Dr. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd.

DR. BADRUZZAMAN PAT BADRUN, S.Ag., M.Pd.

13 Desember 2020

IN MEMORIAM SAHABATKU PROF. DR. ABD RAHMAN HALIM, M.AG.

by Ahmad M. Sewang 

Orang pertama yang saya temui setelah kembali dari riset di Negeri Kincir Angin dan mempertahankannya dalam bentuk disertasi di PPs Syarif Hidayatullah Jakarta adalah almarhum Drs. (Prof. Dr.) Abd. Rahman Halim, MAg. Beliau waktu itu baru mutasi dari Kanwil Kementerian Agama RI ke IAIN Alauddin Makassar sebagai Kepala Biro Administrasi di IAIN Alauddin. Beliau sangat senior dan tidak salah jika almarhum menjadi tempat curhat bagi paguyuban asal daerah Tipalayo.

Di antara yang saya perbincangkan adalah ide penerjemahan Alquran dalam bahasa Mandar. Ide ini dilatarbelakangi pemikiran, setelah usai studi, apa yang bisa dilegacy-kan pada anak cucu di kemudian hari? Sebelumnya, telah dikonsultasikan pada Prof. Dr. Baharuddin Lopa, SH (Barlop) di Jakarta yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Pemasyarakatan. Kelihatanya Abd. Rahman Halim seorang pendengar yang baik. Barlop berpesan, kataku lanjut pada almarun, Beliau menginginkan bahwa terjemahan Alquran nantinya harus menggunakan dua bahasa: Indonesia dan bahasa Mandar baku, yaitu Mandar Balanipa. Kedua bahasa diperlukan, agar orang Mandar yang ada diperantauan dan sudah  samar-samar pengerahuan bahasa Mandarnya, bisa belajar bahasa Mandar lewat terjemahan Indonesia dan orang Mandar yang tidak mengerti bahasa Indonesia bisa mengetahui lewat terjemahan Indonesia. Mendengar itu, almarhum Prof. Dr. Abd. Rahman Halim sangat antusias dan memberi motivasi agar ide ini segera direalisasikan. Beberapa hari kemudian, beliau memperkenalkan pada saya seorang anak muda yang dinamis untuk membantu dalam penerjemahan tersebut. Mulai saat itu, ide penerjemahan Alquran menggelinding dan viral menjadi perbincangan di setiap pertemuan paguyuban Mandar sampai keluarnya SK MUI Provinsi Sulawesi Selatan. MUI memberi amanah pada saya sebagai ketua penerjemahan Alquran dalam bahasa Mandar, Drs. (Prof. Dr.) Idam Khalik Bodi sebagai sekertaris, dan Drs. Mahmud Hajar sebagai bendahara. Waktu itu Provinsi Sulbar belum terbentuk. Sejak itu pertemuan dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan para ulama dan sastrawan Mandar, yaitu Prof. Abd. Rahman Halim, Prof. Dr. K.H. Sahabuddin, Husni Djamaluddin, Dr. Suradi Yasil, Drs. Ahmad Sahur. Terkadang pertemuan diadakan di ruangan PPs IAIN Alauddin di Gunung Sari dan tetkadang di rumah. Setelah beberapa kali pertemuan, ternyata terjemahan terasa agak lambang sehingga disepakati diberikan pada Drs. (Prof. Dr.) Idam Khalik Bodi untuk menyelesaikan, walau tetap di bawah kontrol. Dalam suasana penerjemahan Alquran, Allah mempertemukan Idam Khalik Bodi dengan putri tersayang almarhum, Ulfani Rahman Halim dalam ikatan perkawinan, sebuah pertemuan di bawah keberkahan Alquran, kata Syekh Ali Jaber, guru penghapal Alquran asal Madinah.

Sejak program penerjemahan Alquran, pertemuan dengan almarhum semakin intens, selalu bertemu dalam setiap moment. Faktornya, karena memiliki ide yang sama dan kami berasal dari daerah yang sama. Bersamaan dengan itu pula, berhembus angin kencang Reformasi yang indentik dengan keinginan kuat pembentukan pemerintahan sendiri. Sulawesi Barat (Sulbar) pun ingin mendirikan provinsi baru. Dalam perjuangan pendirian Provinsi Sulbar inilah kami banyak berinteraksi, walaupun saya harus membatasi diri pada perjuangan yang bernuansa akademis, seperti seminar, lokakarya, dan sebagainya. Ala kulli hal, almarhum adalah pejuang tulen tak diragukan. Almarhum selalu memberi inspirasi positif agar tetap tegar, sekalipun sedang menghadapi banyak tantangan.

