Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

26 Januari 2022

ALAM YA'NI? BELUM TIBAKAH WAKTUNYA?.. MENGAPA?

Ahmad Mujahid

Tahun lama kembali pergi dan ditinggalkan, di sisi lain, tahun baru kembali datang dan disongsong. Setiap waktu kehidupan yang telah dilewati dan dijalani, termasuk waktu kehidupan dalam tahun, itu petanda waktu kehidupan setiap manusia semakin dekat pada batas akhirnya atau menuju kepada kesempurnaan. Dengan perkataan lain, ia semakin dekat kepada kewafatannya. Ajalnya semakin mendekatinya. Inilah hakekat makna dari sudut pandang spiritual dari melepas tahun lama dan menyambut atau menyongsong tahun baru..

Setiap manusia, setelah melewati tahun lama, pasti ia memiliki catatan amal, apakah itu catatan amal keburukan dan atau catatan amal kebajikan. Penyebutan catatan amal keburukan didahulukan baru disusul penyebutan catatan amal kebajikan, berkonotasi makna, yaitu; hendaknya setiap diri, terkhusus diri penulis, lebih fokus membaca ulang catatan-catatan amal keburukannya sembari melupakan saja catatan-catatan amal kebajikan. 

Biar dan cukuplah cacatan amal kebajikan menjadi urusan malaikat Raqib. Dia tidak pernah salah catat. Semua kebajikan seseorang tertulis rapi dalam buku catatan amal kebajikannya. Jadi tak perlu diurus dan dirisaukan. Sekali lagi lupakan saja catatan amal kebajikanmu. Tujuannya supaya selalu merasa tidak punya kebajikan dan paling tidak selalu merasa kurang dalam kebajikan. Dengan demikian, akan senantiasa termotivasi untuk berbuat dan terus membuat amal-amal kebajikan., serta tidak merasa puas dalam melakukan kebajikan. Oleh karena di akhirat, setiap orang akan menyesal, karena kekurangan kebajikan. Setiap orang berkata; mengapa saya tidak melakukan kebajikan ini... dan kebajikan itu..? Mengapa? Dan masih banyak mengapa? yang lain. 

Imam Ali Kw. pernah berpesan dan menasehatkan, yaitu: "Lupakan kebajikanmu dan ingatlah keburukanmu...."   Menulis penulis, sudah saatnya melupakan amalan kebajikan kita. Sebaliknya lebih fokus mengingat dan mereviewer amal keburukan kita. Sudah waktunya sibuk mengingat, mengurus keburukan diri sendiri sembari melupakan keburukan orang lain dan kebajikan diri sendiri. 

Sudah waktunya membuat matris keburukan dan kejahatan yang telah tercatat dalam buku catatan amal keburukan kita masing-masing. Kemudian kita laporkan, adukan, rintihkan, dengan bersimpuh dan sujud tersungkur beristigfar dan taubat di hadapan Allah. Hanya Dia yang Maha Kuasa merubah keadaan buruk berganti keadaan baik. Dia Maha berkehendak dan berkuasa memindahkan siapa pun yang dikehandakinya dan menghendaki perpindahan, dari maqam dan ahwal kelalaian rohani naik menuju keterjagaan rohani.

Belum tibakah waktunya, kita merintihkan dan mengadukan kelalaian kalbu kita dalam berbagai amalan ibadah kita kepada Allah?... Mengapa kita masih saja berlama-lama, merasa cukup dan nyaman, berhenti pada dhahirnya ibadah minus makna batin?

Belum tibakah waktunya, kita berusaha keras dengan memohon pertolongan Allah untuk dapat berpindah dari zona kotoran berbau busuk dan kegelisaan akhlak tercela, seperti merasa diri paling baik, paling hebat, bersikap angkuh, sombong, iri hati, dendam, ingin populer dan terkenal, ujub, riya dan sum'a, menuju zona nyaman dan kesucian dan bau harum akhlak karimah, seperti rendah hati, tawadhu, penyabar, pemaaf, mengutamakan orang lain, ikhlas, dan lain-lain. Mengapa kita masih saja, merasa nyaman dan senang dihormati, berharap dihargai, dibesarkan dan diagungkan, padahal kita banyak menyembunyikan dan membungkus bau busuk kotoran lahir maupun batin. 

