25 Juli 2008

GERAKAN KEAGAMAAN "HISBUT TAHRIR" DAN LEKTUR RUJUKANNYA

Oleh : Badruzzaman


EXECUTIF SUMMERY

Gerakan reformasi yang telah dan masih terus berlangsung ditandai dengan adanya perubahan pada beberapa aspek vital kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang berdampak pada sikap, tata nilai, dan norma yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Perubahan yang nampak sangat menonjol adalah adanya tuntutan perbaikan seluruh aspek kehidupan secara cepat dan mendasar. Lemahnya kontrol hukum dan sosial dapat berakibat pada munculnya berbagai penyimpangan nilai-nilai sosial yang bertetangan dengan norma sosial dan agama yang berlaku, sehingga mengarah pada terjadinya krisis yang berkepanjangan.

Untuk dapat keluar dari krisis berkepanjangan tersebut, masyarakat Indonesia dewasa ini tengah menapak pada upaya membangun masyarakat baru yang adil dan makmur. Dalam menggapai masyarakat yang diimpikan tersebut muncul berbagai gerakan termasuk gerakan di bidang keagamaan.

Hizbut Tahrir adalah suatu gerakan keagamaan yang berbentuk partai politik. Organisasi gerakan keagaamaan yang lahir di Palestina ini mengusung cita-cita pembentukan Daulah Khilafah Islamiyah. Konteks kemunculan organisasi yang dibentuk oleh Syekh Taqiyuddin An-Nahbani adalah karena Hizbut Tahrir menilai bahwa saat ini dunia dikuasai oleh ide-ide, sistem-sistem dan hukum-hukum kufur. Seluruh negara di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, bahkan di Asia dan Timur Tengah yang mayoritas menganut Agama Islam, menggunakan asas-asas kenegaraan seperti asas-asas Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Patriotisme, fanatik golongan (sekterian), Aristokrat, atau yang berkenan dengan pemikiran-pemikiran Free Masonry.

Ide-ide Hizbut Tahrir di Indonesia diperkenalkan oleh Syaikh Abdurrahman Al Bagdadi. Kelompok ini masuk ke Indonesia pada tahun 1982 melalui Abdurrahman Al Baqdadhi, seorang aktivis HT yang tinggal di Australia. Ketika itu ia diajak oleh K.H. M. Abdullah untuk ikut mengembangkan Pesantern Al-Ghazali, Bogor. Al-Bagdadi dapat cepat berinteraksi dengan para aktivis masjid Al-Ghazali IPB Bogor. Ide-idenya memikat para aktivis dan banyak menyerbu ke kampus-kampus lain.

Sejalan dengan itu, para mahasiswa memiliki kesenangan membangun jaringan dalam tingkat nasional. Ide-ide pergerakan Hizbut Tahrir di Makassar pertama kali dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui LDK. LDK UMI saat itu memiliki jaringan dengan beberapa LDK perguruan tinggi di Indonesia, diantaranya: LDK IPB, LDK IKIP Malang, dan beberapa organisasi kemahasiswaan seperti aktivis HMI, PMII, IPM, Al-Wahdah dan beberapa lagi yang lain.

Ketika itu, para mahasiswa yang tergabung dalam LDK UMI mendapat informasi kegiatan dari LDK IKIP Malang, yaitu kegiatan kursus Bahasa Arab selama sebulan. Dalam kegiAtan tersebut mereka diperkenakan dengan ragam pergerakan Islam, termasuk ede-ide Hizbut Tahrir.

Lektur Hizbut Tahrir mayoritas mengacu pada pikiran-pikiran Syekh Taqiyuddin An-Nahbani. Taqiyuddin An-Nahbani dikenal sebagai seorang yang sangat produktif menulis dalam berbagi bidang ilmu pengetahuan, baik sistem politik Islam, sistem pemerintahan Islam, sistem hukum Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, bahkan sampai kepada sistem pergaualan Islam, dan lain-lain. Lektur tersebut saat ini ada yang berupa buku yang diterbitkan, buku-buku saku, buku serial, bahkan seleberan-selebaran yang jumlahnya mencapai ratusan. Selain ide-ide Syekh Taqiyuddin An-Nahbani beberapa buah pikiran tokoh agama lain yang sejalan dengan ide-ide Hizbut Tahrir pun dijadikan acuan lektur.

Metode gerakan (dakwah) Hibut Tahrir berbentuk aktivitas kelompok. Beberapa kelompok gerakan yang dibentuk mulai dari kelompok bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, ibadah, penerbitan buku-buku, aktifitas amar ma’ruf nahi mungkar, sampai kepada pembentukan sebuah partai politik. Dalam melakukan aktivitas tersebut Hizbut Tahrir telah merancang langkah stategis yaitu: tahap marhalah tatsqif, tahap marhalah tafa’ul ma’al ummah, dan tahap mathalah istilamil hukmi.

Hizbut Tahrir dapat dikategorikan sebagai gerakan keagamaan exogenous religious movement


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gerakan reformasi yang telah dan masih terus berlangsung ditandai dengan adanya perubahan pada beberapa aspek vital kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang berdampak pada sikap, tata nilai, dan norma yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Perubahan yang nampak sangat menonjol adalah adanya tuntutan perbaikan seluruh aspek kehidupan secara cepat dan mendasar. Iklim keterbukaan yang pada kenyataannya tidak cukup diimbangi oleh kontrol hukum dan sosial sebagai akibat rendahnya wibawa aparat penegak hukum di mata rakyat membuat legitimasi hukum menjadi sangar rendah. Lemahnya kontrol hukum dan sosial dapat berakibat pada munculnya berbagai penyimpangan nilai-nilai sosial yang bertetangan dengan norma sosial dan agama yang berlaku, sehingga mengarah pada terjadinya krisis yang berkepanjangan.

Untuk dapat keluar dari krisis berkepanjangan tersebut, masyarakat Indonesia dewasa ini tengah menapak pada upaya membangun masyarakat baru yang adil dan makmur. Banyak kiprah reformatif digulirkan dalam rangka membangun kehidupan yang lebih baik. Dalam bidang politik diupayakan berkembangnya sistem ekonomi kerakyatan, sedangkan dalam bidang kehidupan sosial kemasyarakatan dikembangkan iklim keterbukaan dan budaya dialogis. Proses tersebut semuanya bermuara pada usaha membangun struktur sosial yang kondusif bagi tumbuhnya gerakan-gerakan kultural yang mampu mendorong terciptanya masyarakat madani yang memiliki peradaban yang tinggi.

Dalam menggapai masyarakat yang diimpikan tersebut muncul berbagai gerakan. Dalam bidang politik lahir berpuluh-puluh partai politik yang memiliki idiologi yang beraneka ragam. Dalam bidang sosial kemasyarakatan lahir berbagai organisasi sosial yang bergerak dalam berbagai lapangan kehidupan termasuk di dalamnya bidang keagamaan. Di bidang keagamaan lahir berbagai organisasi keagamaan yang berwujud sebagai gerakan kontemporer seperti Form Pembela Islam (FBI), Forum Ahlusunnah wal-Jamaah, Lasykar Jihad. Lasykar Hisbullah, Laskar Jundullah, Majelis Mujahidin Indonesia, Ikhwanul Muslimin, Hisbut Tahrir dan masih banyak lagi. Kelompok-kelompok keagamaaan ini muncul sebagai reaksi atas ketidakmampuan lembaga-lembaga sosial keagamaan yang telah ada dalam menyikapi perubahan paradigma yang terjadi pada masa transformasi. Kelompok-kelompok keagamaan kontemporer tersebut muncul akibat aspirasi mereka yang tidak terwadahi. Namun pada tahap selanjutnya mereka mengembangkan interpretasi moral tidak saja berkaitan dengan perubahan tatanan sosial, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, politik, dan koreksi total terhadap kebijakasanaan pemerintah, serta cita-cita penegakan hukum yang konsisten dalam memberantas kemaksiatan serta pelanggaran moral agama.

Gerakan-gerakan kontemporer tersebut dalam waktu yang sangat singkat telah mampu menanamkan pengaruh yang kuat dalam masyarakat karena lahir pada saat kondisi masyarakat yang sedang mengalami pergeseran nilai yang tak terkendali, sebagai adanya pergolakan dan perubahan yang sangat cepat sehingga mengguncang nilai-nilai kemapanan yang sudah terbentuk sebelumnya.

Melihat fenomena di atas, maka penting kiranya dilakukan studi terhadap gerakan Islam kontemporer pada era reformasi ini untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang gerakan tersebut, sehingga dapat menjadi landasan dalam mengambil kebijakan. Kebijakan yang diambi tersebut diharapkan terhindar dari kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan ataupun praduga yang kurang proporsional terhadap gerakan tersebut. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dianggap perlu melakukan studi terhadap Gerakan Keagamaan Islam Kontemporer pada Era Reformasi.

B. Masalah Penelitian

Penelitian ini menfokukan perhatian pada organisasi gerakan keagamaan Hizbut Tahrir. Pertanyaan penelitian adalah (1). Bagaimana Profil Hizbut Tahrir di Makassar (2). Bagaimana Lektur Acuan gerakan Hizbut Tahrir di Makassar? (3). Bagaimana metode gerakan Hizbut Tahrir di Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan profil dan aktivitas berbagai organisasi keagamaan dan gerakan Islam yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sampai sekarang ini.

D. Kegunaan penelitian

Hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan bagi Pimpinan Departemen Agama dalam menyusun kebijakan dalam pengembangan organisasi keagamaan dan menangani berbagai gerakan keagamaan yang muncul di Era Reformasi ini.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

Perbincangan mengenai gerakan Islam kontemporer sesungguhnya tidak hanya memerlukan teresedianya konstruk-konstruk teoritis yang memadai, tetapi juga memerlukan tersedianya pengetahuan empiris yang dapat menjelaskan gerakan tersebut. Pertama-tama yang harus dijelaskan adalah gerakan Islam kontemporer itu sendiri kemudian mengidentifikasi gerakannya. Menemukan konstruk demikian itu tampaknya tidak terlalu muda dan bahkan mungkin masih dalam tahap penjelajahan. Selain itu, kasus Indonesia juga masih amat langkah. Dalam hal konsep teoritis, patut dicatat bahwa, Sharon Shiddiqie yang menyatakan bahwa studi tentang Islam komtemporer di Asia Tenggara, ternyata kurang memuaskan oleh karena keterbatasan konseptualisasi. Masalah utama menurut Shiddiqie terletak pada kurang memadainya konsep-konsep sosiologi barat tentang agama, yang menempatkan individu pada pusat analisa, sementara Islam tidak semata-mata mengadung rumusan hubungan antara manusia dengan Tuhan, melainkan juga rumusan tentang tatanan sosial kemasyarakatan, politik, dan sebagainya. Oleh karena itu, menurutnya, implikasi yang paling fundamental dari kebangitan Islam kontemporer adalah usaha yang giat untuk mengarahkan segala tatanan masyarakat pada sebuah bentuk visi tentang realitas yang berinspirasikan idiologi dan kanonik atau sistem tata hukum ((Shiddiqie, 1978).

Masalah lainnya adalah berkaitan dengan pendekatan studi idiologi terhadap Islam kontemporer. Suatu studi tentang ideologi yang memberikan tekanan pada pandangan bahwa ideologi bukan hanya dilahirkan tetapi juga dilestarikan, akan membawa Islam kontemporer pada dua perspektif ideologi yang saling berlawanan, yaitu yang unversalistik dan partikularistik. Prespektif pertama lahir dari watak Islam yang bersifat kanonik yang memberikan landasan bagi ajaran bahwa Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan diterapkan secara universal menembus batas ruang, waktu, bahasa, dan lain-lain. sedangkan persefektif kedua lahir sebagai produk realitas sosial politik yang berbeda-beda, khususnya di Dunia Ketiga, yang masih relatif memperoleh kemerdekaan, dimana salahsatu kunci guna memahami perbedaan tersebut terletak pada pengujian keterlibatan Islam dalam konsep nasionalisme (Shiddiqie, 1978). Upaya-upaya pelestarian dan penyabaran kedua presfektif ideologi ini pastilah memuat prasyarat-prasyarat yang berbeda dengan konsekuensi yang berbeda pula.

