Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

15 Januari 2022

KHAZANAH SEJARAH:SELAMAT JALAN GURU DAN SAHABATKU DRS. K.H. DAHLAN YUSUF

by Ahmad M. Sewang 

Semalam saya diminta membawakan acara ta'ziyah malam kedua atas wafatnya Drs. K.H. Dahlan Yusuf. Berhubung karena saya masih dalam pemulihan, tidak bisa lama bicara, maka saya minta bahwa hanya bisa memberi testimoni dan selanjutnya yang akan memberi tauziah adalah Dinda Dr. Ilham Hamid. Ternyata tauziah beliau sangat baik dan melegakan, sekalipun diminta secara mendadak. Di sana saya sadar bahwa sudah banyak generasi muda bermunculan sebagai estafet generasi sebelumnya dan di sana pula kegembiraan tak terkira dalam hati sebab telah terjadi regenerasi positif dan prospektif.

Drs. K.H. Dahlan Yusuf adalah sahabat, guru, dan senior saya di IMMIM. Beliau termasuk orang kepercayaan H. Fadli Luran. Tidak heran jika beliau seorang yang sangat toleran dalam berinteraksi, sama dengan orang yang memberi kepercayaan padanya. Biasanya, sehabis pertemuan di DPP IMMIM pada periode kepemimpinan Drs. AGH Muhammad Ahmad, saya sering bersama pulang satu mobil dengan beliau, berhubung kami satu arah. Kesempatan itulah saya manfaatkan untuk mendengar pengalaman beliau. Ada sebuah kisah nyata yang sangat membekas, sehingga sejak itu tidak bisa saya lupakan. Kisah itu berisi sikap toleransi dua orang tokoh besar: Prof. Dr. Hamka dan K.H. Saleh Thaha.

Segera setelah usai G30S, Prof. Dr  Hamka pun keluar dari penjara Orde Lama. Hamka kemudian memprogramkan penyebaran dakwah Islam ke daerah-daerah. Di antara daerah yang dikunjungi adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Biasanya jika ada tokoh Islam Nasionalis berkunjung ke Makassar, mereka tidak menginap di hotel melainkan di rumah para tokoh, seperti rumah H. Fadli Luran, di Jl. Lanto dg Pasewang. Sebagai contoh pada kunjungan Muhammad Hatta dan Buya Hamka. Dalam kunjungan Buya Hamka, H. Fadli Luran meminta bahwa yang menemani Buya selama di Makassar adalah orang kepercayaannya, yaitu Drs. K.H. Dahlan Yusuf.

Program dakwah Buya Hamka saat itu adalah salat subuh di Masjid Maradekaya, demikian Dahlan Yusuf memulai kisahnya. Subuh itu Subuh Jumat dan sebagai Imam Masjid Maradekaya adalah K.H. Saleh Thaha, beliau juga menjabat sebagai Kepala Pengadilan Tinggi Islam Indonesia Timur. Ketika Buya memasuki Masjid Maradekaya beliau disambut hangat koleganya K.H. Saleh Thaha dan langsung meminta kiranya Buya berkenan memimpin Salat Subuh. Buya pun bertanya pada Pak Kyai, "Apa kita kunut?" "Terserah sama Buya", jawab pak Kyai." Nampaknya Buya belum puas atas jawaban Pak Kyai. Buya melanjutkan pertanyaan yang sama pada jamaah, "Hai jamaah, apakah kita kunut?" Jamaah serentak menjawab, "ya Buya." Buya bertanya lagi, "Apa kita sujud tilawah?" Jamaah menjawab, "Sujud tilawah sudah menjadi tradisi kami setiap Subuh Jumat." Pertanyaan Buya tersebut, sehubungan dengan tradisi Buya sebagai pimpinan Muhammadiyah adalah tidak kunut, sebab beliau menganggapnya sebagai masalah furu'. Berbeda dengan Tradisi NU yang diperpegangi oleh K.H. Saleh Thaha bahwa kunut adalah sunnah muakkad, bila ditinggalkan harus diganti dengan sujud sahwi.

Setelah itu, Buyalah yang jadi Imam, beliau kunut dan sujud tilawah. Demikian itulah kisah almarhum K.H. Dahlan Yusuf yang saya tidak bisa lupakan dan sering juga saya sampaikan di depan jamaah. Jadi, jika merujuk pada pandangan hukama, من علم حرفا فهو مولاه. Dari kisa ini saya menganggap bahwa almarhum adalah guru saya.

Natijah:
1. Kedua tokoh, Buya Hamka dan KH. Saleh Thaha, telah memberi keteladanan, mereka sangat toleran dalam masalah furu. Sekalipun pada masanya perbedaan furu' masih sangat tajam saat itu. K.H. Saleh Thaha sebagai Imam dan kunut, mempersilahkan Buya menjadi Imam yang Kyai tahu bahwa Buya tidak memiliki tradisi kunut. 
2. Andai kedua tokoh ini masih hidup, saya akan mengusulkan bahwa keduanya sangat pantas mendapatkan Fadli Luran Award yang diberikan pada para tokoh yang memiliki semangat toleran. Sampai sekarang di IMMIM tentang msalah furu' diserahkan pada umat. Yang dilarang jika tidak ingin salat karena berbeda dengan Imam dalam masalah furu', sementara yang dituntut adalah mengikuti Imam.
3. Terima kasih pada guru dan sahabatku almarhum, K.H. Dahlan Yusuf atas kisahnya sangat menginsfirasi. Dengan kisah teladan ini, siapa saja mendengarkan kisah ini dan mengamalkanya, saya yakin akan menjadi amal jariah yang pahalanya terus-menerus mengalir pada beliau.

Wasalam,
Makassar, 16 Januari 2022

Tidak ada komentar:

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto  adalah gedung pertemuan yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4,  Kelurahan Pasar ,  Kecamatan Lembah Sega...