Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

28 Januari 2022

KHAZANAH SEJARAH:MATAHARI ISLAM AKAN TERBIT DI DUNIA BARAT

by Ahmad M. Sewang 

Bagian Pertama 
Judul di atas, sebuah prediksi, berdasarkan beberapa argumentasi, yaitu:
1. Sejak setelah Perang Dunia I, negara-negara Eropa Barat membutuhkan banyak tenaga kerja dari negara-negara dunia ketiga dari Asia dan Afrika. Mereka kebanyakan beragama Islam yang beramai-ramai memasuki Eropa. Mereka inilah yang mengisi peluang itu untuk mengisi tenaga kerja.
2. Negara-negara Eropa mengenal dwi kewarganegaraan sama dengan negara-negara Asia lainnya. Bagi pekerja di Eropa yang memiliki dwi kewarganegaraan lebih menguntungkan dilihat dari sisi kemudahan. Berbeda dengan Indonesia yang hanya mengenal satu kewarganegaraan, jika memilih warga negara lain secara otomatis kewarganegaraannya batal dengan sendirinya sebagai warga negara Indonesia.
3. Umumnya, para pekerja dari dunia ketiga datang di Eropa dengan membawa keluarganya. Populasi mereka jauh lebih cepat dibanding penduduk setempat,  misalnya yang saya saksikan jika ke mall-mall, para emigran membawa serta keluarganya, mereka berjejer dengan anak-anaknya. Sementara penduduk setempat populasi mereka zero atau 0%.
4. Penulis menyaksikan sendiri setelah setahun penuh tinggal di negeri "Kincir Angin," banyak gereja kosong pada hari Ahad, tidak ada peminatnya untuk  datang melaksanakan misa. Akhirnya rumah ibadah mereka diperjualbelikan.  Umat Islam pun yang beremigrasi ke Belanda membelinya dan mengubahnya jadi masjid. Sehingga penulis selalu  salat di bekas gereja yang sudah diubah jadi masjid, karena masjid tersebut kebetulan dekat dengan Universiteit Leiden.

Banyak peristiwa yang tidak bisa saya lupakan dalam penelitian di Pusat Zending di Leiden. Antara lain, suatu ketika Pendeta Sloof kedatangan tamu dari Indonesia, yaitu Pendeta Sumartono dari Yogyakarta. Kami dari enam orang peneliti dari IAIN seluruh Indonesia sengaja diundang Pendeta Sloof untuk berdiskusi tentang kemunduran agama Kristen di Belanda, buktinya banyak gereja yang kosong dan dijual. Hasil riset menunjukkan bahwa pada hari Ahad tinggal 12% jamaah yang datang ke geraja. Kemana sebagian? Ternyata mereka menjadi agnostisisme, yaitu beragama atau tidak beragama, sama saja, mereka sudah tidak lagi peduli pada agamanya. Itulah tantangan yang dihadapi umat Kristen di dunia Barat.

Bagaimana umat Islam di Indonesia? Apakah akan mengalami nasib sama dengan saudaranya di dunia Barat? Itulah salah satu pertanyaan yang mengemuka saat itu, dan masalah itulah yang akan dijawab dalam artikel singkat ini. Indonesia akan sulit mengalami nasib seperti dunia Barat, sebab Indonesia berbeda dengan dunia Barat dilihat dari dasar negara. Dasar negara RI adalah Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa. Berbeda dengan dunia Barat, seperti Belanda, dasar negaranya adalah sekuler. Akibat pemisahan antara agama dan negara, sehingga pemerintah tidak bisa membangun sarana keagamaan. Bantuan pemerintahan Belanda untuk pembangunan masjid di Redderkerk, tidak bisa disebutkan bantuan pembangunan masjid, sebab negara tidak bisa membantu sarana keagamaan, melainkan diistilahkan bantuan pembangunan kebudayaan. Dengan dasar negara sekuler di Benada sehingga negara tidak bisa mencampuri urusan agama, misalnya gereja semakin banyak yang kosong dari jamaah seperti yang saya saksikan sendiri. Tidak heran jika almarhum Prof. Karel Stembrink secara berselero berkata, "banyak gereja masuk Islam." Banyaknya gereja yang alih fungsi, sampai banyak yang bertanya, apakah nanti Indonesia tidak akan mengalami nasib seperti Belanda? Saya jawab seperti di atas bahwa Belanda berbeda dengan Indonesia. Di Belanda terjadi, scheiding van staat en kerk, pemisahan negara dan gereja atau dasar negaranya adalah sekuler, sedang Indonesia berdasarkan Pancasila dengan sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa. Sekalipun Indonesia bukan negara agama, namun bukan juga negara sekuler.
 
Wasalam,
Makassar, 24 Januari 2022

Bagian Kedua
Fenomena semacam ini melanda hampir semua negara Barat (baca seri 1). Di Inggris sedang terjadi fenomena yang sama. Kebetulan penulis mendapat undangan untuk menghadiri sebuah konferensi awal Agustus 2018, selama 10 hari, dan langsung menyaksikan fenomena Islam yang sedang berkembang disana, seperti pemakaian jilbab di jalanan utama kota London. Di sana sedang terjadi salat Jumat yang dilaksanakan dua tahap mengingat masjid sudah penuh sesak jamaah. 

The creeping Islamization of London is almost complete, with hundreds of official sharia courts operating in the capital, and mosques opening where famous Christian churches have stood for many hundreds of years. "London is more Islamic than many Muslim countries put together“, according to Maulana Syed Raza Rizvi, one of the Islamic preachers who now lead “Londonistan“, as the journalist Melanie Phillips has called the English capital. 

Sejak tahun 2001, 500 gereja London dari semua denominasi telah diubah menjadi rumah pribadi. Sementara 423 masjid baru dibangun di atas reruntuhan Kristen Inggris yang menyedihkan. Banyak gereja Kristen di London telah diubah menjadi masjid. Laporan Gatestone Institute: Gereja Hyatt United dibeli oleh masyarakat Mesir untuk dikonversi ke sebuah masjid. Gereja Santo Petrus telah diubah menjadi Masjid Madina. Masjid Brick Lane dibangun di bekas gereja Methodis. Tidak hanya bangunan yang dikonversi, tapi juga orang. Jumlah orang yang masuk Islam telah berlipat ganda.

Daily Mail menerbitkan foto-foto gereja dan sebuah masjid beberapa meter dari satu sama lain di jantung kota London. Di Gereja San Giorgio, yang dirancang untuk menampung 1.230 jemaat, hanya 12 orang berkumpul untuk merayakan Misa. Di Gereja Santa Maria, hanya ada 20 orang. Sementara didekatnya ada Masjid Brune Street Estate problem sebaliknya. Daya tampung kecil tapi jama'ah membludak. Pada hari Jumat, umat Islam sampai meluber ke jalan-jalan untuk salat.

"Pemandangan baru di kota-kota Inggris telah tiba," kata Ceri Peachof Oxford University. Sementara hampir setengah dari Muslim Inggris berusia di bawah 25 tahun, seperempat orang Kristen berusia di atas 65 tahun. "Dalam 20 tahun lagi, akan ada lebih banyak Muslim yang aktif daripada ada orang-orang gereja," kata Keith Porteous Wood, direktur Sekuler Nasional Masyarakat.

Selama periode yang sama, masjid-masjid Inggris telah berkembang biak. Antara tahun 2012 dan 2014, proporsi orang Inggris yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Anglikan menurun dari 21% menjadi 17%, turun 1,7 juta orang, sementara menurut survei yang dilakukan oleh Institut Penelitian Sosial NatCen yang terhormat, jumlah umat Islam telah meningkat. hampir satu juta. Para pengunjung gereja menurun pada tingkat yang dalam satu generasi, jumlah mereka akan tiga kali lebih rendah daripada Muslim yang pergi secara teratur ke masjid pada hari Jumat.

Kota yang memiliki populasi Muslim yang sangat besar: Manchester (15,8%), Birmingham (21,8%) dan Bradford (24,7%). Sekarang terdapat Walikota muslim di Inggris, yaitu di London, Birmingham, Ledz, Blackburn, Sheffield, Oxford, Luton, Oldham, dan Rochdale. Paling fenomenal adalah Walikota Muslim pertama di London, Sadiq Khan. Beliau terpilih pertama kalinya pada tahun 2016, sekarang resmi kembali terpilih menjadi Wali Kota London kedua kalinya. Untuk mengecek kebenaran data ini, saya hubungi teman yang sering bekerjasama kedubes Spanyol yang kebetulan di Jakarta, Andi Killang. Beliaulah yang langsung menghubungi atase perdagangan kedutaan Besar RI di London, ternyata membenarkan data ini.

Pada pertemuan kami dengan para pendeta di Henri Krimmer, Pusat Pengkaderan Zending di Leiden, kami berbincang kemunduran Kristen di Eropa, "Sebagai umat beragama kami turut prihatin," kataku dalam seksi tanya jawab. Sebab menurut Alquran orang paling dekat dengan umat Islam adalah orang yang menyatakan diri Nasara,
QS Al-Maeda, 82:
... وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

.... Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Tentu saja,setelah melintasi perjalanan waktu panjang, maka kita semakin sulit melakukan generalisasi pada sebuah komunitas agama tertentu.

Wasalam,
Makassar, 27 Januari 2022

27 Januari 2022

ALLAH BERTANYA: ...YA AYYUHAL INSAN MAA GHARRAKA BI RABBIKAL KARIIM?

Ahmad Mujahid

Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Al-Quran adalah bentuk komunikasi Allah dengan hamba-hamba-Nya. Dengan perkataan lain, apabila seorang ingin berkomunikasi dengan Allah, maka hendaknya ia berinteraksi dengan al-Quran. 

Al-Quran adalah kitab yang diliputi kesucian. Al-Quran sendiri adalah kalam Allah yang suci. Allah sendiri sebagai pemilik kalam adalah Maha Suci. Al-Quran sendiri adalah kitab suci. Dibawa turun oleh malaikat yang suci, yakni Malaikat Jibril as.. Diterima pertama kali oleh Muhammad Saw. Beliau adalah manusia suci. Diturunkan di waktu yang suci. Yakni malam yang lebih baik keberkahannya dari seribu bulan. Juga diturunkan di tempat yang suci dan disucikan, yakni Makkah al-mukarramah dan Madinah al-munawwarah. 

Dengan demikian, hamba yang berinteraksi dengan al-Quran, berarti berinteraksi dengan kesucian. Oleh karena itu, hamba tersebut mesti dalam keadaan suci baik secara lahir (punya air wudhu), terlebih lagi suci batin. Al-Quran memang diturunkan sebagai jalan bagi hamba untuk menjadi suci dan kembali kepada Allah dalam kesucian. 

Di antara kandungan al-Quran yang menarik dicermati dan direnungkan adalah wacana tentang pertanyaan-pertanyaan Allah kepada manusia. Berikut uraiannya lebih lanjut.
Misalnya pertanyaan Allah QS. Al-Infitar/82: 6-8. Dalam ayat-ayat ini, Allah bertanya kepada manusia (al-insan), yakni apa yang menyebabkan kalian wahai manusia terpedaya dan berpaling dari Allah, Rabbmu yang Maha Mulia? Apa yang menyebabkan kalian mendurhakai Allah, yang telah menciptakan kamu, telah menyempurnakan penciptaanmu dan menjadikan penciptaanmu seimbang dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki? 

Kalimat pertanyaan dalam klausa "maa gharraka bi Rabbikal Karim," yang berarti apakah yang telah memperdayakan kamu (sehingga kamu mendurhakai) Tuhan Penciptamu yang Maha Mulia? merupakan bentuk istifham ingkari, yakni pertanyaan yang mengandung makna ancaman dan celaan. Dengan perkataan lain, lewat pertanyaan tersebut, Allah mengecam, mengancam dan mencela manusia yang telah diciptakan-Nya dalam bentuk.penciptaan yang sempurna dan seimbang, namun mereka berpaling dari Allah, mendurhakai Allah dan bermaksiat kepada-Nya. 

Menurut penulis, bentuk pertanyan Allah tersebut, juga memberikan kesan "keheranan" Allah atas manusia yang bersikap ingkar kepada-Nya, mendurhakai-Nya. Bagaimana bisa manusia berprilaku durhaka kepada-Ku, padahal Aku telah menciptakannya berdasarkan kemuliaan-Ku (sifat Kariim-Ku). Aku telah menciptakannya dengan penuh kasih sayang. 

Dengan perkataan lain, sejatinya manusia itu tidak akan pernah berprilaku ingkar dan berpaling dari Allah serta mendurhakai dan bermaksiat kepada-Nya, jika manusia mengenali, menyadari sesadar-sadarnya bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan, memiliki, menguasai, mengatur dan memeliharanya serta mendidik dan memberikan kebajikan kepadanya. 

Dari sini penulis, ingin tegaskan bahwa manusia berkewajiban dan semestinya, senantiasa menghadirkan dalam hidup dan kehidupannya kesadaran akan rubuniyah Allah. Manusia mesti selalu berkata kepada dirinya sendiri dan berikrar bahwa dirinya adalah ciptaan dan Allah adalah Penciptanya; bahwa aku hanyalah dimiliki dan dikuasai oleh Allah dan bukan sebagai pemilik dan penguasa; bahwa dirinya hanyalah diatur oleh Allah dan tidak dapat mengatur, karena itu, aku wajib mengikuti aturan Allah yang pasti benar, lurus, bermanfaat dan tidak pernah salah. 

Manusia sejati selalu berkata dan mengikrarkan kepada dirinya sendiri, bahwa aku senantiasa hidup dalam pemeliharaan Allah. Apa pun yang terjadi atasku, apakah itu menyenangkan dan atau menyusahkanku adalah wujud pemeliharaan Allah. Bahwa Allah telah memberikan pendidikan yang sempurna untukku dan Allah telah memberikan kebajikan kepadaku. Allah yang Maha baik tidak pernah berbuat buruk dan dhalim kepadaku, meskipun aku mendurhakai-Nya. 

Menurut penulis, dengan senantiasa menghadirkan dan mengikrarkan kepada diri sendiri kesadaran akan rububiyah Allah, seperti dijelaskan di atas, maka insya Allah manusia akan terpelihara dari dosa, kesalahan dan kedurhakaan kepada Allah. Sekiranya manusia yang demikian itu, jatuh dalam kesalahan, dosa dan maksiat, karena memang manusia tempatnya dosa dan kesalahan, maka ia akan segera menyadari kesalahannya, lalu beristigfar dan bertaubat kepada Allah.

Berbeda dengan manusia yang tidak menhadirkan kesadaran rububiyah Allah, meskipun ia mengetahui bahwa Allah adalah Rabbnya, manusia seperti ini, senang berlama-lama dalam kedurhakaan. Bahkan tidak jarang menenggelamkan diri dalam lumpur kotoran dosa yang berbau busuk, sehingga ia tidak lagi mampu membedakan antara keburukan dengan kebaiikan. 

