MANUSIA SEDANG HIDUP DALAM PERUBAHAN (4)
Oleh Ahmad M. Sewang
Guru saya yang mulia berpesan bahwa agar seri artikel ini semakin meyakinkan, perlu diperkenalkan siapa Peter Russell dan bagaimana biografinya?
Saya berjanji, pada akhir seri ini amanah tersebut akan saya laksanakan dengan memadukannya dengan pengalaman pribadi. Bagi saya, pengalaman yang dialami sendiri merupakan salah satu bentuk data yang objektif karena bersumber dari apa yang benar-benar pernah dialami.
Dahulu, ketika masih remaja, di kampung kami belum ada perpustakaan. Keadaan itu menyebabkan kesempatan untuk membaca sangat terbatas. Bahkan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia pun belum kami kenal. Setelah meninggalkan kampung menuju ibu kota kabupaten untuk melanjutkan sekolah di SP IAIN tahun 1972, barulah saya mengenal dan membaca tafsir karya Mahmud Yunus.
Media informasi satu-satunya yang tersedia di kampung pada waktu itu adalah radio. Itu pun antenanya harus dibuat tinggi, bahkan hampir setinggi pohon bambu.
Radio juga masih merupakan barang mewah dan hanya sedikit orang yang memilikinya. Karena itu, kami sering berpindah-pindah rumah hanya untuk ikut mendengarkan siaran radio.
Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. Radio bukan lagi satu-satunya media informasi. Televisi telah menggantikannya sebagai media yang lebih populer. Bahkan televisi yang dahulu merupakan barang mewah, sekarang tahun 2000-an hampir dapat ditemukan di setiap rumah di kampung.
Ketika pindah ke Makassar untuk melanjutkan studi S1 pada tahun 1973, saya mengalami perubahan teknologi informasi yang lain. Kebetulan saya kos di rumah Firman Saeni di Jalan Mappanyukki, dekat stasiun televisi. Pada malam hari, kami sesekali menonton televisi umum di lapangan, suasananya seperti menonton layar tancap.
Ketika pertama kali melihat televisi, saya sangat kagum. Gambar manusia di dalamnya dapat bergerak dan berbicara, meskipun televisi yang kami lihat masih hitam putih.
Sekarang televisi sudah berwarna dan teknologi penyiarannya semakin berkembang. Salah satu hobi saya adalah menonton tinju. Ketika ada program tinju di TV One pada Minggu pagi. Pernah suatu ketika saya selesai bertugas sebagai asesor perguruan tinggi di Solo. Agar tidak kehilangan kesempatan menonton, saya meminta pegawai di tempat saya bertugas untuk mempersiapkan keberangkatan pada waktu subuh. Saya bahkan sengaja menyewa kamar hotel dekat bandara agar dapat menonton siaran tersebut.
Sekarang, saya tidak perlu lagi melakukan cara seperti dahulu. Kapan pun ingin menonton, saya dapat memanfaatkan IndiHome dan menyesuaikan waktu menonton dengan kesempatan yang ada.
Ketika Piala Dunia yang baru berlalu berlangsung, saya tidak perlu begadang sepanjang malam yang dapat mengganggu waktu istirahat. Jika ada kesempatan, saya tinggal mengatur siaran untuk menontonnya kemudian.
Ternyata, perkembangan teknologi memang turut memanjakan para pemirsanya.
Perubahan dalam Dunia Perdagangan
Sekarang mari kita melihat perubahan dalam dunia perdagangan. Jika pelaku usaha tetap bertahan dengan cara lama dan menolak mengikuti tren perubahan zaman, yakinlah bahwa pada akhirnya mereka akan menyesal dan mengalami kerugian.
Mereka dapat diibaratkan seperti para sopir taksi konvensional yang dahulu ramai-ramai melakukan demonstrasi dan menjadikan bandara sebagai salah satu benteng terakhir untuk mempertahankan sistem lama. Namun, pemerintah kemudian membuat aturan baru yang membuka ruang bagi berbagai bentuk usaha transportasi. Taksi konvensional pun harus beradaptasi, sementara layanan transportasi berbasis aplikasi, seperti Grab, mulai bebas beroperasi di berbagai tempat, termasuk bandara.
Perubahan itu menunjukkan bahwa dunia usaha tidak dapat hanya mengandalkan cara lama. Taksi konvensional pun akan tetap bertahan dan berkembang apabila berani melakukan perubahan, termasuk menyesuaikan diri dengan sistem aplikasi digital.
Perubahan dalam Dunia E-Commercial
Dalam dunia perdagangan elektronik atau e-commerce, perubahannya juga berlangsung sangat cepat.
Kemunculan e-commercal telah mengubah cara masyarakat melakukan transaksi dan secara perlahan memengaruhi bisnis konvensional. Kita dapat melihat bagaimana sejumlah gerai dan toko ritel, baik lokal maupun asing, tumbang satu per satu. Beberapa perusahaan bahkan berada di ambang kebangkrutan.
Fenomena tersebut pernah terlihat pada sejumlah perusahaan ritel, seperti 7-Eleven, Matahari Department Store, Nyonya Meneer, hingga Toys "R" Us yang pernah mengalami tekanan berat akibat persoalan utang dan perubahan kondisi bisnis.
Artinya, hampir semua segmen kehidupan sedang mengalami transformasi. Karena itu, jika ingin tetap bertahan (survive), dunia usaha harus mampu mempelajari perubahan perilaku konsumen yang mulai bergerak menuju pola baru, yaitu berbelanja secara daring atau online.
Dari pengalaman sederhana tersebut, saya semakin memahami bahwa perubahan bukan hanya terjadi dalam teori, tetapi hadir dan dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil polling sebuah lembaga bahwa konsumen sekarang telah banyak transaksi barang lewat E-comersial.
Besok kita akan membahas teori perubahan ini dalam dunia agama.
Wassalam,
Kompleks GFM, 31 Agustus 2026
Komentar