10. PROF. DR. B. J. HABIBIE: PENDIRI DAN KETUA UMUM PERTAMA ICMI
Oleh Ahmad M. Sewang
Baharuddin Jusuf Habibie, yang lebih dikenal dengan nama B. J. Habibie, adalah Presiden Republik Indonesia ketiga, seorang ilmuwan dan teknokrat terkemuka, serta tokoh sentral pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Beliau juga dipercaya menjadi Ketua Umum ICMI yang pertama.
Biografi Singkat B. J. Habibie
Kelahiran dan pendidikan. B. J. Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau menempuh pendidikan teknik penerbangan di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman, dan meraih gelar doktor di bidang teknik pada tahun 1965. Pendidikan dan pengalamannya di Jerman menjadi landasan penting bagi pengembangan keahliannya dalam teknologi penerbangan.
Karier di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Habibie pernah berkarier di industri dirgantara Jerman sebelum kembali ke Indonesia dan mengemban berbagai tanggung jawab penting dalam pemerintahan. Beliau menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi serta memimpin Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dalam bidang industri penerbangan, Habibie berperan besar dalam mengembangkan industri pesawat terbang nasional melalui IPTN, yang kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia. Salah satu proyek yang sangat lekat dengan namanya ialah pengembangan pesawat N-250.
Kepemimpinan nasional. Sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga, Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden. Beliau kemudian dilantik menjadi presiden pada Mei 1998, menyusul pengunduran diri Presiden Soeharto, dan memimpin Indonesia hingga Oktober 1999.
Masa pemerintahannya merupakan salah satu periode penting dalam sejarah Reformasi, antara lain ditandai oleh berbagai langkah demokratisasi dan perluasan kebebasan pers.
Peran dalam pendirian ICMI. Habibie merupakan tokoh utama dalam pendirian ICMI, yang dideklarasikan di Malang, Jawa Timur, pada 7 Desember 1990. Beliau terpilih menjadi Ketua Umum pertama dan memimpin organisasi tersebut selama dua periode. Di bawah kepemimpinannya, ICMI berkembang menjadi wadah berhimpunnya cendekiawan Muslim dari berbagai latar belakang keilmuan dan profesi untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Salah satu gagasan penting yang menonjol dalam pemikiran Habibie ialah perlunya mempertemukan iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Menurut gagasan ini, kemajuan teknologi perlu disertai landasan moral dan spiritual agar ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan kecanggihan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Akhir hayat. B. J. Habibie wafat di Jakarta pada 11 September 2019 dalam usia 83 tahun. Kepergiannya meninggalkan warisan penting, baik dalam pengembangan teknologi nasional maupun dalam pemikiran tentang hubungan antara kecendekiawanan, keimanan, dan pembangunan bangsa.
Catatan Penulis
Jika kita mencari nama cendekiawan Muslim Indonesia melalui Google, nama B. J. Habibie termasuk tokoh yang mudah ditemukan dan sangat menonjol. Hal ini tidak mengherankan karena beliau bukan hanya dikenal sebagai ilmuwan dan teknokrat yang menguasai teknologi penerbangan, tetapi juga sebagai tokoh bangsa yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan Indonesia.
Menurut hemat saya, salah satu sumbangan penting Habibie ialah upayanya mempertemukan dua dimensi yang tidak seharusnya dipertentangkan, yaitu iman dan takwa di satu pihak serta ilmu pengetahuan dan teknologi di pihak lain. Gagasan integrasi imtak dan iptek tersebut menjadi salah satu ciri penting pemikiran yang dikembangkan dalam lingkungan ICMI.
Habibie memberikan pesan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi. Kemajuan itu juga harus disertai tanggung jawab moral, keimanan, dan ketakwaan. Sebaliknya, kehidupan beragama perlu berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar umat Islam mampu berperan aktif dalam membangun peradaban.
Dalam perspektif sejarah kecendekiawanan Muslim Indonesia, Habibie merupakan contoh tokoh yang berusaha menghubungkan dunia ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keagamaan. Keteladanannya layak dikaji, bukan untuk menempatkannya di atas kritik, melainkan untuk memahami gagasan, karya, kontribusi, dan keterbatasannya secara objektif.
Semoga warisan pemikiran dan pengabdian B. J. Habibie dapat menginspirasi generasi penerus untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan iman, takwa, integritas, serta kepedulian terhadap kemanusiaan.
Bulan Mei tahun ini, saya diundang untuk pidato pembukaan di Musda ICMI Parepare di Aula B.J. Habibie tentang Menyikapi Persatuan Umat: Persfektif Sosio Historis. Saya berharap pada Musda, semoga di Aula ini akan lahir Habibie-Habibie baru.
Wassalam.
Kompleks GFM, 17 Oktober 2026
Komentar