Guna keperluan pemahaman terhadap gerakan Islam kontemporer di Indonesia, kajian ini akan bertolak dari tinjauan terhadap pandangan yang memahami Islam d Indonesia dari dua paradigma, yaitu Islam tradisional dan Islam Modernis. Studi mengenai gerakan Modernis Islam di Indonesia yang dilakukan oleh Deliar Nur membedakan Islam Tradisional dan Islam Modern sekurang-kurangnya dari tiga aspek. Pertama, semangat pemurnian ajaran. Semangat inilah yang telah menumbuhkan upaya-upaya yang tak kenal lelah dari Islam Modernis untuk membersihkan ajaran Islam dari apa yang mereka sebut sebagai bid’ah, takhayyul dam khurafat, yang menurut mereka masih dianut oleh kebanyakan masyarakat Islam di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya, upaya pemurnian mereka mendapat reaksi balik dari komunitas-komunitas muslim yang dianggap sebagai pelaku-pelaku bid’ah, takhayyul dan khurafat itu, yang kemudian memperoleh pijakan gerakan Islam tradisional ( Deliar Nur, 1980).

Dengan memperhatikan ketiga aspek di atas, maka perbincangan mengenai paradigma dikotomis tradisionalis dan modernis akan sampai kepada identifikasi mengenai gerakan-gerakannya. Di bidang sosial, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan gerakan Islam Tradisonal yang paling menonjol di samping Tarbiyah Islamiyah (Perti). Sedangkan Muhammadiyah paling menonjol di kalangan Modernis di samping Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad, dan sebagainya. Di bidang politik, kaum Islam Tradisional diwakili oleh NU, Perti dan lain-lain, sedangkan kaum modernis diwakili oleh Masyumi, Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan sebagainya.

Pada umumnya gerakan-gerakan Islam baik yang tradisional maupun yang mobdernis muncul sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, yaitu priode waktu antara 1900-1940-an. Akar-akar gerakan tradisional telah bersemi sekurang-kurangnya bersamaan dengan masuknya dan semakin meluasnya pemeluk Islam di pedalaman Jawa pada saat mana Islam mulai mengalami proses penerapan dan diserap oleh unsur-unsur budaya lokal. Proses yang lazim disebut sebagaia “domistikasi Islam” itu berlansgsung sekitar abad ke 16 dan ke 17 Masehi, dalam mana aspek-aspek mistik dan ajaran Islam Tasawwuf menunjukkan pengaruh kuat (Ziemek, 1986). Sementara itu, akar-akar gerakan medern Islam dapat dilacak melalui pengaruh gerakan reformis yang dilakukan Jamaluddin Al-Afghan, Muhammad Abduh dan lain-lain, terhadap sejumlah jemaah haji muda Indonesia yang belajar kepada murid-murid mereka di Mekkah atau melalui terbitan-terbitan tentang pemikiran mereka seperti majalah Al Urwah al Wustqa, dan Ktiab Tafsir Al-Manar. Jemaah haji muda itulah, diantaranya pendiri Muhammadiyah K.H.Ahmad Dahlan, yang kemudian mengembangkan gerakan modern Islam (Deliar Nur, 1980).

Perbedaan-perbedaan paham antaran kedua aliran keagamaan itu seringkali berkembang menjadi perselisihan tajam. Itu terjadi karena sebagai gerakan yang mulai terorganisasikan, kedua pihak tidak dapat menghidarkan diri dari proses “ideologisasi” alirannya masing-masing. Perselisihan menjadi semakin mengental ketika masing-masing pihak terlibat dalam kepentingan politik. Bahkan ketika Pemerintahan Orde Baru melakukan restrukturisasi politik tahun 1970-an dan partai-partai Islam baik yang berbasis Islam tradisional maupun modernis melebur diri dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), perselisihan itu tetap kentara (Ziemek, 1986). Peselisihan yang berkepanjangan di samping semakin mengecilkan pengaruh partai politik termasuk PPP dalam kehidupan politik di Indonesia, telah menimbulkan ketidakpastian bagi sejumlah komunitas Islam dalam memilih alternatif panutan keagamaan khususnya yang mendorong komunitas-komunitas tersebut untuk melahirkan gerakan-gerakan Islam spesifik yang kemudian disebut gerakan Islam kontemporer. Pada tahun 70-an sampai 80-an berkembang gerakan keagamaan seperti Islam Jamaah, Kelompok Islam Isa Bugis, Jamaah Islam Qur’an, Gerakan Kaum Muda Masjid Salman, Kelompok Islam Jogyakarta (Jamaah Mardiyah, Jamaah Mesjid Shalahuddin dan Masjid Syuhada) (Abdul Azis, 1989).

A. Gerakan Islam Kontemporer

Pada era reformasi ini muncul berbagai partai Islam. Namun kehadirannya belum berhasil mengangkat posisi Islam di percaturan kehidupan sosial politik. Selain itu di beberapa daerah muncul konflik-konflik yang bernuansa agama. dalam konflik tersebut nampak umat Islam dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Namun partai-partai Islam dan organisasi-organisasi keagamaan yang sudah dianggap tidak mampu untuk mengadakan pembelaan. Dalam kondisi yang demikian, maka muncul gerakan keagamaan yang bersifat alternatif (kontemporer) yang ingin mengadakan pembelaan terhadap umat Islam yang dianggap oleh mereka sedang ditindas oleh kelompok lain. Oleh sebab itulah diantara kelompok alternatif ini manamakan dirinya dengan sebutan lasykar.

Di antara kelompok yang muncul pada era reformasi ini antara lain, Ikhwanul Muslimin, From Pembela Islam, Hizbut Tahrir dan Lasykar Jihad, Ikhawanul Muslimin atau Jamaah Tarbiyah sebuah gerakan Islam terbesar di jaman modern ini. Misi utamanya adalah mengajak umat Islam kembali ke Islam sebagaimana termaktub dalam Alqur’an dan Assunnah serta mengajak penerapan syarait Islam dalam kehidupan nyata. Gerakan ini berusaha membendung arus sekulerisasi di dunia Arab dan Islam pada umumnya. Pedirinya adalah Hasan Al Banna (1906-1949). Cikal bakalnya diletakkan tahun 1928, namum peresmian pendiriannya sebagai gerakan baru dilakukan pada tahun 1941. Selai Al Banna, Ikhwanul Muslimin banyak melahirkan tokoh pemikir, antara lain Sayid Qutb (1908-1966), Muhammad Qutub, Yusuf Qardawi, Said Hanna, Muhammad Al-Ghazali, Mustafah As Sabai, Abdul Latif, Abu Qurrah, dan Abdullah Azzam.

Di Idonesia, gerakan dakwah Ikhawanul Muslimin muncul dalam jamaah-jamaah tarbiyah yang tumbuh subur di lingkungan kampus dan kalangan Profesional muda pada tahun 1980-an. Ada yang menyebutnya dakwah ini juga yang menjiwai gerakan dan langkah Partai Keadilan yang telah mencanankan diri sebagai partai dakwah.

Missi dakwah Ikhwanul Muslimin kemudian menginspirasi Habib Husain Al Habsyi memproklamirkan Ikhwanul Muslimin Indionesia (IMI) pada Januari 2001 di Hotel Bumi Wiyata Depok. Selain Habib Husain sebagai Presiden IMI didukung para cendekiawan muslim antara lain Prof. Dr. K.H. Hambali, Dr. Muhammad Rivai, Ir. H. M. Rusli, H. Nasrullah, SH, Alwi Al-Atas dan Chandra Yulianto, MA.

From Pembela Islam muncul hampir bersamaan dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan lahirnya gerakan reformasi. Ini merupakan gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Dipimpin oleh Habib Muhammad Riziq Shihab, FPI banyak melakukan pembelaan terhadap kepentingan Islam dan umat. Lasykar-lasykar FPI di sejumlah kota (Jakarta, Tangerang, Solo) banyak melakukan gerakan nahi munkar berupa sweeping tempat-tempat maksiat, palacuran, miras, dan narkoba. Mendorong antara lain tegaknya syariat Islam, mendemo pemerintah maupun lembaga swasta yang dianggap merugikan umat Islam.

Hizbut Tahri (HT) atau Partai Pembebasan ini didirikan oleh Syeikh An-Nadhani pada tahun 1953 di Al Quds, Terusalem. Cita-cita utamanya adalah membentuk negara Islam sedunia (khilafah Islamiyah) melalui tiga tahap antara lain perjuangan (marhalah), yaitu pengkaderan (marhalah at-tatsqif), pemasyatakatan (marhalah tafa’ul ma’al ummah) dan pengambilalihan kekuasaan (marhalah istilaana al hukm).

Kelompok ini masuk ke Indonesia pada tahun 1982 melalui Abdurrahman Al Baqdadhi, seorang aktivis HT yang tinggal di Australia. Ketika ia diajukan oleh K.H. M. Abdullah untuk ikut mengembangkan pesantern Al-Ghazali, Bogor, Al-Bagdadhi dapat cepat berinteraksi dengan para aktivis masjid Al-Ghazali IPB Bogor. Ide-idenya memikat para aktivis dan banyak menyerbu ke kampus-kampus lain.

Tahun lalu dalam komprensi Internasional Khalifah Islamiyah pun sukses digelar di Istora Senayan dengan menghadirkn beberapa tokoh HT dari luar negeri, seperti Ustadz Ismail Mahwah (Ausrtalia), dan K.H. Syarifuddin M. Zaini (Malaysia), K.H. Muhammad Usman (Indonesia), dan K.H. Muhammad Al-Khattah (Indonesia). Nama terakhir in menjadi ketua HT Indonesia, dan nama kelompok lain diubah menjadi Sabab Hizbut Tahrir.

Lasykar Jihad lahir dari sebuah gerakan dakwah salafiah di Indonesia. Perintisnya adalah Ja’far Umar Thalib. Ia kelahiran Malang 29 Desember 1961, yang pernah berguru ke Persis Bangil, LIPIA, dan Maududi Institur di Lahore, Pakistan. Salah satu guru utamanya adalah Syaikh Mu’abil bin Had Al Wadli di Damaz, Yaman Utara. Sepulang dari Timur Tengah pada tahun 1973 ia mendirikan Pesantren Ihya’us Sunnah di Yogyakarta. Pesantren ini merujuk pada dakwah salafiah yang dirintis Muhammad bin Abdul Wahab di Arab Saudi. Salafiah sendiri punya makna dakwah berdasarkan Alqur’an dan Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi.

Ketika situasi ekonomi dan politik di Indonesia sedang bergejolak di awal tahun 1998, ia melaksanakan tablig akbar di Solo. Tablig akbar kembali dilakukan di Yogyakarta pada 30 Januari 200 dalam rangka menyikapi kasus pembantaian umat Islam di Maluku. Ia mengeluarkan resolusi jihad dengan deid line tiga bulan. Melihat ketidakjelasan mengenai politik Maluku, pada 6 April 200 ia bersama seluruh muridnya mendeklarasikan akan berangkat ke Ambon dan meresmikan berdirinya lasyka Jihad Ahlusunnah Waljamaah. Selain kelompok ini, masih banyak kelompok lainnya seperti Majelis Mujahidin Indonesia, Lasykar Jundullah, dan Lasykar Hisbullah.

Dari tinjauan ilmu sosial, yaitu suatu usaha kolektif untuk mempromosikan atau menentang perubahan di dalam suatu masyarakat atau satu kelompok. tingkat perubahan yang diadvokasi bervariasi menurut tipe-tipe gerakan sosial yang ada, apakah gerakan itu bersifat politik, keagamaan atau gerakan mahasiswa. Gerakan-gerakan lainnya menuntut perubahan dalam bidang tertentu dan bersifar moderat. Level perubahan baik berupa perubahan struktur sosial maupun perubahan sikap, kehidupan spiritual dan gaya hidup. Juga bervariasi dari tingkat nasional dan global.