Ketika beliau menjabat Kakanwil Kementerian Agama RI Sulawesi Selatan, sebagai sahabat, saya pun aktif membantu menyukseskan program beliau dengan menulis sebuah buku sebagai pedoman ceramah para mubalig selama bulan Ramadan dengan judul, "Tema-tema Ramadan", dilengkapi pedoman singkat dalil-dalil Alquran dan hadis Nabi. Buku itu masih tersimpan baik di rak pustaka pribadi saya. Buku itu kemudian dikembangkan, saat Drs. AGH Muhammad Ahmad sebagai Ketua Umum DPP IMMIM. Karena faktor kedekatan itu pula, beliau memberi kepercayaan pada saya membawa naskah terjemahan Alquran dalam bahasa Mandar ke Rabitah Alam Islamy untuk dicetak. Dari Rabitahlah saya mendapat rekomendasi ke Mujamma' di Madinah, sehingga Terjemahan Alguran dalam bahasa Mandar adalah terjemahan pertama dalam bahasa daerah. Sebab selama ini terjemahan yang ada adalah dalam bahasa Nasional di masing-masing negara. Hal ini tidak lepas karena jasa besar Barlop yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai Dubes RI yang berkedudukan di Riyadh.
Kami bersama tim pernah berkunjung ke Mujamma' di Madinah untuk menyaksikan percetakan Alquran di sana dengan fasilitas dari pejabat Gubernur Sulbar ke-2, Syamsul Arif Rifai.

Saya tidak tahu, beberapa bulan terakhir memiliki kerinduan yang dalam untuk datang bersilaturrahmi ke beliau di Kandemen Tinambung, tempat beliau dirawat, hanya sekedar berbincang tentang nostalgia liku-liku perjuangan yang kami lewati, tetapi selalu tertunda karena covid-19. Sebelumnya, di tempat yang sama kami bertemu setelah usai lokakarya di Villa Bogor Majene untuk cetak ulang Alquran dalam bahasa Mandar. Saya singgah bertemu sambil saling tukar hadiah buku sebagai karya terakhir masing-masing, menandakan bahwa persahabatan kami adalah persahabatan pemikiran dan ilmu pengetahuan. Sayangnya, manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yang memastikan. Keinginan untuk bertemu di alam fana, sudah tidak bisa terealisasi sebab khabar twrakhir yang sampai lewat WA, justru berita kepergian beliau menghadap Allah swt. selamanya,  10 November 2020. Dia dipanggil Tuhan Sang Pemilik sesungguhnya. Sebagai sahabat, saya hanya bisa pasrah menerima khabar itu dan membacakan alfatihah serta mendoakannya semoga mendapatkan tempat layak di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan dan kesabaran. Sungguh saya merasa kehilangan seorang sahabat yang baik dan penuh perhatian. Saya hanya bisa mengutip firman Allah swt. كل من عليها فان ويبقى وجه ربك  ذو الجلال والاكرام kita semua akan kembali kepada-Nya. Menurut almarhum, "Kematian tak perlu ditakuti, melainkan perlu diakrabi sebagai sahabat. Pada waktunya malakul maut pasti akan datang menjemput setiap manusia". Persoalan kematian hanyalah masalah waktu. 

Saya akhiri tulisan ini untuk mengantar kepergian sahabatku dengn sebuah puisi:

KEMATIAN:
SEBUAH KEPASTIAN, 
PALING SERING DILUPAKAN
by Ahmad M. Sewang

Pesan Abd. Rahman Halim 
"kematian sebuah kepastian
jika malakul maut datang 
tak bisa ditunda sesaat pun
dia datang membawa misi
tugas suci dari Ilahi
membawa kita ke alam abadi
halte akhir setiap manusia"

tidak perlu takut dan gunda 
tidak pula harus disegani 
tamu yang datang 
membawa tugas 
dia sahabat perlu diakrabi
membawa insan ke alam abadi
di sis Tuhan Yang Maha Abadi
menerima balasan semua amal
dari Sang Pemilik, Allah swt.

manusia yang tak bernyali
pertanda tak beragama
takut siksa api neraka
akibat amal jahatnya
selama di dunia alam fana
dia takut kekal dalam siksa 
paling cabar tak ada tara
akibat perbuatan amal sendiri

banyak ahli berpendapat
akhirat tercipta selama di dunia
hari kemudian hanyalah akibat
amal baik selama di dunia
tempatnya pun di jannatunnim
surga penuh kesenangan
amal jahat selama bernyawa
tempatnya di dalam jahannam
dalam neraka penuh siksa 
Itulah kepastian tak terelakan
kecuali dengan rahmat-Nya
dari Tuhan Maha Penyayang

Wassalam, 
Makassar, Medio November 2020

Tidak ada komentar:

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto  adalah gedung pertemuan yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4,  Kelurahan Pasar ,  Kecamatan Lembah Sega...