Kebaikan dianggapnya keburukan. Sebaliknya keburukan dianggapnya kebaikan. Manusia seperti ini, hatinya telah tertutup dari kebenaran, demikian pula penglihatan dan pendengarannya. Dengan kata lain, potensi-potensi intelektualnya telah disfungsi alias mati. Kematian potensi intelektual tersebut menyebabkan manusia tidak beriman kepada Allah. Maka sangat tepat ketika Allah menggunakan kata "qharraka" dalam menggambarkan sikap berpaling manusia. Makna asal atau pokok dari kata gharra yang berakar pada huruf "ghain, ra dan ra adalah menganggap dan memandang keburukan sebagai kebaikan. Sebaliknya menganggap kebaikan sebagai keburukan. Juga menyakini bahwa kesalahan dan kebatilan terampuni..

Kita kembali ke kepertayaan "maa gharraka bi rabbikal Kariim." Menurut hemat penulis, meskipun pertanyaan Allah ini mengandung ancaman, celaan dan cacian, kepada yang berprilaku ingkar kepada Allah merdurhakai dan bermaksiat kepada-Nya, namun pertanyaan tersebut adalah wujud atau refleksi sifat kasih sayang, kemurahan dan kemuliaan Allah. Pemahaman seperti menurut penulis, diisyaratkan oleh penggunaan kata al-Kariim yang merupakan sifat Allah yang mengikuti atau menyifati kata "Rabbika," pada frase "bi Rabbika al-Kariim."

Adapun yang penulis maksud sebagai refleksi kasih sayang, kemurahan dan kemuliaan Allah dalam pertanyaan tersebut di atas, adalah dengan pertanyaan yang mengandung makna ancaman dan celaan tersebut, sesungguhnya Allah menginginkan agar manusia meninggalkan kedurhakaan, jalan kebatilan dan kembali sadar, kembali menempuh jalan kebenaran dan jalan yang lurus. Makna ini ditunjuk oleh kata "kalla."  

Penggunaan kata "kalla" di sini berkontasi makna negasi terhadap kandungan kalimat sebelumnya dan atau bermakna larangan kepada manusia agar tidak melakukan perbuatan ghurur. Artinya Allah seakan-akan berkata, wahai hambaku manusia, jangan kalian mendurhakai-Ku dan bermaksiat kepada-Ku. Berhenti bersikap ingkar, lalai, menganggap kebajikan sebagai keburukan dan memandang indah keburukan. 

Larangan Allah yang demikian dan merupakan refleksi kemurahan dan kasih sayang-Nya kepada manusia, dilanjutkan dengan peringatan Allah, yang juga merupakan wujud kemurahan dan kasih sayang-Nya. Yakni Allah mengingatkan manusia terkait dengan malaikat-malaikat pengawas atas manusia. Malaikat-malaikat pengawas tersebut mencatat dan menyalin apa pun yang kalian lakukan wahai manusia. Malaikat-malaikat pengawas tersebut mengetahui dengan baik apa-apa yang kalian perbuat. Dengan demikian, salinan catatan mereka pasti benar, tidak ada yang salah dan sempurna, tidak ada yang tidak tercatat. (QS. Al-Infithar/ 82: 9-12).

Peringatan dan pemberitahuan Allah terkait dengan keberadaan malaikat-malaikat pengawas tersebut, sejati menjadikan manusia berhati-hati dalam berbuat, jangan sampai terjatuh dalam perbuatan batil, buruk, jahat, kemungkaran dan dosa maksiat. Wujud kemurahan dan kasih sayang Allah yang tak kalah pentingnya bagi manusia agar ia tidak bersikap ghurur kepada Allah adalah bahwa di hari akhirat ada pembalasan atas perbuatan manusia. Perbuatan baik dibalasa dengan kenikmatan. Sebaliknya perbuatan jahat, dosa, maksiat dan kedurhakaan dibalas dengan kesensaraan abadi. Manusia yang dianugrahi kenikmatan adalah kelompok manusia al-abrar. Adapun kelompok manusia ditimpah kesensaraan adalah kelompon manusia al-fujjar. akhirat terbagi. (QS. Al-Infithar/ 82: 13-16).

Berdasarkan besarnya kasih sayang dan kemurahan Allah kepada manusia seperti telah diuraikan di atas, penuls ingin mengatakan dengan tegas bahwa sesungguhnya Allah mewajibkan manusia manusia surga kenikmatan-Nya. Sebaliknya Allah mengharamkan manusia masuk ke dalam neraka-Nya. Buktinya Allah membuka selebar-lebar dan seluas-luasnya jalan-jalan menuju surga kenikmatan, dengan memerintahkan perbuatan-perbuatan yang benar, baik dan indah. 

Sebaliknya Allah melarang dan mencegah manusia agar tidak melewati lorong-lorong menuju neraka. Dengan kata lain, Allah melarang perbuatan-perbuatan dosa, maksiat dan kemungkaran. Dan sekiranya, manusia berada dan berjalan di lorong-lorong neraka, Allah masih saja memberikan fasilitas kemurahan dan kasih sayang agar keluar dan meninggalkan lorong-lorong neraka tersebut, yakni berupa fasilitas istigfar dan taubat. 

Jika demikian halnya, lalu mengapa masih banyak manusia.yang melakukan perbuatan-perbuatan ghurur, yakni pengingkaran, keduhakaan, kemaksiatan dan perbuatan apa saja yang bisa merasakan kesensaraan abadi? Apa yang menjadi faktor atau penyebab utama ketergelinciran manusia? 
Menurut penulis, jawaban atas pertanyaan di atas adalah kebodohan manusia. Bagaimana tidak dikatakan demikian, kebenaran sudah sangat jelas. Demikian pula dengan kebatilan, sudah sangat jelas. Akibat dan balasan kebajikan begitu nikmat dan membahagiakan. Begitu pula balasan kedurhakan begitu menyensarakan. Allah telah menutup jalan kebatilan dengan begitu rapat. Bahkan Allah membuka pintu istigfar dan taubat selebar-lebar bagi mereka yang berdosa. Sedangkan kebaikan begitu lebar dan luas. Bahkan dimudahkan oleh Allah. 

Puncaknya dinyakini bahwa manusia sejatinya tidak memiliki alasan untuk melakukan pengingkaran, penyimpangan, bahkan tidak juga ada sebab yang dapat mengantar manusia kepada kedurhakaan, kemaksiatan dan keberpalingan dari Allah. Jika demikian halnya, lalu apa yang menjadi penyebab utama manusia terjatuh dalam kedurhakaan, kecuali kebodohan. 

Salah satu bukti nyata dari kebodohan manusia yang disebutkan dalam QS. Al-Infithar ayat 9, yaitu: "kalla bal yukazzibuuna bi ad-diin."  yang berarti, tidak, tetapi engkau mendustakan ad-din. Menurut penulis, yang dimaksud dengan pendustaan ad-din adalah pendustaan manusia terhadap agama, padahal agama adalah kebutuhan primer bagi manusia. Dengan perkataan lain, tanpa agama, manusia sungguh secara rohaniah telah berhenti menjadi manusia. Maksud lain dari pendustaan ad-din adalah mendustakan hari pembalasan, hari akhirat atau hari kiamat. Keberadaan hari kiamat, hari akhir dan atau hari pembalasan telah dikemukakan sangat jelas pada 5 ayat awal dari surah al-Infithar. Demikian pula pada 5 ayat terakhir surah ke 82 tersebut. Terkait dengan masalah kebodohan dapat didaras dalam tulisan penulis yang lain. Wa Allah A'lam.

Makassar, 26 Januari 2022.

26 Januari 2022

SUNNI YANG SYIAH DAN SYIAH YANG SUNNI

Ahmad Mujahid

Tidak sedikit orang yang mengaku sunni tapi tidak mengikuti sunnah Nabi Saw. Orang seperti ini tidak dapat dikategorikan sebagai sunni. Oleh karena subtansi makna sunni adalah mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw. 
Juga sangat mungkin, ada orang yang mengaku syiah, namun ia tidak mencintai keluarga nabi Muhammad Saw. Orang seperti ini bukanlah syiah. Karena subtansi makna syiah adalah menjadi pencinta atau mencintai keluarga Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu siapa pun yang mencintai keluarga Nabi Muhammad maka ia adalah seorang syiah. 

Suatu ketika Imam Syafi'i berkata: "Jika karena mencintai Keluarga Nabi disebut Syiah, maka saksikanlah oleh kalian wahai jamaah jin dan manusia, aku adalah Syiah." Menurut penulis, perkataan Imam Syafiy, jelas dan tegas bahwa mencintai kelurga Nabi Saw. adalah bukti hakiki dari kesyiahan seseorang. Seseorang yang sunyi dari cinta Nabi Saw dan keluarganya, maka menjadi bukti bahwa ia bukan seorang syiah. Imam Syafiy, dengan kecintaan kepada Rasulullah Saw dan keluarganya, beliau tak khawatir dan tidak takut disebut syiah. 

Bukti kebenaran cinta seseorang kepada Rasulullah Saw. adalah dengan mencintai keluarganya, ahlul baitanya. Menurut penulis seseorang tidak dapat dibenarkan pengakuan cintanya kepada Nabiyullah Muhammad, apabila belum mencintai ahlu bait Rasulullah Saw. Kecintaan kepada Rasulullah dan kecintaan kepada ahlul baitnya adalah hakekat yang satu, dengan kata lain, satu kesatuan yang tak terpisahkan. 

Bukti lain yang tak kalah pentingnya, penulis, terkait dengan kebenaran cinta seseorang kepada Rasulullah Saw. adalah dengan mengikuti, menegakkan dan menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Imam Syafiy telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pembela sunnah Nabi Saw. Beliau digelari atau bergelar naahirus sunnah. Dari sini dapat dikatakan bahwa imam asy-Syafiy adalah seorang SUNNIY yanv SYIIH. Lalu siapa yang berani menuduh imam Syafiy sebagai manusia sesat, karena dia adalah SUNNI yang SYIIH? 

Bertolak dari uraian di atas, maka orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw dan sekaligus mencintai keluarga Nabi Muhammad Saw., maka ia adalah SUNNY yang SYIIH. Sebaliknya orang yang mencintai keluarga Rasulullah Saw. dan dengan cintanya, maka pasti dia mengikuti dan menghidupkan sunnah Nabi Saw. Orang seperti ini adalah SYIAH yang SUNNI.

Pertanyaannya sekarang adakah orang yang dapat dikatakan benar pengakuan keimanannya kepada Rasulullah Saw, jika ia tidak menghidupkan dan mengikuti Nabi Saw. berlandaskan cinta kepadanya dan kepada keluarganya. Jawaban atas pertanyaan tersebut, menurut penulis, adalah tidak ada. Oleh karena bukti kebenaran iman yang sebenar-benarnya kepada Rasulullah Saw. adalah dengan mencintai Rasulullah Saw. beserta keluarganya dan dengan menghidupkan dan mengikuti sunnahnya. 

Demikian pula, bukti kebenaran cinta seseorang kepada Rasulullah beserta keluarganya adalah dengan menghidupkan dan mengikuti sunnahnya. Jadi antara menghidupkan sunnah dan mencintai Rasulullah Saw. beserta keluarganya adalah hekekatnya satu atau satu kesatuan. Jika demikian halnya, maka tidak ada orang sunni tanpa menjadi syiah. Demikian pula tidak ada orang syiah tanpa menjadi sunni. Inilah makna tema di atas, sunni yang syiah dan atau syiah yang sunni. Wa Allah A'lam

Makassar, 22 Januari 2022

MENYATU DI TITIK TEMU

Ahmad Mujahid

Salah satu ajaran al-Quran yang terindah adalah seruan al-Quran untuk menyatu di titik temu di kala terdapat perbedaan yang dapat menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Seperti ditunjuk oleh QS. Ali Imran/3: 64. Dalam ayat ini dipahami bahwa Allah memerintahkan kepada Rasulullah Saw. agar menyeru kepada ahlul kitab agar menuju kepada "kalimatin sawain" yang berarti kalimat yang sama, yang ada atau lazim pada kami (umat Islam) dan juga ada atau lazim pada kalian wahai ahlul kitab. 

Pertanyaan adalah kata atau kalimat apa yang ada pada kitab Injil dan Taurat sebagai kitab ahlul kitab dan juga lazim pada al-Quran? Jawabannya adalah kalimat tauhid. Keyakinan akan ketunggalan Allah, yakni bahwa tidak ada yang disembah kecuali Allah semata. Dari sini dapat ditegaskan bahwa kalimat tauhid adalah kalimat pemersatu antara ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dengan ajaran ahlul kitab. Dengan perkataan lain, aneka ragam perbedaan antara umat Islam dengan ahlul kitab akan menjadi cair ketika umat islam dan ahlul kitab bertemu dan berkumpul bersama pada kalimat tauhid. 

Kalau saja Allah menyerukan persatuan antara umat Islam dengan ahlul kitab pada kalimat tauhid yang ada pada ketiganya, lalu bagaimana kalimat tauhid disfungsi menjadi pemersatu di kalangan internal umat Islam. Padahal seluruh mazhab berpikir dalam Islam menyakini dengan seyakin-yakinnya kalimat tauhid tersebut, khususnya ahlu sunnah wal jamaah dengan syiah. 

Kalimat pemersatu lainnya antara ahlu sunnah dan syiah adalah al-Quran sebagai kitab suci umat Islam. Al-Quran yang diperpegangi ahlu sunnah sama dengan al-Quran yang diperpegangi syiah. Demikian pula, rasul yang diyakini sebagai khatamun nabiyiin, juga dapat menjadi "kalimatin sawain," yakni kata dan kalimat pemersatu antara ahlu sunnah dan syiah. Rasul yang dimaksud adalah Muhammad Saw. Kalimat pemersatu lainnya yang dapat menjadi titik temu ahlu sunnah dengan syiah adalah keyakinan kedua mazhab tersebut  terhadap adanya hari kiamat. 

Tegasnya ajaran tauhid, kesatuan kenabian dan kerasulan, kesatuan kitab suci dan satunya keyakinan akan datangnya hari akhirat merupakan kalimat-kalimat pemersatu atau kalimat-kalimat titik temu, antara ahlu sunnah wal jamaah atau sunni dengan syiah. Berdiri tegak dan berpegang teguh pada kalimat pemersatu tersebut, tidak pantas dirusak oleh berbagai macam atau aneka ragam perbedaan yang sejatinya dikebelakangkan dan tak perlu di kedepankan. 

Dengan perkataan lain, apabila seseorang telah bertauhid, menyakini kenabian dan kerasulan Muhammad dan mengimani al-Quran serta menyakini hari akhirat, maka orang tersebut adalah saudara muslim, meskipun ia tidak menjadikan al-adalah atau keadilan dan imamah sebagai ajaran ushul mazhab mereka, sebagaimana ajaran mazhab ahlu sunnah wal jamaah. 
Sementara mazhab Syiah yang menjadikan al-adalah atau keadilan dan imamah sebagai ajaran ushul mazhabnya, juga tidak dapat dinyatakan sebagai mazhab yang sesat. Sebab ajaran keadilan dan imamah diperselisihkan sebagai ajaran ushul dalam agama. 

