bagaimana pun brutalnya, selalu ada kemungkinan untuk berdamai"

Wassalam,
12 Apri 2020

INTERMESO SEJENAK
Makhluk corona adalah makhluk halus yang tidak bisa dilihat dengan kasatmata, tetapi paling ditakuti oleh manusia siapa pun, sebab bisa menyebabkan nyawa melayang. Sudah berapa banyak orang meninggal dunia gara-gara virus corona. Walau makhluk ini tak terlihat alias gaib. Lebih aneh lagi makhluk ini muncul di negeri China, negeri yang sama sekali tidak percaya pada yang gaib-gaib. Tuhan maha gaib, karena itu mereka tak percaya pada Tuhan alias atheis. 

Persetan sama yang gaib yang nyata saja bisa di-gaibkan. Sebagai contoh Harun Masiku, dia manusia benar-benar pernah hadir di dunia. Tetapi sekalipun semua bergerak mencarinya, mulai dari KPK sampai kepolisian bahkan telah dimaklumkan sebagai manusia DPK, sampai sekarang tidak diketahui batang hidungnya. Sampai ada pertanyaan, apa ia juga termasuk makhluk gaib atau digaibkan? Bahkan ada pertanyaan. Jangan-jangan dia sudah pindah ke alam gaib. Mungkin saja ia sudah di akhirat, beristirahat di jendela akhirat menyaksikan para petugas pada sibuk lalu lalang mencarinya. Namun demikian, tetap menyisahkan tanya, di mana kuburanya? Jawababnya mudah, sudah berapa banyak manusia yang pernah hadir di dunia tidak diketahui kuburanya. Contoh paling dekat Kahar Muzakkar, tak seorang pun tahu kuburannya, kucuali sekedar dikira-kirakan.

Wassalam,
15 April 2020
INTERMESO SAMBILMENUNGGU BEDUK BERBUNYI
by Ahmad M. Sewang

Seorang aktor kaya India, Aamir Khan, memberikan sumbangan tepung gandum yang sudah dipisah-pisahkan dalam  kantong-kantong plastik, satu kg per kantongan. Sumbangan ini dimaksudkan untuk meringankan beban mustad'afin akibat virus pandemi  covid-19. Gandum diangkut lewat truk  ke daerah miskin di pinggiran kota New Delhi. Sayang banyak orang tidak ingin datang menerima bantuan itu, "Buat apa datang bercapek-capek antri hanya menerima 1 kg gandum, apalagi di tengah social distinsing", kata mereka yang ingin menerima senangnya saja. Tetapi banyak juga orang datang antri mengambil jatah sumbangan itu. Mereka ini diketahui benar-benar kelompok mustad'afin yang  membutuhkan. 

Di belakang baru ketahuan bahwa dalam setiap kantongan di balik gandung disembunyikan uang 15.000 ropee yang kira-kira jika dirupiahkan berjumlah tiga juta rupiah. Sang donatur, Aamir Khan, berkata, "Saya sengaja menyembunyikannya agar uang tidak dikorupsi orang-orang yang tak berhak dan sumbangan benar-benar sampai ke tangan orang miskin yang membutuhkan. Para koruptor itu ganas, mereka tak peduli, sumbangan pun untuk orang tak mampu dikorupsi. Jadi sumbangan juga harus disiasati," katanya. Memang, akhirnya banyak orang yang menyesal karena tidak datang menerima bantuan itu, awalnya mereka menganggap enteng sumbangan tepung gandum hanya satu kg. Mereka tak tahu bahwa dalam kantongan terdapat uang tiga juta rupiah yang disembunyikan.

Natijah:
1. Bulan  Ramadan adalah momentum untuk   berbuat baik dengan membagi berlebihan kepada mustad'afin seperti dicontohkan Aamir Khan.
2. Sekecil apapun pemberian, harus dihargai dan disyukuri. Jangan pandang enteng sekecil apapun nikmat itu. Bak firman Allah swt. yang saya terjemahkan secara bebas, "Jika tahu bersyukur akan Kulipatgabdakan nikmat itu, tetapi jika ingkar, engkau akan menyesal selamanya,"  seperti penyesalan orang-orang di New Delhi. Benar, pesan nenek moyang kita, "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna."
Wassalam,
Makassar, 10 Ramadan 1441 H.


INTERMESO SAMBILMENUNGGU BEDUK BERBUNYI
by Ahmad M. Sewang
Seorang aktor kaya India, Aamir Khan, memberikan sumbangan tepung gandum yang sudah dipisah-pisahkan dalam  kantong-kantong plastik, satu kg per kantongan. Sumbangan ini dimaksudkan untuk meringankan beban mustad'afin akibat virus pandemi  covid-19. Gandum diangkut lewat truk  ke daerah miskin di pinggiran kota New Delhi. Sayang banyak orang tidak ingin datang menerima bantuan itu, "Buat apa datang bercapek-capek antri hanya menerima 1 kg gandum, apalagi di tengah social distinsing", kata mereka yang ingin menerima senangnya saja. Tetapi banyak juga orang datang antri mengambil jatah sumbangan itu. Mereka ini diketahui benar-benar kelompok mustad'afin yang  membutuhkan. 

Di belakang baru ketahuan bahwa dalam setiap kantongan di balik gandung disembunyikan uang 15.000 ropee yang kira-kira jika dirupiahkan berjumlah tiga juta rupiah. Sang donatur, Aamir Khan, berkata, "Saya sengaja menyembunyikannya agar uang tidak dikorupsi orang-orang yang tak berhak dan sumbangan benar-benar sampai ke tangan orang miskin yang membutuhkan. Para koruptor itu ganas, mereka tak peduli, sumbangan pun untuk orang tak mampu dikorupsi. Jadi sumbangan juga harus disiasati," katanya. Memang, akhirnya banyak orang yang menyesal karena tidak datang menerima bantuan itu, awalnya mereka menganggap enteng sumbangan tepung gandum hanya satu kg. Mereka tak tahu bahwa dalam kantongan terdapat uang tiga juta rupiah yang disembunyikan.

Natijah:
1. Bulan  Ramadan adalah momentum untuk   berbuat baik dengan membagi berlebihan kepada mustad'afin seperti dicontohkan Aamir Khan.
2. Sekecil apapun pemberian, harus dihargai dan disyukuri. Jangan pandang enteng sekecil apapun nikmat itu. Bak firman Allah swt. yang saya terjemahkan secara bebas, "Jika tahu bersyukur akan Kulipatgabdakan nikmat itu, tetapi jika ingkar, engkau akan menyesal selamanya,"  seperti penyesalan orang-orang di New Delhi. Benar, pesan nenek moyang kita, "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna."

Wassalam,
Makassar, 10 Ramadan 1441 H.

Tidak ada komentar:

KHAZANAH SEJARAH:MATAHARI ISLAM AKAN TERBIT DI DUNIA BARAT

by Ahmad M. Sewang  Bagian Pertama   Judul di atas, sebuah prediksi, berdasarkan beberapa argumentasi, yaitu: 1. Sejak setelah Perang Dunia ...