Belum tibakah waktunya, di waktu ashar, saat senja menjelan, tubuh fisik mulai kembali melemah dan terus melemah, ajal semakin dekat, berada di ujung tanduk kehidupan, di depan pintu kewafatan, yakni di usia 40-50 tahun, sejatinya kita lebih fokus menjalani hidup dengan oreintasi akhirat dan meninggalkan oreitasi dunia yang melelahkan dan tiada puasnya; di usia 60 tahun, kita lebih fokus pada reski batin, berupa kemampaun inabah, kembali kepada Allah, bukan lagi fokus pada reski berupa kenikmatan fisik-jasmaniah sebagai kesenangan hawa nafsu; di usia 70 tahun, kita lebih ingin dicintai oleh penduduk langit dibanding cinta penduduk dunia. 

Di usia 80 tahun, kita lebih kokoh dalam kebajikan terbebas dari keburukan sedikit pun, dosa telah terampuni tanpa sisa sedikitpun. Dan di usia 90 tahun, kita telah menjadi tawanan Allah di bumi, sebagai petanda dicintai Allah. Dibanding masih saja terkait kuat dengan dunia, sementara fisik jasmania telah lemah dan berada di puncak kelemahannya. Sudah tidak mampu lagi merasakan kenikmatan bumi dan kenyamanannya. 

Mengapa di kala tubuh fisik telah mulai melemah, jiwa, kalbu dan rohani kita, masih saja berkwalitas dan bersifat dhulmani. Dipenuhi hiasan kotoran penyakit-penyakit hati. Akibatnya wafat atau waktu kehidupan telah sempurna dalam keadaan mati hati, berjiwa ammarah, buta inti kehidupan dan terhijab dari sirrur asrar ilahi (rahasia-rahasia Allah)..iyazu billah.

Bukankah sudah waktunya, bagi orang-orang yang mengaku beriman, berhati khusyuk di kala berzikir dan berinteraksi dengan al-Quran? Bukankah sudah waktunya, melupakan semua makhluk termasuk fana dengan diri sendiri, lalu baqiyah (tinggallah) Allah? Bukankah sudah saatnya, tidak lagi melihat apa dan siapa pun dalam keramaian makhluk di kehidupan fana ini, tetapi hanya melihat, merasakan, menyadari dan menyaksikan ketunggalan Allah.
Ya Allah Tuhanku, Rabb yang Rahman Rahiim, mengapa hingga saat ini, aku masih berhati lalai dan bahkan cenderung dan nyaris berhati beku dan mati? Mengapa nama-nama-Mu hanya menjadi ucapan lisanku tak menggetarkan dan mencahayai kalbuku? Mengapa bacaan-bacaan Quranku, hanya berhenti di kerongkonganku, tak menembus relung-relung kalbuku? Mengapa ibadah-ibadahku hanya berhenti pada syariat lahir fighiyah saja, tidak menjadi thariqah mencapai hakekat puncak moralitas akhlak yang agung. Ya Allah, tolong pindahkan aku dari keadaan yang demikian. Jadikan keadaanku lebih baik, ahsanul ahwal. Jangan matikan aku kecuali, kalbuku telah merasakan dan berada dalam puncak penyerahan diri kepada-Mu. Amiin ya Rabbal alamiin. 

Wa Allah A'lam. Semoga manfaat dan mencerahkan. Selamat tahun baru. Semoga selalu dalam rahmat kasih sayang Allah. Terbebas dari pengaruh ssntuhan bisikan iblis.
Makassar 1 Januari 2022

Tidak ada komentar:

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto  adalah gedung pertemuan yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4,  Kelurahan Pasar ,  Kecamatan Lembah Sega...