Demikian pula perbedaan dari sudut fighiyah. Misalnya syiah masih mempertahankan syariat nikah mut'ah yang disyariatkan oleh Rasulullah Saw. baik lewat al-Quran maupun lewat al-hadist. Sementara ahlu sunnah wal jamaah menyakini bahwa syariat nikah mut'ah sudah tidak berlaku lagi, setelah khalifah Umar menghapuskannya. Perbedaan kedua mazhab Islam tersebut terkait dengan nikah mut'ah tidak semestinya menjadikan keduanya saling tuding bahwa salah satunya telah keluar dari islam. 

Jadi perbedaan keyakinan tentang al-adalah atau keadilan dan imamah sebagai ajaran ushul atau bukan dan perbedaan pandangan tentang nikah mut'ah, masih boleh atau sudah tidak boleh, sama sekali tidak dapat dijadikan hujjah untuk saling membatalkan keislaman dan saling tuduh menuduh sesat dan menyesatkan serta saling mengkafirkan.   

Sebagai closing statement tulisan ini, penulis ingin tegaskan untuk selalu mengedepankan menyatu dalam titik temu meskipun dikelilingi oleh berbagai perbedaan yang sulit dipertemukan namun dapat saling memahami perbedaan. Wa Allah A'lam.

Makassar, 22 Januari 2022.

RUNTUHNYA EGOISME INTELEKTUAL

Ahmad Mujahid

Persoalan terbesar bagi seorang intelektual adalah ego intelektualnya atau keakuan dirinya sebagai seorang intelektual (egoisme intelektual). Di antara konotasi makna dari egoisme intelektual adalah ke-Akuan akan kebenaran intelektual hanyalah milik dirinya sendiri. Dengan begitu, pemilik dan pemelihara egoisme intelektual, sangat sulit menemukan apalagi menerima kebenaran intelektual di luar diirinya. Pemilik egoisme intelektual merasa diri paling pintar dan paling benar. Bahaya yang lebih besar adalah apabila pemilik egoisme intelektual, telah menggunakan kemampuan dan kebenaran intelektual yang diyakininya sebagai kendaraan di dalam memenuhi kepuasan dirinya sendiri atau hawa nafsunya. 

Keakuan intelektual atau egoisme intelektual yang demikian, senantiasa menyertai diri seorang intelektual. Oleh karena itu, perjuangan mengendalikan dan atau meruntuhkan egoisme intelektual bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, seorang intelektual mesti memulai berjuang dan berjuang secara terus menerus untuk melakukan transformasi egoisme intelektualnya dan atau mengalahkannya. Hanya dengan cara seperti itu, seorang intelektual mampu meraih derajat intelektual sejati dan terbebas dari status intelek gadungan. Dengan perkataan lain, memelihara egoisme intelektual dan atau mengalah dalam kuasa dan kendali egoisme intelektual merupakan hijab terbesar dan paling tebal untuk dapat sampai pada puncak tertinggi dari kemuliaan intelektual. 

Kisah pertemuan Nabi Musa as dengan Nabi Khaidir dalam Al-Quran, menggambarkan dengan sangat indah tentang perjuangan meruntuhkan egoisme intelektual. Dalam riwayat asbab al-nuzul ayat dari Ibnu Abbas ra. dari Ubay bin Ka'ab. Ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: 
''Sesungguhnya, pada suatu hari, Nabi Musa berdiri di tengah-tengah Bani Israil. Beliau kemudian ditanya, ''Siapakah orang yang paling berilmu?'' Nabi Musa, menjawab ''Aku.'' Lalu Nabi Musa as. ditanya kembali: '' Masih adakah orang yang lebih berilmu dari Anda?'' Beliau menjawab, ''Tidak ada.'' Allah pun menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, ''Sesungguhnya, di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.'

Menurut penulis, kandungan riwayat asbab nuzul di atas, menggambarkan egoisme intelektual nabi Musa as. Beliau mengaku paling berilmu dari kalangan Bani Israil. Allah kemudian menegurnya. Dari teguran Allah tersebut, dapat dipahami bahwa mengaku paling berilmu atau memiliki dan memelihara egoisme intelektual tidak dibenarkan dan tidak disukai Allah. 

Selanjutnya Allah mengabarkan kepada Nabi Musa, bahwa ada hamba-Nya yang lain yang melebihi kemampuan intelektualnya. Musa as. pun diperintahkan agar menemui hamba tersebut. Musa pun mencari hamba yang dimaksudkan. Singkat cerita, Nabi Musa as. akhirnya bertemu dan belajar kepada Nabi Khaidir. 

Menurut penulis, perintah Allah kepada Nabi Musa as. tersebut mengisyaratkan makna bahwa keinginan mengakui kekurangan intelektual diri sendiri dan pada saat bersamaan mengakui kelebihan intelektual orang lain, dan bahkan bersedia belajar dengannya adalah cara utama meruntuhkan egoisme intelektual. Seperti nabi Musa as mencontohkannya. Menurut penulis, apa yang dilakukan Allah terhadap nabi Musa as. merupakan upaya Allah mencegah nabi-Nya agar tidak terjatuh dalam egoisme intelektual. 

Kisah interaksi intelektual antara Nabi Musa as. sebagai murid dengan NabI Khaidir sebagai guru, seperti dikemukakan dalam surah al-Kahfi, tergambar dengan jelas, posisi murid yang berada pada level lahir atau masih di permukaan air lautan keilmuan. Sedang sang guru berada pada level batin atau posisi kedalaman air lautan keilmuan. 

Murid yang berada pada level lahir keilmuan atau masih di permukaan kedangkalan air keilmuan seringkali terjebak dalam egoisme intelektual. Yakni terjebak dalam makna tekstual tanpa mampu membaca makna dibalik teks. Akibatnya ia mudah menyalahkan. Semua ini terlihat dari respons Nabi Musa as. terhadap apa yang dilakukan oleh Nabi Khaidir, ketika Nabi Musa mengikutinya untuk berguru kepada Nabi Khaidir. 

Ketika Nabi Khaidir melubangi perahu yang ditumpanginya bersama Musa as., Nabi Musa as. bertanya kepada Nabi Khaidir dengan nada protes dan menyalahkan. Yakni mengapa engkau melubangi perahu ini? Apakah untuk menenggelamkan perahunya? Selanjutnya Musa berkata kepada Nabi Khaidir; sungguh engkau telah berbuat kesalahan yang besar (QS. Al-Kahfi/18: 71). 

Respons negatif yang kedua dari sang murid karena kedangkalan ilmunya kepada gurunya yang berada pada kedalaman ilmu, terjadi ketika sang guru membunuh seorang anak muda. Melihat perbuatan gurunya, Musa berkata: "Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena ia membunuh orang lain? Musa as. tidak hanya bertanya dengan nada protes, ia bahkan menganggap gurunya telah melakukan kemungkaran. (QS. Al-Kahfi/18: 74. 

Peristiwa ketiga yang terjadi ketika Musa as. mengikuti Nabi Khaidir untuk berguru adalah di saat keduanya dalam keadaan sangat lapar. Keduanya meminta jamuan dari penduduk negeri yang dimasukinya, namun tidak ada penduduk yang memberinya makanan. Dalam kondisi demikian lapar, Nabi Khaidir dan Musa as. menemukan rumah yang hampir rubuh. Guru dan murid pun memperbaiki rumah tersebut. Setelah selesai, sang murid pun berkata gurunya, sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan. 

Di peristiwa ketiga ini, menurut penulis, juga tampak jelas salah satu sikap dan sifat orang yang berilmu dangkal dan berada di level lahiriah ilmu dan belum sampai di kedalaman batiniah ilmu, yakni mengharapkan balasan jasa yang bersifat material. Sifat dan sikap seperti ini sungguh telah terjebak dalam egoisme intelektual. Berbeda dengan orang yang telah menenggelamkan diri dalam kedalaman batin ilmu dan telah terbebas dari egoisme intelektual, yakni tidak lagi berada pada keinginan-keinginan lahiriah, seperti balasan yang bersifat material-dunawiah.

Adapun di kedua peristiwa sebelumnya, seperti dikemukakan di atas, juga tampak jelas bahwa ahli ilmu yang masih terjebak dalam egoisme intelektual dengan kedangkalan keilmuaannya, seringkali terjebak pada kebiasaan bertanya dengan nada protes dan menyalahkan. Dia terjebak dalam prasangka bahwa telah mengetahui banyak ilmu padahal masih berada pada kedangkalan permukaan ilmu. Dia belum pernah menyelam ke lautan ilmu yang luas dan dalam. Berbeda dengan sang guru yang telah menyelam ke dalam lautan batin ilmu, telah meraih rahasia mutiara ilmu. Sikap dan sifatnya bijaksana. Dengan kedalaman ilmunya, ia dapat memahami keadaan dan level kedangkalan ilmu muridnya. 

Nabi Khaidir dapat memahami batasan keilmuan nabi Musa as. Oleh karena itu, sejak awal beliau telah menegaskan kepada Nabi Musa as. yang sangat ingin belajar ilmu hikmah kepadanya, bahwa dirinya tidak akan mampu bersabar dalam mengilmui ilmu hikmah yang Allah titipkan kepadanya. Namun karena nabi Musa as. bersikeras untuk mengikuti Nabi Khaidir, maka Nabi Khaidir pun memberi izin kepadanya dengan satu syarat, yakni selama berlangsung interaksi intelektual, nabi Musa dilarang banyak bertanya. 

Namun pada kenyataannya Nabi Musa as. terbukti tidak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. Bahkan pertanyaan nabi Musa as. bernada protes dan menyalahkan gurunya, seperti telah dijelaskan di muka. Dari sini penulis juga memahami bahwa salah satu karakteristik orang yang terjebak dalam egoisme intelektual adalah tidak memiliki sifat sabar sebagai salah satu kekuatan spiritual ilahiah dalam interaksi intelektual. Berbeda dengan sang guru yang telah terbebas dari egoisme intelektual, mampu bersabar dalam membimbing murid-muridnya menyelami kedalaman lautan ilmu ilahiah. 

Sebagai closing statemant tulisan ini, penulis akan bertanya; apa yang mesti dilakukan untuk dapat bertransformasi, berubah dan mengalahkan egoisme intelektual? Menurut penulis, jawabannya adalah teruslah belajar dan belajar hingga menguasai sisi lahir dari permukaan air lautan ilmu ilahi, kemudian berpindah dan menyelam sedalam-dalamnya di dasar lautan batin rahasia ilmu ilahi. Seperti nabi Musa as. setelah menguasai ilmu dhahir dan tidak ada yang menandinginya, selanjutnya beliau pun belajar ilmu hikmah ilahi yang dititip Allah kepada nabi Khaidir. Wa Allah A'lam. 

Makassar 21 Januari 2022

LAUTAN: GURU INTELEKTUALKU

Ahmad Mujahid

Di kala cuaca cerah, penulis dan  beberapa saudara lainnya biasa berendam di laut. Dalam sepekan bisa 3 sampai 4 kali. Sambil berendam kita berbincang banyak hal, termasuk wacana yang relevan dengan intelektualitas. Suatu saat penulis ajak mereka membaca hikmah ilahi dari lautan. Saya berkata; perhatikan ombak besar itu, dia tak bersuara kecuali ia berada di kendakalan. Kita tidak mendengar suara deru ombak terdengar kecuali di pinggiran laut dan airnya tentu dangkal. Di tengah lautan jarang sekali kita mendengar suara deru ombak, padahal boleh jadi ombaknya besar namun tidak menghasilkan suara. Ombak besar itu berlalu begitu saja, tanpa suara. 

Dalam perjalanan lewat laut dengan kapal laut kira-kira tahun 1997, di tengah samudra, kulihat dan kubaca air laut begitu tenang dan diam tanpa ombak yang berarti. Lautan yang demikian dalam memberikan ketenangan, kedamaian dan rasa aman bagi penulis dan seluruh penumpang kapal laut. 

Dua fenomena lautan tersebut, menjadi guru intelektual penulis. Keduanya mengajarkan hikmah yang dalam, antara lain; Lautan yang tenang dan dalam, lebih banyak diam tidak mengeluarkan suara meskipun di dasar lautan arusnya deras. Berbeda dengan air laut yang dangkal di pinggiran laut, suara deru ombaknya sangat jelas terdengar. 

Terkait dengan pembacaan penulis tentang lautan dalam dan pinggir laut, yang dsebutkan di atas, dari sudut intelektualitas sejalan dengan nasehat hikmah dari kaum ulama atau ahli ilmu, seperti perkataan mufti Syafiyah di Makkah, yakni Syekh Said al-Yamani, yaitu: "iza zaada nadzrur rajuli wattasa'a fikruhu qalla inkaruhu alan naas." Artinya jika seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran dan pandangannya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain. 

Kalimat hikmah yang senada mengatakan: "man katsura ilmuhu qalla inkaaruhu wa qalla ilmuhu katsura inkaruhu."  Artinya; " barangsiapa yang banyak ilmu maka sedikit keingkarannya (terhadap pendapat yang berbeda dengannya). Sebaliknya barang siapa yang sedikit ilmunya, maka banyak pengingkarannya (terhadap pendangan yang berbeda dengannya).

Kedua kata hikmah di atas mengajarkan kepada penulis, untuk belajar dan terus belajar, hingga mencapai suatu titik di mana penulis lebih banyak terdiam untuk mendengar dan merenung. Berbiarkan mulut banyak terkunci dan diam, mempertajam pendengaran dan membiarkan kalbu tenggelam dalam renungan yang dalam. Dengan cara seperti itu, insya Allah penulis tidak jatuh dan terjebak pada kebiasaan banyak mengingkari pendapat orang lain dan atau mazhab tertentu, apalagi menyesatkan dan mengakfirkannya. 

Contohnya, ketika dalam interaksi intelektual.yang penulis jalani, banyak orang berkata bahwa Syiah dan Sunni berbeda aqidahnya. Rukun imannya berbeda satu sama lain. Al-Quran orang sunni berbeda dengan orang syiah. Demikian pula dalam persoalan fighiyah. Penyikapan penulis terkait semua itu, tidak dengan cara langsung menyalahkan dan menyesatkan salah satu dari keduanya. Misalnya karena saya sunni maka syiah sesat. Begitu pula sebaliknya karena saya syiah maka sunni sesat. Akan tetapi tetap berdiri tegak dalam kesunnian saya namun tidak menutup diri dari mazhab pemikiran syiah. Maka saya mesti belajar tentang syiah.untuk menguatkan kesunnian saya sendiri.