B. Tipe-Tipe Gerakan

Gerakan sosial dapat diklasifiksi ke dalam gerakan revolusioner dan gerakan reformis. Gerakan revolusioner seperti Bolshevik, Palestina, Jihad Islam dan Gerakan Irlandia Merdeka. Gerakan-gerakan ini muncul menuntut adanya perubahan struktural yang fundamental dan radikal dalam institusi dasar suatu masyarakat, atau dalam kasus-kasusu tertentu, perubahan lebih luas pada sistem dunia. Karena mereka berhadapan dengan legitimasi pemegang otoritas yang luas, maka kelompok elite yang berkuasa biasanya menggunakan segala cara yang mungkin untuk menekan gerakan revolusioner tersebut.

Gerakan reformis, sebaliknya, berusaha untuk melakukan perubahan terhadap hubungan-hubungan struktural tanpa secara serius mengancam institusi yang ada. Konsekwensinya, sementara banyak kelompok elite yang menentang gerakan reformis, namun banyak juga yang bersikap toleran terhadap gerakan semacam ini ketimbang terhadap gerakan revolusioner. Ada gerakan-gerakan reformis yang bersifat umum seperti perdamaian, gerakan perempuan, dan gerakan lingkungan. Sedangkan yang lainnya bersifat khusus berkaitan dengan issu-issu tertentu, misalnya anti aborsi, anti mabuk ketika sedang mengemudi dan sebagainya. Masih ada lagi jenis reformis spesifik lainnya yaitu yang diarahkan pada issu gaya hidup dengan tujuan mengubah prilaku individu, buka perubahan struktur sosial.

Akibatnya gerakan sosial sering membangkitkan penentangan teroganisir dalam bentuk gerakan balik. Gerakan balik berusaha mencegah gerakan revolusioner atau reformis mencapai tujuannya. Kelompok ini biasanya berasal dari kalangan konservatif, yang cenderung mempertahankan institusi dan gaya hidup yang ada.

Semua bentuk dan level gerakan sosial memiliki karakteristik umum di mata ilmu sosial. Pertama, semua gerakan muncul di bawah kondisi historis, kultural dan struktur yang spesifik dan kompleks. Kedua begitu gerakan muncul, berbagi bentuk partisipasi juga muncul, termasuk rekrutmen anggota baru, pembentukan komitmen dan pelestarian partisipasi. Ketiga setiap gerakan diorganisir pada tingkat tertentu. Manifestasi gerakan yang paling jelas adalah organisasi gerakan sosialnya dan strategi serta taktiknya. Terakhir , setiap gerakan sosial memiliki konsekuensi-konsekuensi tertentu, betapa pun kecilnya.

C. Munculnya Gerakan

Ilmuan sosial telah menaruh perhatian terhadap faktor-faktor yang berkaitan dengan munculnya gerakan sosial. Teori dan penelitian awal menunjukkan bahwa gerakan sosial muncul ketika masyarakat mengalami ketegangan struktural, misalnya ketika terjadinya perubahan sosial yang cepat. Teori “ Break Down” ini menyatakan bahwa terjadinya pengaturan ulang struktur secara luas dalam masyarakat. Misalnya urbanisasi dan industrialisasi membawa kepada terputusnya kontrol sosial dan mempertinggi dorongan terhadap perilaku antisosial (Tilly, and Tilly, 1975). Sebab itu, “break down “ sistemik ini dikatakan sebagai penyebab meningkatnya pemogokan, kekerasan kolektif dan gerakan sosial.

Sarjana tentang gerakan sosial sekarang ini mengkritisi teori ‘breakdown” pada latar empiris dan teoritis. Ketimbang melihat kemunculan gerakan semata-mata gerakan politik dengan cara lain, yaitu sebagai satu-satunya cara terbuka bagi kelompok yang tidak pada posisi kekuasaan. Untuk memahami kondisi yang mempengaruhi munculnya gerakan, peneliti beralih ke faktor-faktor struktural yang kondusif bagi munculnya gerakan.

Satu faktor struktur makro adalah struktur kesempatan politik. Hal ini mengacu kepada reseptivikasi atau kerentanan sistem politik terhadap proses yang teroganisir dari suatu gerakan sosial. Penelitian tentang gerakan hak-hak warga negara, misalnya mengindikasikan bahwa kemunculan gerakan difasilitasi oleh serangkaian perubahan yang saling berkaitan dalam struktur kesempatan politik. Hal ini termasuk menurunnya harga kapas, migran orang hitam ke utara, meluasnya hak suara orang hitam, dan perubahan pemilih di dalam tubuh partai demokrat.

Faktor makro yang lain, yang dilihat oleh peneliti, adalah hilangnya tekanan (represi). Gerakan sosial kadang-kadang menghidari kekerasan atau respon represif dari penguasa, bukan hanya selama terjadinya krisis pemerintahan, tetapi juga selama periode dimana peluang politik semakin meluas.

Peneliti menunjukkan bahwa hubungan antara aksi kolektif dengan represi adalah bentuk bell. Usaha-usaha awal penguasa untuk menekan gerakan sering mengipas api ketidakpuasan dan menyulut kegiatan proses lebih jauh. Akan tetapi, apabila pemegang otoritas, memberikan respon berupa tekanan yang keras, seperti otoritas China mengerahkan tenk dan tentara ke Lapangan Tiananmen untuk memadamkan demonstrasi mahasiswa, maka biaya tindakan kolektif biasanya menjadi terlalu tinggi bagi suatu gerakan untuk melanjutkan gerakannya.

Organisasi pribumi (lokal/indigenous org.) merupakan faktor struktural mayor ketiga yang berkaitan dengan kemunculan gerakan. Organisasi yang sudah berfungsi sebagai jaringan komunikasi bagi anggota masyarakat yang kurang puas. Mereka juga menyiapkan basis untuk memobilisasi sumberdaya yang diinginkan guna mendukung sebuah gerakan. Gereja, misalnya, merupakan organisasi pribumi yang penting yang menyokong munculnya gerakan perdamaian, hak-hak civil, dan gerekan moral pada umumnya.

Terakhir, beberapa sarjana Eropa menyatakan bahwa intervensi negara ke dalam domain kehidupan privat telah membangkitkan gerakan sosial baru. Menurut persperktif ini, berbagai perubahan struktural di masyarakat industri modern, khususnya perubahan sistem produksi, membawa suatu negara untuk mengontrol wilayah privat yang ada sebelumnya, konsekwensinya, wilayah privat seperti hubungan seseorang dengan lain telah memasuki wilayah konflik publik. Gerakan sosial baru, seperti gay, eutanasia, dan lingkungan muncul untuk mendapatkan wilayah dari pemerintah.

Uraian di atas menunjukkan bahwa berbagai faktor struktur sangat penting bagi munculnya gerakan sosial. Namun demikian, faktor strurktural saja tidak cukup untuk munculnya suat gerakan. Para sarjana menelusuri adanya faktor-fktor interaksi mikro bagi munculnya suatu gerakan.

Sebagian besar penelitian menfokuskan pada proses interprestasi kekecewaan dariu keluhan. Hal ini mengacu kepada cara dengan apa masyarakat secara kollektif sampai pada definisi yang sama mengenai situasi atau “fram penafsiran” yang sama mengenai perubahan sosial yang mereka dukung atau tentang.

Kesimpulannya, gerakan sosial mungkin sekali terjadi pada saat kondisi struktural untuk mobilisasi sudah matang dan ketika penafsiran mengenai kekecewaan menghasilkan semacam pembebasan secara kognitif (kognitif liberation).

E. Partisipasi Gerakan

Erat kaitannya dengan issu tentang munculnya gerakan adalah pernyataan mengenai partisipasi gerakan. Siapa yang terlibat dan mengapa? Kondisi apa yang mempengaruhi terjadinya partisifasi? Bagaimana gerakan membangun komitmen keanggotaan dan melestarikan partisipasi? Pertanyaan-pertanyaan mengenai partisipasi ini dapat dijelaskan dengan teori “break down”. Partisipasi gerakan dapat dipandang sebagai suatu respon irasional terhadap ketegangan sosial-struktural. Faktor yang dianggap sebagai determinan kunci dari partisipasi gerakan berkisar dari adanya alinasi sosial dan isolasi sosial sampai kepada adanya deprivasi relatif (ketercabutan). Setiap pendekatan ini menyarankan bahwa adanya keluesan psikologis (malaise) atau kerusakan kepribadian mendorong individu-individu untuk bereaksi ketegangan struktural dengan cara berpartisipasi dalam gerakan sosial.

Meledaknya aksi koletif dan perkembangbiakan gerakan sosial pada tahun 60-an membawa ilmuan sosial mempertimbangkan asumsi “teori-teori break down”. Teorisi tertentu mendefinisikan ulang partisipasi gerakan sebagai suatu pilihan rasional. Menurut prespektif ini, partisipasi potensial mengambil bagian dalam aktivis gerakan sosial hanya ketika manfaat yang diinginkan lebih besar dari pada biaya partisipasi yang harus dikeluarkan.

Jaringan sosial adalah faktor penting lain yang mempengaruhi rekrutmen ke dalam gerakan sosial. Gerakan cenderung merekrut kebanyakan anggota barunya melalui jaringan anggota yang sudah ada. Seseorang memutuskan untuk pertama kali mengikuti kegiatan gerakan karena seorang teman, teman kerja atau keluarga mengundangnya. Mereka yang berada di luar jaringan kurang kemungkinannya untuk menyadari keberadan kelompok gerakan tertentu. Lagi pula mereka kurang (tertarik) mengikuti fungsi-fungsi gerakan apabila mereka tidak yakin disana ada orang yang mereka kenal.

Sementara memiliki jaringan dengan orang yang berpartisipasi dalam gerakan sosial dapat meningkatkan partisipasi gerakan, ikatan sosial berdampak sebaliknya. Ikatan sosial dalam bentuk hubungan keluarga atau profesi dapat menghambat partisipasi gerakan dengan banyak cara. Untuk seseorang, hal ini dapat menimbulkan konflik peran. Tuntutan sebagai partisipan pergerakan dan tuntutan sebagai seorang pekerja dapat suatu waktu tidak dapat disejalankan. Orang yang berstatus kawin yang memiliki tanggung jawab sebagai orang tua sementara ia juga pekerja full-time, boleh jadi tidak memiliki waktu untuk berpartisipasi dalam gerakan sosial.

Guna menjastifikasi partisipasi gerakan mereka bagi dirinya dan orang lain. maka partisipan mengembangkan perbedaharaan motif. Hal ini dalam rasional yang mengandung alasan-alasan partisipasi mereka dalam sebagai antisipasi munculnya pertanyaan dari atasan mereka di kantor, anggota keluarga, atau teman. Penelitian menunjukkan bahwa partisipasi gerakan secara sosial membangun perbendaharaan motif-motif ini ketika mereka berinteraksi satu sama lain. Aktivis selanjutnya menggunakan rasional ini sebagai pendorong moivasi untuk membangkitkan simpatisan dan pendukungnya melakukan aksi unutk mencapai tujuan (p. 1883).

Perbendaharaan motif tidak hanya menfasilitasi rekrutmen anggota gerakan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme-penbangunan-komitmen (commitment-building-mechanisms). Mereka membantu partisipan menjastifikasi bagi dirinya sendiri melakukan pengorbanan yang dikeluarkan, maka semakin mahal biaya bagi suatu gerakan.

Penelitian tentang gerakan sosial juga menunjukkan bahwa motif partisipasi dan pengalamannya beraneka ragam. Tidak ada satu penjelasan tunggal mengenai hal ini. Bahkan, terdapat sejumlah faktor yang secara bersama-sama mempengaruhi pengambilan keputusan untuk ikut dalam satu gerakan. Begitu juga halnya, terdapat sejumlah cara untuk berpartisipasi, misalnya sekadar ikut menandatangani sejumlah petisi atau menulis surat kepada politisi, sampai kepada mereka memiliki komitmen lebih besar, seperti mengkoordinri kampanye tingkat nasional, atau mengorganisir aksi pembangkangan sivil.

