Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

19 Maret 2020

KHAZANAH SEJARAH: REAKTUALISASI PENGERTIAN TAKDIR DAN TAWAKKAL


by Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA

Hampir semua paham teologi dalam Islam mendasarkan pemikiranya pada al-Quran dan hadis. Itulah kesimpulan yang saya peroleh ketika studi teologi selama dua semister dari almarhum Prof. Dr. Harun Nasution di PPs IAIN Fakultas Pascasarjana Syarif Hidayatullah Jakarta. Karena itu pula, saya tidak setuju jika ada yang mengapirkan salah satu paham di antara mereka. Kita bisa tidak sependapat paham itu, karena kondisi sosial kita berbeda saat paham itu lahir, tetapi tidak bijaksana jika ikut mengapirkannya. Memang ada kecendrungan sebagian umat, jika tidak sama aliran teologi yang dianutnya, langsung saja mentadlilkan bahkan mentakfirkan, sebuah tindakan yang kurang bijaksana.

Ulama besar Hamka, seorang yang sangat wisdom, setelah panjang lebar membahas teologi Jabariyah dan al-Maturidiyah Samarkand dan aliran teologi lainnya, bahwa Jabariyah adalah paham teologi patalisme dalam sejarah Islam berpandangan bahwa nasib manusia ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia bagai kapas di udarah, kemana angin bertiup kesanalah kapas melayang. Mereka berdalil pada QS al-Hadid/2, وهو على كل شيىء قدير
Dialah Allah yang Maha Kuasa segala sesuatu. 
Banyak lagi ayat yang sama atau serupa maknanya dengan itu. Tetapi, ada ayat-ayat sebaliknya, yang memberikan kebebasan kepada manusia. Dalam teologi yang kami pelajari bahwa Allah swt. Yang Maha kuasa menciptakan hukum alam atau sunnatullah. Sepanjang manusia mengikuti sunnatullah dengan benar, Insya Allah akan mencapai apa yang dikhtiarkan. Mereka mengikuti sennatullah juga telah mengikuti perintah Allah serta mereka juga menggunakan dalil-dalil al-Quran sebagai dasar berpijaknya, di antaranya pada QS al-Raad/11,
... إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ .....
... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. 
Ayat ini pernah diperkenalkan Presiden I RI, Soekarno di depan Sidang Umum PBB, sehingga ada teman dari Aljazair ketika beretemu di Masjid raya Paris menyebutnya ayat Soekarno.

Almarhum Prof. Dr. Hamka, tampak perlu mempertentangkan kedua ayat di atas bahkan beliau mengkompromikan dan tidak juga perlu menyesatkan atau mengapirkan satu dari dua pendapat yang berbeda. Selanjutnya Hamka berkata, Jika ada orang yang merasa hebat dan sombong berkata, "Saya memperole harta saampai kaya raya tidak ada campur tangan kekuasaan Allah swt. di dalamnya melainkan usaha saya sendiri". Menurut Hamka, "Sadarkanlah orang ini dengan membacakan QS al-Hadid/2 di atas." Tetapi sebaliknya, jika ada orang bermalas-malasan dan hanya memasrahkan nasibya pada Allah swt. dengan berpandangan, "Biar tidak berusaha asal Tuhan menghendaki-Nya, kekayaan tetap akan datang." Orang begini telah meninggalkan sunnatullah dan perlu diingatkan QS al-Ra'ad/11 di atas.
Perlu juga dikemukakan bahwa yang dimaksud tawakal adalah berikhtiar lebih dahulu secara maksimal baru tawakal, seperti diriwayatkan dalam hadis berikut,
"Dari Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi, tetapi Nabi melihat untanya di bebaskan lepas begitu saja. Nabi bertanya, kenapa untamu tidak diikat? Lelaki itu menjawab, saya tawakkal atau pasrah pada Allah. Nabi menegurnya agar diikat lebih dahulu untanya, baru bertawakal."Jika toh, unta itu hilang setelah diikat secara baik, barulah namanya takdir yang tidak bisa dihindari. 

Keputusan MUI DKI dan Gubernur Jakarta dan ketua umum MUI Sulawesi Selatan serta himbauan DPP IMMIM untuk sementara  tidak Jumatan di masjid, adalah bagian dari ikhtiar manusia menjalankan sunnatullah untuk menghindari kerumunan massal yang bisa jadi penyebab penularan covid-19, tetapi bukan berarti tidak menjalankan kewajiban salat Jumat bagi kelaki, namun agama selalu memberi jalan keluar untuk menggantinya dengan salat luhur. Dalam  kaidah fikih disebutkan, "Menghindari mudarat jauh diutamakan daripada mendatangkan maslahat."

Wassalam,
Makassar, 20 Maret 2020

Tidak ada komentar:

252. CATATAN KAKI:HANYA TIGA POLISI JUJUR DI INDONESIA: PATUNG POLISI, POLISI TIDUR, DAN JENDERAL HOEGENG

by Ahmad M. Sewang  Demikian kelakar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam gurauannya itu, Presiden ke-4 RI itu bukan omong kosong. Jendera...