Misalnya dalam bidang hadis. Saya belajar kitab hadis syiah seperti kitab al-Kafi sebagaimana saya belajar kitab hadis sunni seperti kitab Bukhariy dan Muslim. Kemudian mencari titik temu kedua kitab hadis yang berbeda mazhab tersebut. Walhasil penulis menemukan banyak kesamaan riwayat meskipun tidak sedikit yang berbeda dan itu sangat wajar. Akan tetapi yang mencenangkan penulis adalah bahwa baik Imam Bukhariy maupun Imam Muslim banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab syiah. Dengan kata lain, di antara jalur sanad dalam.shahih Bukhari dan Muslim, terdapat periwayat yang bermazhab syiah. Maka apabila kita berkeras bahwa mazhab Syiah itu sesat, itu berarti riwayat hadis imam Bukhari dan Muslim tidak dapat diterima alias tertolak karena keduanya terbukti meriwayatkan hadis.orang yang bermazhab syiah, yang dianggap sesat. 

Demikian pula dalam persoalan figh. Seperti telah diketahui bahwa di sunni dikenal ada 4 mazhab fighi, yakni mazhab Ahmad bin Hambal. Pendiri mazhab ini berguru kepada Imam Idris asy-Syafiiy sebagai pendiri mazhab Syafiiyah. Sementara Imam.asy-Syafiy adalah murid dari Imam Malik, pendiri mazhab Malikiy. Dan imam malik berguru kepada imam Abu Hanifah sebagai.pendiri.mazhab Hanafiah. Dengan perkataan lain, pendiri keempat mazhab fighiyah di sunni, keempat-keempatnya memiliki relasi murid dan guru. Hal yang paling menarik adalah ternyata guru sekaligus pendiri mazhab pertama di sunni, yakni imam Abu Hanifah merupakan murid dari Imam Ja'far Shadiq, pendiri mazhab Ja'fari, sebagai mazhab fighi di kalangan syiah. Dari sini penulis ingin tegaskan bahwa dalam kajian figh terdapat relasi yang  kuat antara sunni dan syiah. 

Abu Hanifah berkata: "Kalau tidak karena dua tahun belajar bersama ash-Shadiq maka binasalah Nu'man (Abu Hanifah)"  Allusi menjelaskan perkataan Abu Hanifah dengan berkata:  "inilah Abu Hanifah, dari ahlu sunnah, berbangga diri dan berkata dengan bahasa yang sangat jelas dan gamblang bahwa jika tidak ada dua tahun itu, maka binasalah Nu'man. Yang dimaksud dengan dua tahun adalah masa di mana Abu Hanifah menuntut ilmu dari Imam Ja'far ash-Shadiq.

Dalam konteks keindonesiaan, pakar tafsir yang tidak diragukan keahliannya, demikian pula kedalaman ilmu dan kemampuan intelektualnya yakni Quraish Shihab, telah menjadikan kitab tafsir " al-Mizan fi Tafsir al-Quran".karya Husain Thabaththabaiy, seorang ulama tafsir bermazhab Syiah, merupakan salah satu ulama tafsir yang banyak dikutip pandangannya oleh Quraish di dalam karya Tafsirnya yakni tafsir al-Misbah. Menurut penulis, Quraish bukan syiah, meskipun banyak orang menuduhnya demikian. Berbagai tudingan dan tuduhan negatif yang demikian, tidak menyebabkan dia menutup diri dari pemikiran mazhab Syiah.

Tokoh Pemikir muslim indonesia yang bermazhab aswajah atau ahli sunnah wal jamaah, namun ia merespons positif pemikiran mazhab yang berbeda dengannya, misalnya mazhab syiah, yakni Gus Dur. Beliau pernah berkata bahwa "NU adalah Syiah tanpa Imamah." Dari pernyataan Ketua Umum PBNU tersebut dapat dipahami bahwa.pemikiran-pemikiran orang-orang NU tidak jauh berbeda dengan mazhab syiah. Bedanya hanya satu yakni persoalan imamah. Oleh karena itu, sangat berani tegaskan bahwa tradisi keagamaan yang hidup di kalangan NU itu juga hidup di Syiah. Misal tradisi ziarah ke makam para wali, acara maulidan, acara asyurah dan lain-lain. Hanya saja penulis tidak tahu siapa yang dipengaruhi dan siapa yang memberi pengaruh. Pastinya tradisi keagamaan keduanya sama bahkan identik dan tak berbeda.

Demikianlah beberapa tokoh pemikir Indonesia, maupun selain indonesia yang patut diteladani dan dicontohi dalam menyikapi berbagai perbedaan furuiyah. Mereka semua telah berada pada kedalaman lautan intelektual-spiritual, maka mereka akan lebih banyak diam merenungkan arus gelombang pendakian spiritual yang besar dan tinggi. Dia tenang menenangkan dan damai mendamaikan. Apa pun yang ditujukan kepadanya, apa itu suara-suara protes ataukah persetujuan dan sanjungan, sama sekali tak memberikan bekasan pengaruh. Dia konsisten menenggelamkan diri dalam lautan keyakinan yang begitu mendalam. Dia kokoh berdiri tegak bagaikan huruf "Alif."

Sebagai closing statemen, penulis lebih lanjut ingin berkomentar secara subyektif terhadap sosok Gus Dur, yang tidak sedikit orang menyesatkannya, karena pikiran-pikirannya yang kontroversial. Akan tetapi, bagi penulis, sosok Gus Dur adalah Guru umat Islam dan Guru bangsa Indonesia. Bahkan Guru kemanusian dan Guru Rahmatan lil alamiin. Lihat saja, bagaimana ia menenangkan bangsa ini dan menghalangi terjadinya perpecahan. Ketika beliau dilenserkan dari kusri kepresidenan, beliau tenang-tenang saja, dan diam tak bergejolak. Padahal Gus Dur sangat bisa bertahan dalam istana dengan dukungan masyarakat indonesia, khusus warga NU dan juga penganut agama-agama lainnya. Namun Gus Dur tidak menerima alias menolak dukungan sosial-politik tersebut. Hanya dengan satu alasan, yaitu Gus Dur tidak ingin bangsa ini terjatuh dalam perang saudara yang saling membunuh. Menurut penulis, Gus Dur telah mencontohi prilaku Imam Hasan ketika ia rela turun dari jabatan kekhalifaan setelah ayahnya yakni Ali bin Abi Thalib terbunuh. Imam Hasan kemudian menyerahkan kursi kekhalifahan kepada Muawiyah bin Sofyan demi mencegah perpecahan umat. Imam Hasan lebih mengedepankan persatuan umat dari pada kekuasaan politik.

Menurut saya, apa yang terjadi pada Gus Dur, hanya dapat disikapi dengan begitu tenang dan damai oleh orang yang memiliki kedalaman lautan intelektual-spiritual yang mempuni atau hanya politikus yang berpandangan dunia religius-spiritual transendental ilahi. Hal lain yang menarik dari Gus Dur, pernyataannya ketika menghadapi pertayaan yang bernada protes, beliau sering kali.berkata: "BEGITU SAJA REPOT." Menurut penulis, perkataan Gus Dur tersebut menggambarkan bahwa Gus Dur orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Sanjungan dan protes sama sekali tak berpengaruh lagi. 

Jika ingin damai, tenang di tengah-tengah perselisihan dan perbedaan pendapat dan terbebas dari bahaya takfiri, maka menyelamlah sedalam-dalamnya ke dalam lautan ilmu dan iman. Dengan begitu, engkau mampu tersenyum lebar menyaksikan berbagai dan aneka ragam pendapat. Oleh karena, engkau mampu mengerti alasan-alasan yang mendasari setiap pendapat yang ada. Maka dari itu, jangan pernah berhenti belajar, menyelam dan menenggelamkan diri di dasar lautan ilmu dan iman. Wa Allah A'lam. 

Makassar 20 Januari 2022.

KEBENCIANKU, SESAK NAFAS INTELEKTUAL-SPIRITUAL ILAHIKU

Ahmad Mujahid

Kehidupan di dunia ini, ternyata tidak terlepas dari cinta dan benci. Suatu saat aku secara terpaksa dan terjebak dalam dua pilihan, yakni menolak dan membenci ataukah menerima dan mencintai. Aku disuruh memilih cinta atau benci. Semua manusia mengalami dilema ini, di dalam kehidupannya. Manusia mesti memilih salah satunya,.cinta atau benci dan ataukah kedua-duanya. 

Pengalaman hidup yang telah kujalani lebih dari setengah abad, dengan bijak mengajariku untuk memilih cinta dan mengesampingkan kebencian. Kehidupanku telah menjadi guru hikmah bagiku. Beliau berkata kepadaku: 
"Wahai muridku, sungguh Allah menciptakan aku dan dirimu berdasarkan sifat Rahman-Nya bukan berdasarkan sifat Ghadab-Nya. Oleh karena itu Allah menamai diriku dan dirimu serta seluruh al-kaun sebagai khalqur Rahman, termasuk iblis dan setan. Seluruh al-kaun atau ciptaan di sandarkan kepada sifat ar-Rahman-Nya. Bahkan Allah mewajibkan diri-Nya bersifat Rahman kepada seluruh ciptaan-Nya. Buktinya ketika iblis memohon penangguhan usia kehidupannya, Allah menerima dan mengabulkan permohonnya. Pengabulan dan penerimaan Allah atas doa iblis merupakan wujud dari kebajikan Rahman-Nya (Rahmat Rahmani)" 

Sang guru kehidupanku, memerintahkan kepadaku untuk mereview perjalanan kehidupanku, yang telah kujalani dengan cinta dan kebencian. Sebagai murid, aku pun melakukan napak tilas perjalanan hidupku. Dari napak tilas tersebut, akhirnya kukatakan pada diriku, bahwa baik cinta maupun kebencian telah mewarnai hidup dan kehidupanku. Keduanya memberi warna yang kontra produktif. Cinta memberi warna penerimaan, sementara benci memberi warna penolakan; cinta memberi nafas kehidupan yang longgar, berbeda dengan kebencian mengakibatkan sesak nafas kehidupan. Cinta menjadikan hidup dan kehidupanku tersenyum, tenang, damai dan bahagia. Sementara kebencianku, mematikan senyuman hidupku, wajah kehidupanku menjadi gelap tanpa cahaya. Kalbuku digelapi noktah hitam kotoran amarah, kegalauan, stress, pustrasi akibat kebencian. 
Kesimpulan akhirnya, sebagai hamba yang dianugrahi akal intelektual spititual ilahi tentu aku lebih memilih hidup dalam cinta dibanding hidup dalam kebenciaan. Hanya orang yang telah dikuasai oleh hawa nafsu dan menjadi pengikut setan yang akan menjatuhkan pilihan pada kebencian. Bukankah iblis dan setan menjalani hidup dan kehidupannya dengan kebencian kepada Adam dan anak cucunya tanpa sedikitpun cinta.

Kebencian iblis kepada Adam telah mematikan cahaya spiritualitas dirinya yang ia telah bina selama enam ribu tahun dalam penghambaan kepada Allah. Puncak kematian spiritualitas ilahiahnya adalah ketika iblis tanpa mampu lagi menyadari kehadiran Allah dalam dirinya dan pada diri Adam. Semuanya tertutupi oleh kebencian dan kesombongan. Orang yang dikuasai oleh amarah kebencian akan menghinakan yang dibencinya dan bersikap sombong dan angkuh kepada obyek yang dibencinya. Maka tidak salah, jika dikatakan bahwa kebencian saudara kembar dengan kesombongan baik secara identik maupun tidak identik. 

Itulah pelajaran hikmah yang kutemukan dari kebencian iblis kepada Adam. Pelajaran hikmah ini tidak akan ketemukan, jika kebencianku kepada iblis yang memang telah menjadi musuh kemanusiaan dan religius spiritualku, telah menutupi dan membuat sesak nafas intelektual.spiritual ilahiahku. Aku pun teringat pesan hikmah al-Quran yang menyatakan: "boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal pada sesuatu yang kau benci itu, ada hikmah kebajikan di dalamnya...." 

Dari sini, maka aku berpesan pada diriku sendiri, untuk berhati-hati membenci sesuatu secara berlebihan, meskipun kelihatan ia wajar dan pantas dibenci. Karena kebencian yang berlebihan akan membuat sesak nafas intelektual dan bahkan mematikan religius-spiritual ilahiahmu. Naluri akal intelektual spiritualku mengingatkan dan menasehatkan bahwa hikmah ilahiah Allah tidak hanya tersebar dan tampak pada perintah-perintah-Nya tetapi juga tersebar pada larangan-larangan-Nya meskipun tidak semua orang menemukannya. 

Lebih lanjut naluri akal intelektual spiritual ilahiaku berkata: "berusaha keraslah menemukan hikmah ilahiah dalam ujian kesusahanmu, meskipun ia sangat tersembunyi. Jangan biarkan penolakan dan kebencianmu kepada ujian kesusahan menjadi hijab tebal intelektual spiritual ilahiahmu, akibatnya, engkau akan kehilangan banyak pelajaran berharga dan hikmah ilahiah. Sebaliknya berhati-hatilah dalam dan dengan ujian kesenangan. Penerimaan penuh cinta dan suka yang berlebihan terhadap ujian kesenangan, bisa mengakibatkan engkau kehilangan hikmah ilahiah, yang menyebabkan engkau mengalami sesak nafas dan bahkan mematikan intelektual spiritual ilahiahmu. 
Kenali dan pelajarilah ujian kesenanganmu, apabila ia ringan bagi hawa nafsumu maka tinggalkanlah. Namun apabila berat bagi hawa nafsumu maka ambillah. Demikian al-Arifin menasehatkan.

Setelah aku mereview dan melakukan napak tilas kehidupan yang telah kujalani kurang lebih setengah abad lamanya, dan menghasilkan kesimpulan yang kuuraikan di atas, aku menghadap kepada sang guru kehidupanku dan menyampaikan hasil napak tilas kehidupanku. Mendengar kesimpulan yang kusampaikan, sang guru kehidupan pun berkata kepadaku sebagai nasehat yang sangat berharga dan mahal, sebagai berikut:
"wahai muridku, berhati-hatilah dengan kebencian, karena Rasulullah Saw. pernah bersabda: " dabba ilaikum daaul umam qablakum al-baqhdhau wa al-hasad."  Artinya, telah menjalar kepada kalian penyakit umat sebelum kalian, yaitu kebencian dan dendam. Selanjutnya sang guru kehidupanku mengatakan: "Ada tiga perkara yang menyebabkan timbulnya kebencian, yaitu kemunafikan, kedhaliman dan ujub atau bangga diri. 
Dengan cermat aku mendengarkan nasehat guru kehidupanku, aku kemudian berkata: "kalau begitu guruku, kebencian itu buah kemunafikan, wujud kedhaliman dan hasil dari kebodohan, karena hanya yang bodohlah yang bersifat ujub." 

Sang Guru kehidupanku, berkata: kira-kira demikianlah muridku. Ingatlah kata hikmah dari al-Arifin, ketika ia berkata: "Jangan membenci siapapun, tak peduli seberapa banyak kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu. Hiduplah dengan rendah hati, tak peduli seberapa banyak kekayaanmu. Berpikirlah positif, tak peduli seberapa keras kehidupan yang kamu jalani. Berikanlah banyak, meskipun menerima sedikit. Tetaplah menjalin hubungan dengan orang-orang yang telah melupakanmu, maafkanlah orang yang berbuat salah padamu, dan jangan berhenti mendoakan yang terbaik untuk orang yang kau sayangi. 