E. Organisasi Gerakan

Aktivitas gerakan dan partisipasinya dikoordinir suatu Organisasi Geraakan Sosial (Social Movement Organizasian/SMO). Umumnya gerakan reformasi umum melahirkan berbagai SMO. Misalnya, pada tahun 1984, gerakan antinuklir AS memiliki 3000 SMO independen, dan 100 organisasi lokal lainnya. Gerakan reformasi-reformasi khusus, sebaliknya, cenderung memiliki lebih sedikit SMO, tanpa harus SMO tersebut bebentuk formal, sebagai pusat komando gerakan. Mereka memperoleh sumberdaya, memobilisasi pengikut, dan menerapkan strategi gerakan.

Para teoritis pengerahkan sumberdaya menekankan pentingnya SMO dalam menjalankan fungsi gerakan. Tanpa organisasi, sulit untuk memperoleh sumberdaya yang diperlukan guna mengatasi tantangan yang dihadapi. Gerakan kontemporer membutuhkan uang, iklan, cetakan, pengiriman (posting), lobing, staf dan sebagainya.

Teori pengerahan sumberdaya lain menyatakan bahwa studi mengenai SMO menunjukkan adanya ikatan timbal balik antara level makro dan mikro. Misalnya, level sumberdaya masyarakat mempengaruhi ketersediaan sumberdaya bagi SMO yang pada gilirannya mempengaruhi usaha rekrutmen. Selama kemakmuran ekonomi berlangsung, seperti pada tahun 1960-an, semua sektor gerakan sosial berkembang. Hal ini terjadi karena adanya keluhan sumberdaya untuk menunjang keterlibatan dalam gerakan. Dalam ilustrasi ini, level makro (surplus sumberdaya di masyarakat) yang dimediasi oleh SMO, mempengaruhi tingkat mikro (partisipasi individual).

Ada juga gerakan yang berupaya untuk mempengaruhi tingkat makro dari bawah. Lagi pula, SMO memainkan paran mediasi. Individu yang memiliki keprihatinan yang sama bertemu bersama secara tidak formal dalam suatu setting kelompok kecil yang oleh Mc Adam (1988) disebut sebagai konteks mobolisasi mikro (micromobilization context). Kadang-kadang peserta dalam pertemuan ad hoc ini memutuskan untuk membentuk organisasi formal untuk bertindak atas nama keprihatinan kolektif partisipan. Pada gilirannya SMO merancang strategi untuk mengubah sistem cara tertentu. Kadang-kadang SMO berhasil membawa perubahan tingkat makro.

Taktik dan strategi yang digunakan oleh suatu gerakan dalam memenuhi tujuannya dirancang olen SMO. Strategi gerakan mengacu ke ‘perencanaan umum organisasi’ untuk memperoleh dan menggunakan sumberdaya guna mencapai tujaun gerakan. Sebagai contoh, gerakan dapat mengusahakan perubahan sosial dengan merangcang strategi yang bertujuan merubah tatanan struktural atau mengubah orang-orang atau keduanya. Begitu pula halnya gerakan dapat memilih strategi legal atau illegal, atau strategi kekerasan atau damai.

Taktik mengacu kepada teknik spesifik yang digunakan oleh gerakan untuk menjalankan strateginya. Aksi-aksi seperti mengajar (teaching), duduk, berbaris, rally, mogok dan sunatan massal adalah bentuk-bentuk taktik yang sering digunakan.

Setiap gerakan mengembangkan sendiri taktik spesifik sesuai keahliannya. Spesifikasi ini muncul sebagai konsekwensi dari kerjasama dan persaingan di antara SMO-SMO yang ada. Dengan menerapkam taktik khusus, suatu SMO mampu mengukir suatu nich dalam gerakan yang membedakannya dengan gerakan lain. sekali suatu SMO sudah mengembangkan suatu indentitas organisasi, ia berada pada posisi membangun suatu basis sumberdaya.

F. Hasil Gerakan

Efek apa yang dicapai oleh suatu gerakan sosial kaitannya dengan perubahan sosial?. Pada umumnya, gerakan lebih efektif menghasilkan perubahan kultural daripada struktural. Warisan gerakan tahun 60-an misalnya adalah perubahan dalam bentuk perubahan sikap kaitannya dengan perempuan dan minoritas, trend fesyen (releks), gaya hidup (hedonistik) dan semacamnya. Orang hitam tetap mengalami diskrimanasi dalam pekerjaan, perumahan dan pendidikan. Begitu juga perempuan tetap memiliki pembedaan di tempat kerja dan di rumah.

Hal ini berarti gerakan selalu gagal dalam perubahan struktural. Akhir 80-an dan awal 90-an, gerakan akar rumput secara radikal berhasil mentrasnformasikan struktur politik totaliter di sejumlah negara-negara Eropa Timur menjadi negara demokratis. Gerakan pertengahan abad 19 berhasil menghapuskan perbudakan. Begitu juga, gerakan global terhadap aparheid telah berhasil di Afrika Selatan. Kesimpulannya, meskipun gerakan kadang-kadang dapt mencapai hasil dramatik, struktur sosial pada awalnya cenderung lebih resistan dari pada kultural bagi gerakan revolusioner atau reformasi (p.1885).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yaitu mengkaji secara mendalam dan berbagai aspek tentang gerakan keagamaan kontemporer. Pemilihan bentuk penelitian yang demikian berdasarkan pertimbangan bahwa fokus penelitian ini adalah fenomena kontemporer di dalam kehidupan nyata. Sebagai suatu penelitian kebijakan, penelitian yang berbentuk studi kasus juga dianggap relevan karena penelitian ini dapat memberikan nilai tambah yang unik tentang kehidupan sosial keagamaan (Yin, 1977)

Di dalam memahami data, peneliti menggunakan perfektif fenomenologis. Melalui perspektif ini peneliti mencoba mencari pemahaman (understanding) terhadap berbagai fenomena sebagaimana femomena tersebut difahami dan dimaknai oleh para pelakunya (Bogdan and Toylor, 1992). Studi kasus dilakukan di daerah yang diperkirakan terdapat salah satu gerakan keagamaan kontemporer yang menjadikan fokus penelitian. Untuk itu sebelumnya dilakukan pengumpulan informasi awal berupa studi terhadap beberapa dokumen atau naskah lainnya yang berkaitan dengan gerakan keagamaan tersebut.

B. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bermaksud selain memotret gerakan keagamaan kontemporor juga organisasi keagamaan yang sudah dianggap established seperti NU dan Muhammadiyah dan Serikat Islam. Ketiga organisasi ini dipandang medan dimana organisasi gerakan keagamaan muncul. Gerakan keagamaan yang dimaksudkan dalam studi ini adalah terutama pada era reformasi (sejak tahun 1988). Dengan mempertimbangkan kedua aspek tersebut, maka organisasi keagamaan yang dicakup penelitian ini adalah :

a. Nahdlatul Ulama

b. Muhammadiyah

c. Serikat Islam

d. Hizbut Tahrir

e. Whdah

f. Kammi

g. KPPSI

C. Jenis Data Yang Dihimpun dan Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan ruang lingkup di atas, jenis daya yang di himpun adalah sebagai berikut:

a. tipologi gerekan

b. latar belakang dan sejara singkat berdirinya,

c. karakteristik para pendiri dan pendukungnya,

d. doktrin (ajaran): visi, misi, masyarakat yang dicita-citakan dan diusahakan,

e. sumber-sumber doktrin (lektur yang dipedomani),

f. platform gerakan,

g. aktivitas (ritual dan sosial)

h. aspirasi politik,

i. persebaran wilayah dan persebaran anggota,

j. persepsi pemerintah dan masyarakat terhadap organisai keagamaan bersangkutan.

Data tersebut dikumpul melalui wawancara mendalam, pengamatan lapangan (bila memungkinkan), studi dokumentasi dan kepustakaan. Wawancara dilakukan terhadap pimpinan atau pengikut gerakan serta pemerintah dan masyarakat bukan pengikut gerakan tersebut. Pengamatan lapangan dilakukan di tempa-tempat tertentu khususnya di tempat sentral kegiatan gerakan. Sedangkan kajian kepustakaan dan dokumen untuk melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara dengan mengkaji berbagai leteratur yang berkaitan dengan fukus penelitian.

D. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sulawesi Selatan sebagai pusat dinamika kawasan Indonesia Timur sejak dahulu sampai sekarang. Dahulu, Islam menyabar dari Sulawesi Selataan ke daerah lain di Indonesia Timur. Pengaruh itu masih tetap berlangsung sampai sekarang melaui migran orang-orang Sulawesi Selatan ke bagian lain kawasan ini. Interaksi sosial yang semakin terbuka pada era sekarang ini membuat kawasan ini semakin dinamis termasuk dalam kaitan dengan kehidupan keagamaan di Sulawesi Selatan sebagai dinamisator.

E. Data dan Teknik Analis, Penulisan dan Pelaporan

Ada dua jenis data yang harus dikumpulkan/dibuat oleh peneliti:

a. Data mentah, yaitu informasi apa adanya yang merupakan rekaman hasil wawancara dan pengamatan terhadap subyek penelitian atau peristiwa sasaran penelitian. Penyerahan data mentah ini penting untuk menjamin kesahihan data dan aktivitas peneliti di lapangan dan sebagai bukti autentik yang sewaktu-waktu dibutuhkan untuk verifikasi data.

b. Data deskriptif atau fakta yang merupakan hasil analisis terhadap data mentah. Analisis data berlangsung secara simultan dn interaktif dengan melibatkan tiga komponen kegiatan, yakin reduksi data, penyajian data dan verifikasi serta penerikan kesimpulan.

c. Tahapan kegiatan pelaoran, dengan demikian, meliputi :

1. penyerahan data mentah hasil rekaman penelitian,

2. penyerahan hasil analisis data,

3. pra-seminar,

4. verifikasi/perbaikan,

5. seminar akhir,

6. laporan akhir, finalisasi, editing.

BAB IV

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Frofil Hizbut Tahrir

1. Latar Belakang Berdirinya.

Hizbut Tahrir didirikan oleh seorang putra kelahiran Palestina, Syaikh Muhammad Taqiyuddn bin Ibrahim Mustafa bin Ismail bin Yusuf an Nahbani atau dikenal dengan Syaikh Taqiyuddin an-Nahbani. Nama Nahban, dinisbahkan kepada kabila Bani Nahban, suatu kabilah Arab penghui padang sahara di Palestina, yang bermukim di daerah Ijzim, wilayah Haifah, Palestina Utara.

Syaikh Taqiyuddin menerima pendidikan dasar-dasar ilmu syariah dari ayah dan kakek beliau, yang telah mengajarkan hafalan al-Qur’an sehingga beliau hafal al-Qur’an seluruhnya sebelum baligh. Disamping itu, beliau juga mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah negeri ketika di salah satu SD di di daerah Ijzim. Kemudian beliau berpindah ke Akka untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah, lalu bertolak ke Kairo melanjutkan pendidikan di Al-Azhar, Tsanawiyah Al-Azhar pada tahun 1928 dan pada tahun sama beliau merai ijazah dengan predikat sangat memuaskan. Disamping itu beliau banyak menghadiri halaqah-halaqah ilmiah di Al-Azhar yang dikuti oleh syaikh-syaikh Al-Azhar, semisal Syaikh Muhammad al-Hidhir Husain, seperti yang pernah disarankan oleh kakek beliau. Hal itu dimungkinkan karena sistem lama Al-Azhar membolehkannya.

Sejak remaja Syaikh An-Nahbani sudah memulai aktivitas politiknya karena pengaruh kakeknya, Syaikh Yusuf An-Nahbani, yang pernah terlibat diskusi-diskusi dengan orang-orang yang terpengaruh peradaban Barat, seperti Muhammad Abduh, para pengikut ide pembaharuan (modernisme), tokoh-tokoh freemasonry, dan pihak-pihak lain yang membangkan terhadap Daulah Utsmaniyah.

