Postingan

BAGAIMANA CARA AL GAZALI MENULIS BANYAK BUKU DI ABAD KE 12?

Oleh Ahmad M. Sewang Imam Al-Ghazali menulis 47 buku dalam usia relatif singkat, yaitu 54 tahun. Berkat kecerdasan luar biasa, daya ingat kuat, serta penguasaan ilmu. Ditunjang oleh kemajuan zaman itu, tempat kertas dan pusat ilmu sudah berkembang pesat.  Pada hal di abad ke-12 bisa dibayangkan begitu susahnya literatur untuk membaca. Dapat dipahami jika belum ada footnote masa itu. Beda dengan sekarang kepustakaan dapat dikata, sudah ada dalam satu genggaman berupa Hendpone. Faktor Utama Produktivitas Al-Ghazali Kejeniusan dan daya Ingat ingat yang kuat. Al-Ghazali memiliki daya hafal dan ketajaman berpikir tinggi sejak muda sehingga mampu merangkum berbagai disiplin ilmu dengan cepat. Fase Uzlah (Pengasingan Diri): Selama bertahun-tahun dalam pengembaraan dan perenungan spiritual, ia menggunakan waktu sunyi tersebut untuk merenung dan menuangkan gagasan murninya ke atas tulisan. Dukungan Tradisi Ilmiah: Pada abad ke-12 M, dunia Islam (terutama Persia dan Baghdad) telah mengenal i...

1. UMAR BIN KHATTAB

 1. UMAR BIN KHATTAB Oleh Ahmad M. Sewang  Umar bin Khattab (sekitar 584–644 M) adalah khalifah kedua dalam sejarah Islam dan salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad saw. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, berani, adil, sederhana, serta memiliki kemampuan yang besar dalam mengelola pemerintahan.  Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Islam berkembang dengan sangat pesat dan berbagai lembaga pemerintahan mulai ditata secara lebih sistematis. Masa Muda dan Penentangannya terhadap Islam Umar bin Khattab lahir di Makkah sekitar tahun 584 M dari Bani Adi, salah satu kabilah dalam suku Quraisy. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda yang kuat, cerdas, berani, dan memiliki watak tegas. Kemampuan dan keberaniannya membuat ia disegani di kalangan masyarakat Quraisy. Sebelum memeluk Islam, Umar termasuk orang yang keras menentang dakwah Nabi Muhammad saw. Ia bahkan pernah berusaha menghalangi dan menekan kaum Muslimin yang masih lemah di Makkah.  Sikapnya pada masa itu...

AWAL TERJADINYA KONFLIK ANTARA SAINTIS DAN AGAMAWAN

Oleh Ahmad M. Sewang Pada awal abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1616, terjadi konflik antara pandangan ilmiah yang dikemukakan para saintis dan penafsiran doktrin keagamaan mengenai kedudukan bumi dan matahari dalam tata surya. Salah satu tokoh utama dalam konflik tersebut adalah Galileo Galilei, yang mendukung teori heliosentris, yakni pandangan bahwa bumi mengelilingi matahari. Pandangan ini pada saat itu dianggap bertentangan dengan penafsiran Kitab Suci yang secara umum dipahami dalam kerangka geosentris, yaitu bumi ditempatkan sebagai pusat alam semesta. Inti Permasalahan Galileo mendukung gagasan heliosentris yang sebelumnya dikemukakan oleh Nikolaus Kopernikus. Menurut teori tersebut, matahari merupakan pusat tata surya dan bumi bergerak mengelilinginya. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan yang dominan dalam Gereja pada masa itu, yang masih mempertahankan sistem geosentris Ptolemaik dan menghubungkannya dengan penafsiran tertentu terhadap Kitab Suci. Pada tahun 1616, I...

MANUSIA SEDANG HIDUP DALAM PERUBAHAN (8)

Oleh Ahmad M. Sewang Teori perubahan Peter Russell berfokus pada akselerasi evolusi dan transformasi kesadaran manusia dalam menghadapi krisis global akibat perubahan zaman yang bergerak secara eksponensial. Sebagai yang telah ditulis bahwa Peter Russell berteori bahwa manusia sedang dalam prrubahan bersamaan dengan ditemukannya tulisan pada tahun pertama Masehi. Mulanya perubahan itu sangat lambat baik volume atau pun pelipetgandaan bahkan awalnya memakan waktu 5000 tahun baru terjadi pelipatgandaan. Tetapi, semakin ke sini, semakin cepat perubahan itu. Sekarang, hanya memerlukan waktu 1,8 tahun terjadi lagi pelipatgandaan bahkan laporan terakhir lebih cepat lagi. Di samping lebih cepat, juga lebih comprt atau lebih berkualitas dan lebih dinikmati. Agar lebih meyakinkan para pembaca. Alangkah baiknya jika saya memperkenalkan, siapa itu Peter Russell dan bagaimana biografinya? Latar Belakang: Peter Russell adalah seorang ilmuwan, penulis, dan pembicara asal Inggris yang dikenal sebagai...

MANUSIA SEDANG HIDUP DALAM PERUBAHAN (7)

Oleh Ahmad M. Sewang Saya masih ingat ketika masih remaja, sekitar usia 15 tahun, saat duduk di Tsanawiah pada tahun 1967. Pada waktu itu, hampir semua ulama di kampung  berpaham teologi Asy'ariyah dan memandang paham Mu'tazilah sebagai paham yang sesat dan harus dihindari. Paham Asy'ariyah lebih menekankan pada kekuasaan mutlak Tuhan, dengan berpegang pada ayat Al-Qur'an, antara lain: “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Namun, setelah melanjutkan studi di Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kami mulai mempelajari sejarah pemikiran teologi Islam lainnya, termasuk teologi rasional Mu'tazilah. Dalam pemikiran Mu'tazilah, seakan-akan Tuhan memberikan ruang yang luas kepada manusia untuk menjalankan hukum alam atau sunnatullah. Pandangan ini juga memiliki dasar dalam Al-Qur'an bahwa Allah tidak akan mengubah ketetapan-Nya atau hukum-Nya yang berlaku di alam semesta.  Selain itu, terdapat pula ayat-ayat yang mendorong manusia un...

MANUSIA SEDANG HIDUP DALAM PERUBAHAN (4)

Oleh Ahmad M. Sewang Guru saya yang mulia berpesan bahwa agar seri artikel ini semakin meyakinkan, perlu diperkenalkan siapa Peter Russell dan bagaimana biografinya? Saya berjanji, pada akhir seri ini amanah tersebut akan saya laksanakan dengan memadukannya dengan pengalaman pribadi. Bagi saya, pengalaman yang dialami sendiri merupakan salah satu bentuk data yang objektif karena bersumber dari apa yang benar-benar pernah dialami. Dahulu, ketika masih remaja, di kampung kami belum ada perpustakaan. Keadaan itu menyebabkan kesempatan untuk membaca sangat terbatas. Bahkan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia pun belum kami kenal. Setelah meninggalkan kampung menuju ibu kota kabupaten untuk melanjutkan sekolah di SP IAIN tahun 1972, barulah saya mengenal dan membaca tafsir karya Mahmud Yunus. Media informasi satu-satunya yang tersedia di kampung pada waktu itu adalah radio. Itu pun antenanya harus dibuat tinggi, bahkan hampir setinggi pohon bambu.  Radio juga masih merupakan barang ...

H. FADLI LURAN: SIAP BERKURBAN DEMI PENGEMBANGAN AGAMA Oleh Ahmad M. Sewang

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., adalah salah satu ulama yang mendapatkan keberkahan besar. Selain dicintai Allah SWT, beliau juga dihormati dan dikagumi oleh banyak orang. Ketika menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Al-Azhar, pembimbingnya—yang seorang tunanetra—mengungkapkan bahwa ilmunya sudah mencukupi untuk meraih gelar doktor. Namun, Quraish Shihab menjawab dengan penuh kerendahan hati, "Doktor di Indonesia ibarat SIM, harus dimiliki agar bisa berkiprah lebih luas." Akhirnya, beliau berhasil menyelesaikan disertasinya dengan predikat mumtaz (sempurna), menjadi doktor pertama dalam ilmu tafsir di Asia Tenggara. Sekembalinya ke Indonesia, banyak pihak menginginkan agar beliau mengabdi di tempat mereka. Ulama dan pemimpin di Makassar berharap beliau menetap di tanah kelahirannya, sementara ilmuwan di Jakarta menginginkan beliau berkarya di ibu kota agar manfaat keilmuannya bisa dirasakan lebih luas. Di Makassar, seorang saudagar bernama H. Fadli Luran, yang mem...