Terakhir sang guru kehidupanku menasehatkan: "Contohlah Allah, kemurkaan-Nya kepada yang batil dan dhalim serta kepada pelaku kebatilan dan kedhaliman, dicahayai dengan rahmat Rahman, karena itu Allah berlaku adil dan tidak berlaku aniayah kepada mereka yang dimurkai." Jangan biarkan amarah kebencianmu membuatmu dhalim dan tidak adil. 

Wa Allah A'lam. Semoga manfaat. 
Makassar 18 Januari 2022

ISTIAZAH: MEMBANGUN RELASI SPIRITUAL TRANSENDENTAL ILAHIAH

Ahmad Mujahid

Kata istiazah merupakan istilah yang berkonotasi makna memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Seperti ditunjuk oleh kalimat yang paling populer, yakni "auzu billahi minas syaithanir rajim." Menurut hemat penulis, kalimat istiazah ini menggambarkan tiga bentuk relasi, yaitu: 

Pertama. Relasi negatif yakni relasi permusuhan antara manusia dengan setan. Setan sangat membenci dan memusuhi manusia. Setan ingin manusia terjatuh dalam kebinasaan pengingkaran dan kesesatan, sebagaimana dirinya telah terjatuh dan tenggelam di jurang kesesatan dan pengingkaran yang dalam.

Kedua, relasi negatif setan terhadap Allah. Di mana setan telah membangun relasi spiritual transendental negatif dengan Allah. Setan menolak perintah Allah bersujud kepada Adam as. Dengan kata lain, setan pengingkaran perintah Allah. Akibatnya setan terlaknat dan jauh dari kebajikan, rahmat dan keberkahan, Makna ini ditunjuk oleh kata "rajiim,"  yang menjadi kata sifat dari kata setan. 

Ketiga, relasi positif manusia terhadap Allah. Yakni di mana manusia membangun relasi spiritual transendental positif dengan Allah. Wujud relasi tersebut adalah manusia menjadikan Allah sebagai perlindung, pemelihara dan penjaganya dari bahaya dan keburukan gerakan kebencian, permusuhan dan penyesatan setan terhadap manusia. Iblis dan setan, sangat ingin manusia terjatuh dalam pengingkaran dan kedurhakaan kepada Allah, sebagaimana ia telah melakukannya. 

Mencermati bangunan relasi kedua hamba Allah dalam istiazah, yakni manusia dan setan, menurut penulis, pemihakan Allah kepada manusia sangat kuat dan nyata. Buktinya dalam al-Quran, Allah sering memperingatkan manusia bahwa setan itu musuhmu yang nyata. Bahkan Allah menegaskan, maka jadikanlah ia musuhmu (QS. Al-Mukminun/ 23: 97-98). Dalam ayat yang lain, yakni QS. Al-A'raf/ 7: 27, Allah memperingatkan kepada manusia sebagai anak cucu Adam, agar tidak lagi tertipu lagi kepada setan, seperti setan telah menipu bapak dan ibu anak cucu Adam. Masih banyak ayat lain yang berisi pesan demikian. 

Bukti lain dari pemihakan Allah kepada manusia, adalah adanya perintah Allah kepada manusia agar berlindung kepadaNya dari gerakan kejahatan penyesatan iblis dan setan. 
Pertanyaannya sekarang adalah siapa setan dan bagaimana sifat dan gerakan kejahatannya, bagaimana petunjuk al-Quran kepada manusia terkait dengan gerakan kejahatan penyesatan yang dilakukan oleh setan terhadap manusia? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapati ditelusuri dari kata setan itu sendiri dan kata "rajiim" yang menjadi sifat setan pada kluasa istiazah tersebut. Berikut uraiannya.

Kata setan dalam al-Quran disebutkan sebanyak 88 kali. Katsetan berakar pada kata "syathana."  Makna pokok kata ini adalah jauh dari kebajikan atau rahmat. Dari makna pokok ini, dapat dipahami bahwa setan adalah bangsa jin yang tidak memiliki kebajikan dan rahmat. Dengan perkataan lain, apa pun dari setan merupakan keburukan, kejahatan dan kesesatan. Itulah sebabnya ia disifati dengan sifat "rajiim,"  yang bermakna terlaknat. Dengan begitu sifat "rajiim" mempertegas kejahatan dan kesesatan setan. 

Dari sekian banyak ayat tentang setan, al-Quran mengemukakan beberapa petunjuk kepada manusia tentang bagaimana mengatasi gerakan kejahatan penyesatan setan, antara lain: 
Pertama. Perintah Allah kepada manusia agar memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan dari Allah dalam menghadapi setan dan gerakan kejajatan penyesatannya. Ditemukan 4 ayat yang memerintah agar manusia beristiazah kepada Allah dari setan pada beberapa keadaan dan kegiatan, yaitu:
1) Diperintahkan beristiazah kepada Allah ketika membaca al-Quran dan ketika mengerjakan amal ibadah lainnya. Seperti ditegaskan dalam QS. An-Nahl/ 16: 98. Ayat ini menegaskan bahwa ketika membaca, baik sebelum dan sesudahnya, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk. 
Menarik dipertanyakan mengapa dalam berinteraksi dengan al-Quran mesti beristiazah? Keburukan apa yang dapat hadir dari setan ketika seseorang berinteraksi dengan al-Quran tanpa perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan Allah Swt? Menurut hemat penulis, jawaban atas pertanyaan ini, dapat dipahami dari relasi ayat 98 tersebut dengan sebelum dan sesudahnya dalam surah yang sama.

Di mana pada ayat sebelumnya, yakni ayat 97 mengemukakan tentang beramal saleh yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan berdasarkan keimanan yang benar (imanan haqqan). Maka orang mukmin yang beramal saleh tersebut akan dihidupkan di dunia dengan kehidupan yang bermanfaat (thayyiban) dan di akhirat ia memperoleh balasan yang lebih indah dan menyenangkan dari apa yang ia telah perbuat. Sedang pada ayat sesudahnya, yakni 99 bahwa setan tidak memiliki kekuatan sedikit pun atas orang-orang yang benar-benar beriman dan bertawakkal kepada Allah. Adapun pada 100 dikemukakan bahwa setan hanya mampu berkuasa dan memberikan pengaruh jahat dan buruknya terhadap orang-orang yang mau menjadikan setan sebagai pemimpinnya dan terhadap orang-orang yang berlaku syirik. 

Apabila kandungan ketiga ayat dalam surah an-Nahl tersebut diperpautkan dengan kandungan ayat 98 dalam surah yang sama, maka dapat dipahami bahwa beramal saleh seperti berinteraksi dengan al-Quran dalam bentuk pembacaan, mesti hadir dan berlandaskan keimanan yang haqqan kepada al-Allah dan tentunya kepada al-Quran itu sendiri. 

Berinteraksi dengan al-Quran, apa dan bagaimana pun bentuknya, tanpa landasan iman yang benar (haqqan), maka sangat mungkin berada di bawah bimbingan setan. Dengan kata lain, setan menjadi gurunya ketika berinteraksi dengan al-Quran. Akibatnya ia salah dan keliru di dalam memahami ayat-ayat al-Quran. Setan membodohinya dan menyesatkan pemahamannya tentang ayat-ayat al-Quran. 
Di antara contoh penafsiran yang keliru terkait setan adalah pandangan yang menyatakan bahwa setan masuk surga. Alasannya, karena setan melaksanakan peran dan tugasnya sebagai penegak gerakan penyesatan. Pandangan ini menduga, gerakan penyesatan yang ditegakkan setan adalah tugas dari Allah. Padahal Allah tidak pernah memerintahkan atau menugaskan setan melakukan gerakan kejahatan dan penyesatan. Setan sendiri yang ingin dan memilih melakukan gerakan kejahatan penyesatan, setelah ia dikeluarkan dari surga kenikmatan disebabkan kenggangannya kepada Adam as. padahal Allah yang memerintahkannya sujud.

Ada lagi pandangan yang mengatakan setan adalah makhluk yang paling bertauhid. Alasannya ia tidak mau sujud kepada Adam meskipun Allah yang memerintahkannya. Pandangan yang demikian ia sangat keliru, berdasarkan hawa nafsu dan dalam bimbingan setan. 

Bantahannya adalah kalau memang setan makhluk bertauhid, maka ia pasti patuh kepada perintah Allah, apa pun bentuk dan obyek perintah Allah tersebut. Salah satu makna dari konsekwensi logis dari kesadaran tauhid adalah kepatuhan kepada Allah tanpa syarat. Buah lain dari kesadaran tauhid adalah menghadirkan keyakinan bahwa apa pun yang diperintahkan dan dilarang Allah pasti benar, baik dan tidak mungkin bertentangan dengan konsepsi tauhid. Dari sini, dapat dipahami dengan tegas dan jelas, bahwa perintah Allah kepada malaikat dan iblis atau setan dari bangsa jin tidak mungkin bertentangan dengan tauhid. 

Jadi pendapat yang menduga bahwa keenggangan iblis sujud kepada Adam menjadi bukti nyata ketauhidan iblis, merupakan pandangan sesat, dan menyesat. Pandangan yang demikian ini berlandaskan hawa nafsu dan dalam bimbingan setan yang menyesatkan.

Dalam bentuk praktis, manusia yang menjadikan setan sebagai guru al-Qurannya, maka ia pasti terjatuh dalam gerakan menjual ayat-ayat al-Quran dan digunakan ayat-ayat al-Quran untuk meraih keuntungan dunianya semata, baik secara sosial-budaya, sosial-politik, maupun secara sosial ekonomi. Perbuatan menjual ayat Allah untuk kepentingan dunia merupakan perbuatan kesetanan. 

Manusia yang berinteraksi dengan al-Quran tanpa perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan Allah, maka interaksinya dengan al-Quran tidak akan menembus kalbunya dan berhenti di kerongkongannya. Manusia seperti ini adalah manusia yang telah berada dalam kuasa setan dan hawa nafsunya. Bahkan Rasulullah Saw. menegaskan dalam sabdanya, bahwa pembaca al-Quran yang bacaannya hanya berakhir di kerongkongan dan tidak menempus hatinya, mengakibatkan ia mudah dan cepat murtad atau keluar dari Islam dan ia sulit kembali lagi ke Islam, seperti anak panah yang lepas dari busurnya secara cepat dan tidak akan dapat kembali lagi ke busurnya. 

Uraian di atas, kiranya telah cukup menggambarkan betapa urgennya beristiazah ketika beinteraksi dengan al-Quran, baik sebelum dan atau sesudahnya. Demikian pula ketika melaksana ibadah-ibadah lainnya. Pendek kata, orang mukmin membutuh perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan Allah khususnya ketika ia berinteraksi dengan al-Quran dan menegakkan ibadah-ibadah lainnya. Bahkan kebutuhan akan istiazah dibutuhkan di setiap langkah kehidupan. Tujuan agar tidak terjerumus pada langkah-langkah setan. 
Kesimpulannya beristiazah pada hakekatnya bermakna membangun hubungan spiritual transendental ilahi dalam hidup dan kehidupan, baik ketika menegakkan ibadah-ibadah mahdha maupun pada saat berinteraksi sosial-masyarakat (bersambung).


Makassar 17 Januari 2022

SETAN DAN GERAKAN PENYESATAN ATAS MANUSIA

Ahmad Mujahid

Seperti telah diketahui secara pasti bahwa setan sangat memusuhi manusia. Setan bertekad menjatuhkan manusia dalam kesesatan yang nyata sebagaimana dirinya telah tersesat. Besar kebencian dan kuatnya tekad setan menggerakkan gerakan penyesatan kepada manusia, tergambar dari permohonan setan kepada Allah, yakni agar ia diberi penangguhan waktu kehidupan. Tujuannya adalah iblis ingin menegakkan gerakan penyesatan atas manusia. Permohonan iblis atau setan dikabulkan oleh Allah. Dengan perkataan Allah menyetujui dan mengizinkan pilihan iblis tersebut. 

Namun patut ditegaskan bahwa izin dan persetujuan Allah tersebut, sama sekali tidak berarti bahwa Allah meridhai pilihan setan, menegakkan gerakan penyesatan terhadap manusia. Dikatakan demikian, karena setan.telah menggunakan hak pilihanya pada pilihan kemurkaan Allah dan bukan pada pilihan keridhaan-Nya. Dengan kata lain, iblis gagal fokus dalam menggunakan takdir tasyriy yang ditetapkan oleh Allah atasnya sebagai bangsa jin, yakni takdir berupa hak memilih jalan keridhaan dan atau jalan kemurkaan.

 iblis dan setan sesungguhnya sangat paham dan mengetahui bahwa hak pilih yang menjadi takdir tasyriinya, telah ia gunakan dalam pilihan yang salah. Oleh karena itu, ia menyesal dengan penyesalan yang sangat dalam, ketika ia memilih menolak sujud kepada Adam as. padahal Allah yang memerintahkannya. Bukti kuat dari penyesalan tersebut, adalah konong iblis mendatangi beberapa nabi dan rasul Allah seperti Nabi Musa as., Nabi Nuh as. termasuk Nabi Muhammad Saw. agar dimohonkan kepada Allah pengampunan. Para nabi dan rasul Allah tersebut, konon memohonkan pengampunan kepada Allah untuk iblis. 

Allah menjawab doa para nabi dan rasul tersebut secara positif, dengan kata lain, pengampunan bagi iblis terbuka lebar atas doa nabi dan rasul Allah, namun dengan syarat, iblis mesti sujud di kuburan Adam as. Namun iblis menolak persyaratan tersebut. Iblis masih saja enggan sujud kepada Adam as.  Iblis pun berkata kepada para nabi dan rasul yang telah mendiakannya, yakni; kalau di waktu Adam saja hidup saya menolak dan enggang sujud kepadanya, lalu bagaimana saya mau sujud kepada Adam di kuburannya, setelah ia mati? Artinya iblis tetap menolak patuh atas perintah Allah. Dia tetap enggang sujud kepada Adam. Sekali lagi iblis gagal fokus dalam menggunakan takdir tasyriinya. 

Iblis tetap kokoh berpegang pada bangunan paradigmanya terkait dengan Adam as. Meskipun iblis telah menyesal, namun belum mampu bergeser dan tidak berubah, tetap konsisten pada paradigma kemuliaan unsur materi penciptaannya dan menganggap rendah dan hina unsur materi penciptaan Adam. Dengan kata lain iblis lebih fokus kepada materi penciptaan dan tidak fokus kepada Allah yang memerintahkannya sujud. Sekiranya titik fokus iblis adalah siapa yang memerintahkannya, yakni Allah, maka pandangan dan pengakuan bahwa diri lebih baik dari Adam tidak akan hadir dalam dirinya. Dengan begitu dia akan taat perintah. 
Pada dasarnya Allah mengisyaratkan kepada iblis, agar  ia lebih fokus kepada siapa yang memerintahkannya bukan kepada obyek yang diperintahkan dan unsur materi penciptaan dirinya dan Adam. Isyarat yang dmaksud, dipahami dari klausa "iz amartuka..." dalam ayat 12 surah al-A'raf.