Perdebatan-perdebatan politik dan aktivitas gerakannya diantara para mahasiswa di AlAzhar dan di Kulliyah Darul Ulum, telah menyingkapkan pula kepeduliannya akan masalah-masalah politik.

Sebebarnya ketika Syaikh An-Nahbani kembali dari Kairo ke Palestina dan ketika beliau menjalankan tugasnya sebagai guru di Kementerian pendidikan Palestina, beliau sudah melakukan kegiatan yang cukup menarik perhatian, yakni memberikan kesadaran kepada para murid yang diajarnya dan orang-orang yang ditemuinya, mengenai situasi yang ada saat itu. Belaiu juga membangkitkan perasaan geram dan benci terhadap penjajah Barat dalam jiwa mereka, disamping memperbaharui semangat mereka unutk berpegang teguh terhadap Islam. Beliau menyampaikan semua ini melalui khutbah-khutbah, dialog-dialog dan perdebatan-perdebatan yang beliau lakukan.

Belaiu juga melakukan seminar-seminar dengan mengumpulkan para ulama dari berbagai kota di Palestina. Dan kesempatan itu beliau mengadakan diaolog dengan mereka mengenai metode kebangkitan yang benar. Beliau banyak berdebat dengan para pendiri organisasi-organisasi Islam (Jam’iyatul Islmiyah) dan partai-partai politik yang bercorak nasional dan patriotis. Beliau menjelaskan kekeliruan langkah mereka, kesalahan pemikiran mereka, dan rusaknya kegiatan mereka.

Selain itu, beliau juga sering melontarkan berbagai masalah politik dalam khutbah-khutbah yang beliau sampaikan pada acara-acara keagamaan di masjid-masjid, seperti di Masjid Aqsha, mesjid Al Ibrahim Al Khalil (Hebron), dan lain-lain.

Dalam kesempatan seperti itu beliau selalu menyerang sistem-sistem pemerintahan di negeri-negeri Arab, dengan menyatakan bahwa semua itu merupakan rekayasa penjajah Barat, dan merupakan salah satu sarana penjajah Barat agar dapat terus mencengkram negeri-negeri Islam. Beliau juga sering membongkar strategi-strategi politik negara-negara Barat dan membeberkan niat-niat mereka untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Selain itu, Beliau berpandangan bahwa kaum muslimin berkewajiban untuk mendirikan partai politik yang berasaskan Islam.

Semua itu ternyata membuat murka Raja Abdullah bin Al Husain, lalu dipanggillah Syaikh An-Nahbani untuk menghadap kepadanya, terutama karena khutbah yang pernah beliau sampaikan di Masjid Raya Nablus.

Aktivitas politik Syaik Taqiuddin terus berjalan dan tekadnya tidak pernah luntur. Beliau terus mengadakan kontak-kontak dan diskusi-diskusi, sehinga akhirnya beliau berhasil meyakinkan sejumlah ulama dan qhadi terkemukan serta tokoh poltikus dan pemikir untuk membentuk sebuah partai poitik yang berasaskan Islam.

Beliau menyodorkan kepada mereka kerangka organisasi partai dan pemikiran-pemikiran yang dapat digunakan sebagai bakal tsaqafah bagi partai tersebut. Ternyata, pemikiran-pmikiran beliau ini dapat diterima dan dietujui oleh par ulama tersebut. Maka aktivitas beliau pun menjadi semakin padat dengan terbentuknya Hisbut Tahrir.

Publikasi pembentukan partai ini secara resmi tesiar pad tahun 1953, saat Syaikh Taqiyuddin An-Nahbani mengajukan permohonan resmi kapada Departemen Dalam negeri Yorndania sensuai Undang-undangan Orgnaisasi yang diterapkan saat itu. Dalam surat itu terdapat permohonan izin agar Hisbut Tahrir dibolekan melakukan aktivitas politiknya. Dalam surat itu terdapat pula struktur kepengurusan Hisbut Tahrir, sebagai berikut:

Susunan Pengurus Hisbut Tahrir

Pimpinan : Taqiyuddin An-Nahbani

Wakil Pimpinan : Dawud Hamdan

Sekretaris : Dawud Hamdan

Bendahara : Ghanim Abduh

Anggota ; Dr. Adil An Nablusi

Munir Syaqir, (Samarah, 2003)

Ada dua aspek yang melatarbelakangi berdirinya Hizbut Tahri, yaitu lararbelakang ideologi dan konteks. Aspek yang disebut pertama, Hizbut Tahrir didirikan dalam rangka memenuhi seruan Allah dalam Alqur’an Surah Ali Imran ayat 104 yang artinya :

“ Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeruh kepada kebaikan (mengajak memilik kebaikan, yaitu memeluk Islam), menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencagah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung (yang akan masuk surga)”.

Ayat ini dimaknai oleh Hisbut Tahrir sebagai ajakan atau perintah untuk membentuk partai politik menurut syara’. Berdirinya Hisbut Tahrir sebagai upaya memenuhi seruan itu. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat”, tidak lain karena Allah memerintahkan kaum muslimin agar diantara mereka ada suatu golongan (jamaah) yang terpadu yang memliki tugas untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Bentuk perintah untuk membentuk jamaah terpadu ditafsirkan sebagai suatu keharusan, karena ayat diatas mengandung indikasi demikian. Sehingga kegiatan agar dilaksanakan oleh kelompok terpadu, yakni dakwah kepada Islam dan amar ma’ruf nahi munkar, dihukumkan wajib atas seluruh kaum muslimin untuk melakukannya. Qarinah (indikasi) ajakan Allah dalam ayat diatas bersifat keharusan dan dihukumkan wajib didukung oleh hadis Nabi yang dijadikan sebagai latarbelakang ideologi yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Sunan Tarmidzi no. 2259 yang artinya:

“Demi Zat yang diriku berada di tanganNya, sungguh kalian (mempunyai dua pilihan, yaitu) melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisiNya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu akan berdo’a, maka (doa itu) tidak akan dikabulkan”.

Ada dua alasan yang dia angkat oleh Hizbut Tahrir tentang keharusan membentuk partai politik Islam yang dikandung oleh ayat diatas. Yang pertama adalah adanya perintah agar sekelompok di antara kaum muslimin untuk membentuk suatu jamaah; dan yang kedua dari segi telah ditentukannya kegiatan jamaah tersebut, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Karena itu kegiatan amar ma’ruf nahi munkar mencakup di dalamnya menyeru para penguasa agar mereka berbuat ma’ruf (melaksanakan syari’at Islam) dan melarangnya berbuat munkar (melaksanakan sesuatu yang tidak bersumber dari syari’at) , misalnya bersikap zalim, fasik, dan lain-lain). Bahkan inilah bagian terpenting dalam kegiatan amar ma’ruf nahi munkar; yaitu mengawasi para penguasa serta menyampaikan nasehat kepadanya. Dan kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan kegiatan politik, bahkan termasuk kegiatan politik yang paling penting yang menjadi ciri utama dari kegiatan partai-partai politik. Dengan demikian menurut Hizbut Tahrir, ayat diatas menunjukkan adanya kewajiban mendirikan partai-partai politik Islam.

Partai Politk Islam yang dimaksud adalah partai politik yang berasaskan Aqidah Islam. Partai politk yang mengambil dan menetapkan ide-ide, hukum-hukum dan pemecahan problema yang Islami. Thariqah operasionalnya adalah thariqah Rasulullah saw.

Oleh karena itu semua mabda (prinsip ideologi) selain Islam diharamkan. Ideologi-ideologi yang dianut oleh kapiatlis, sosialis, komunis tiada lain merupakan ideologi-ideologi rusak dan bertentangan dengan fitrah manusia. Ideologi-ideologi tersebut adalah ciptaan manusia, sudah tampak nyata kerusakannya dan telah terbukti cacat-calanya. Ideologi-ideologi tersebut bertentangan dengan Islam dan hukum-hukumnya. Sehingga mengambilnya, menyebarluaskannya dan berkelompok berdasarkan ideologi-ideologi tersebut termasuk hal-hal yang diharamkan oleh Islam. Diharamkan berkelompok atas dasar Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Patriotisme, fanatik golongan (sekterian), Aristokrat, atau yang berkenan dengan pemikiran-pemikiran Free Masonry. Karena itu diharamkan pula untuk membentuk partai-partai Komunis, Sosialis, Kapitalis, Nasionalis, Patriotik, Sekterian, dan Free Masonry, temasuk dalam hal ini menjadi anggota atau partisipan. (Zallum, 1993)

Kedua adalah latarbelakang konterks. Hizbut Tahrir menilai bahwa saat ini dunia dikuasai oleh ide-ide, sistem-sistem dan hukum-hukum kufur. Seluruh negara di Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Latin, menggunakan asas-asas kenegaraan seperti asas-asas Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Patriotisme, fanatik golongan (sekterian), Aristokrat, atau yang berkenan dengan pemikiran-pemikiran Free Masonry. Demikian halnya dengan di Asia, dan Timur Tengah, termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, ide-ide, hukum-hukum, kekuasaan dan dominasi nergara-negara kafir menguasai segala aspek kehidupan. Keadaan ini dinilai oleh Hizbut Tahrir sebagai kemerosetan Islam.

Menurutnya bahwa sesungguhnya penyebab kemerosotan yang sangat fatal dan tidak pantas dialami oleh umat ini adalah akibat sangat lemahnya kaum muslim (sehingga membelenggu dan menjerumuskan pemikiran mereka) dalam memahami dan melaksanakan Islam. Hal ini disebabkan oeh faktor-faktor yang mengaburkan fikrah berserta thariqahnya, yang dilancarkan sejak abad kedua Hijriah sampai saat ini.

Faktor-faktor tersebut di atas muncul karena beberapa hal, diantaranya yang paling menonjol adalah :

1. Transfer filsafat-filsafat India, Persia dan Yunani, serta adanya upaya sebagian kaum muslimin untuk mengkofromikan dengan Islam, walau terdapat perbedaan mendasar diantara keduanya.

2. Adanya manipulasi ajaran Islam oleh orang-orang yang membenci Islam. Manispilasi itu berwujud baik berupa ide-ide, hukum-hukum yang sebenarnya tidak bersumber dari Islam dengan tujuan merusak citra Islam dan menjaukan kaum muslimin dari Islam.

3. Diabaikannya bahasa Arab dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam, disusul kemudian dengan dipisahkannya dari Islam pada abad ketujuh Hijriah. Padahal agama Islam tidak mungkin dapat dipahami tanpa bahasa Arab.

4. Serangan gelombang misionaris, dan serangan orientalis dalam bidang kebudayaan, menyusul serangan secara politis (yang mendominasi dunia Islam) dari negara-negara kafir Barat,sejak abad ke 17 Masehi. Serangan tersebut menurut Hizbut Tahrir bertujuan untuk mengalihkan pandangan dan menjauhkan kaum muslimin dari Islam, yang pada akhirnya untuk menghancurkan Islam.

Berbagai macam usaha yang dilakukan untuk membangkitan kembali kaum muslimin, yang juga melalui berbentuk gerakan, baik yang Islami maupu yang tidak Islami. Namun kesemuanya itu telah mengalami kegagalan dan belum mampu membangkitkan kaum muslimin, bahkan tidak mampu membendung kemerosotan umat Islam.

Ada beberapa sebab kegagalan seluruh usaha dan gerakan tersebut, antara lain adalah:

1. Pihak-pihak yang berupaya membangkitkan kembali umat Islam tidak memiliki pemahaman yang rinci mengenai fikrah Islam, karena telah terpengaruh berbagai faktor yang mengaburkan. Dakwah Islam yang mereka lakukan masih bersifat umum dan terbuka, tanpa menentukan ide-ide dan hukum-hukum mana yang diinginkan untuk membangkitkan umat, serta tidak mampu mengatasi segala macam probelma melalui ide-ide Islam berikut pelaksanaannya. Penyebabnya adalah belum adanya gambaran yang jelas terhadap ide-ide dan hukum-hukum Islam.

