SAYA SEDIH: YUNIOR SAYA TIDAK MEMANFAATKAN KEHADIRAN ILMUWAN
Oleh Ahmad M. Sewang
Membaca catatan Prof. WH, terus terang saya merasa sedih. Bukan karena ingin menyalahkan yunior saya, tetapi karena saya melihat ada kesempatan yang sangat berharga untuk memperluas wawasan keilmuan yang tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal. Apalagi kesempatan itu datang melalui seorang ilmuwan Australia, Campbell, yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang patut diperkenalkan kepada para mahasiswa.
Ketika saya masih mendapat amanah sebagai Direktur Program Pascasarjana (PPs), saya sengaja mencari ilmuwan dan akademisi yang memiliki kelebihan di bidangnya untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa. Bagi saya, kuliah umum merupakan salah satu cara penting untuk membuka wawasan mahasiswa agar mereka tidak hanya terpaku pada bidang spesialisasi yang sedang ditekuninya.
Menurut saya, perkuliahan setidaknya memiliki dua fungsi.
Pertama, perkuliahan di dalam kelas bertujuan memperdalam bidang keilmuan yang menjadi spesialisasi mahasiswa.
Kedua, kuliah umum bertujuan memperluas wawasan. Melalui kuliah umum, mahasiswa dapat berjumpa dengan berbagai pemikiran, pengalaman, dan perspektif yang mungkin tidak mereka dapatkan di dalam kelas. Dengan wawasan yang luas itu pula, ketika mereka menjadi alumni, diharapkan mereka mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan pada waktunya dapat pula berbagi wawasan dengan orang lain.
Saya teringat pandangan Prof. Quraish Shihab bahwa semakin luas wawasan seseorang, semakin terbuka pula dirinya terhadap perbedaan pendapat. Wawasan yang luas tidak membuat seseorang kehilangan pendirian, tetapi justru mengajarkannya untuk menghargai pandangan orang lain.
Pengalaman yang sama baru-baru ini saya rasakan ketika mendapat amanah untuk memberikan seminar tentang Syekh Yusuf al-Makassari di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jakarta, yang dimotivasi oleh organisasi UNESCO PBB. Dalam kesempatan itu saya mengemukakan pertanyaan: Mengapa Syekh Yusuf al-Makassari masih dikenang, meskipun beliau telah berlalu sekitar empat abad?
Jawabannya, antara lain, karena beliau meninggalkan karya tulis.
Menurut hasil penelitian Prof. Hj. Nabila Lubis, Syekh Yusuf meninggalkan sekitar 23 karya yang terlacak melalui penelitian di tiga kawasan, yaitu Eropa, Afrika Selatan, dan Asia. Di Eropa, antara lain ditemukan di Leiden University; di Afrika Selatan di Cape Town; sedangkan di Asia jejak karyanya ditemukan antara lain di Banten dan Makassar.
Di sinilah pentingnya tulisan sebagai media untuk mewariskan ilmu. Seorang ulama atau ilmuwan dapat meninggalkan dunia, tetapi gagasannya tetap hidup melalui karya yang ditinggalkannya.
Berbeda dengan sebagian ulama yang datang setelah Syekh Yusuf. Ketika mereka pergi, nama dan pemikirannya ikut perlahan dilupakan karena tidak meninggalkan karya yang dapat menjadi media untuk mengingat dan mempelajari kembali pemikirannya.
Dalam hal ini, saya melihat ada persamaan antara Syekh Yusuf al-Makassari dan ulama besar Minangkabau, Buya Hamka. Buya Hamka bahkan meninggalkan karya yang sangat banyak, sekitar 119 buku.
Namun, terdapat perbedaan penting dalam jangkauan pengaruhnya. Syekh Yusuf menulis banyak karyanya dalam bahasa Arab, yang pada zamannya merupakan salah satu bahasa utama dunia Islam. Karena itu, pemikiran Syekh Yusuf dapat menembus batas wilayah dan dikenal di berbagai kawasan karena beluau menulisnya dalam bahasa dunia (Arab).
Sementara itu, Buya Hamka lebih banyak menulis dalam bahasa Indonesia. Hal ini bukan berarti karya Hamka kurang penting. Justru karya-karyanya memiliki pengaruh yang sangat besar di Indonesia dan juga menjangkau negeri-negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Dalam catatan saya bahwa beliau adalah orang pertama yang menggelobal sebelum era globalisasi.
Beliau juga dikenal pahlawan di dua negara yang berbeda, yaitu Indonesia tahun 1982 yang diangkat oleh Presiden RI, dan Presiden Afrika Selatan. Nelson Mandela mengakui sebagai penyebar Islam pertama di Afrika Selatan.
Sekalipun beliau berada dalam pengasingan dan melakukan perlawanan pada kolonial, tidaklah menjadi hambatan untuk menulis, maka walau sudah empat abad sudah berlalu, beliau tetap dikenang sejarah.
Dari pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa ilmu harus terus dibagikan dan wawasan harus terus diperluas. Karena itu, jika ada ilmuwan dari luar negeri yang datang dan memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu kepada mahasiswa, menurut saya kesempatan seperti itu sangat berharga.
Jangan sampai kesempatan yang mungkin hanya datang sekali, berlalu begitu saja.
Wasalam,
Kompleks GFM, 12 September 2026
Komentar