Kita kembali tentang adanya izin Allah kepada iblis untuk melakukan gerakan penyesatan terhadap manusia. Meskipun Allah mengizinkannya, namun Allah tetap menetapkan batasan-batasan terkait gerakan sosial kejahatan iblis tersebut. Di antara batasan yang dimaksud adalah:

Pertama. Penegasan Allah kepada iblis atau setan, bahwa dirinya sama sekali tidak punya kekuasaan terhadap manusia untuk ia sesatkan, kecuali manusia yang mau ikut dalam kesesatan, seperti dipahami dalam QS. Al-Hijr/ 15: 42. 
Kedua. QS. An-Nahl/ 16: 99 lebih khusus menegaskan bahwa iblis sama sekali tidak punya kekuasaan dan kekuatan untuk dapat menyesatkan orang-orang beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya dan orang-orang beriman yang bertawakkal kepada Allah. 
Ketiga, keterbatasan iblis dan setan dalam meneggakkan gerakan sosial kejahatan penyesatan atas manusia, diakui sendiri oleh iblis. Seperti dipahami dari QS. Al-Hijr/ 15: 40. Dalam ayat ini, iblis menegaskan bahwa dirinya benar-benar akan menyesatkan seluruh manusia. Namun kata iblis, kecuali hamba yang tergolong kelompok orang-orang mukhlisin. 
Keempat, keterbatasan kemampuan dan kekuasaan iblis dalam menjalankan gerakan penyesatannya atas manusia, juga tergambar dari segi keterbatasan arah dan ruang yang dapat digunakan iblis dalam menyesatkan manusia. Yakni iblis hanya mampu menegakkan gerakan penyesatannya dari empat arah, yakni dari arah depan.dan.arah belakang, sisi kanan dan sisi kiri. Iblis tidak mampu menyesatkan manusia dari arah atas dan dari arah bawah. Seperti ditegaskan dalam QS. Al-A'raf/ 7: 17.

Berdasarkan keempat poin di atas, penulis dapat pahami bahwa kekuatan yang dapat digunakan manusia untuk melawan gerakan penyesatan iblis, antara lain: Pertama, dengan memiliki, menghidupkan dan menggunakan kekuataan iman dengan sebenar-benarnya iman. Kedua, dengan kekuatan ikhlas. Ketiga adalah dengan kekuatan kekuatan doa dan ibadah, khususnya ibadah salat. 

Bentuk kekuatan ketiga ini dipahami dari ketidak mampuan iblis menggunakan arah atas dan arah bawah. Arah atas, penulis pahami dengan makna senantiasa berpegang teguh pada fitrah ketergantungan kepada Allah. Di antara bentuk ketegantungan tersebut adalah dengan senantiasa berdoa memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan dari Allah. Sedangkan arah bawah, penulis maknai dengan senantiasa membangun relasi kedekatan kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.  Bentuk kedekatan yang paling dekat, disimbolkan dengan bentuk sujud yang ditemukan dalam gerakan salat. 

Dalam konteks kekuatan doa dan relasi kedekatan dengan Allah, sebagai prisai dan benteng kekuatan menghadapi gerakan kejahatan penyesatan iblis dan setan, imam Ali berkata: "Perbanyaklah doa, niscaya engkau akan selamat dari kekuatan atau kekuasaan setan." "aktsiri al-dua taslim min saurati asy-syaithan." 

Adapun dalam konteks makna membangun relasi kedekatan dengan Allah, sebagai bentuk kekuatan melawan iblis dan setan sebagai musuh besar bagi manusia, di mana iblis dan setan menegakkan gerakan penyesatan atas manusia, cucu keturunan Rasulullah Saw., yakni Imam Muhammad Baqir berkata: " taharraru min iblis bi al-khauf ash-shadiq." Artinya; jagalah dirimu dari iblis dengan ketakutan yang benar kepada Allah. 

Kekuatan yang lebih umum untuk melawan dan menggagalkan gerakan kejahatan penyesatan iblis dan setan adalah dengan senantiasa berzikir kepada Allah dan atau berpegang teguh kepada al-Quran. Seperti dipahami dari QS. Ali Imran/ 3: 155. Kandungan ayat 155 surah ketiga misalnya menegaskan bahwa siapa pun yang berpaling dari zikr ar-Rahman yakni al-Quran, Kami adakan baginya setan yang menyesatkan, maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

sebagai closing statemant tulisan ini, penulis akan kemukakan pengakuan iblis dan setan terkait dengan rahasia kelemahan gerakan kejahatan penyesatannya, sebagai bentuk keterbatasan bagi iblis, seperti dipahami dari riwayat Ja'far ash-Shadiq. Dalam riwayat tersebut, iblis berkata: Lima perkara yang aku tidak memiliki kemampuan tipu daya atas orang yang memilkinya. Sementara orang yang tidak memiliki, maka ia berada dalam kekuasaan genggamanku. 
Pertama, siapa.saja yang berlindung kepada Allah dengan niat yang tulus dan bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan. Kedua, siapa saja yang banyak bertasbih di waktu malam dan siang. Ketiga, barang siapa yang merasa senang dengan saudaranya yang mukmin, seperti ia merasa senang untuk dirinya sendiri. Keempat, barangsiapa yang bersabar atas musibah yang menimpahnya. Kelima, barangsiapa yang rela atau ridha atas reski Allah yang ditetapkan dan dibagikan untuknya serta tidak merasa cemas dengan reskinya. 

Dalam riwayat lain, iblis memberitahukan kepada nabi Musa as. tentang dosa yang apabila anak Adam melakukannya, maka ia berada dalam genggaman kekuasaan setan. Dosa yang dimaksud adalah ketika anak Adam telah membanggakan dirinya, menganggap banyak amalnya dan dosanya dianggap kecil atau ringan di matanya. 

Keterangan lain yang tak kalah pentingnya dikemukakan agar terbebas dari jebakan gerakan penyesatan setan adalah membebaskan diri dari kuasa hawa nafsu dan menjauh dari manusia yang menjadi hawa nafsunya sebagai penguasa dirinya. Juga menjauhkan diri dari amarah dan wanita. Seperti dipahami dari perkataan imam Ali Kw. yaitu: "duduk-duduk bersama orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya akan melupakan iman dan tempat duduk mereka merupakan tempat kehadiran setan." Sementara Imam Ja'far ash-Shadiq berkata: " iblis tidak memiliki bala tentara yang lebih kuat dari pada wanita dan kemarahan." Wa Allah A'lam.

Makassar, 16 Januari 2022.

MANUSIA: MALAIKAT JALANAN DAN SETAN MASJID

Ahmad Mujahid

Istilah malaikat jalanan jarang didengar. Demikian pula istilah setan masjid ganjil terdengar. Istilah yang biasa terdengar, adalah setan jalanan. Sedang istilah yang relevan dengan masjid, adalah istilah malaikat masjid. Istilah setan jalanan dapat dibaca dalam sebuah komik dan juga dalam lirik lagu. Isi novel grafis ini bercerita tentang Kelana, sosok pengendara motor yang berada antara terang dan gelap. Kelana adalah seorang pemuda dalam waktu-waktu tertentu akan berubah menjadi Setan Jalanan. Dinamakan demikian, karena ia bisa menghalalkan segala cara untuk dapat mewujudkan keinginannya yang baik, seperti menegakkan keadilan. Oleh karena itu, Kelanan sebagai setan jalanan tetap dianggap sebagai perusuh. Kelana sebagai setan jalanan adalah pencari segala kebenaran di antara gelap dan terangnya peradaban. Demikian kira-kira gambaran singkat isi novel tersebut.

Terlepas dari isi komik di atas, penggunaan istilah setan jalanan dalam tulisan ini, cenderung dimaknai dengan  makna negatif. Hal ini disebabkan karena kata setan merupakan simbol kejahatan yang banyak berkeliaran di jalanan. Dengan kata lain, di jalanan banyak ditemukan setan-setan yang melakukan kerusahan dan kejahatan, seperti banyak terjadi di tengah kota metropolitan. Misalnya perampokan, begal, pengedaran narkoba dan lain-lain. 
Berbeda dengan istilah malaikat masjid. Istilah kedua ini, cenderung dimaknai secara positif dan jauh dari makna negatif. Pemaknaan positif yang demikian, tergambar dengan jelas dari kata malaikat dan masjid. Kedua kata ini berkonotasi makna sangat baik dan positif. 

Sampai di sini, penulis ingin mengajukan pertanyaan yang direnungkan oleh penulis sendiri, yaitu; apakah di jalanan tidak ada malaikat? yang disebut malaikat jalanan. Atau apakah di masjid sama sekali tidak ada setan? yang disebut setan masjid. Pertanyaan renungan penulis ini, hadir setelah kenyataan menunjukkan betapa banyak kebajikan-kebajikan yang tulus terjadi di jalanan. Pelakunya adalah malaikat-malaikat jalanan. 
Sebaliknya betapa banyak kejahatan-kejahatan terjadi di masjid, namun tidak tampak alias tersembunyi karena terbungkus oleh kesalehan lahir dan palsu. Pelakunya adalah setan-setan masjid. Contohnya, pembunuhan Imam Ali Kw. menantu Rasulullah Saw., khalifah keempat, amirul mukminin, dilakukan di masjid pada.waktu salat subuh pada bulan ramadhan oleh Abdur Rahman ibnu.Muljam, seorang penghafal al-Quran. Ia pernah menjadi utusan khalifah Umar bin Khattab menjadi duta al-Quran ke Mesir untuk mengajarkan al-Quran.

Bertolak dari uraian di atas, penulis ingin katakan bahwa malaikat kebajikan bersifat trans geografis, dapat ditemukan di waktu, tempat dan ruang mana pun, baik di jalanan, bahkan di tempat kemaksiatan sekali pun. Malaikat kebajikan tidak terbatas hanya di masjid. Demikian pula dengan setan kejahatan, ternyata tidak hanya di temukan di jalanan dan di tempat degum, tetapi juga di masjid-masjid. Dengan begitu, Setan kejahatan juga bersifat trans geografis, trans tempat, ruang dan waktu.

Dengan perkataan lain, kebajikan-kebajikan manusia malaikat, trans waktu dan trans geografis. Manusia malaikat menemukan dan melakukan kebajikan-kebajikan di jalanan, di tempat degum dan tempat lainnya, apalagi di masjid. Manusia malaikat akan tetap dalam identitas kebajikannya meskipun ia di luar.masjid. 
Tidak berbeda jauh dengan manusia setan jalanan. Dia tetap saja menjadi manusia setan, tenggelam dalam kejahatan meskipun ia di masjid. Apalagi kalau ia berada di tempat kemaksiatan dan di jalanan. Masjid tidak menjadi penghalang dan pengendali hawa nafsu kejahatannya. Seperti sosok Abdur Rahman Ibnu Muljam, sebagai pembunuh Ali Kw.

Berbeda dengan Imam Ali Kw. meskipun ia telah di parangi oleh ibnu Muljam, ia tetap terbebas dari hawa nafsu dan kejahatan setan jalanan . Ia tetap dalam identitas kemalaikatan dan kebajikannya. Buktinya, tergambar dalam pesan Ali Kw. menjelang kewafatannya, baik kepada keluarga besarnya dan terkhusus kepada anak imam Hasan. 

Beliau berkata kepada keluarganya, yaitu: “Wahai keluargaku…Jangan kalian mengucurkan darah kaum Muslim dengan dalih kematianku. Jangan sesekali ada darah seseorang mukmin pun mengalir kecuali pembunuhku.”
Secara khusus imam Ali berpesan Sayyidina al-Hasan, yakni: “Jangan kamu sekali-kali mencincang si pembunuh. Rasulullah Saw, kakekmu pernah bersabda, Hati-hati, jangan mencincang, walau anda membunuh anjing gila. 

Ali Kw. sebagai manusia malaikat bahkan melebihi malaikat, yang kebajikannya bersifat trans geografis dan trans waktu, mampu membaca dan menemukan hikmah kebajikan meskipun dari kejahatan setan dan manusia setan. Seperti dapat dipahami dari perkataan beliau yakni: "Maka ambillah pelajaran dari apa yang dilakukan Allah terhadap iblis. Bagaimana Allah telah menghapus pahala amalnya yang panjang dan usahanya yang sangat keras! Iblis telah menyembah Allah selama enam ribu tahun -tidak diketahui apakah itu tahun-tahun duniawi ataukah tahun-tahun di akhirat- namun semua pahala amalnya itu dihapus hanya lantaran kesombongannya yang sesaat." 

Dari perkataan Imam Ali Kw. tersebut, penulis pahami bahwa kejahatan kesombongan merupakan kejahatan yang paling membahayakan dari iblis dan manusia setan. Kejahatan kesombongan ini tidak terjadi hanya di jalanan yang dilakukan oleh setan jalanan. Akan tetapi kejahatan kesombongan juga dapat terjadi dan ditemukan di dalam masjid sebagai tempat sujud. Buktinya, tidak sedikit ahli sujud yang menganggap besar dan agung ketaatannya. Ahli sujud seperti terjebak dalam kejahatan kesombongan, maka ia pun menjadi setan masjid dan berhenti menjadi malaikat masjid. Selanjutnya ia menjadi setan jalanan. Di masjid saja ia menjadi setan, lalu bagaimana di jalanan tanpa masjid. Bukan iblis pun demikian, ia dari ahli sujud kemudian terkena virus kesombongan maka bekasan sujudnya terhapus. Tinggallah kejahatan kesombongannya yang tebarkan dan bisikkan kepada manusia, baik yang berada di masjid maupun di jalanan.

Bahaya menyombongkan amal ibadah, juga dijelaskan dalam sabda Rasulullah Saw. Yaitu, ketika Nabi Musa as. sedang duduk, tiba-tiba iblis mendatanginya. Musa as. lalu berkata kepada iblis: beritahu aku, tentang dosa yang apabila anak Adam melakukannya niscaya engkau akan dapat menguasainya. Iblis menjawab, yaitu jika ia telah membanggakan dirinya, menganggap banyak amal dan dosanya itu terlihat kecil atau ringan di matanya.

Selanjutnya Imam Ali mengemukan jenis tipuan setan, yakni ada tiga: Pertama, kecintaan kepada wanita dan ini adalah pedang setan. Kedua, meminum khamar dan ini adalah perangkat setan. Ketiga, mencintai dinar dan dirham (uang) dan ini adalah anak panah setan. 
Pada kesempatan lain, imam Ali juga mengingatkan bahwa: " setan itu membuat manusia memandang baik kemaksiatan, agar ia mengerjakannya. Setan juga membangkitkan angan-angan kosong kepada manusia, akibatnya manusia menunda-nunda taubat." 