2. Tidak adanya kejelasan bagi mereka mengenai metodelogi Islam dalam menerapkan ide-ide dan hukum-hukum Islam dalam suatu gambaran yang jelas dan sempurna. Merekan menganggap bahwa kembalinya Islam dapat ditempuh dengan cara-cara: membangun banyak mesjid, menerbitkan buku-buku Islam atau dengan jalan mendirikan organisasi-organisasi sosial kemasyarkatan atau perusahaan koperasi yang Islami atau hanya dengan melalui pendidikan akhlak dan pembinaan individu semata, tanpa memperhatikan kebejatan masyarakat dan cengraman ide-ide kufur berikut hukum-hukumya dan sistem perundang-undangan yang berlaku ditengah-tengah masyarakat.

Karena itulah Hizbut Tahrir berdiri. Hizbut Tahrir menentukan berdirinya kelompok itu di atas dasar aqidah Islam. Hizbut Tahrir juga telah mengambil dan menetapkan ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Hizbut Tahrir telah menghidarkan diri dari seluruh kekurangan dan sebab-sebab yang membuat gagalnya kelompok-kelompok sebelumnya yang telah berdiri untuk membangkitkan kaum muslimin dengan Islam , sehingga Hizbut Tahrir dapat memahami ide-ide dan metode dakwah dengan pemahaman rasional (fikriyah) dan terperinci sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh wahyu, baik dari Kitabullah maupun Sunnah RasulullahNya, serta sesuai pula dengan apa yang ditunjukkan oleh dua sumber tadi, yaitu Ijma’ sahabat dan Qiyas. Hizbut Tahrir telah memperhatikan situasi (keadaan umat) dan menganggapnya sebagai saran pemikirannya untuk dirubah sebagai hukum Islam. Hizbut Tahrir hanya mengikuti thariqah/metode dakwah Rasulullah saw dalam mengemban dakwah ketika beliau melaksanakannya di Mekkah, sampai belau (berhasil) menegakkan pemerintahan Islam di Madinah. Hizbut Tahrir menjadikan ikatan aqidah dan ide-ide Islam serta hukum-hukumnya, sebagai ikatan bagi gerakan, yang akan mengikat anggota-anggotanya.

Oleh karena itu, menurut Hizbut Tahrir, wajar jika partai ini dapat diterima dan didukung oleh umat dan bahkan wajib atas umat untuk menerima dan mendukung serta berjalan bersamanya. Karena Hizbut Tahrir merupakan satu-satunya partai yang telah memahami dan menguasai prinsipnya, melihat dengan jelas jalan dakwahnya, memahami permasalahannya, konsisten dengan Sirah Rasulullah saw, tanpa bergeser sedikitpun dari langkah-langkah beliau dan tidak ada seorang pun yang dapat membelokkannya dari tujuan dakwahnya itu. (Zallum, 1993).

3. Hisbut Tahrir di Indonesia (Makassar)

Ide-ide Hizbut Tahrir di Indonesia diperkenalkan oleh Syaikh Abdurrahman Al Bagdadi. Kelompok ini masuk ke Indonesia pada tahun 1982 melalui Abdurrahman Al Baqdadhi, seorang aktivis HT yang tinggal di Australia. Ketika itu ia diajak oleh K.H. M. Abdullah untuk ikut mengembangkan Pesantern Al-Ghazali, Bogor.

Al-Bagdadi dapat cepat berinteraksi dengan para aktivis masjid Al-Ghazali IPB Bogor. Ide-idenya memikat para aktivis dan banyak menyerbu ke kampus-kampus lain.

Sejalan dengan itu, para mahasiswa memiliki kesenangan membangun jaringan dalam tingakat nasional. dan yang paling eksis saat itu sampai saat ini adalah HMI dan PMII. Bersamaan dengan itu berkembang pula Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Mahasiswa-mahasiswa yang terhimpun dalam LDK banyak-banyak membaca buku tentang pergerakan, termasuk pergerakan Hisbut Tahrir. Mereka saling bertukar pikiran, berdiskusi dan saling bertukar informasi tentang berbagai macam pergerakan di dunia Islam maupun di Indonesia. Dalam dialog-dialog itulah ide-ide Hisbut Tahrir berkembang.

Jadi perkembangan Hisbut Tahrir dimulai dari kalangan kampus. melalui pertemuan-pertemuan organisasi dakwah kampus baik taraf lokal maupun nasional. Para mahasiswa yang terlibat dalam dilog-dialog tersebut mengkomunikasikan pergerakan-pergerakan Islam termasuk pergerakan Hisbut Tahrir. Melalui pertemuan tingkat nasional LDK, para mashasiswa tersebut mendapatkan informasi tentang ide-ide pergerakan Hisbut Tahrir, lalu sekembali ke Makassar mereka mendiskusikan informasi tersebut di kampus.

Ide-ide pergerakan Hisbut Tahrir di Makassar pertama kali dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui LDK. LDK UMI saat itu memiliki jaringan dengan beberapa LDK perguruan tinggi di Indonesia, diantaranya: LDK IPB, LDK IKIP Malang, dan beberapa organisasi kemahasiswaan seperti aktivis HMI, PMII, IPM, Al-Wahdah dan beberapa lagi yang lain.

Waktu itu para mahasiswa yang tergabung dalam LDK UMI mendapat informasi kegiatan dari LDK IKIP Malang, yaitu kegiatan kursus Bahasa Arab selama sebulan. Lebih lanjut, kemudian para mahasiswa yang diutus tersebut berkenalan dengan ragam gerakan-gerakan Islam. Ragam pergerakan Islam yang dikenal saat itu adalah pikiran-pikiran Hizbut Tahrir. Sepulang dari Malang para mahasiswa tersebut menyempatkan diri untuk singgah di Surabaya, dan bekenalan dengan beberapa aktivis Hisbut Tahrir dan lebih mendalami kegiatan-kegiatannya.

Setiba di Makassar, mereka pun membentuk forum kajian keagamaan, pada tahun 1995. Kajian-kajian itu berupa kajian pemikiran Islam. Ada suatu ketertarikan para mahasisawa terhadap konsepsi-konsepsi Hizbut Tahrir, ketajaman dalam melihat sebuah pemasalahan dan kejelasan idenya. Dan dalam hal ini mereka pun dapat menilai ide-ide tersebut karena sebelumnya mereka memang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi mengenai berbagai ragam pemikiran Islam, karena berasal dari berbagai ragam latar belakang organisasi, HMI, IPM, Al-Wahda dan PMII. (Zamroni Ahmad, Wawancara, 29- 4-2006)

Ide Hisbut Tahrir yang dikaji saat itu mencakup berbagai aspek. Antara lain adalah; aqidah Islam, kaedah-kaedah Syara’, ideologi-ideologi yang berkambang di dunia, kebudayaan dan peradaban dunia dan berbagai hukum tentang sistem pemerintahan Islam, seperti, kekuasaan Islam, bentuk sistem pemerintahan dalam Islam, cara-cara pengangkatan khilafah, sampai kepada tatacara penguasa menerapkan hukum Islam dan pemberontakan pemerintahan Islam. Dikaji pula mengenai beberapa hukum tentang sistem ekonomi Islam, seperti politik perekonomian dalam Islam, pandangan Islam terhadap problema-problema ekonomi, dan bentuk-bentuk kepemilikan. Selain itu ada pula beberapa yang lain yang dikaji, seperti tanah, industri, strategi pendidikan, politik luar negeri, jihad dan lain-lain.

Setelah mendalami, ternyata ide Hizbut Tahrir tidak hanya berupa ide-ide ilmiyah yang hanya dapat diketahui oleh kalangan perguruan tinggi. Akan tetapi ide-ide tersebut sangat sarat dengan upaya pengembangan suatu komunitas yang Islami, yaitu masyarakat Islam, bahkan pemerintahan yang Islami.

Menyadari hal tersebut maka tiga orang mantan aktivis LDK tersebut berkeinginan untuk lebih mengembangkan ide-iede tersebut diluar kampus. Ketiga orang tersebut adalah Ir. Hijrah Dahlan, Ir. Alimuddin dan Ir. Hasanuddin Rasyid. Ketiga orang tersebutlah sebagai pelopor terbentuknya cabang Hizbut Tahrir di Makassar.

Deklarasi pembentukan Hisbut Tahrir Makassar dilakukan dengan suatu kegiatan seminar tentang Khilafah di UNHAS pada tahun 2000. Seminar yang dihadiri sekitar 1000 orang dari berbagi segmen masyarakat (masyarakat umum) menghadirkan para pembicara yaitu Pro. DR . H. Abdurahman Basalama, Prof. DR. Mattulada, dan satu pembicara dari Hibut Tahrir dari Surabaya: Prof. Dr. Usman. Tema yang diangkat dalam seminar itu adalah konsep pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah). (Zamroni Ahmad dan Hasanuddin Rasyid, Wawancara, 29-4-2006)

Menurut Hasanuddin Rasyid, bahwa saat ini berkembang adanya semangat untuk kembali kepada Syariat Islam. Dahulu aktivis organisasi kemahasiswaan banyak memahami bahwa sistem yang berlaku di berbagai negara, bahkan di negara-negara yang nota bene mayoritas beragama Islam, adalah sistem yang ‘kufuran’. Setelah berkenalan dengan Hisbut Tahrir, kami mendapatkan penajaman ide tentang hal itu. Betapa konsepsi ideologi kapitalisme setelah kita kaji ternyata Indonesia ini sudah kapitalisme tulen. Padahal pada saat yang sama kita diajarkan tentang dasar-dasar Islam, pemikiran Islam secara mendasar, Islam sebagai sebuah ideologi. Akhirnya kemudian, ketertarikan kepada Islam berujung pada memahami Islam bukan hanya pada aspek pribadi. Tetapi betul-betul Islam ini harus tegak dalam sebuah sistem kemasyarakatan. Ide-ide tersebutlah yang memunculkan kekaguman kami terhadap Hisbut Tahrir.

Kekaguman kami yang lain adalah bahwa ide-ide Hisbut Tahrir bisa memuaskan pemikiran mereka (para anggota Hizbut Tahrir). Artinya ketika dalam berbagai macam rujukan literature Hisbut Tahrir memperlihatkan kejelasaan yang sangat dalam membahas tentang sistem perekonomian, sistem pendidikan, bahkan sistem politik: pilar-pilar kenegaraan, dan bentuk-bentuk pemeritahan. (Hasanuddin Rasyid, Wawancara, 29-4-2006).

4. Bentuk dan Ideologi Kelembagaan

Hizbut Tahrir adalah sebuah organisasi gerakan politik atau partai politik yang berideologi Islam. Politik merupakan kegiatan Hizbut Tahrir dan Islam adalah ideologinya. Organisasi politik ini bergerak di tengah-tengah umat, dan bersama-sama mereka berjuang untuk menjadikan Islam sebagai permasalahan umatnya, serta membimbing mereka untuk mendirikan kembali sistem khilafah dan menegakkan hukum yang diturunkan Allah dalam realitas kehidupan.

Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik, bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan lembaga ilmiyah (seperti lembaga studi agama atau badan penelitian), bukan lembaga pendidikan (akademis), dan bukan pula lembaga sosial (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan). Ide-ide Islam menjadi jiwa, inti, dan sekaligus rahasia kelangsungan kelompoknya.