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw dan perkataan Imam Ali Kw. maka sangat wajar dan logis, apabila cucu keduanya yakni imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad memohon kepada Allah perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan dari sifat dan perbuatan membanggakan ketaatan dan menganggap remeh, ringan dosa kemaksiatan. Beliau juga berlindung dari kesombongan dan segala sifat, sikap perbuatan kejahatan setan dan keburukannya. Seperti dapat dibaca dalam munajat perlindungannya dari hal-hal dibenci dan keburukan akhlak. 

Demikian sedikit uraian tentang manusia yang menjadi setan jalanan dan sekaligus setan masjid. Kejahatan dan keburukannya trans geografis dan trans waktu. Demikian pula type manusia yang menjadi malaikat masjid dan malaikat jalanan. Kebajikannya trans geografis, ruang tempat dan waktu. Menjadi type dan model.manusia mana kita? 

Wa Allah A'lam. Semoga manfaat dan mencerahkan.
Makassar, 15 Januari 2022

SADAR PERJUMPAAN DENGAN ALLAH DI DUNIA, NIKMAT TERAGUNG DI AKHIRAT

Ahmad Mujahid

Berjumpa dengan Allah, Rabb al-alamiin adalah cita-cita tertinggi, teragung dan puncak harapan bagi seorang mukmin sejati. Berbeda dengan kelompok kafir, mereka mendustakan perjumpaan dengan Allah, Rabb al-alamiin baik di dunia, demikian pula di akhirat.

Istilah yang digunakan al-Quran dalam menunjuk makna perjumpaan dengan Allah Rabbul alamiin adalah frase "liqaullah atau liqaurabb." QS. Al-Insyiqaaq/ 84: 6, telah menyerukan kepada manusia dalam bentuk peringatan dan sekaligus renungan bahwa manusia pasti berjumpa dengan Rabbnya di akhirat. Oleh karena itu, manusia wajib mempersiapkan diri dengan perjumpaan yang pasti terjadi tersebut, seperti pastinya kematian. Kematian sendiri adalah pintu menuju perjumpaan dengan Allah Rabbul alamiin di akhirat. 

Perjumpaan manusia dengan Allah di akhirat, terbagi dalam dua kelompok dengan dua bentuk perjumpaan; pertama, manusia yang berjumpa dengan Allah, menggunakan catatan amal yang diterima lewat tangan kanannya. Kedua, adalah kelompok manusia yang berjumpa dengan Allah menggunakan catatan amal yang diterima lewat belakang punggungnya. Kelompok pertama merasakan kenikmatan perjumpaan dengan Allah. Berbeda dengan kelompok kedua, mereka berjumpa dengan Allah dalam kesensaraan. Demikian yang penulis pahami dari relasi ayat 6 dalam surah ke 82 dengan ayat sesudahnya, yakni ayat 7-13 dalam surah yang sama.

Menurut hemat penulis, kedua model perjumpaan dengan Allah Rabbul alamiin di akhirat sangat ditentukan oleh kehidupan di dunia. Apabila manusia senantiasa menyadari dan merasakan perjumpaan dengan Allah Rabbul alamiin di dunia, maka ia pasti tergolong dalam kelompok pertama. Sebaliknya apabila manusia tidak menyadari atau lalai dengan perjumpaan dengan Allah di dunia dan bahkan mendustakannya, maka pasti ia dikelompokkan pada golongan kedua. 
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana berjumpa dengan Allah Rabb al-alamiin di dunia? Benarkah manusia senantiasa berjumpa dengan Allah di kehidupan dunia?
Menurut penulis jawaban atas pertanyaan di atas, dapat dipahami dari frase "liqaaur Rabb" dengan frase "liqaullah." Kedua frase ini digunakan dalam al-Quran. 

Kata "liqaa" dari sudut kebahasaan menunjuk makna menemui sesuatu dan bertepatan, bertemu dan menghadap. Kata "liqaa" dapat digunakan dalam hal yang bersifat indra lahir dan batin. Dengan perkataan lain, pertemuan lahir dan pertemuan batin. Kata liqaa juga dapat bermakna menyampaikan dan atau melemparkan sesuatu. 
Konotasi makna kata "liqaa" yang lain adalah hari kiamat. Hari kiamat dinamai liqaa sebagai hari pertemuaan  karena pada hari itu akan dipertemukan semua orang dari generasi pertama hingga generasi terakhir; akan dipertemukan antara penduduk langit yakni malaikat dengan penduduk bumi. Masing-masing dari mereka akan diperlihatkan amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Maka dikatakan dalam suatu perkataan; "laqiya fulan khairan wa syarran" yang berarti fulan dipertemukan dengan perbuatan kebajikan dan keburukannya."

Adapun kata Rabb berkonotasi makna rububiyah Allah. Yakni Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengatur, Pemelihara, Pendidik dan Pemberi kebajikan kepada makhluk. Menurut penulis, dari makna Rabb tersebut maka manusia mukmin dengan keimanan yang haqqan,, sejatinya selalu menyatakan dan mengingkarkan kepada dirinya bahwa ia adalah ciptaan dan Allah sebagai Penciptanya; berikrar bahwa dirinya adalah dimiliki dan dikuasai oleh Allah sebagai Pemilik dan Penguasa makhluk; manusia mukmin sejatinya selalu berikrar bahwa dirinya hanya dipelihara dan diatur oleh yang Maha Pemelihara dan Maha Pengatur; berikrar bahwa dirinya diberi kebajikan oleh Allah yang Maha baik dan bahwa dirinya dididik oleh Allah Rabb al-alamiin. Inilah yang dimaksud dengan pertemuan dengan Af'al Allah, sebagai nama lain dari pertemuan Rububiyah Allah.

Menurut penulis, manusia yang senantiasa menghadirkan kesadaran yang demikian, dalam hidup dan kehidupannya di dunia, berarti ia telah senantiasa merasakan pertemuan dengan Rabbnya (liqaa Rabb) di dunia. Sebaliknya manusia yang lalai menghadirkan kesadaran yang demikian, meskipun ia tahu dan mengakui rububiyah Allah, maka ia digolongkan sebagai manusia lalai dan tidak merasakan pertemuan dengan Rabbnya di dunia. Biasanya manusia seperti ini mendustakan pertemuan dengan Allah di akhirat.

Sedangkan kata Allah menunjuk makna uluhiyah Allah. Kata Allah berakar pada aliha. Demikian pula kata ilah dalam kalimat tauhid seakar dengan kata aliha yang menunjuk pada uluhiyah Allah. Kata ilah tersebut berkonotasi makna yang Maha Ada, yang Maha terpuji, yang dituju, yang dicintai, dan yang disembah. 
Dari makna ilah yang demikian, apabila diperpautkan dengan makna liqaa di atas, maka frase "liqaaullah" berkonotasi makna ubudiyah kepada Allah. Yakni menyakini bahwa Allah adalah sumber keberadaan. Semua yang ada diadakan oleh Allah yang Maha Pengada, yang tidak pernah tidak ada, karena itu Allah tidak diadakan. 
Bentuk ubudiyah kepada Allah adalah senantiasa memuja dan memuji Allah, mencintai-Nya dan menjadikan Allah sebagai tujuan. Puncak dari uluhiyah adalah menghambakan diri kepada Allah secara totalitas dan holistik universal. 

Landasan penghambaan kepada Allah adalah dengan memakrifati Allah yakni mengilmui, mengetahui dan mengenal Allah sebagai satu-satunya wujud yang mengadakan wujud-wujud selain-Nya. Mengetahui, menyakini dan mengenal Allah sebagai satu-satunya tujuan dan tempat kembali. Landasan kedua dari puncak penghambaan kepada Allah adalah cinta kepada Allah.

Menurut penulis, manusia yang memiliki dan senantiasa mengikrarkan, menghadirkan, dan merasakan kesadaran uluhiyah atau penghambaan tersebut dalam hidup dan kehidupannya, maka itu petanda bahwa ia sungguh telah bertemu dengan Allah dalam kehidupannya di dunia. Sebaliknya manusia yang tidak demikian, maka digolongkan sebagai manusia lalai dan tidak merasakan pertemuan dengan Allah di dunia. Manusia seperti digolongkan manusia yang mendustakan pertemuan dengan Allah di akhirat.

Bertolak dari uraian di atas, penulis dapat simpulkan bahwa di dunia ada dua bentuk pertemuan dengan Allah yakni pertemuaan dengan rububiyah dan atau pertemuan dengan af'al Allah yang dipahami dari frase " liqaaur Rabb" dan pertemuan uluhiyah-ubudiyah yang dipahami dari frase "liqaaullah." Kedua bentuk pertemuan ini satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan perkataan lain, liqaur Rabb itu juga liqaaullah. Atau liqaaullah itu juga liqaaur Rabb. 

Berangkat dari uraian di atas, juga dapat dipahami dengan jelas dan tegas bahwa pada hakekatnya tidak ada manusia yang tidak bertemu dengan Allah di dunia. Karena memang manusia tidak bisa berlari dan melepaskan diri dari rububiyah Allah. Oleh karena tidak ada rububiyah selain rububiyah Allah. Dengan perkataan lain, manusia selalu bertemu dengan af'al Allah dan berada dalam rububiyah-Nya. Hanya saja kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, melalaikannya. Akibatnya manusia mendustakan pertemuan dengan Allah. Puncaknya, manusia tidak merasakan liqaur Rabb dan atau liqaaullah dalam kehidupannya di dunia. Kelompok manusia seperti ini tergolong kelompok yang merugi di akhirat termasuk merugi di dunia

Puncak dari kesadaran dari liqaaul af'al atau liqaur rububiyah adalah pengakuan akan keagungan dan kebesaran Allah, yang disimbolkan dalam kalimat takbir, Allah Akbar. Kalimat pengakuan ini menjadi landasan setiap penghambaan atau ubudiyah kepada Allah. Ibadah salat misalnya didahului dengan kalimat takbir Allah Akbar. Artinya penghambaan kepada Allah lahir dari kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah di satu sisi dan di sisi lain lahir dari kesadaran akan kerendahan dan kehinaan di hadapan Allah. 

Penghambaan yang berlandaskan pada kesadaran akan Allah Maha Besar atau Allah Akbar, menghasilkan penghambaan yang sempurna kepada Allah, yakni membuahkan puncak moralitas akhlak takwa kepada Allah. Akhlak takwa merupakan puncak kemuliaan di sisi Allah. Inilah puncak pertemuan dengan Allah di dunia yang wajib dicapai dan menjadi cita-cita serta harapan tertinggi dalam hidup dan kehidupan mukmin sejati. 
Maka untuk dapat meraih takwa maka takwa kepada Allah, sejatinya setiap saat diikrarkan kepada diri sendiri agar dapat meraih derajat "haqqa tuqatihi". Atau paling tidak mengikrarkannya pada setiap jumat ketika seorang khatib mewasiatkan takwa dengan sebenar-benarnya takwa. 

Cucu Rasulullah Saw. telah mencontohkan kwalitas tertinggi dari pengikraran dan pengakuan akan keagungan dan kebesaran Allah (Allah Akbar) di satu sisi dan di sisi lain, pengakuan akan kerendahan dan kehinaan diri di hadapan Allah, seperti tergambar dalam munajat cucu Rasulullah Saw. yakni Imam Ali Zainal Abidin yang bergelar as-Sajjad (ahli sujud). 
Dalam untaian munajatnya, beliau berkata: "Maulaya Maulaya anta al-Maulay wa ana al-'aabid, hal yarham al-'aabida illa al-Maulay. Maulaya Maulaya anta al-Khaliq wa ana al-makhluk, hal yarham al-makhluk illa al-Khaaliq. Maulaya Maulaya anta al-Maalik wa ana al-mamluuk. Hal yarham al-mamluuk illa al-Maalik.... 

Dari munajat di atas tergambar dengan jelas penyandaran seorag hamba kepada Tuhan Penciptanya, seorang makhluk kepada sang Khaliq; seseorang yang dimiliki kepada Pemiliknya. Kemudian dalam setiap ikrar dan pengakuannya, cucu Rasulullah Saw. tersebut bertanya; "apakah hamba, ciptaan, yang dimiliki dapat terkasih tanpa Allah, Tuhan sang Maha Pencipta, Maha Penguasa dan Maha Pemilik. 

Berdasarkan munajat tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad telah bertemu dengan Allah dalam kehidupannya di dunia sebelum ia bertemu dengan Allah dalam kehidupan selanjutnya di akhirat. Imam Husain telah menyadari kesadar-sadarnya keagungan dan kebesaran Allah di satu sisi dan kehinaan, kerendahan dirinya di aiai lain. Imam Husain benar-benar telah menggantungkan dirinya hanya kepada Allah dan tidak kepada selainnya. 

Apabila di dunia, tidak ada manusia yang tidak bertemu dengan Allah, seperti dinyatakan di muka, maka di akhirat pun demikian. Hanya saja di akhirat ada manusia yang bertemu Allah dengan sifat Rahim-Nya dan sebagian lainnya, berlaku atasnya sifat adil dan ghadab-Nya. Pertemuan dengan Rahiim Rahmannya Allah adalah pertemuan kenikmatan. Sebaliknya pertemuan dengan sifat adil dan ghadab Allah adalah pertemuan kesensaraan. Tinggallah manusia yang menentukan bentuk pertemuaan yang mana yang akan berlaku atasnya. Apakah pertemuan kenikmatan ataukah pertemuan kesensaraan. Silahkan pembaca tentukan sendiri sekarang di dunia fana ini. Ingat jangan salah pilih dan salah menentukan. Wa Allah A'lam. Semoga manfaat.

Makassar, 13 Januari 2022

PEREMPUAN: RIDHA TAKDIR TAKWINI MEMILIH TAKDIR KESELAMATAN TASYRII

Ahmad Mujahid

Takdir adalah ketetapan Allah. Ada dua jenis ketetapan Allah terhadap manusia. Pertama, ketetapan atau takdir Allah yang bersifat takwini. Kedua, takdir ketetapan Allah yang bersifat tasyriy. Terkait dengan takdir ketetapan Allah yang pertama, manusia sama sekali tidak punya andil atau pilihan terhadapnya. Contohnya ditakdirkan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Tidak ada manusia.yang diberi kesempatan untuk memilih menjadi laki-laki atau perempuan. Itu hak progratif Allah. Berbeda dengan takdir ketetapan Allah yang kedua, manusia ditakdirkan Allah untuk berhak memilih. Apakah ingin taat dan patuh ataukah memilih ingkar dan durhaka terhadap takdir tasyriyi. Setiap pilihan memiliki konsekwensi dan dipertanggung jawabkan. 

Kedua jenis takdir di atas, satu sama.lain memiliki relasi yang kuat dan tidak berdiri sendiri. Misalnya ketika seseorang dari sudut takwini ditakdirkan menjadi seorang perempuan, maka dari sudut tasyriy, seorang perempuan berhak memilih dan menggunakan keperempuanannya dalam ketaatan dan kepatuhan kepada syariat Allah ataukah memilih pengingkaran dan kedurhakan kepada Allah. Pilihan apa pun yang dipilih seorang yang ditakdir secara takwini sebagai perempuan akan dipertanggung jawabkan di hadapan dan memiliki konsekwensi atau akibat yang pasti di sisi Allah di hari Perhitungan amal.

Terkait dengan takdir takwini, sikap yang paling rasional adalah menerimanya bukan menolaknya apalagi berusaha merubahnya. Karena sesuatu yang ditakdirkan secara takwini oleh Allah, maka tidak akan ada yang dapat merubahnya. Dengan perkataan lain, kata kunci yang benar adalah ridha dan menjadikan takdir takwini sebagai jalan keselamatan dan kebahagian abadi.

Jadi kalau seseorang ditakdir sebagai perempuan, maka terima dan ridhalah menjadi perempuan, pasti selamat dan bahagia. Jangan pernah ingin menjadi laki-laki, maka pasti sensara. Demikian pula jika ditakdirkan sebagai laki-laki. Jangan pernah menolaknya kemudian ingin menjadi salah satu dari bagian LGBT yakni Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender atau transseksual. Apabila hal yang kedua yang terjadi, maka pasti mengantarkan kepada kesensaraan abadi. Intinya ridha dan gunakanlah takdir takwinimu dalam merespon takdir tasyriy secara positif, dengan begitu, engkau berada di atas jalan keselamatan dan kebahagiaan abadi.

Kita kembali ke tema tulisan di atas. Pesan utama tema tersebut adalah bagaimana perempuan menjadikan takdir dirinya sebagai perempuan menjadi jalan keselamatan dan kebahagian. Dengan perkataan lain, bagaimana perempuan selamat dan menyelamatkan atau bahagia dan membahagiakan dengan takdir takwininya sebagai perempuan. Jawaban pertanyaan tersebut, dapat ditinjau dari berbagai sudut perspektif sebagai perempuan, sebagai berikut.

Dari sudut perspektif kebahasaan misalnya. Istilah perempuan dalam al-Quran, paling tidak ditemukan tiga istilah, yaitu; al-untsa, al-mar'ah, an-nisa. Ketiga istilah ini memiliki konotasi.makna.yang berbeda-beda. Dari ketiganya dapat dipahami siapa dan bagaimana itu manusia perempuan. 

Kata untsa, merupakan kata yang menunjuk jenis kelamin perempuan. Adapun kata yang menunjuk jenis kelamin laki-laki adalah kata zakar. Dengan kata lain, kata untsa lawan dari kata zakar. Makna kata utsa adalah halus, lemah dan lembut. Ketiga makna dapat ditemukan pada perempuan. Kulit perempuan halus,.mulus dan lembut. Fisikal materialnya lemah. Lisan serta perangainya lembut. Keutamaan dan keistimewaan, daya tarik dan kekuatan perempuan pada kehalusan dan kelemah- lembutannya. 

Sabda Rasulullah Saw. pun menegaskan demikian. Beliau menjadikan kelemah-lembutan, yakni layyinun wa hayyinun sebagai karakteristik wanita unggul, mulia dan istimewa. Dengan demikian, perempuan yang hebat adalah perempuan yang menjadikan kehalusan, kelemah-lembutannya sebagai modal kekuatan dirinya baik sebagai individu, sebagai istri dan ibu serta dalam kehidupan sosial masyarakat. 

Kata an-nisa adalah kata yang digunakan dalam menunjuk kepada perempuan yang dewasa. Perempuan yang sudah siap menjadi seorang istri maupun seorang ibu dari anak-anaknya. Al-Ashfahani menjadikan kata an-nisa berakar pada kata "nasiya." makna pokok akar kata "nasiya" adalah lupa. Meninggalkan apa yang tersimpan dalam memori atau ingatan baik karena lemah akal, karena kelalaian dan karena sengaja menghilangkan ingatan dari akalnya. 

Terdapat pandangan yang menjadikan makna asal dari kata an-nisa' tersebut sebagai titik lemah perempuan. Yakni Pandangan menyatakan bahwa perempuan dinamai an-nisa, karena ia suka lupa atas kebajikan suaminya yang banyak dengan kesalahan suami yang sedikit. Menurut penulis, pandangan ini mendiskredikan perempuan. Menurut penulis, perempuan dinamai an-nisa' karena ia paling muda melupakan kebajikan-kebajikannya terkhusus kepada anak-anaknya. Buktinya tidak ada seorang ibu yang meminta balas jasa atas kebajikannya kepada anak-anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati. 

Sebaliknya perempuan juga  paling kuat mengingat-ingat kebajikan suaminya. Buktinya, perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, tidak muda untuk menikah lagi meskipun ada lelaki yang melamarnya, karena kuatnya ingatan perempuan kepada kenangan kebajikan suaminya. Kalau ia menikah lagi, sangat sulit bagi perempuan untuk melupakan hubungan baiknya dengan suami sebelumnya meskipun suami yang baru juga baik dan bahkan lebih baik. Kesetiaan perempuan menjadi salah satu faktor mengapa kebanyakan perempuan lebih suka menjadi janda seumur hidupnya setelah ditinggal mati oleh suaminya dan demi mengurus anak-anak yatim yang tinggalkan suaminya, dari pada menikah lagi.

Berbeda dengan laki-laki. Kata orang, belum kering mayat istrinya di liang kuburnya, ia telah melirik perempuan pengganti. Bahkan ketika istrinya masih hidup sekalipun, terkadang suami sudah main mata dengan perempuan lain. Kebajikan istrinya yang banyak selama ini, tidak mampu menjadi tali pengendali atau menjadi hijab melirik perempuan lain. Suami yang type demikian, sangat muda melupakan kebajikan-kebajikan istrinya. 

Adapun kata al-mar'ah yang juga digunakan menunjuk makna kesempunaan berakar pada kata "maraa." Kata ini menunjuk makna kesempurnaan seseorang atau al-muruwah. Dari makna ini, dapat dipahami bahwa perempuan adalah manusia sempurna sebagaimana laki-laki sempurna, maka laki-laki disebut al-rujuuliyah. Konotasi makna kesempurnaan ini sangat tampak pada diri perempuan. Kesenangannya berlama berdiri di hadapan cermin (al-mir'aat) membuktikan bahwa perempuan sangat sempurna dan teliti dalam menghias dirinya. Tidak ada perempuan yang tidak ingin cantik sempurna, kapan dan di manapun, khususnya di hadapan dan di sisi suaminya.

Kata al-mir'at yang juga berarti cermin seakar kata dengan kata al-mar'ah yang berarti perempuan. Dari sini, penulis dapat tegaskan adanya relasi yang kuat antara cermin dengan perempuan. Buktinya  salah satu barang yang tidak pernah lepas dari seorang perempuan adalah cermin. Makna ini juga dapat menjadi bukti kesempurnaan perempuan. Kata al-mar'ah juga digunakan menunjuk kepada perempuan dewasa, baik sebagai istri dan ibu. Semua makna ini membuktikan kesempu

Bertolak uraian kebahasaan di atas, dapat dipahami bahwa semua an-nisa' dan al-mar'ah adalah al-untsa. Akan tetapi tidak semua al-untsa adalah an-nisa dan atau al-ma'ah. Dikatakan demikian, karena al-untsa yang menunjuk makna kehalusan, kelemah lembutan mencakup perempuan dewasa maupun anak-anak. Sedang kata an-nisa dan al-mar'ah hanya menunjuk perempuan dewasa. Dari sini, maka penulis ingin tegaskan bahwa kehalusan, kelemah lembutan perempuan sebagai modal kekuatannya dirinya, seyogyanya selalu hadir pada setiap fase.kehidupan perempuan, yakni mulai dari fase balita, anak-anak, remaja, dewasa, tau hingga ia sempurna usia kehidupannya ia jalani alias wafat. 

Keterangan lain yang tak kalah pentingnya dikemukakan terkait dengan takdir takwini seorang perempuan adalah ditetapkan di dalam tubuhnya wadah peranakan yang disebut dengan kandungan atau rahim. Nama rahim seakar dengan kata rahmat dan seakar dengan nama Allah yakni Ar-Rahim yang berkonotasi.makna Maha pengasih. Dari sini dapat dipahami diamanahkan peranakan atau rahim kepada perempuan, mengisyaratkan makna bahwa perempuan adalah pemilik kebajikan dan kasih sayang yang paling banyak dari kalangan manusia, baik ia sebagai istri apalagi sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Maka tidak salah, apabila dalam sebuah riwayat yang masyhur, Allah menjadikan perempuan sebagai perempuaan dalam menggambarkan luas dan besarnya kasing sayang Allah kepada hamba-Nya, melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. 

Al-Quran telah mengemukakan perempuan-perempuan yang ridha atas takdir keperempuanannya dan menggunakan takdir tersebut untuk memilih keselamatan dalam.takdir tasyriy. Dalam sejarah Islam pun ditemukan perempuan-perempuan yang demikian, baik sebagai anak perempuan, sebagai istri dan bahkan sebagai pemegang kekuasaan sosial politik. Mereka adalah Asyiah istri Fir'aun dan Maryam. Sedang dalam Islam yang menyejarah, ditemukan seorang Khadijah al-Kubra sebagai ibu dan istri, Adapun sebagai anak perempuan diwakili oleh Fatimah az-Zahrah, putri Rasuliah Saw dan sebagai istri dan istri Ali Bin Abi Thalib. 

Aisyah sebagai perempuan hebat yang memiliki power full terlihat dengan jelas atas kesabarannya menjadi seorang istri dari Fir'aun yang dhalim. Puncak kesabarannya tergambar dalam doanya dalam QS. Tahrim ayat 11. Demikian pula Maryam adalah perempuan yang berperan sebagai seorang ibu yang hebat. Beliau dijadikan sebagai ibu yang melahitkan anak bayi yang langsung diangkat menjadi seorang nabi Allah, yakni Isa as. Maryam kecil sendiri tumbuh berkembang dalam pengasuhan seorang nabi dan rasul Allah. Ibu Maryam sejak dalam.kandungan telah menazarkan anak yang ada dalam kadungannya agar ia senantiasa berada di jalan Allah dan terlindungi dari setan yang terkutuk. Demikian doa ibu Maryam. Terkait dengan Maryam, dapat dibaca dalam al-Quran, di antaranya pada ayat 12 surah at-Tahrim dan tentunya dalam surah Maryam sendiri yakni surah ke 19.

Adapun tentang Khadijah Al-Kubra, sebagai istri Rasulullah Saw. Beliau juga adalah perempuan hebat secara power full. Buktinya beliau adalah perempuan pertama yang memeluk Islam. Pengorbanan beliau untuk pembumiaan risalah Islam yang menjadi tugas Rasulullah Saw. tidak ada yang bisa menandinginya oleh siapa pun dari kalangan sahabat. Dikatakan demikian, karena beliau adalah pemilik 2/3 dari kekayaan daerah Makkah diawal menjadi Istri Rasullah Saw. namun di akhir hayat beliau, Khadijah tinggal memiliki satu baju yang tambalannya tidak kurang dari 80-90 tambalan. Semua harta kekayaannya telah dikorbankan untuk pembumiaan risalah Islam.yang diperjuangkan Rasulullah Saw. 

Khadijah menjelan kewafatannya menyuruh Fatimah anaknya, agar memintakan surban Rasulullah Saw. untuk dijadikan kain kapannya. Khadijah tidak meminta langsung kepada Rasulullah Saw. yang menjadi suaminya sendiri, karena beliau malu kepada Rasulullah Swa. Pada akhirnya, malaikat Jibril turun menemui Rasulullah membawa 5 kain kapan dari surga. Satu untuk Khadijah; satu untuk Rasulullah Saw. Satu lagi untuk Ali Kw; satu untuk Fatimah dan satu lagi untuk Hasan. Rasulullah Saw. kemudian bertanya, mana kain kapan untuk Husain? Jibril menjawab, Husain tidak perlu kain kapan, karena ia akan mati syahid di Karbala. Seorang syahid tidak membutuhkan kain kapan di kewafatannya.  Betapa mulia dan istimewanya Khadijah sebagai perempuan. Kain kapannya saja langsung dari surga Allah.

Fatimah pun adalah perempuan hebat secara power full, sama dengan ibunya. Fatimah merupakan pemimpin perempuan di surga. Beliau adalah sayyidatun nisa' filjannah. Beliau adalah ibu yang melahirkan anak-anak yang menjadi pemimpin anak-anak muda di surga yakni Hasan Husain. Suami beliau adalah suami pilihan Allah, yakni Ali bin AbI Thalib. Rasulullah Saw. sendiri yang mempersiapkan Ali sebagai suami anaknya dan mempersiapkan anaknya, Fatimah az-Zahrah sebagai istri Ali Kw. 

Itulah sebabnya ketika Fatimah dilamar oleh seorang sahabat yakni Usmant bin Affan, Rasulullah Saw. menolaknya secara halus. Namun ketika Ali bin Abi Thalib melamar Fatimah, langsung diterima oleh Rasulullah Saw. Hasan dan Husain yang merupakan anak Fatimah dan Ali Kw. dinisbahkan sebagai anak keturunan Rasulullah Saw. Kepada Hasan-Husain garis keturunan disandarkan. 
Patut juga penulis, kemukakan bahwa keistimewaan Fatimah lainnya adalah beliau tidak pernah mengalami haid, itulah sebabnya beliau digelari az-Zahrah, demikian keterangan yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili dalam karya Tafsirnya, yakni Tafsir al-Munir.
Sebagai closing statement, penulis akan mengemukakan sabda Rasulullah Saw. terkait perempuan-perempuan hebat secara power full. Beliau berkata: " Haththa Rasulullah Saw. fi al-ardh arba'ata huthuuth, qaala: atadruuna ma haaza? Qaaluu: Allah wa Rasuluhu a'lam. Fa qaala Rasulullah Saw: "afdhalu nisaai ahli al-jannah, Khadijah binti Khulaid, wa Fatimah binti Muhammad wa Maryam ibnatu Imran wa Asiyah binti Muzaahim imraatu Fir'aun radhiyah Allah anhunna ajmain. 
Artinya: Rasulullah Saw. membuat empat garis di tanah. Beliau lalu berkata:" Tahukah kalian, apa maksudnya ini? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: Perempuan penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khulaid, Fatimah binti Muhammad Saw., Maryam binti Imran dan Asiah binti Muzahim, istri Fir'aun. (Hadis Riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Abbas). 
Demikianlah gambaran keempat perempuan hebat secara power Full. Wa Allah A'lam. Semoga manfaat dan mencerahkan. 
Makassar, 12 Januari 2022.

KHAZANAH SEJARAH:MATAHARI ISLAM AKAN TERBIT DI DUNIA BARAT

by Ahmad M. Sewang  Bagian Pertama   Judul di atas, sebuah prediksi, berdasarkan beberapa argumentasi, yaitu: 1. Sejak setelah Perang Dunia ...