Cita-cita utama Hizbut Tahrir adalah mendirikan pemerintahan Islam (Daulah khilafah Islamiyah). Suatu negara yang sistem pemerintahannya menganut prinsip-prinsip pemerintahan menurut Islam sesuai dengan Alqur’an dan Assunnah. Oleh karena itu segala perangkat kenegaraan, sistem kekuasaan, pemerintahan, cara pengangkatan khalifah, kesatuan wilayah, kepartaian, sampai kepada sikap Hizbut Tahrir mengenai pemberontakan terhadap pemerintahan ditegaskan harus sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Bukan hanya sistem politik, akan tetapi sistem hukum ekonomi pun harus sejalan dengan ajaran Islam. Sistem hukum ekonomi yang dimaksud adalah berkaitan dengan politik perekonomian, pandangan terhadap problema ekonomi, ketentuan hak pemilikan dan bentuk-bentuknya. Selain itu sistem pemilikan aset negarapun harus sesuai dengan ajaran Islam seperti permasalahan mengenai tanah, industri, baitul mal. Demikian halnya dengan strategi pendidikan, kemasyarakat dan politik luar negeri serta hubungan internasional. Semua item permasalahan kenegaraan ini harus diatur sesuai dengan ajaran Islam dan diperjuangkan melalui sistem politik Islam. Karena itu perangkat yang mendesak yang harus diperbaiki adalam sistem politik melalui pembentukan Daulah Khilafah Islamiyah.

2. Tujuan, Visi dan Misi Kelembagaan

Doktrin yang diemban oleh Hizbut Tahrir mengacu pada tujuan, visi, misi dan masyarakat atau dicita-citakan dan diusahakan.

Ada dua tujuan Hizbut Tahrir. Kedua tujuan itu adalah sebagai berikut:

1. Hizbut Tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

2. Hizbut Tahrir bertujuan membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang.

Sedangkan Visi Hizbut Tahrir berbunyi sebagai berikut:

“Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan dan hukum-hukum kufur serta membebaskan mereka dari cengkraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah KhilafahIslamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah dapat berlaku kembali”.

Dari visi tersebut di atas maka disusun beberapa misi. Misi Hizbut Tahrir adalah sebagai berikut:

1. Mengajak kaum muslimin kembali hidup secara Islami dalam Darul Islam dan masyarakat Islam. Dimana seluruh kehidupannya diatur sesuai dengan hukum-hukum syara’. Pandangan hidup yang akan menjadi pedoman adalah halal dan haram, di bawah naungan Daulah Islam, yaitu Daulah Khilafah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang diangkat dan dibaiat oelh kaum muslimin untuk didengar dan ditaati agar menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah RasulNya, dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

2. Hizbut Tahrir berupaya untuk mengembalikan umat ke masa kejayaan dan keemasannya seperti dulu, di mana umat akan mengambil alih kendali negara-negara dn bangsa-bangsa di dunia ini, dan dengan negara Khilafah akan kembali menjadi negara nomor satu di dunia – sebagaimana yang terjadi pada masa silam – serta memimpin dunia sesuai dengan hukum-hukum Islam.

3. Menyampaikan hidayah (petunjuk) bagi umat manusia, memimpin umat Islam untuk menentang kekufuran beserta segala ide dan peraturan kufur, sehingga Islam dapat menyelimuti bumi.

Bentuk masyarakat yang dicita-citakan oleh Hizbut Tahrir adalah masyarakat yang Islam. Masyarakat yang tata kehidupannya bedasarkan Aqidah Islam. Aqidah Islam adalah asas bagi Islam sebagai pendangan hidup, asas bagi negara. Konstitusi dan perundang-undangan , serta asas segala sesuatu yang terpancar dan dibangun dari atas atau diatasnya, yang merupakan pemikiran, hukum dan persepsi Islam. Oleh karena itu Aqidah Islam merupakan kepemimpinan ideologi (qiyadah fikriyah), landasan berpikir (qaidah fikriyah) dan sebagai aqidah politik (aqidah siasiyah).

Aqidah adalah asas yang mengatur urusan dunia. Sebab di dalamnya terdapat hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan, misalnya jual beli, sewa menyewa, perwakilan, jaminan, (garansi), pemilikan, pernikahan, syirkah (perusahaan), warisan dan lain-lain. Begitu pula pengaturan hukum yang berkaitan dengan cara pelaksanaan urusan dunia tersebut, seperti hukum wajib adanya “Amir Jamaah” (pemimpin kelompok atau pemimpin rakyat), termasuk tata pengangkatan amir, mengadakan koreksi dan taat kepadanya; atau seperti hukum-hukum jihad, perdamaian, gencata senjata, dan perjanjian antar negara, seperti hukum tentang uqubat (sanksi) dan lain-lain. dengan demikian Aqidah Islam aqidah yang mengatur segala urusan. Oleh karena itu, Aqidah Islam merupakan Aqidah Politik. Sebab arti dari politik adalah mengatur dan memelihara seluruh urusan umat.

Begitu pula Aqidah Islam, merupakan aqidah yang tidak dapat dipisahkan dari masalah perjuangan dan peperangan baik dalam mengemban dakwahnya, mempertahankannya dan menegakkan negara atas dasar aqidah tersebut yang akan melindungi aqidah dan tetap berdiri di atas aqidah Islam serta berusaha melaksanakan hukum-hukumnya. Juga, dalam mengadakan koreksi terhadap penguasa apabila mereka mengabaikan pelaksanaan hukum-hukumnya dan mengabaikan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Hisbut Tahrir telah mempersiapkan segala perangkat untuk membentuk Daulah Khilafah. Segala aspek kehidupan sudah dirancang berdasarkan nas-nas Alquran dan Assunnah. Aspek-aspek tersebut berkaitan dengan pembangunan struktur masyarakat yang Islami. Mulai dengan aspek struktur sosial yang makro seperti sistem pemeritahan, sistem politik sistem hubungan luar negeri, sistem pendidikan dan kebudayaan, sistem kepemilikan terhadap aset-aset negara, sistem perekonomian dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan sistem-sistem kemasyarakatan mikro seperti hubugan kekeluargaan, perkawinan, pemilikan terhandap tanah, hubungan antara dua orang yang berbeda jenis kelamin, pembentukan kepribadian Islami, dan lain-lain. semua sistem-sistem tersebut diramu sedemikian rupa berdasarkan prinsip Aqidah Islam. Aspek-aspek tersebut diatas telah disusun rapi dalam kumpulan literatur.

B. Lektur Acuan Hizbut Tahrir

Menurut Abdul Qaldim Zallum, bahwa Hizbut Tahrir telah melakukan kajian, penelitian dan studi terhadap keadaan umat serta sejauh mana kemerosotannya. Lalu dibandingkan dengan situasi di masa Rasulullah saw, masa Khulafaurrasyidin dan masa tabi’in sesudahnya lalu dengan merujuk kemabali Sirah Rasululllah saw dan tata cara mengemban dakwah sejak permulaan dakwah sampai berhasilnya mendirikan suatu Daulah Islam di Kota Madinah; kemudian dengan mempalajari bagaimana perjalanan kehidupan beliau di Madinah; dan setelah merujuk kembali kepada Kitabullah, Sunnah Rasulnya, ijema’ sahabat dan qiyas, berpedoman pada ungkapan-ungkapan/pendapat pasra sahabat, tabi’in, imam-imam dari kalangan mujtahidin.

Dari hasil kajian tersebut di atas maka Hizbu Tahrir lalu memilih dan menetapkan ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum Islam semata. Abdul Qaldim Zallum, menegaskan bahwa tak satupun pendapat yang bukan dari Islam. Sumbernya secara utuh dan murni diambil dari Islam, dan tidak disandarkan pada sesuatu selalin dari ushul Islam yang terkenal (baik ushuluddin maupun ushul fiqhi) dan nash-nash syari’ah-nya. Juga Hizbut Tahrir bersandarkan pada pemikiran (akal sehat) dalam penetapannya.

Hizbut Tahrir telah memilih dan menetapkan ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum tersebut sesuai dengan ketentuan yang diperlukan dalam perjuangannya untuk melangsungkan kehidupan Islam serta mengemban dakwah Islam keseluruh panjuru dunia, dengan mendirikan Daulah Khliafah dan mengangkat seorang Khalifah.

Ide-ide Hizbut Tahrir bersumber dari hasil-hasil pemikiran Syaikh Taqiyuddin Anahbani. Beliau telah meninggalkan kitab-kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya. Beliau menulis seluruh pemikiran dan pemahaman Hizbut Tahrir, baik yang berkenan dengan hukum-hukum syara’, maupun lainnya seperti masalah ideology, politik, ekonomi dan sosial. Dr. Hamam Abdur Rahim Said (1985) menyatakan, bahwa inilah yang mendorong sebagian peneliti untuk mengatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An-Nahbani.

Menurut Ihsan Samarah (2003), bahwa kebanyakan karya Syaikh Taqiyuddin An-Nahbani berupa kitab-kitab tanzhiriyah (penetapan pemahaman/pandangan) dan tanzhimiyah (penetapan peraturan), atau kitab-kitab yang dimaksudkan untuk mengajak kaum muslimin untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan mendirilan Daulah Islamiyah.

Lebih lanjut Samarah menyatakan bahwa kitab-kitab Syaikh Taqiyuddin AN-Nahbani memperlihatkan keistmewaan karena mencakup dan meliputi berbagai aspek kehidupan dan problematikan manusia. Kitab-kitab yang membahas aspek-aspek kehidupan individu, politik, kenegaraan, sosial dan ekonomi tersebut merupkan landasan ideologis dan politis bagi Hizbut Tahrir, di mana Syaik Taqiyuddin menjadi motornya.

Beraneka ragam bidang kajian dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Syaik taqiyuddin. Karya-karua beliau mencapai lebih 30 kitab. Ini belum termasuk memorandum-memorandum politik yang beliau tulis untuk memecahkan berbagai masalah politik serta selebaran-selebaran dan penjelasan-penjelasan mengenai masalah-masalah pemikiran dan politik yang penting.

Karya-akrya Syaikh Taqiyuddin An Nahbani yang paling terkenal yang memuat pemikiran dan ijtihad beliau antara lain adalah:

1. Kitab Nishamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam)

2. Kitab Nishamul Hukmi Fil Islam (Sistem Pemerintahan dalam Islam)

3. Kitab Nishamul Iqtishaadi Fil Islam (Sistem Ekonomi dalam Islam)

4. Kitab Nishamul Ijtimaai Fil Islam (Sistem Pergaulan antara Pria da Wanita di dalam Islam)

5. Kitab At-Takattul al Hizbiy (Proses Pembentukan Partai Islam)

6. Kitab Mafahiimu Hizbut Tahrir (Pokok-pokok Pemikiran Hizbut Tahrir).

7. Kitab Ad-Daulatul Islamiyah (Pemerintahan Islam)

8. Kitan As-Syakhshiyah Al-Islamiyah (Membentuk Kepribadian Islam)

9. Kitab Mafahiim Siyasiyah li Hizbut Tahrir (Pokok-pokok Pokiran Politik Hizbut Taharir)

10. Kitab Nadlaaraat Siyasiyah li Hizbut Tahrir (Beberapa Pandangan Politik Menurut Hizbut Tahrir)

11. Kitab Muqaddimatud Dustuur (Pengantar Undang-undang Dasar Negara Islam)

12. Kitab Al Khilafah (Beberapa Hukum Mengenai Al-Khilafah)

13. Kitab Kaifa Hudmat Al-Khilafat (Usaha-usaha Meruntuhkan Pemerintah Khalifah)

14. Kitab Nishamul ‘Uquubaat (Hukum Pidana, Sanksi, Ta’zir dan Melanggar Pertaturan Negara)

15. Kitab Akhkamul Bayyinaat (Hukum-Hukum Pembuktian dalam Pengadilan)

16. Kitab Naqdhul Isytiraakiyatul Marksiyah (Kritik terhadap Sosialis Marxis)

17. Kitab At-Tafkiir (Membangun Daya Berikir)

18. Kitab Siratul Badiihah (Kecepatan Berpikir)

19. Kitab Al-Fikrul Islamiyah (Pemikiran Islam)

20. Kitab Naqdul Nadhariyatul Iltizami Fil Qawaninil Gharbiyah (Kritik terhadap Teori Stipulasi di dalam Undang-Undang Barat)

21. Kitab Nida’ Haar ( Panggilan Hangat dari Hizbut Tahrir)

22. Kitab As-Siyaasatul Iqstishadiyatul Muthsiah (Politik Ekonomi yang Agung)

23. Kitab Al-Amwaalu fii Daulatil Khilafah (Sisem Keuangan di dalam Negara Khalifah).

24. Dan lain-lain

Selain kitab-kitab tersebut terdapat pula ratusan buku-buku rujukan yang berupa buku-buku kecil dengan ukuran sapul 16x 12 cm dan ketebalan dibawah 100 halaman. Buku-bkuku tersebut ada yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nahbani ada pula yang ditulis oleh pengarang-pengarang lain yang semansa dengan beliau, seperti Syaik Al Islam Ibu Taimiyah, dimana pendapatnya sejalan dengan ide-ide perjuangan Hizbut Tahrir. Terdapat pula beberapa tulisan yang karang oleh para pengikut atau anggota Hizbut Tahrir. Buku-buku tersebut terdiri dari berbagai judul seperti diantaranya:

1. Titik Tolak Perjalanan Dakwah Hizbut Tahriri

2. Mengenal Hizbut Tahrir.

3. Strategi Dakwah Hizbut Tahrir.

4. Serangan Amerika untuk Menghacurkan Islam

5. Soal Jawab Seputar Gerakan Islam

6. Persepsi-persepsi Berbahaya untuk Menghantam dan Mengokohkan Peradaban Barat.

7. Politik Amerika di Bawah Pemerintahan Bush di Palestina dan Teluk

8. Kaidah Kausalitas Memahami Hubungan Sebab Akibat dalam Realitas Kehidupan Muslim

9. Islam yang Terasingkan.

10. Dan lain-lain.

Terdapat pula ribuan buku saku dengan yang diterbitkan secara berseri, seperti

1. Buku Saku Seri Bina Keluarga Sakinah.

2. Buku Saku Serial Menggugat Kelompok Liberal

3. Buku Saku Serial Politik Islam

4. Buku Saku Serial Akhlak Berjamaah

5. Buku Saku Serial Ekonomi Islam

6. Buku Saku Serial Bina Nafsiyah

7. Buku Saku Serial Bina Aqidah

8. Buku Saku Serial Seruan Hizbut Tahrir

9. Dan lain-lain.

Ada suatu kekhasan metode penulisan dalam setiap buku Hizbut Tahrir. Metode itu berupa, bahwa dalam buku tersebut pertama-tama penulis mengungkapkan kondisi real masyarakat dunia, maupun masyarakat Islam saat ini yang mana dilingkupi oleh sistem-sistem kufur, seperti nasionalisme, kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain. Lalu kemudian mengemukakan dampak-dampak negatif yang diakibatkan oleh pemberlakukan sistem-sistem tersebut secara real dan kelemahan-kelamahannya. Dan akhirnya kemudian memberikan solusi yang terbaik dengan menawarkan bentuk-bentuk sistem yang Islami.

Selain buku-buku tersebut di atas ada pula beberapa majalah bulanan yang diterbitkan yaitu Media Politik dan Dakwah “Al-Wa’e” Membangun Kesadaran Umat, Majallah Khalifah, dan Bulletin Dakwah Al Islam, Melajutkan kehidupan Islam.

C. Pendekatan Dakwah yang Dipergunakan

Dalam melakukan dakwah Islamiyah Hizbut Tahrir membentuk aktivitas kelompok. Oleh karena itu usaha untuk menegakkan sistem khilafah dan mengembalikan sistem hukum Islam harus berbentuk amal jama’iyah, kutlah, (kelompok dakwah), partai. Kelompok-kelompok dakwah yang dimaksud adalah:

a. Kelompok dakwah yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, seperti membangun sekolah dan rumah sakit, membantu fakir miskin, anak yatim atau orang-orang jompo dan sebagainya.

b. Kelompok dakwah yang bergerak di bidang ibadah dan selalu menganjurkan pelaksanaan amalan-amalan sunah.

c. Kelompok dakwah yang bergerak si bidang penerbitan buku-buku dan penyebaran tsaqafah Islam atau dalam bidang pemberian nasehat dan petunjuk.

d. Kelompok yang bergerak dalam aktifitas amar ma’ruf nahi mungkar.

Hizbut Tahrir telah menentukan langkah operasional dalam melakukan dakwah. Langkah tersebut terdiri dari tiga marhalah atau tahap :

Tahap pertama : Marhalah Tatsqif. Yaitu tahap pembinaan dan pengkaderan untuk melahirkan individu-individu yang meyakini fikrah dan metode Hizb guna membentuk kerangka gerakan. Indikatornya adalah :

a. Pembentukan gerakan, dimana saat itu ditemukan benih gerakan dan terbentuknya halqah pertama setelah memahami konsep dan metode dakwah Hizb.

b. Halqah pertama itu kemudian menghubungi anggota-angoota masyarakat untuk menawarkan konsep dan metode dakwah Hizb secara individual.

c. Siapa saja yang menerima fikrah Hizb langsung diajak mengikuti pembinaan secara intensif dalam halqah-halqah Hizb, sampai mereka menyatu dengan ide-ide Islam dan hukum-hukumnya yang dipilih dan ditetapkan oleh Hizb.

d. Pada tahap ini Hizb lebih memusatkan perhatiannya untuk membentuk kerangka gerakan, memperbanyak anggota dan pemdukung, membina mereka secara berkelompok dan intesif dalam halqah-halqah Hizb dengan tsaqafah yang telah ditentukan.

e. Membentuk kelompok partai yang terdiri dari orang-orang yang telah menyatu, menerima dan mengamalkan ide-ide Hizb, serta telah bertinteraksi dengan masyarakat dan mengembangkannya ke seluruh lapisan umat.

Tahap Kedua : Marhalah tafa’ul ma’al Ummah, yaitu tahap berintekasi dengan umat agar umat turut memikul kewajiban dakwah, sehingga akan menjadikannya sebagai masalah umat dalam hidupnya, serta berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Caranya, yaitu dengan :

a. Menggugah kesadaran dan membentuk opini umum pada masyarakat terhadap ide-ide dan hukum-hukum Islam yang telah ditabanni oleh Hisb.

b. Masyarakat menjadikan ide-ide dan hukum-hukum tersebut sebagai pemikiran-pemikiran mereka, yang mereka perjuangkan di tengah-tengah kehidupan.

c. Masyarkat berjalan bersama Hizbut Tahrir dalam usaha menegakkan Daulah Islamiyah, mengangkat seorang khalifah untuk melangsungkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Pada tahap ini Hizbut Tharir melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut:

a. Pembinaan Tsaqafah Murakkazah. Gunanya adalah melalui halqah-halqah, Hizbu Tahrir melakukan pembinaan intensif kepada para pengikutnya dalam rangka membentuk kerangka gerakan, memperbanyak pengikut serta mewujudkan pribadi-pribadi yang Islami, yang mampu memikul tugas dakwah dan siap mengarungi samudra cobaan dengan pergolakan pemikiran, serta perjuangan politik.

b. Pembinaan Tsaqafah Jama’iyah bagi umat dengan cara menyampaikan ide-ide dan hukum-hukum Islam yang telah ditetapkan Hizbut Tahrir, secara terbuka kepada masyarakat umum. Aktifitas ini dapat dilakukan melalui pengajian-pengajian, media massa, buku-buku atau selebaran-selebaran. Aktivitas ini bertujuan untuk mewujudkan kesadaran umum ditengah masyarakat agar dapat berintekasi dengan umat sekaligus menyatukannya dengan Islam. Juga untuk menggalang kekuatan rakyat sehingga mereka dapat dipimpin untuk menegakkan Daulah Khilafah dan mengembalikan penerapan hukum-hukum Islam.

c. As-Shira’ul fikri (pergolakan pemikiran) untuk menetang ideologi, peraturan-peraturan dan ide-ide kufur. Selain untuk menentang aqidah yang rusak, ide-ide yang sesat dan pemahaman-pemahaman yang rancu. Akitivitas ini dilakukan dengan cara menjelaskan kepalsuan, kekeliruan dan kontradiksi ide-ide tersebut dengan Islam, untuk memurnikan dan menyelamatkan masyarakat dari ide-ide yang sesat itu, serta dari pengaruh dan dampak buruknya.

d. Al khifaahus siyasi (perjuangan politik) yang mencakup aktivitas-aktivitas: berjuang menghadapi negara-negara kafir imperialis yang menguasai atau mendominasi negeri-negeri Islam; berjuang menghadapi segala bentuk penjajahan baik pemikiran, politik, ekonomi maupun militer. Mengungkap strategi yang mereka rancang, membongkar pesekonngkolan mereka, demi untuk menyelamatkan umat dari kekuasaan mereka dan membebaskannya dari seluruh pengaruh dominasi mereka.

e. Mengangkat dan menetapkan kemaslahatan umat, yaitu dengan cara melayani dan mengatur seluruh urusan umat, sesuai dengan hukum-hukum syara’.

Tahap Ketiga : Mathalah Istilamil Hukmi, yaitu tahap pengebalian kekuasaan, dan penerapan Islam secara utuh serta menyeluruh, lalu mengembannya sebagai risalah ke sekuruh dunia.

BAB V

P E N U T U P

A. Kesimpulan

1. Hizbut Tahrir adalah suatu gerakan keagamaan yang berbentuk organisasi politik. Organisasi gerakan keagaamaan yang lahir di Palestina ini mengusung cita-cita pembentukan Daulah Khilafah Islamiyah. Konteks kemunculan organisasi yang dibentuk oleh Syekh Taqiyuddin An-Nahbani adalah karena Hizbut Tahrir menilai bahwa saat ini dunia dikuasai oleh ide-ide, sistem-sistem dan hukum-hukum kufur. Seluruh negara di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, bahkan di Asia dan Timur Tengah yang mayoritas menganut Agama Islam, menggunakan asas-asas kenegaraan seperti asas-asas Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Patriotisme, fanatik golongan (sekterian), Aristokrat, atau yang berkenan dengan pemikiran-pemikiran Free Masonry.

2. Lektur Hizbut Tahrir mayoritas mengacu pada pikiran-pikiran Syekh Taqiyuddin An-Nahbani. Taqiyuddin An-Nahbani dikenal sebagai seorang yang sangat produktif menulis dalam berbagi bidang ilmu pengetahuan, baik sistem politik Islam, sistem pemerintahan Islam , sistem hukum Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pedidikan Islam, bahkan sampai kepada sistem pergaualan Islam, dan lain-lain. Lektur tersebut saat ini ada yang berupa buku yang diterbitkan, buku-buku saku, buku serial, bahkan seleberan-selebaran yang jumlahnya mencapai ratusan. Selain ide-ide Syekh Taqiyuddin An-Nahbani beberapa buah pikiran tokoh agama lain yang sejalan dengan ide-ide Hizbut Tahrir pun dijadikan acuan lektur.

3. Metode gerakan (dakwah) Hibut Tahrir berbentuk aktivitas kelompok. Beberapa kelompok gerakan yang dibentuk mulai dari kelompok bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, ibadah, penerbitan buku-buku, aktifitas amar ma’ruf nahi mungkar, sampai kepada pembentukan sebuah partai politik. Dalam melakukan aktivitas tersebut Hizbut Tahrir telah merancang langkah stategis yaitu: tahap marhalah tatsqif, tahap marhalah tafa’ul ma’al ummah, dan tahap mathalah istilamil hukmi.

4. Hizbut Tahrir dapat dikategorikan sebagai gerakan keagamaan exogenous religious movement

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Maghfur (penerjemah), 1995, Titik Tolak Perjalanan Dakwah, Hizbut Tahrir, Pustaka Tariqul Izzah, Jakarta.

Samarah, Ihsan, 2003, Syaikh Taqiyuddin an Nahbani, Meneropong Perjalanan Spritual dan Dakwahnya, Al Azhar Prees, Jakarta.

Zallum, Abdul Qadim, 1993, Mengenal Sebuah Gerakan Islam di Timur Tengah Hizbut Tahrir, Al Khilahaf, Jakarta.

Tidak ada komentar: